Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di balik meja kerjanya yang berada di luar ruangan CEO, Nyonya Brenda melipat kedua tangannya di atas meja. Tatapan tajam dari balik kacamata berantainya mengunci pergerakan Lia yang baru saja kembali dari toilet setelah membersihkan sisa cipratan suplemen jeruk.
"Kau pikir menjadi sekretaris eksekutif di sini hanya soal menyusun jadwal, mengangkat telepon, dan menatap layar komputer, Magnolia?" tegur Nyonya Brenda dengan nada datar namun menusuk.
Lia, yang masih kesal karena diusir secara dramatis oleh Marco, mendengus pelan. "Lalu apa, Nyonya? Saya sudah menghafal seluruh agenda Tuan Maverick bulan ini. Saya bisa menyusun laporan keuangan lebih cepat dari manajer mana pun di gedung ini."
"Tapi kau hampir membunuhnya dengan secangkir kopi dan sehelai dasi," sela Nyonya Brenda tanpa ampun. "Menjadi orang kepercayaan Marco berarti kau harus bisa melayaninya dalam segala hal. Kau harus pandai membuat kopi dengan takaran yang pas, mengikatkan dasinya saat dia terburu-buru, bahkan memasak jika dia sedang tidak berselera makan di luar."
Lia membelalakkan matanya di balik kacamata tebalnya. "Memasak? Mengikat dasi? Nyonya, dengan segala hormat, itu adalah pekerjaan Office Boy atau pelayan rumah tangga! Bukan tugas seorang sekretaris profesional sepertiku!"
Sebagai Isabel Ramsey, menyentuh alat dapur adalah sebuah penghinaan.
"Oh, begitu?" Nyonya Brenda menaikkan sebelah alisnya, aura galaknya memancar kuat. "Di Wiliam Group, Marco tidak sembarangan membiarkan orang masuk ke ruangannya, apalagi menyentuh makanan dan pakaiannya. Kalau kau menolak melakukan tugas dasar itu, silakan berkemas. Tuan Maverick sudah memintaku memecatmu. Aku bisa dengan mudah merobek kontrakmu sekarang juga, dan kau bisa kembali ke rumah ibumu tercinta."
Mendengar ancaman itu, pertahanan Lia langsung runtuh. Bayangan wajah ibunya dan pria brengsek bernama Bryce seketika berkelebat di benaknya.
"T-tunggu! Jangan!" Lia buru-buru mencondongkan tubuhnya, menelan gengsinya bulat-bulat. Ia menarik napas panjang, merutuki nasibnya.
"Baiklah. Saya mengalah. Saya akan belajar membuat kopi tanpa MSG. Saya akan belajar cara mengikat dasi lewat YouTube. Bahkan kalau perlu, saya akan belajar memasak rendang! Saya janji akan belajar keras, Nyonya."
Nyonya Brenda tersenyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. "Bagus. Sekarang masuk lagi ke ruangannya. Bereskan kekacauan yang kau buat tadi."
Dengan langkah gontai dan hati yang menggerutu, Lia memutar kenop pintu ruang kerja Marco.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam sukses membuat Lia tercengang. Marco sedang berdiri di sudut ruangan, sudah berganti kemeja bersih. Namun, yang membuat Lia heran, pria itu memegang tongkat golfnya layaknya sebuah pedang samurai yang siap ditebaskan.
Melihat Lia masuk, Marco refleks memundurkan tubuhnya hingga menempel ke dinding.
"Berhenti di sana!" seru Marco panik, mengarahkan ujung tongkat golfnya ke arah Lia.
Lia mengernyit bingung. Ia melangkah maju satu langkah.
Melihat itu, Marco langsung bergeser mundur menyusuri dinding. "Jangan mendekat! Kubilang berhenti, Ensiklopedia Basah! Jaga jarak aman!"
Lia mendengus tak percaya. "Tuan Maverick, saya hanya ingin mengambil cangkir kotor di atas meja Anda..."
"Jangan sentuh!" potong Marco cepat. "Nanti cangkirnya meledak di tanganmu! Atau kau tiba-tiba menyiramku dengan tinta printer! Pokoknya, kau dilarang berada dalam radius tiga meter dariku! Dan dengar baik-baik, mulai sekarang, aku hanya mau minum kopi buatan Nyonya Brenda! Jangan pernah mencoba meracuniku lagi!"
Marco menatap Lia dengan sorot mata sangat sinis, seolah gadis di depannya adalah agen raksasa penyebar virus mematikan.
Lia menggertakkan giginya diam-diam. Di balik kacamata besarnya, mata Lia menatap Marco dengan kilat kekesalan yang memuncak.
Pria ini benar-benar menyebalkan! Lebay! Sinting! Sok tampan! Andai aku tidak sedang butuh tempat sembunyi, sudah kupatahkan tongkat golf itu jadi dua! rutuk Lia dalam hati.
Di saat Lia sedang asyik mengumpati bosnya, tiba-tiba ia merasakan ada yang menarik-narik ujung blazer kedodorannya.
Lia menunduk. Di bawah sana, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun. Anak itu sangat tampan, berkulit putih bersih, dengan mata bulat yang cerdas.
"Aunty tantik, Papi Macco mana?" tanya bocah itu dengan suara cadel yang menggemaskan.
Lia membeku. Ia menatap anak itu, lalu menatap Marco, lalu menatap anak itu lagi.
Papi Marco? Pria sinting ini... punya anak?!
Jadi, anak kecil ini yang Marco maksud?
Belum sempat Lia mencerna situasi, Marco sudah membuang tongkat golfnya ke lantai. Wajah sinis dan waspadanya seketika menguap tak berbekas, digantikan oleh senyum paling cerah dan tulus yang pernah Lia lihat sejak mengenal pria itu.
"Leo! Jagoan Papi!" seru Marco kegirangan. Ia berlari menghampiri bocah itu—sepenuhnya mengabaikan aturan 'jaga jarak tiga meter' dari Lia—lalu mengangkat tubuh kecil Leo tinggi-tinggi. "Wah, jagoan Papi hari ini tampan sekali! Mau main mobil-mobilan sama Papi, hmm?"
"Mauuu!" sorak Leo riang, memeluk leher Marco dengan erat.
Tak lama kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Seorang wanita melangkah masuk. Lia nyaris menahan napas melihatnya. Wanita itu luar biasa cantik, auranya elegan, anggun, dan memancarkan kehangatan yang membuat siapa pun jadi merasa nyaman.
"Marco, aku titip Leo sebentar, ya. Boleh?" tanya wanita cantik itu sambil tersenyum lembut. "Aku ada urusan mendadak di luar. Hanya satu jam."
Marco yang sedang menggendong Leo menoleh dan membalas senyum wanita itu. "Tentu saja, Seraphina. Tidak masalah. Pergilah yang lama sekalian, biar Leo bersamaku terus selamanya di sini."
"Jangan mengajari anakku yang tidak-tidak, Marco," kekeh Seraphina. Ia mengusap pipi Leo sejenak, mengangguk sopan pada Lia yang berdiri kaku, lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah pintu tertutup, keheningan canggung kembali melanda. Hanya terdengar suara tawa Leo yang sedang memainkan kancing kemeja Marco.
Rasa penasaran di kepala Lia sudah meletup-letup. Sebagai seorang asisten, atau setidaknya sebagai orang yang harus tahu profil atasannya, Lia merasa perlu menggali informasi ini.
"Tuan Maverick..." panggil Lia hati-hati.
Marco menoleh dengan wajah kembali datar, meski tangannya masih mengusap punggung Leo dengan lembut. "Apa? Jaga jarakmu sejauh dua meter."
Lia mengabaikan peringatan itu. "Perempuan cantik tadi... siapa?"
"Seraphina?" Marco menjawab santai tanpa beban, mencium pipi Leo sekilas. "Dia ibu kandung dari anak kesayanganku ini."
Mata Lia membulat sempurna di balik kacamata tebalnya. Pernyataan itu terdengar sangat ambigu di telinganya. "Ibu kandung? Apa dia... Istri Anda, Tuan?"
Marco mendengus pelan, seolah pertanyaan Lia sangat konyol. "Bukan. Aku ini belum menikah. Masih perjaka ting-ting."
Lia menelan ludah. "Bukan? Tapi... kalian punya anak. Anak ini memanggil Anda Papi."
"Kami memang punya anak. Terus apa masalahnya buatmu?" jawab Marco sewot, menatap Lia dengan alis terangkat. "Lagi pula, Seraphina sudah punya suami. Suaminya sangat posesif, jadi aku hanya bisa menculik anak ini saat suaminya sedang sibuk."
Rahang Lia nyaris jatuh menyentuh karpet. Punya suami?!
"T-tunggu sebentar..." Suara Lia sedikit bergetar, otaknya berusaha keras merangkai kepingan informasi yang diucapkan bosnya dengan sangat serampangan. "Kalau dia sudah punya suami... apa dia mantan istri Anda, Tuan?"
Marco memutar bola matanya malas, menatap Lia seolah gadis itu adalah makhluk paling lambat mencerna informasi di bumi.
"Tentu saja bukan," jawab Marco lugas, tanpa repot-repot menjelaskan identitas Noah sebagai ayah kandung Leo. "Kan, tadi aku sudah bilang. Aku tidak pernah menikah. Apalagi, dengan Seraphina"
JEDAAAAR!
Seolah ada petir yang menyambar tepat di atas kepala Lia. Gadis itu terdiam kaku.
Tidak pernah menikah? pikir Lia syok. Tapi mereka punya anak? Dan wanita itu sekarang bersuami?
Lia menatap Marco dari atas ke bawah. Pria di depannya ini terlihat sangat menyayangi Leo. Semua kepingan informasi dari mulut Marco langsung disimpulkan dengan sangat fatal oleh otak Lia.
Apa pria ini... berselingkuh dengan istri orang? Atau lebih parah, menghamili Seraphina di luar nikah, lalu Seraphina menikah dengan pria lain, tapi Marco tetap bersikeras ikut merawat anak hasil hubungan gelap mereka?!
Lia menarik napas panjang. Wajah cupunya berusaha terlihat setenang mungkin, meski di dalam hati ia sedang mengumpat habis-habisan.
Cih, ternyata selain konyol dan sinting, dia brengsek juga! batin Lia dengan rasa jijik yang mulai merayap. Punya anak di luar nikah dengan wanita bersuami? Luar biasa skandal CEO Wiliam Group ini.
Namun, saat melihat Marco dengan penuh kasih sayang membersihkan ujung bibir Leo dengan tisu, pandangan Lia sedikit melunak.
Tapi... batin Lia lagi, setidaknya dia bukan pria pengecut. Dia brengsek, tapi dia secara terang-terangan mau bertanggung jawab dan sangat menyayangi anak hasil di luar nikahnya itu. Cukup mengesankan untuk ukuran pria aneh sepertinya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tegur Marco tiba-tiba, menyadarkan Lia dari lamunannya.
"Apa kau sedang merapal mantra untuk menyantet ku? Cepat kembali ke mejamu! Dan ingat, jangan sentuh mesin pembuat kopiku!" ucap Marco dengan tatapan penuh waspada.
Lia mengerucutkan bibirnya. "Baik, Tuan Brengsek—maksud saya, Tuan Maverick."
Lia bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan Marco yang menautkan alis kebingungan mendengar gumaman terakhir sekretaris anehnya itu.
"Brengsek? Siapa? Aku? Hah, mana mungkin. mungkin, dia mengatai diri sendiri."
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,