Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Hanya Kepadamu, memangnya kenapa?
Beberapa jam kemudian.
Silas menundukkan kepala, tatapannya terpaku pada Nara yang berada di bawah meja. Jemarinya perlahan menyusup ke sela-sela rambut istrinya, melingkar di sana sebelum menggenggamnya dengan lembut. Namun, saat Nara mendongak menatapnya, otot lehernya seketika menegang.
Jakunnya bergerak naik turun ketika ia menelan ludah. Napas yang semula teratur mulai terdengar berat, sementara tangan satunya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Dokumen yang di atas meja masih terbuka, tetapi deretan angka di hadapannya kini terasa seperti sesuatu yang sama sekali tak bisa ia pahami.
"Mm ... Nara." Suara rendah dan serak itu lolos dari bibirnya sebelum sempat ia tahan.
Silas memejamkan mata sejenak, berusaha mengembalikan ketenangannya. Jemarinya yang berada di rambut Nara bergerak perlahan, mengusapnya dengan gerakan yang nyaris tidak disadari. Ketika ia kembali membuka mata, sorot dinginnya berubah lebih dalam. Seolah seluruh kesabarannya sedang diuji oleh perempuan, yang bahkan tidak menyadari betapa besar pengaruhnya terhadap sang CEO.
"Sayang," gumamnya, suaranya terdengar lebih parau daripada sebelumnya. "Kamu tahu betapa sulitnya aku berkonsentrasi sekarang?"
Nara tidak menjawab. Silas menunduk, napasnya semakin berat. Keringat membasahi pelipisnya, sementara jemarinya mencengkeram tepi meja. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya, tetapi usahanya sia-sia ketika gelombang sensasi yang ditahannya akhirnya memuncak.
Geraman rendah lolos dari tenggorokannya. Silas memejamkan mata, membiarkan kepalanya bersandar sejenak, sebelum kembali menunduk untuk mencari Nara dengan pandangan gelapnya.
"Dasar istri nakal," gumamnya, dengan nada yang terdengar jauh lebih lembut daripada kata-katanya.
Di bawah meja, Nara mendongak. Kedua pipinya mengembung, sedangkan matanya tampak memerah. Silas terdiam sejenak melihat wajah istrinya, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap sudut bibir Nara dengan ibu jarinya.
"Telan dulu, Sayang," ucapnya lirih.
Nara menurut. Setelah itu, Silas mengulurkan kedua tangannya untuk membantunya berdiri. Ia menopang pinggang Nara dengan satu tangan, memastikan istrinya berdiri dengan stabil sebelum meraih cangkir teh di atas meja, dan menyerahkannya kepada perempuan itu.
"Minumlah sedikit," kata Silas dengan lembut.
Nara menerima cangkir tersebut dan menyesap tehnya. Sementara itu, Silas merapikan celananya, kemudian mengambil sapu tangan dari saku jasnya untuk menyeka keringat di pelipis, dan dahinya.
Tatapannya kembali tertuju kepada Nara. Setelah memastikan istrinya baik-baik saja, Silas mengusap rambut perempuan itu dengan lembut.
"Sudah merasa lebih baik, Sayang?"
Nara menatap suaminya dengan pipi sedikit menggembung. Bukannya menjawab, ia malah kembali menyesap tehnya beberapa kali. Setelah meletakkan cangkir di atas meja, barulah ia mengangkat wajah dan melotot kesal kepada pria di hadapannya.
"Menurutmu bagaimana?" protes Nara. "Mulutku terasa tidak nyaman, bahkan bibirku juga terasa aneh. Semuanya gara-gara kamu."
Silas menerima omelan itu tanpa membantah. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap pipi istrinya. "Maaf, Sayang. Aku akan lebih memperhatikanmu lain kali."
Nara langsung menyipitkan mata.
"Kamu masih berpikir tentang lain kali?"
Silas terdiam sebentar, lalu sudut bibirnya terangkat.
"Kalau begitu, aku tidak akan membicarakannya sekarang."
"Memang seharusnya begitu!" Nara mendengus. "Aku datang untuk menghiburmu, bukan untuk membuat diriku sendiri kerepotan."
Silas mengangkat alis, lalu menatap istrinya dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Bukankah kamu sudah berhasil menghiburku, Sayang? Bahkan sampai membuatku hampir melupakan semua pekerjaan di atas meja."
Nara terdiam sejenak, sebelum menyadari maksud tersembunyi di balik perkataannya. Wajahnya seketika memerah.
"Silas Crane!"serunya sambil memukul lengan semuanya pelan. "Pikiranmu itu bisa tidak sedikit lebih normal?"
Silas menangkap tangannya, kemudian mengecup punggung jemarinya dengan santai.
"Aku sudah berusaha bersikap normal sejak kamu datang. Sayangnya, istriku terlalu pandai mengalihkan perhatianku."
"Dasar mesum!"
"Kalau hanya kepadamu, memangnya kenapa?"
Nara langsung kehabisan kata-kata. Ia menarik tangannya, lalu memalingkan wajah dengan pipi merona, sementara Silas hanya tersenyum tipis melihat istrinya yang kembali salah tingkah.
"Aku tidak mau bicara denganmu lagi!" gerutu Nara.
"Baik, aku tidak akan mengganggumu."
Silas mengecup keningnya dengan lembut, kemudian membantunya duduk di sofa. Setelah memastikan Nara sudah lebih nyaman, pria itu kembali ke meja kerja, duduk di kursi depan mejanya dan menekan tombol pada panel kendali.
"Robot pelayan, masuk."
Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Robot pelayan yang sebelumnya menunggu di luar masuk dengan langkah mekanis, lalu berhenti beberapa meter dari meja.
"Selamat siang, Tuan Crane. Apa yang bisa saya bantu?"
"Bersihkan area di bawah meja kerja saya. Setelah itu, semprotkan pengharum ruangan secukupnya."
"Baik, Tuan Crane."
Robot itu segera mulai bekerja. Gerakannya teratur dan efisien, sementara Nara yang duduk di sofa mendadak menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ketika mengingat kejadian tadi.
Astaga, sungguh memalukan!
Nara melirik Silas dengan tatapan menuduh. Pria itu justru terlihat sibuk memeriksa dokumen di hadapannya, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
Benar-benar menyebalkan!
Setelah beberapa saat, robot pelayan menyelesaikan tugasnya. Ia berdiri tegak, lalu mengeluarkan sedikit semprotan pengharum ruangan sebelum kembali ke posisi semula.
Silas mengangkat pandangan dari dokumennya. "Selesai?"
"Ya, Tuan. Area di bawah meja telah dibersihkan. Pengharum ruangan juga telah digunakan. Apakah ada instruksi tambahan?"
"Tidak. Kembali bekerja di ruangan ini seperti biasa."
"Baik, Tuan Crane."
Robot itu bergerak menuju sisi ruangan dan melanjutkan tugas rutinnya. Merapikan beberapa benda yang tidak berada di tempat semestinya, kemudian memeriksa kebersihan ruangan melalui sensor yang terpasang pada tubuhnya.
Nara melirik robot itu dengan rasa penasaran. Robot itu berjalan cukup baik, ia tidak tahu bagian perangkat mana yang masih kurang.
Setelah memastikan robot pelayan kembali menjalankan tugas rutinnya, Silas menarik Nara yang sedang melamun. Sebelum perempuan itu sempat bereaksi, ia sudah mendudukkannya di pangkuan, lalu merapatkan kedua lengannya di pinggang sang istri.
Nara tersentak. Ponsel yang dipegangnya hampir terlepas.
"Silas! Kenapa menarikku tiba-tiba?" protesnya sambil menoleh. "Aku bisa duduk sendiri, tahu!"
"Aku tahu, Sayang." Silas membenarkan posisi duduknya, kemudian menyandarkan dagu di bahu Nara. "Tapi aku ingin memelukmu sambil bekerja. Memangnya tidak boleh?"
Nara mengerucutkan bibir. "Kalau aku mengganggumu, jangan salahkan aku, ya!"
"Aku tidak akan menyalahkanmu."
Mendengar jawaban itu, Nara mendengus kecil sebelum membuka gim kesukaannya di ponsel. Tak lama kemudian, robot pelayan datang membawa sepiring keripik dan meletakkannya di meja kecil dekat mereka.
"Wah, keripik!" serunya riang.
Silas tersenyum melihat perubahan ekspresi istrinya. Baru saja mengomel, sekarang perempuan itu sudah sibuk mengambil camilan sambil memainkan ponselnya.
Sementara itu, Silas kembali memeriksa dokumen di layar komputernya. Namun, ketenangan sang CEO tidak bertahan lama.
Ketika karakternya berlari menghindari serangan lawan, Nara tanpa sadar ikut memiringkan tubuh. Setelah berhasil melewati rintangan, ia menegakkan punggung dan menggoyangkan pinggulnya kecil-kecilan.
"Yes! Hampir saja!"
Jari Silas berhenti di atas papan ketik. Ia menunduk, memperhatikan istrinya, lalu mengembuskan napas sambil menggeleng geli.
"Sayang, kamu tahu tidak kalau gerakanmu itu cukup berbahaya?"
Nara mengunyah keripiknya sambil menoleh. "Berbahaya bagaimana?"
Silas mendekatkan wajah ke telinganya, lalu berbisik dengan nada menggoda.
"Kalau kamu terus menggoyangkan pinggul seperti itu, nanti malam aku akan memintamu mengulanginya sampai kamu sendiri yang menyerah."
Nara langsung tersedak kecil.
"Silas Crane!" Ia buru-buru menelan keripiknya, kemudian memukul lengan suaminya pelan. "Pikiranmu itu bisa tidak sedikit lebih normal?"
Silas tertawa, bahunya bergetar menahan geli. Ia mengusap punggung Nara sebentar, memastikan istrinya baik-baik saja, sebelum kembali tersenyum jahil.
"Aku hanya mengingatkanmu, Sayang. Jangan sampai besok kamu malah mengeluh kelelahan dan memilih tetap di tempat tidur daripada menemaniku sarapan."
Wajah Nara memerah hingga ke telinga.
"Dasar mesum! Aku tidak akan melayanimu!"
"Baiklah." Silas mengangguk patuh, tetapi lengannya justru semakin erat memeluk pinggang Nara. "Kalau begitu, aku akan membujuk istriku baik-baik."
"Siapa yang mau dibujuk?!"
Tawa Silas kembali pecah. Ia mengecup pipi Nara sebelum mengalihkan perhatian ke layar komputer.
"Sudah, lanjutkan permainanmu. Aku harus menyelesaikan pekerjaan sebelum pulang."
Nara mendengus, lalu kembali menatap ponselnya dengan wajah cemberut. Namun, ketika Silas diam-diam mengecup pelipisnya sekali lagi, sudut bibirnya justru terangkat.
Menyebalkan sekali! Suaminya itu selalu tahu cara membuatnya salah tingkah.
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor