Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Bahagia
Keesokan harinya, Jihan terbangun lebih awal dari biasanya. Setelah semalaman memikirkan berbagai kemungkinan, akhirnya ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan.
Sejak pagi, perasaannya bercampur aduk. Ada rasa gugup, khawatir, sekaligus penasaran. Ia ingin memastikan apakah benar ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Setelah mandi dan bersiap, Jihan berangkat menuju sebuah rumah sakit yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Ia sengaja memilih rumah sakit lain agar tidak bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya dari tempat kerja lamanya.
Sepanjang perjalanan, tangannya beberapa kali menyentuh perutnya yang masih rata.
"Benarkah ada seseorang di dalam sini?" gumamnya pelan.
Sesampainya di rumah sakit, Jihan langsung mendaftarkan diri untuk pemeriksaan kandungan. Tidak lama kemudian, namanya dipanggil oleh petugas.
Ia pun masuk ke ruang praktik dokter kandungan.
"Selamat pagi, Bu. Ada keluhan apa?" tanya dokter perempuan yang menyambutnya dengan ramah.
"Selamat pagi, Dok. Beberapa hari ini saya sering mual, badan juga terasa mudah lelah. Selain itu, saya terlambat menstruasi."
"Baik. Sebelumnya sudah melakukan tes kehamilan?"
Jihan mengangguk.
"Kemarin saya mencoba menggunakan test pack di rumah. Hasilnya positif, Dok. Tapi saya ingin memastikannya."
Dokter tersenyum.
"Kalau begitu, kita lakukan pemeriksaan USG, ya."
Jihan mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, ia diminta berbaring di ranjang pemeriksaan. Dokter mulai mengoleskan gel pada perutnya, lalu menggerakkan alat USG dengan hati-hati.
Jihan menatap layar monitor dengan jantung berdebar.
"Bagaimana, Dok?" tanyanya tidak sabar.
Dokter tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan layar dengan saksama, kemudian menggeser alat USG sedikit ke bagian lain.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Selamat, Bu. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Ibu memang sedang hamil."
Seketika wajah Jihan berseri.
"Benarkah, Dok?"
"Iya. Usia kehamilannya masih muda. Namun, ada satu hal menarik yang perlu Ibu ketahui."
Jihan menatap dokter dengan penasaran.
"Apa itu, Dok?"
Dokter tersenyum lebih lebar.
"Sepertinya Ibu tidak hanya mengandung satu bayi."
Jihan mengerjap beberapa kali.
"Maksud Dokter?"
"Di dalam rahim Ibu ada dua kantung kehamilan. Selamat, Bu. Ibu sedang mengandung anak kembar."
Untuk beberapa detik, Jihan hanya terdiam.
Dua?
Ia mengandung dua bayi sekaligus?
"Jadi... saya hamil kembar, Dok?" tanyanya memastikan.
Dokter mengangguk.
"Benar. Dari pemeriksaan awal ini, terlihat ada dua embrio. Kita akan tetap memantau perkembangannya secara berkala untuk memastikan keduanya tumbuh dengan baik."
Jihan menutup mulutnya. Matanya langsung berkaca-kaca. Bukan karena sedih, melainkan karena kebahagiaan yang begitu besar.
Tanpa sadar, air matanya jatuh membasahi pelipis.
"Ya Allah..." bisiknya.
Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan kejutan sebesar ini. Awalnya, ia hanya ingin memastikan apakah dirinya benar-benar hamil. Namun, ternyata Tuhan memberinya dua kehidupan kecil sekaligus.
"Selamat, ya, Bu. Mulai sekarang, Ibu harus lebih memperhatikan kondisi tubuh. Karena mengandung anak kembar, pemeriksaan kehamilan secara rutin sangat penting."
Jihan mengangguk berkali-kali.
"Baik, Dok. Saya akan menjaganya."
Setelah pemeriksaan selesai, dokter memberikan penjelasan mengenai usia kehamilan, vitamin yang perlu dikonsumsi, serta hal-hal yang harus diperhatikan selama kehamilan.
Jihan mendengarkan semuanya dengan saksama. Ia tidak ingin melewatkan satu pun informasi penting.
Ketika keluar dari ruang praktik, langkah Jihan terasa berbeda. Ada kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Ia duduk sebentar di kursi tunggu, lalu membuka kembali foto hasil USG yang diberikan dokter.
Dua titik kecil terlihat di sana.
Jihan tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Jadi, Bunda punya dua bayi, ya?"
Senyumnya semakin lebar.
"Terima kasih sudah datang ke kehidupan Bunda. Kalian berdua harus tumbuh sehat, ya. Bunda akan menjaga kalian."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jihan merasa memiliki alasan baru untuk menatap masa depan dengan penuh harapan.
Ia memang belum tahu bagaimana perjalanan hidupnya nanti. Ia juga belum tahu bagaimana harus membesarkan kedua anak itu seorang diri.
Namun, satu hal yang pasti, ia akan melakukan apa pun untuk melindungi dua kehidupan kecil yang kini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
Jihan kembali menatap foto USG di tangannya.
"Mulai sekarang, Bunda nggak sendirian lagi," bisiknya penuh haru. Senyum mengembang sempurna di sudut bibir wanita cantik ini. Ia benar-benar tidak menyangka kehilangan yang ia rasakan akan digantikan dengan kebahagiaan yang sebegini besarnya.
***
Di lain pihak, Hansen juga sedang mengalami kondisi yang kurang menyenangkan. Setelah menjaga Raka semalaman di rumah sakit, tubuhnya terasa sangat lelah. Ia hampir tidak tidur karena beberapa kali harus terbangun untuk memastikan kondisi putranya.
Pagi itu, Hansen duduk di sofa ruang perawatan sambil memijat pelipisnya. Matanya terlihat sedikit merah, sementara wajahnya tampak pucat karena kurang istirahat.
"Pak, sebaiknya Bapak pulang sebentar untuk beristirahat. Biar saya yang menemani Raka," ujar Juan yang baru saja datang membawakan beberapa keperluan.
Hansen menggeleng.
"Tidak perlu. Aku akan tetap di sini sampai Raka benar-benar membaik."
"Tapi Bapak sendiri belum tidur dengan cukup sejak kemarin."
"Aku tidak apa-apa."
Juan hanya bisa menghela napas. Ia tahu atasannya itu sulit dibujuk jika sudah menyangkut Raka.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Raka. Setelah memastikan demam anak itu sudah turun, perawat tersebut meninggalkan ruangan.
Hansen pun berdiri dan berjalan menuju meja kecil untuk mengambil segelas air putih.
Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba kepalanya terasa sedikit berputar.
Ia berhenti sejenak, lalu memegang pinggiran meja.
"Pak?" Juan segera menghampirinya.
Hansen tidak menjawab. Ia justru menutup mulutnya ketika rasa mual mendadak menyerang.
"Ugh..."
Dengan langkah terburu-buru, ia menuju kamar mandi. Juan yang melihatnya langsung menyusul.
Beberapa saat kemudian, Hansen keluar dengan wajah semakin pucat. Ia membasuh wajahnya, lalu kembali duduk di sofa.
"Pak, Bapak sakit?" tanya Juan khawatir.
"Mungkin hanya karena kurang tidur."
"Tapi wajah Bapak pucat sekali."
Hansen mengambil segelas air putih dan meminumnya sedikit demi sedikit.
"Aku hanya lelah. Semalaman tidak tidur, sementara kemarin juga cukup melelahkan."
Juan mengangguk, tetapi tetap terlihat cemas.
"Kalau begitu, sebaiknya Bapak diperiksa juga. Jangan sampai Bapak malah jatuh sakit."
Hansen mengibaskan tangan.
"Tidak perlu berlebihan. Aku masih bisa bekerja."
"Pak, menjaga kesehatan juga penting. Kalau Bapak sakit, siapa yang akan mengurus Raka?"
Ucapan Juan membuat Hansen terdiam. Ia kemudian melirik putranya yang masih tertidur.
"Baiklah. Nanti setelah Raka bangun, aku akan memeriksakan diri."
Juan mengangguk lega.
Namun, Hansen belum menyadari bahwa rasa mual yang dialaminya bukan satu-satunya hal yang membuat tubuhnya terasa tidak nyaman. Sejak beberapa hari terakhir, nafsu makannya juga menurun dan tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak.
Semua itu mungkin memang akibat kelelahan dan pikirannya yang terus tertuju pada Jihan.
Perempuan yang kini tidak bisa ia temukan itu masih memenuhi benaknya.
Hansen menyandarkan kepala ke sofa, lalu memejamkan mata.
Di ranjang rumah sakit, Raka bergerak pelan dan membuka matanya.
"Papi..."
Hansen langsung bangkit.
"Iya, Sayang. Papi di sini."
"Raka haus."
Hansen segera mengambilkan air minum untuk putranya. Ia membantu Raka minum, lalu membenarkan posisi bantalnya.
"Bagaimana badanmu? Masih panas?"
Raka menggeleng.
"Sudah nggak terlalu."
Hansen mengusap rambut putranya.
"Syukurlah. Kamu istirahat saja. Papi akan menemanimu."
Raka menatap ayahnya beberapa saat, kemudian bertanya dengan suara pelan.
"Papi..."
"Iya?"
"Kalau Raka sudah sembuh, boleh ketemu Bunda?"
Senyum di wajah Hansen perlahan menghilang.
Ia menatap putranya tanpa langsung menjawab. Bahkan ketika tubuhnya sendiri sedang tidak nyaman, permintaan sederhana itu kembali membuat dadanya terasa sesak.
Sebab, sampai saat ini, ia belum berhasil menemukan Jihan.
Bersambung...