Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Dari Tanah Adat
Betul kata Meranting," timpal Genta serius. "Mulai malam ini, kau dan bapakmu adalah keluarga kami. Apapun yang kau butuhkan di pemukiman iko, katakan saja. Jangan sungkan."
Mendengar kehangatan dua sahabat barunya itu Prasetio tidak bisa berkata apa-apa karena begitu terharunya.
Rasa asing dan ketakutan akan belantara Jambi yang tadinya mencekam perlahan sirna, berganti menjadi kedamaian yang belum pernah ia rasakan di tengah himpitan kota.
Tiba-tiba, suara erangan lemah terdengar dari bale-bale sebelah.
"Euhhh..... Pras..."
Semua orang di ruangan itu serta-merta menoleh. Prasetio langsung berdiri, melepas bumbung bambunya dan mendekati tempat tidur sang ayah. Pandi, Genta, Meranting, dan Induk mengikutinya dari belakang.
Di atas bale-bale, Pak Burhan perlahan membuka kedua kelopak matanya. Sorot matanya yang beberapa hari lalu redup dan pudar, kini tampak jernih dan berbinar kembali.
Keringat dingin yang sebelumnya membasahi dahinya telah mengering, ketika Prasetio menyentuh dahi sang ayah, rasa panas membara akibat demam tinggi sudah sepenuhnya hilang. Suhu tubuhnya kembali hangat dan normal.
"Ayah! Ayah sudah baikan?" seru Prasetio Ia menggenggam erat jemari tangan ayahnya.
Pak Burhan mengedipkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya remang lampu minyak di dalam sudung. Ia menggerakkan jemari tangannya yang semula kaku lumpuh, lalu perlahan-lahan meremas balik genggaman tangan Prasetio.
"Pras... di... di mana kita, Nak?" tanya Pak Burhan. Suaranya memang masih agak berat dan serak, tetapi artikulasi katanya jauh lebih jelas. Bibirnya yang kemarin malam melengkung miring akibat stroke kini telah kembali lurus dan simetris.
"Kita di pondok Suku Anak Dalam, Yah. Di tempat Pandi dan orang-orang baik," jawab Prasetio dengan suara bergetar menahan haru. "Ayah sudah aman sekarang. Demam Ayah sudah sembuh total."
Pak Burhan mengalihkan pandangannya pada Pandi yang tersenyum lebar di samping Prasetio, lalu menatap Induk, Genta, dan Meranting yang berdiri mengelilinginya. Air mata menetes perlahan di sudut mata tua Pak Burhan. Walau tubuhnya masih lemah, rasa syukur yang teramat besar terpancar jelas dari raut wajahnya.
Induk maju melangkah, menepuk pelan dada Pak Burhan dengan telapak tangannya yang penuh garis-garis keahlian pengobatan.
"Jangan banyak bergerak dulu, Pak tua. Angin lumpuh di tubuhmu sudah kita usir sebagian. Tinggallah di sini seminggu dua minggu, biar ramuan akar kayu rimba menyempurnakan pulihnya urat-uratmu."
Pak Burhan mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyum tulus yang amat rindang. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Induk dan anak-anak muda yang baik..."
Genta menepuk dada dengan bangga. "Tenang saja, Pak Tua. Di rimba kami, tidak ada tamu yang dibiarkan menderita. Besok pagi, saya dan Meranting akan bantu Pandi menyiapkan bahan kayu untuk membuatkan gubuk tempat tinggal kalian berdua."
"Betul!" sahut Meranting antusias seraya mengacungkan sisa ubi rebus nya. "Gubuk kalian nanti akan kita buatkan dekat air terjun kecil. Pemandangannya indah dan udaranya segar buat memulihkan kesehatan!"
Malam yang tadinya dingin dan mencekam di belantara Jambi itu kini berubah menjadi hangat oleh gelak tawa dan semangat kebersamaan. Prasetio menggenggam erat tangan ayahnya yang makin hangat, sembari menatap satu per satu wajah sahabat-sahabat barunya. Di tengah kegelapan rimba yang perawan ini, Prasetio tahu satu hal lembaran hidup yang baru serta penuh harapan resmi dimulai malam ini.
Matahari pagi menyusup malu-malu di balik rimbunnya belantara Jambi. Kabut tipis yang menyelimuti pemukiman Suku Anak Dalam perlahan terangkat, berganti dengan kehangatan embun yang menetes dari dedaunan tua.
Di dalam sudung, udara terasa jauh lebih lega dibandingkan malam sebelumnya. Pak Burhan sudah bisa duduk bersandar pada dinding bambu, meski gerakannya masih pelan dan berhati-hati.
Pandi, dengan raut wajah mantap, berdiri di dekat pintu sudung seraya membetulkan ikatan kain di pinggangnya. Pagi ini, ia punya tugas penting: meminta izin resmi kepada Jenang—ketua adat dari pemukiman suku tempat bapaknya Genta memimpin.
Di dalam tatanan rimba, membawa orang luar masuk dan mengobatinya di tanah adat bukanlah perkara sepele. Harus ada restu dan pantang-larang yang disepakati agar kehadiran mereka membawa berkah, bukan nya ketidak seimbangan bagi alam sekitar.
"Pras, kau jaga bapakmu dulu di sini," ujar Pandi lembut seraya menepuk bahu Prasetio. "Aku nak menghadap Jenang dan Ketua Adat. Nak minta izin terang-terangan biar kau dan bapakmu bisa tinggal tenang di sudung tampilak, berobat sampai pulih."
Prasetio mengangguk dalam, matanya menyiratkan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Terima kasih banyak, Pandi. Apapun keputusan Ketua Adat, kami akan ikuti dengan ikhlas."
Saat Pandi hendak melangkah keluar, dua sosok tubuh menjulang sudah berdiri gagah menunggu di depan ambang pintu. Genta dan Meranting
Di bawah sinar matahari pagi, perawakan kedua pemuda rimba itu makin terlihat mengagumkan. Tubuh mereka tinggi, tegap, dan kekar dengan kulit sawo matang yang kencang, di tempa oleh kerasnya kehidupan berburu dan menjelajah hutan.
Dada mereka bidang, bahunya kokoh dan cara berdiri mereka sangat sigap—sangat mirip dengan postur prajurit-prajurit tangguh penjaga benteng.
Namun, di balik fisik mereka yang begitu tangguh, raut wajah keduanya dipenuhi kehangatan dan senyum yang ramah
"Iyo, Genta. Aku nak minta izin Jenang, supaya Pras dan bapaknya sah jadi warga tumpangan kita di sudung tampilak," jawab Pandi.
Meranting menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. Ia melangkah mendekat dengan bahunya yang tegap berotot, membawa seikat akar-akaran segar dan bambu muda.
"Bagus itu! Jangan lama-lama kau jalan," celetuk Meranting antusias dengan dialek rimbanya yang khas. "Kito ikut kau! Biar kami bantu cakap ke Tetua. Biar dia tau, budak Pras iko orang baik, bapaknya keno angin lumpuh, butuh ramuan Induk kito. Kalau Tetua nanya, kito berdua yang jadi jaminan!"
Genta menepuk dadanya sendiri hingga terdengar suara buk-buk yang nyaring, menandakan keteguhan fisiknya.
"Betul kata Meranting! Di rimba iko, kalau kito sudah anggap saudara, dak ada yang boleh ganggu. Kito pantang membiarkan tamu sakit tanpa perlindungan. Ayo, Pandi! Kito menghadap Tetua sekarang!"
Melihat semangat dan ketulusan dua pemuda tegap itu, Prasetio tak mampu menahan senyum harunya. Kebaikan mereka begitu murni, tanpa ada niat tersembunyi.
Mereka pamit pada Prasetio dan Pak Burhan, yang di jawab dengan anggukan dan senyum dari anak dan ayah itu.
Ketiga pemuda itu melangkah membelah semak dan pepohonan besar menuju sudung utama milik Ketua Adat. Sepanjang jalan, Genta dan Meranting berjalan dengan langkah mantap dan cepat, memotong ranting-ranting liar yang menghalangi jalan dengan keahlian luar biasa. Gerakan tubuh mereka begitu luwes namun bertenaga, layaknya pengawal kerajaan yang sedang mengawal wilayah.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan panggung kayu yang paling besar di pemukiman itu. Di atas balai-balai luar, duduk seorang lelaki tua berambut perak terurai dengan hiasan manik-manik dan taring babi hutan di lehernya. Dialah Ketua Adat, sosok yang sangat dihormati karena kearifan dan penguasaannya atas hukum-hukum rimba.
Pandi, Genta, dan Meranting membungkukkan badan penuh hormat saat mendekati tangga sudung utama.
"Tabik, Tetua... Tabik, Jenang," panggil Pandi seraya menundukkan kepala dan meletakkan kedua telapak tangannya di dada.
Tetua Adat membuka matanya perlahan, mengamati ketiga pemuda tangguh di hadapannya sebelum pandangannya tertuju pada Pandi. "Pandi... Ada hajat apa kau datang pagi-pagi membawa dua prajurit rimba iko?"
Pandi maju satu langkah, bicaranya tenang namun penuh kesungguhan. "Ampun Tetua, saya datang nak minta izin dan restu adat. Di pondok saya, ada dua orang terang—seorang anak dan bapaknya yang sedang sakit parah terkena angin lumpuh dan demam tinggi. Semalam, Induk sudah mengobatinya dengan ramuan akar kayu. Saya nak minta izin agar mereka boleh berobat di sini dan tinggal sementara waktu di sudung tampilak."
Suasana mendadak hening sejenak. Angin hutan bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan di atas sudung. Tetua Adat mengerutkan dahi, meraba janggut putihnya. Membiarkan orang terang tinggal di dalam pemukiman inti selalu memerlukan pertimbangan matang.Batinnya.
"Orang terang...?" gumam Tetua Adat pelan. "Kau tau aturan rimba kito, Pandi. Hutan iko punya pantang-larang. Tidak semua orang luar bisa menyesuaikan diri dengan hukum alam kito. Bagaimana kau bisa yakin mereka tidak membawa niat buruk?"
Sebelum Pandi sempat menjawab, Genta melangkah maju. Langkah kakinya yang mantap membuat papan kayu sudung terdengar berderit halus. Posturnya yang tinggi dan dadanya yang tegap membuat penampilannya begitu berwibawa di hadapan sang Tetua.
"Numpang cakap, Tetua!" panggil Genta tegas namun penuh rasa hormat.
"Awak, Genta, ikut bersaksi! Budak Pras itu budak jujur, Tetua. Matanya bening, dak do niat jahat. Dia menggendong bapaknya yang lumpuh menembus belantara demi mencari pengobatan. Kalau ada orang terang yang punya kasih sayang sebesar itu pada bapaknya, dia dak akan mungkin merusak rumah kito!"
Meranting ikut maju dan berdiri sejajar di samping Genta. Dua pemuda tegap itu berdiri bagaikan dua pilar kayu ulin yang tak tergoyahkan, untuk Prasetio.
"Iyo, Tetua! Betul kata Genta iko!" sahut Meranting nyaring, tangannya menunjuk ke arah jalan menuju pondok Pandi.
"Bapaknya kemarin sudah dekat dengan maut, mukanya miring keno angin lumpuh. Tapi setelah diminumkan air akar rimba dari Induk, badannya hangat lagi, mukanya sudah lurus kembali! Ramuan rimbo kito membalas kebaikan niat mereka. Kalau alam kito saja sudah menerima mereka untuk sembuh, masa kito orang rimba nak menolak?"
Genta kembali menyambung dengan nada mantap, "Kami beduo—awak dan Meranting—yang bakal mendampingi Pandi! Besok pagi, kami nak potong kayu tegap buat mendirikan sudung tampilak yang kokoh buat mereka dekat air terjun. Kami yang bakal jaga mereka dari binatang buas dan memastikan mereka paham pantang-larang rimba kito. Tolong beri izin, Tetua!"
Tetua Adat memperhatikan Genta dan Meranting bergantian. Senyum tipis perlahan terukir di raut wajahnya yang berkerut. Ia sangat mengenal karakter kedua pemuda itu—Genta yang berani dan berjiwa pelindung, serta Meranting yang jujur dan bersemangat. Kesaksian dari pemuda-pemuda terbaik suku itu tidak pernah bisa diabaikan.
"Mendengar cakap kalian berdua yang begitu yakin..." Tetua Adat akhirnya bersuara, nadanya kini melunak dan penuh kehangatan. "...hati tua iko jadi tenang. Alam rimba tidak pernah salah memilih siapa yang layak disembuhkan. Jika ramuan Induk sudah menyatu dengan darah bapaknya, itu tandanya hutan iko sendiri sudah menyapa mereka."
Pandi, Genta, dan Meranting menghembuskan napas lega secara bersamaan.
"Jadi, Tetua mengizinkan mereka tinggal di sudung tampilak?" tanya Pandi memastikan dengan mata berbinar.
"Iyo, Pandi," jawab Tetua Adat seraya mengangguk pelan. "Izinkan mereka berobat sampai pulih total. Tinggallah di sudung tampilak dekat air terjun itu. Tapi ingat, ajarkan budak orang terang itu cara menghormati rimba. Jangan ada kayu tua yang ditebang sembarangan, dan jangan mengotori aliran air jernih kito."
"Siap, Tetua! Kami ingat semua pesan Tetua!" seru Meranting gembira seraya melompat kecil dan menepuk bahu Genta.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇