NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan Telak dan Lorong yang Menghilang

Sinar matahari sore mulai meredup di atas Rexanswood Academy, menyisakan hawa lembap dan bayang-bayang panjang pepohonan palem yang berjajar di tepi lapangan utama. Suasana sekolah sudah sunyi senyap. Bel kepulangan telah lama berdentang lebih dari dua jam yang lalu, mengosongkan seluruh lorong, ruang kelas, dan area parkir dari keramaian ratusan siswa.

Namun di tengah lapangan olahraga beraspal kasar yang luas itu, sesosok gadis masih berdiri menggenggam gagang sapu lidi yang berat. Seragam putihnya tampak kotor di bagian lengan, peluh dingin mengucur membasahi pelipis dan anak rambutnya yang berantakan. Clyrine menyeka dahinya dengan punggung tangan, menghela napas panjang yang terdengar putus-putus menahan lelah sekaligus amarah yang menggumpal di dada.

Pak Antonio Roberto tidak memberinya toleransi sedikit pun di ruang BK tadi siang. Kertas contekan yang diselipkan Claire secara terencana itu menjadi bukti mati yang langsung menjatuhkan vonis tanpa pengadilan yang adil: nilai nol mutlak, catatan disiplin baru, dan hukuman membersihkan seluruh area lapangan belakang sekolah hingga benar-benar bersih.

Dengan napas tersengal, Clyrine merogoh saku roknya, menarik keluar ponselnya untuk memastikan waktu. Jemarinya menekan tombol daya berulang kali, tetapi layar sentuh itu tetap gelap gulita tak bernyawa.

"Mati total..." gumam Clyrine lirih, suaranya tercekat.

Baterai ponselnya habis sejak jam istirahat siang, membuatnya terputus total dari dunia luar. Clyrine melirik arloji analog sederhana di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.15 sore. Lewat lima belas menit dari jadwal yang dijanjikan.

Pukul tiga sore...

Tubuh Clyrine mendadak dingin. Rasa panik menghantamnya jauh lebih menyakitkan daripada rasa lelah di otot lengannya.

"Pasti kena marah..." bisik Clyrine pada dirinya sendiri, jemarinya mencengkeram erat gagang sapu hingga buku-buku jarinya memutih. "Mana hari ini hari pertama belajar sama Kak Damien... Daddy pasti makin murka kalau tahu gue kena hukuman curang kayak gini."

Bayangan tatapan dingin Damien dan raut kecewa Charles Rexander berkelebat di benaknya, meremukkan sedikit rasa percaya diri yang baru saja ia bangun susah payah beberapa hari terakhir. Clyrine menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata yang hendak mendesak keluar, lalu kembali menyapu daun-daun kering dengan gerakan kalap, berkejaran dengan waktu yang kian melesat cepat.

Sementara itu, di kediaman megah keluarga Rexander, jarum jam antik di dinding ruang tengah berdenting tepat menunjukkan pukul 15.00 beberapa waktu sebelumnya.

Damien Lysander Vance melangkah masuk ke ruang tamu utama setelah dibukakan pintu oleh pelayan rumah. Pria 21 tahun itu mengenakan kemeja hitam kasual berbalut jaket bomber gelap, memancarkan aura dewasa yang tenang dan berwibawa. Di tangannya, ia membawa tas jinjing berisi beberapa berkas silabus pelajaran, latihan soal logika bisnis, dan rangkuman materi yang telah ia susun semalaman untuk Clyrine.

Namun, alih-alih mendapati gadis pemberontak bermata oranye-tembaga yang biasanya menyambutnya dengan celotehan usil, sosok yang duduk rapi di atas sofa ruang tengah justru Claire.

Claire duduk dengan pakaian kasual anggun—blus sutra berwarna krem pastel dengan rok lipit sebatas lutut, rambut pirangnya tertata rapi di balik bando mutiara tipis. Di atas meja kopi di hadapannya, telah tersusun rapi beberapa buku tebal bertaraf olimpiade dan sebuah tempat pensil bermerek.

Begitu melihat langkah Damien masuk, mata Claire berbinar penuh kemenangan yang disembunyikan di balik senyum paling manis dan santun yang ia miliki.

"Kak Damien... sudah datang?" sapa Claire lembut sembari bangkit berdiri dengan anggun.

Damien menghentikan langkahnya beberapa meter di depan meja, tidak langsung duduk. Netra gelapnya menyapu sekeliling ruangan yang sunyi, sama sekali tidak menemukan keberadaan Clyrine.

Alis Damien tertaut samar. "Mana Clyrine?" tanyanya dingin, langsung pada intinya tanpa basa-basi membalas keramahan Claire.

Claire mengulum senyum prihatin yang dibuat-buat, membuka mulutnya seolah hendak menjawab dengan nada penuh keraguan palsu. Namun, sebelum suara Claire keluar, suara derap langkah tergesa-gesa terdengar dari arah pintu depan bersamaan dengan bunyi pintu ganda yang berderit terbuka lebar.

Charles Rexander melangkah masuk ke dalam rumah. Jas mahalnya masih tersampir rapi di lengan, dasinya sedikit longgar. Sang kepala keluarga pulang lebih cepat dari kantor pusat daripada biasanya—sebuah gestur yang menunjukkan bahwa ia sengaja meluangkan waktu demi memastikan hari pertama sesi bimbingan belajar putri bungsunya berjalan tertib.

Charles mendongak, matanya langsung bertaut dengan sosok pemuda di hadapannya.

"Damien, kamu sudah datang?" tanya Charles dengan suara bariton beratnya yang khas.

Damien membungkuk sedikit memberi gestur hormat formal. "Iya, Om. Saya baru saja tiba."

Charles mengangguk puas dengan ketepatan waktu pemuda itu, lalu pandangannya beralih ke sofa, mendapati Claire berdiri sendirian tanpa ada tanda-tanda kehadiran adiknya. Kerutan di dahi pria paruh baya itu seketika menajam.

"Claire, mana Clyrine? Bukankah jam segini dia sudah harus siap di meja belajar?" tanya Charles dengan nada mulai menegang.

Claire menundukkan kepalanya dalam-dalam, memainkan jemarinya dengan gestur gelisah yang sangat meyakinkan—menampilkan citra seorang kakak yang berat hati harus membeberkan kesalahan fatal saudaranya sendiri di hadapan orang tua dan tamu kehormatan.

"Itu... Dad..." Claire menarik napas tipis, suaranya terdengar tercekat penuh penyesalan semu. "Clyrine belum pulang. Dia dihukum bersihin lapangan sekolah sama Pak Antonio."

Charles terbelalak, raut wajahnya mengeras dalam sekejap. "Dihukum? Kenapa anak itu dihukum sampai jam segini?!"

"Tadi waktu ujian Sejarah Politik..." Claire menggantung kalimatnya sejenak, melirik sekilas ke arah Damien untuk melihat reaksinya, "...Pak Antonio nemuin kertas contekan kunci jawaban di dalam tas Clyrine. Nilainya langsung dikasih nol, dan Clyrine disuruh bersihin lapangan sampai selesai."

Ruang tamu megah itu mendadak dihantam keheningan yang menyesakkan. Udara di sekitar terasa membeku.

Wajah Charles memerah padam menahan amarah yang mendidih seketika di dadanya. Kepercayaan yang baru saja ia berikan tadi malam hancur berkeping-keping di telapak tangannya sendiri. Tangan Charles mengepal kuat di sisi tubuhnya, napasnya memburu berat.

"Anak itu..." geram Charles dengan gigi bergemelutuk tajam. "Baru semalam dia bilang di depan saya kalau dia berniat serius mau berubah! Baru semalam dia berjanji! Tapi sekarang... sekarang dia sudah berulah lagi, mencoreng nama baik Rexander dengan cara murahan seperti menyontek?!"

Amarah Charles membara di seluruh ruangan. Di sudut ruangan, senyum kepuasan yang tipis tersembunyi sempurna di balik wajah menunduk Claire. Rencananya berhasil seratus persen. Clyrine sudah hancur di mata ayahnya sendiri.

Namun, di tengah luapan amarah Charles, Damien tetap berdiri tegak tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun. Pemuda 21 tahun itu tidak menunjukkan tanda-tanda panik atau kecewa layaknya orang lain. Manik matanya yang pekat justru menatap lurus ke arah Charles dengan ketenangan yang luar biasa dingin.

"Jangan langsung menyimpulkan satu pihak, Om," sela Damien tegas. Suara beratnya memecah gemuruh amarah Charles di ruang tengah. "Coba tanya Clyrine dulu bagaimana kebenarannya nanti. Jangan biarkan asumsi mendahului fakta."

Claire tersentak kaget mendengar Damien yang masih berani membela Clyrine secara terbuka di depan Charles. Rasa tidak terima kembali merayap di dadanya.

Charles terdiam sesaat, mengatur napasnya yang memburu. Meskipun ia menghormati Damien sebagai pemuda cerdas yang disegani di dunia bisnis, amarahnya terhadap tabiat buruk Clyrine sudah terlanjur meluap ke ubun-ubun.

Charles menghela napas panjang penuh kelelahan, melambaikan tangan kirinya ke arah Claire.

"Hmm... sudahlah, Damien. Buat apa membuang-buang tenagamu untuk anak yang bahkan tidak bisa menghargai waktu dan komitmen belajarnya sendiri?" Charles menatap Damien dengan nada meminta. "Karena Clyrine tidak ada dan tidak tahu diri, kamu ajarin Claire saja hari ini. Dia jauh lebih penurut, nilainya selalu terbaik, dan dia lebih mudah belajar."

Mendengar tawaran emas itu meluncur langsung dari bibir Charles, detak jantung Claire berpacu liar kegirangan. Semua yang ia dambakan akhirnya jatuh ke tangannya. Ia mendongak menatap Damien dengan binar mata penuh harap, tersenyum semanis mungkin sembari menarik salah satu kursi di dekat mejanya.

"Iya, Kak Damien... aku sudah siap dari tadi," tutur Claire manja dengan intonasi lembut yang anggun. "Materi apa pun yang Kakak mau ajarin, aku bisa ikuti dengan cepat."

Claire menunggu Damien melangkah mendekat dan duduk di sampingnya. Namun, detik-detik berikutnya justru menjadi pukulan paling telak yang pernah ia terima seumur hidupnya.

Damien tidak melangkah maju. Tangannya merapikan tali tas jinjingnya di bahu, lalu matanya menatap tajam lurus ke arah Claire—sebuah tatapan dingin tanpa secercah pun kehangatan, seolah memandang sesuatu yang tak bernilai.

Pandangan Damien kemudian beralih kembali menatap Charles Rexander dengan kesopanan yang dibalut ketegasan tak terbantahkan.

"Maaf, Om," ucap Damien tenang tanpa keraguan sedikit pun di setiap suku katanya. "Tapi kesepakatan saya dari awal adalah mengajar Clyrine, bukan Claire."

Senyum di bibir Claire mendadak membeku kaku. Wajah gadis itu memucat seketika, dadanya terasa seperti dihantam batu godam mendengar penolakan yang begitu telak di hadapan Charles.

Damien sedikit membungkuk pamit kepada Charles, lalu melangkah membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar tanpa membuang waktu sedetik pun lagi.

"Saya akan jemput dia dulu ke sekolah, Om. Permisi."

Langkah kaki Damien berderap mantap menembus pintu depan, meninggalkan Claire yang berdiri mematung dalam kehancuran harga dirinya, dan Charles yang terdiam menatap kepergian pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!