Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Pagi berikutnya, suasana di rumah tangga kecil itu terasa lebih hangat. Sesuai janjinya, Anisa menyeduh susu hamil yang dibelikan Burhan semalam. Ia meminumnya perlahan di hadapan Burhan yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja kembali.
"Bagaimana rasanya? Enak?" tanya Burhan antusias, memperhatikan setiap tegukan istrinya.
Anisa mengangguk tersenyum lebar. "Enak sekali, Mas. Manis. Si kecil di dalam perut sepertinya juga suka, dia kicking-kicking pelan dari tadi."
Mata Burhan berbinar. "Boleh Mas pegang?"
Anisa mengangguk dan mengarahkan telapak tangan Burhan yang kasar dan penuh kapalan ke atas perutnya yang membuncit.
Benar saja, tak lama kemudian Burhan merasakan denyut dan sentuhan halus dari dalam kandungan Anisa. Sebuah tendangan kecil yang menyapa telapak tangannya
Dengan semangat juang yang tinggi Burhan harus super kerja keras demi membahagiakan istrinya dan menyiapkan biaya kelahiran untuk si buah hatinya nanti.
"Dia merespons, Sa!" seru Burhan gembira bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru. "Dia tahu ayahnya mau berangkat kerja!"
"Iya, dia bilang terima kasih sama Ayah karena sudah bekerja keras membelikan susu dan buah enak," balas Anisa dengan nada manis.
Rasa lelah di otot-otot Burhan seolah lenyap seketika hanya karena sentuhan kecil yang iya lakukan di perut Nisa, Energi baru merayapi tubuhnya.
Kehadiran calon anak mereka memberikan dorongan hidup yang begitu luar biasa, melampaui batas kemampuan fisiknya.
"Nanti sore pulang jam berapa, Mas?" tanya Anisa seraya merapikan kerah kemeja kerja Burhan.
"Hari ini Mas cuma mengambil lembur satu malam ini lagi, seperti kemarin besok baru libur lembur nya," jawab Burhan. "Mas mau nemani kamu periksa lagi ke puskesmas untuk cek hemoglobin dan perkembangan badannya.
"Beneran, Mas?" mata Anisa berbinar gembira. "Aku senang sekali kalau Mas bisa ikut menemani. Biar dokter juga bisa menjelaskan langsung kondisi si kecil ke Mas.ucap Nisa kepada Burhan
"Iya, Mas sudah izin ke Mandor. Mas bilang istri Mas mau kontrol kehamilan. Mandor mengizinkan keluar lebih awal sedikit " jawab Burhan dengan senyuman.
"Terima kasih ya, Mas. Mas suami dan ayah yang sangat bertanggung jawab," puji Anisa tulus dengan nada lembut dan senyuman kepada Burhan
Burhan tersenyum penuh rasa syukur. "Setiap tetes keringat Mas itu untuk kalian berdua. Tidak ada hal lain yang lebih penting dari keselamatan dan kesehatan kalian." ucap Burhan kepada Nisa
Sebelum melangkah keluar pintu, Burhan menyempatkan diri berlutut sejenak dan mendekatkan wajahnya ke perut Anisa.
"Anak Ayah yang pintar, sehat-sehat di dalam sana ya," bisik Burhan lembut. "Ayah berangkat cari rezeki dulu. Nanti sore kita ketemu lagi." ucap Burhan sambil menempelkan mukanya keperut Anisa .
Anisa mencium tangan suaminya dengan penuh takzim. Diiringi doa tulus dari sang istri, Burhan melangkahkan kakinya keluar rumah dengan dada membusung penuh tekad juang yang tinggi.
Di bawah sinar matahari pagi yang mulai memancar hangat, Burhan berjalan menuju pabrik dimana ia bekerja sebagai kuli buruh bangunan.
Rasa lelah, rasa lapar, dan beratnya beban hidup tak lagi menjadi musuh, melainkan menjadi saksi bisu atas besarnya rasa cinta seorang ayah untuk keluarga kecilnya yang baru ia perjuangkan untuk masa depan rumah tangga mereka.
Anisa pun melambaikan tangan memberi semangat kepada suami tercinta nya dan memberikan senyuman penyemangat suaminya, agar rezeki suaminya terbuka dan menjadi barokah