NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

: PESONA DI BALIK EMBUN PAGI DAN JANJI DI ATAS SAJADAH

Suasana di meja makan dapur mendadak diselimuti keheningan yang manis sekaligus canggung usai godaan polos Awan dan godaan penuh arti dari Ibu. Aisyah yang duduk di kursi kayu hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang sudah membara merah padam bagaikan kepiting rebus.

Sementara itu, Ammar yang tadi sempat tersedak kopi hitamnya di sofa, perlahan bangkit berdiri. Pria tegap itu merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring sekaligus secara halus menutupi bekas tanda merah keunguan (hickey) di ceruk lehernya yang mengintip tipis dari balik kain.

Ammar melangkah tenang memasuki area dapur, membawa cangkir kopinya yang tinggal separuh. Langkah kakinya yang anggun dan berwibawa membuat suasana dapur yang tadinya penuh godaan berubah menjadi teduh dan hangat.

"Bu, Ammar bantu bawa piringnya ke meja," tawar Ammar halus dengan suara baritonnya yang dalam.

Ibu melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar. "Eh, tidak usah, Nak Ammar! Duduk saja. Biar Ibu sama Aisyah yang selesaikan. Kamu kan tamu... eh, maksud Ibu, kamu kan suami, harus dilayani dengan baik."

Ibu menyenggol lengan Aisyah pelan. "Syah, itu diambilkan nasi gorengnya buat suamimu. Mumpung masih hangat."

Aisyah mendongak perlahan. Matanya yang bulat dan jernih beradu lurus dengan pandangan mata cokelat mewah milik Ammar. Rasa canggung akibat pembicaraan 'sunatan' Awan tadi masih tersisa, namun begitu melihat senyuman tipis yang sangat manis terukir di bibir Ammar, rasa malu Aisyah mendadak luluh menjadi desiran hangat yang membumbung tinggi di dadanya.

Aisyah bangkit berdiri perlahan masih dengan sedikit tumpuan hati-hati pada kakinya yang agak pegal lalu meraih piring porselen putih. Ia mengambilkan se porsi nasi goreng kampung dengan telur mata sapi dan kerupuk di atasnya, lalu menyerahkannya pada Ammar yang sudah duduk di hadapannya.

"Ini... Mas Ammar," bisik Aisyah malu-malu, menundukkan pandangannya.

"Terima kasih, Aisyah," balas Ammar lembut.

Sarapan pagi itu berlangsung hangat dan penuh keakraban. Awan yang tidak paham apa-apa sibuk melahap nasi gorengnya dengan lahap, sementara Ibu tak henti-hentinya mengoleskan mentega dan menyajikan lauk pauk untuk menantunya. Di antara denting sendok dan piring, sesekali jemari Ammar di bawah meja bergerak mengusap lembut lutut Aisyah, memberikan kehangatan yang membuat jantung Aisyah terus berdebar heboh sepanjang sarapan.

Usai sarapan dan membantu Ibu membersihkan piring kotor di wastafel, Aisyah pamit untuk kembali ke kamar atas. Rasa pegal di tubuhnya serta kelelahan usai gelora malam kemarin membuat Aisyah ingin mengganti daster rumahannya dengan pakaian yang lebih bersih dan segar.

Aisyah melangkah masuk ke dalam kamar utama, menutup pintu kayu tebal itu rapat-rapat.

Ia berjalan mendekati lemari pakaian kayu jati di sudut ruangan. Matanya tertuju pada sebuah gaun dan hijab yang terlipat rapi di dalam lemari. Pagi ini, didorong oleh rasa bahagia dan janji mereka untuk memulai semuanya dari awal sebagai suami istri yang saling mencintai, Aisyah ingin tampil berbeda. Ia tidak ingin lagi terlihat lesu atau minder. Ia ingin menjadi wanita yang paling cantik dan menyejukkan di mata suaminya.

Aisyah mengambil gamis anggun berwarna dusty rose berbahan sutra premium dengan hiasan renda brokat halus di bagian dada gamis pemberian Nabila kemarin sore serta pasmina instan senada yang menutup rapi.

Dengan perlahan, Aisyah melepaskan daster rumahannya dan mengenakan gamis tersebut. Kain sutranya yang dingin dan halus membungkus tubuh rampingnya dengan sangat sempurna, memancarkan kesan anggun, bersih, dan memikat.

Aisyah kemudian melangkah ke depan cermin rias. Ia merapikan rambut hitam panjangnya, mengenakan ciput, lalu menyampirkan kain pasmina instan itu melingkari kepalanya dengan sangat rapi, menutup leher dan mengurai indah menutup bagian dadanya. Aisyah memoleskan sedikit pelembab bibir berwarna merah muda alami di bibirnya yang masih sedikit merona bekas lumatan semalam.

Aisyah menatap pantulan dirinya di cermin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat sosok wanita yang begitu berwibawa, anggun, dan memancarkan pesona seorang istri sholehah.

KLEK.

Gagang pintu kamar berputar. Ammar melangkah masuk ke dalam kamar usai berpamitan sebentar dengan Ibu di bawah.

Begitu melangkahkan kaki melewati ambang pintu, Ammar berniat menutup pintu kembali. Namun, pandangan matanya yang tak sengaja menyapu ke arah meja rias seketika terkunci total!

Langkah kaki Ammar terhenti kaku di tempat.

Pria tegap berwajah tampan khas Timur Tengah itu membeku. Pegangan tangannya pada gagang pintu terlepas pelan. Mata cokelat mewahnya membelalak pelan, menatap lurus pada sosok Aisyah yang berdiri di depan cermin.

Ruangan kamar yang luas itu mendadak diselimuti keheningan yang pekat. Ammar memandang istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip sedikit pun.

Gamis dusty rose yang melilit tubuh Aisyah begitu pas dan sempurna. Namun, yang membuat seluruh aliran darah Ammar berdesir hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan adalah balutan hijab yang melingkari wajah polos Aisyah. Hijab lembut itu membingkai sempurna bentuk wajah oval istrinya, menonjolkan kulit mulusnya yang putih bersih, hidung mungilnya, serta sepasang mata bulat cokelat jernih yang memancarkan kejujuran dan ketulusan jiwa.

Ada pendar keanggunan yang teramat suci, cantik, dan memikat terpancar dari diri Aisyah pagi ini sebuah pesona alami yang sanggup meruntuhkan seluruh keangkuhan dan pertahanan pria mana pun di dunia ini.

Jakun Ammar naik-turun saat ia menelan ludah secara refleks. Dada bidangnya naik-turun memburu pelan.

Aisyah yang menyadari suaminya sudah masuk dan terus menatapnya tanpa berkedip, perlahan memutar tubuhnya. Merekah senyuman tipis yang sangat malu-malu di bibirnya seraya kedua tangannya meremas pelan kain pasminanya.

"M-Mas Ammar...?" panggil Aisyah canggung, wajahnya merona merah tipis. "Kenapa... kenapa liat aku segitunya? B-Bajunya aneh ya di aku? Atau cara aku pakai hijabnya kurang rapi?"

Ammar tidak langsung menjawab dengan kata-kata.

Pria tegap itu perlahan menggerakkan langkah kakinya. Ia melangkah maju mendekati Aisyah dengan gerakan yang begitu tenang, anggun, namun dipenuhi oleh pendar rasa kagum dan kasih sayang yang amat mendalam dari dalam matanya.

Aisyah menahan napasnya saat Ammar terus berjalan hingga mengikis habis jarak di antara mereka. Ammar berhenti tepat satu jengkal di hadapan Aisyah. Aroma wangi parfum minyak zaitun bercampur aroma maskulin yang khas dari tubuh Ammar seketika menyeruak menyelimuti indra penciuman Aisyah.

Ammar mengulurkan jemari tegapnya. Dengan gerakan yang teramat lembut dan berhati-hati, Ammar menyentuh tepi kain pasmina Aisyah di dekat pipinya, merapikan helai kainnya yang sedikit terlipat dengan ketulusan yang mendalam.

Ammar kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya yang tinggi tegap, mendekatkan wajah tampannya ke sisi kepala Aisyah. Embun napas hangat Ammar menerpa lembut permukaan kulit telinga dan leher Aisyah yang terbalut kain halus.

Ammar mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga istrinya, lalu membisikkan kata-kata dengan suara baritonnya yang sangat rendah, parau, dan teramat seksi:

"Masya Allah... kamu cantik banget pake hijab, Aisyah..."

DEG!

Sengatan kehangatan dan rasa bahagia yang luar biasa seketika menjalar hebat dari telinga Aisyah hingga merayap ke seluruh sel tubuhnya!

Kata-kata pujian yang meluncur jujur, syahdu, dan penuh getaran cinta dari bibir Ammar terasa bagaikan aliran arus listrik bertegangan tinggi yang melumpuhkan seluruh persendian kakinya. Pipi Aisyah seketika membara merah padam sampai ke telinga, dadanya bergemuruh heboh oleh detak jantung yang tak terkontrol.

Ammar menarik sedikit wajahnya kembali, menatap lurus ke dalam manik mata Aisyah yang berbinar-binar berkaca-kaca haru. Senyuman tampan dan teramat manis terukir di bibir Ammar—sebuah senyuman tulus yang memancarkan kebanggaan, kepemilikan, dan cinta yang utuh.

"M-Mas Ammar... seriusan?" bisik Aisyah hampir tak bersuara, menyembunyikan senyum bahagianya yang meluap-luap. "Gak bohong kan? Gak cuma mau nyenangin hati aku aja?"

Ammar terkekeh halus sebuah suara tawa rendah yang sangat merdu. Ibu jari Ammar mengusap lembut pipi mulus Aisyah yang membara merah.

"Saya tidak pernah berbohong untuk hal seindah ini, Aisyah," balas Ammar mantap, matanya terkunci lurus pada wajah istrinya. "Kecantikanmu pagi ini benar-benar menyejukkan mata dan meluluhkan hati saya. Kamu terlihat seperti bidadari yang dikirimkan Allah untuk melengkapi hidup saya."

Air mata kebahagiaan akhirnya menetes di sudut mata Aisyah. Seluruh rasa minder, ketakutan akan kehadiran Zahra, atau perasaan bahwa dirinya hanyalah anak jalanan yang tak pantas bersanding dengan seorang Habib... musnah tak berbekas dalam sekejap!

Aisyah memberanikan diri mendongakkan wajahnya, menatap mata cokelat Ammar dengan binar cinta yang membara.

"Terima kasih, Mas Ammar..." bisik Aisyah tulus, mengulurkan tangannya untuk meremas lembut kain kemeja Ammar di dada bidangnya. "Aku... aku janji bakal belajar jadi istri yang baik buat Mas Ammar. Aku bakal belajar nutup aurat dengan benar, belajar agama, biar bisa pantas mendampingi Mas Ammar."

Mendengar janji tulus dari bibir istrinya, mata Ammar makin melunak penuh kehangatan.

"Kamu tidak perlu berubah menjadi orang lain hanya untuk terlihat pantas di mata manusia, Aisyah," tutur Ammar dengan suara rendah yang menenangkan jiwa. "Cukup jadi Aisyah yang seperti ini yang mencintai saya karena Allah, dan yang siap berjalan berdampingan bersama saya melewati suka dan duka."

Ammar lalu merengkuh tubuh ramping Aisyah ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh. Aisyah menyandarkan kepalanya di dada bidang Ammar, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup kencang sama hebohnya dengan detak jantungnya sendiri.

Ammar mendaratkan kecupan lembut dan lama di atas kening Aisyah yang terbalut kain hijab.

"Mulai hari ini..." bisik Ammar di atas kening Aisyah, "saya yang akan membimbingmu, menjaga mu, dan mencintaimu dengan seluruh jiwa saya. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi rasa ragu. Kamu adalah ratu di hati saya, Aisyah."

Di dalam dekapan hangat suaminya, di bawah pendar sinar matahari pagi dan balutan kain syar'i yang anggun, Aisyah memejamkan matanya rapat-rapat. Senyuman paling bahagia mekar sempurna di bibirnya. Badai kesedihan dan keraguan telah berlalu, digantikan oleh fajar baru dalam pernikahan mereka yang kini berdiri kokoh di atas dasar cinta yang suci dan tak tergoyahkan.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!