Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Cerai
Suara tamparan itu menggema keras di ruang tengah.
Nadira langsung terdiam. Kepalanya sedikit menoleh akibat kerasnya pukulan tersebut. Rambutnya yang semula rapi kini jatuh menutupi sebagian wajahnya. Beberapa detik ia hanya berdiri diam, seolah tubuhnya membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi.
Ruangan yang sebelumnya dipenuhi suara perdebatan mendadak sunyi. Tidak ada satu pun yang berbicara. Bahkan Imah yang sejak tadi terus membela Siska dan Rania terlihat membeku. Wanita itu menatap Arhan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Arhan sendiri masih berdiri di hadapan Nadira. Tangannya yang baru saja digunakan untuk menampar istrinya perlahan mengepal. Napasnya terdengar berat. Ia seolah baru menyadari tindakannya sendiri.
Namun, sudah terlambat. Nadira perlahan mengangkat wajahnya.
"Kau memukulku!" teriaknya.
Tangan Arhan segera meraih pipi Nadira. Namun, Nadira memalingkan wajahnya.
"Maaf," ujar Arhan, lirih.
Nadira menatap kesal ke arah suaminya itu, setelah menikah bertahun tahun. Nadira mulai tahu bahwa suaminya lebih memilih keluarganya sendiri dibanding dirinya maupun putrinya.
"Jadi kau lebih memilih keluarga sialan ini, dibanding diriku dan Naya?" ujarnya, bergetar.
Arhan segera menggeleng, "Aku.. Aku tidak maksud begitu. Hanya saja aku... aku tidak suka kamu ngomong seperti itu kepdaku."
Nadira tertawa kecil. Namun, tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawanya. Justru suara itu terdengar begitu getir hingga membuat suasana ruang tengah terasa semakin berat.
"Jadi karena kau tidak suka mendengar perkataanku, kau merasa berhak memukulku?"
Arhan terdiam.
Nadira mengusap pipinya yang terasa panas. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha keras menahan air mata yang sejak tadi ingin jatuh.
"Selama bertahun-tahun aku menjadi istrimu, Arhan." Suaranya bergetar. "Aku bertahan dengan segala macam sikap keluargamu. Aku diam ketika mereka merendahkanku. Aku diam ketika mereka memperlakukanku seperti orang asing di rumah ini. Bahkan ketika mereka menyalahkanku atas sesuatu yang tidak kulakukan, aku tetap berusaha menghormati mereka."
Nadira menatap satu per satu anggota keluarga yang berada di ruangan itu.
"Tapi hari ini..." Ia menarik napas dalam-dalam. "Hari ini aku baru sadar." Tatapannya kembali jatuh kepada Arhan. "Seberapa pun aku berusaha menjadi istri yang baik untukmu, pada akhirnya aku tetap bukan siapa-siapa dibandingkan keluargamu."
"Jangan bicara seperti itu, Nadira," ujar Arhan pelan.
"Kenapa?" Nadira langsung menyela. "Karena kenyataannya memang begitu!" Suaranya meninggi.
"Semenjak jadi istrimu kapan aku membantah permintaan ibu, kapan aku tidak membiayai keluarga ini, kapan aku tidak menafkahi adik adikmu itu! Bahkan gajiku daripada gajimu lebih banyak gajiku!"
Imah menatap remeh ke arah Nadira, "Itu memang sudah tugasmu sebagai kakak tertua, seharusnya kau mengerti!"
Nadira terdiam. Bukan karena ia kehabisan kata-kata, melainkan karena perkataan Imah kali ini benar-benar membuat sesuatu di dalam dirinya terasa patah.
Selama bertahun-tahun, ia selalu mencoba memahami alasan keluarganya. Ia mencoba mengerti bahwa Arhan adalah anak sulung. Ia tahu suaminya memiliki tanggung jawab terhadap ibu dan adik-adiknya.
Karena itu, Nadira tidak pernah benar-benar mempermasalahkan uang yang diberikan Arhan kepada keluarganya. Bahkan, ketika penghasilan Arhan tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga, Nadira tidak pernah mengeluh. Ia justru ikut membantu.
Namun, ternyata semua pengorbanannya dianggap sebagai kewajiban. Bukan sebagai bentuk kasih sayang. Bukan pula sebagai bentuk penghargaan terhadap keluarga suaminya. Melainkan sesuatu yang memang sudah seharusnya ia lakukan.
Nadira menarik napas panjang.
"Sudah." Suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
Namun, justru ketenangan itu membuat semua orang di ruangan tersebut kembali menatapnya. Imah mengernyitkan dahi.
"Apa maksudmu?"
Nadira menatap tajam wanita itu. "Sudah cukup." Ia mengusap pipinya yang masih terasa panas. "Selama ini aku diam karena aku menghormati ibu sebagai ibunya Arhan. Aku diam karena aku tidak ingin membuat suamiku harus memilih antara aku dan keluarganya."
Nadira tertawa hambar. "Mulai sekarang aku tidak akan peduli dengan kalian lagi."
Tatapan Nadira berpindah ke arah suaminya, "Arhan aku tanya kepadamu sekali lagi, kau lebih memilih keluargamu atau keluarga kecil kita!"
Imah segera menggenggam tangan putranya, seolah ia berharap agar putranya lebih memilihnya.
"Arhan! Hentikan ucapan istrimu itu, kau adalah anak sulungku seharusnya kau mengerti keadaan ibu, ayah dan adik adikmu."
"Jawab Arhan!" teriak Nadira.
Arhan menghela napas sejenak, ia menatap ke arah keluarganya sejenak sebelum menatap istrinya.
"Nadira! Sudah cukup, jangan memperpanjang masalah."
Mendengar itu Nadira tertawa, ia tahu suaminya pasti akan memilih keluarganya dibanding dirinya dan putrinya. Ia segera menarik tanga putrinya dengan erat.
"Baiklah, kalau kau memilih keluargamu, lebih baik kita cerai!"
Nadira segera mengajak Naya untuk pergi dari rumah itu. Namun, baru saja ia mau melangkah ibu mertuanya segera menarik tangannya.
"Cerai? Aku tidak setuju! Kau tidak boleh cerai dari putraku!"
Nadira menghentikan langkahnya. Tangannya masih digenggam erat oleh Imah. Cengkeraman wanita itu bahkan terasa semakin kuat ketika mendengar ucapan Nadira tentang perceraian.
Untuk beberapa detik, Nadira hanya menatap tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya itu. Wajahnya yang sebelumnya dipenuhi kesedihan perlahan berubah menjadi dingin.
"Jangan pegang aku." Suaranya pelan.
Namun, Imah tidak langsung melepaskannya. "Kamu pikir kamu bisa seenaknya meminta cerai dari Arhan?" bentak Imah. "Kamu sudah menjadi istrinya bertahun-tahun! Kamu juga sudah menjadi bagian dari keluarga ini!"
Nadira perlahan mengangkat wajahnya. "Bagian dari keluarga ini?" Ia tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. "Selama bertahun-tahun aku juga berpikir begitu, Bu."
Nadira menarik tangannya dengan kuat hingga akhirnya terlepas dari genggaman Imah.
"Aku pikir setelah menikah, keluarga Arhan juga akan menjadi keluargaku. Aku pikir kalau aku menghormati ibu, ayah, dan adik-adiknya, kalian juga akan menghargai aku sebagai istri Arhan." Ia mengusap bekas cengkeraman di pergelangan tangannya. "Tapi ternyata aku salah."
Imah terdiam. Nadira menelan rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya. Ia tidak ingin menangis lagi. Tidak di depan mereka.
"Aku bukan anak yang kalian besarkan. Aku bukan orang yang punya kewajiban untuk memenuhi semua kebutuhan kalian. Setelah kalian memperlakukan putriku seperti ini, lebih baik aku dan Arhan cerai saja!"
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡