Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi baru
"Sayang, jadi kamu harus meeting dulu?" tanya Vara.
Dirga mengangguk. "Iya, Sayang. Aku harus meeting dulu dengan klien pagi ini."
"Baiklah. Kalau begitu, kamu satu mobil saja dengan Monica. Aku—"
"Nggak. Aku akan mengantar kamu ke kantor," potong Dirga.
Vara menggenggam tangan suaminya. "Sayang, jarak dari sini ke kantor dan tempat kamu meeting cukup jauh, kan?"
Dirga mengangguk. "Iya."
"Kalau kamu terlambat bagaimana?" Vara terkekeh kecil. "Sudah, jangan pikirkan aku. Aku bisa bawa mobil sendiri. Kamu lupa kalau istri kamu ini Wonder Woman?"
Dirga tersenyum lembut. "Baiklah. Tapi kalau kamu sudah sampai, jangan kabari aku, ya."
"Iya, Sayang."
Monica yang melihat kemesraan mereka hanya bisa menahan kesal. Jemarinya semakin erat menggenggam sendok hingga buku-buku jarinya memutih.
Diana yang menyadari perubahan ekspresi Monica segera meraih tangannya di bawah meja.
"Tenangkan dirimu. Jangan sampai Vara curiga," bisik Diana.
"Iya, Tante."
Vara kemudian bangkit dari kursinya. "Monica, aku duluan, ya. Kamu bareng sama suamiku."
"Iya, Bu."
Vara menoleh kepada Diana dan Bela. "Mama, Bela, aku berangkat dulu, ya."
"Iya, Kak. Hati-hati," jawab Bela.
"Hati-hati, Nak," sahut Diana.
Vara mengangguk, lalu menatap Dirga. "Sayang, aku pamit, ya." Ia mencium tangan Dirga, lalu mengecup pipinya.
"Iya, Sayang. Hati-hati," balas Dirga sambil mencium kening Vara.
Dirga tidak menyadari bahwa pemandangan itu justru membuat Monica semakin cemburu.
Vara kemudian meninggalkan meja makan dengan langkah tenang.
Begitu keluar dari ruangan, senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
Selamat bersenang-senang.
Begitu suara mobil Vara semakin menjauh, Monica langsung menatap Dirga dengan sinis.
"Sayang, aku bisa jelasin."
Dirga segera duduk di samping Monica dan berusaha menggenggam tangannya.
Namun, Monica langsung menepis tangan itu. "Nggak usah kamu jelaskan," ketusnya.
"Sayang, kalau aku nggak menjalankan peranku sebagai suami yang baik, Vara pasti curiga."
Monica terdiam. Mau tidak mau, ia mengakui ucapan Dirga ada benarnya.
"Tapi kenapa kamu nggak kasih aku kabar selama kalian liburan?" tanyanya dengan nada kesal. "Dan kenapa kamu malah memperpanjang waktu sampai empat hari? Bukannya kalian cuma dua hari di sana?"
Dirga menghela napas. "Sayang, Maaf. Aku nggak mau Vara curiga. Aku sengaja nggak menghubungi kamu supaya dia benar-benar percaya sama aku."
Monica masih memasang wajah kesal.
"Monica, Sayang, maafkan Dirga, ya," bujuk Diana.
"Iya, Kak Monic. Kita memang harus bikin Kak Vara senang dulu, baru setelah itu kita singkirkan dia," sambung Bela.
Monica menghembuskan napas berat. Rasa cemburu yang sejak tadi memenuhi pikirannya perlahan mereda setelah mendengar penjelasan mereka.
Dirga kembali mendekat. "Sebagai permintaan maaf, ayo kita belanja, kamu bisa bebas belanja hari ini."
Monica menatapnya.
"Nggak ada meeting, kan?"
Monica mengangguk. "Nggak. Itu cuma akal-akalan aku supaya bisa datang ke sini."
"Iya, aku tahu," ucap Dirga. "Sekarang kita belanja. Biar kamu nggak marah lagi."
Akhirnya Monica tersenyum. Tawaran Dirga untuk berbelanja membuat suasana hatinya kembali membaik.
"Ayo. Aku mau belanja sepuasnya."
Dirga terkekeh. "Silakan, Sayang. Kurang hartaku."
Monica tersenyum puas.
Tanpa mereka sadari, dari arah belakang, Bibi Rati melihat semua kejadian itu.
Awalnya ia hanya berniat membereskan meja makan setelah Vara pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan yang sama sekali tidak pernah ia duga.
Matanya membulat. Tangannya spontan menutup mulut.
"Pak Dirga... selingkuh?"