NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cengkeraman dan Pemberontakan

Napas Hera Grahansa berkejaran satu sama lain, pendek dan terasa begitu sesak di dada. Aliran darah di kepalanya yang semula menumpuk panas akibat tergantung terbalik, kini perlahan-lahan mulai turun kembali mengalir ke seluruh tubuh.

Proses itu meninggalkan rasa pening yang luar biasa, berdenyut-denyut kejam di kedua pelipisnya. Seluruh sel di tubuhnya bergetar.

Jantungnya berdentum sangat kencang, bukan lagi karena sisa rasa takut akibat kejaran sekelompok penunggang kuda beringas tadi, melainkan karena posisi fisiknya saat ini.

Hera, seorang profesor muda yang selalu dihormati dan dipuja di dunia modern, kini berada di bawah kendali fisik mutlak seorang pria asing yang sama sekali tidak ia kenal. Pria itu adalah Sulung.

Wajahnya yang tegas, hidung mancung yang kokoh, dan sepasang mata elang sewarna malam yang sangat tajam menatapnya tanpa riak emosi.

Garis wajahnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pria matang di usia sekitar tiga puluh tahun. Dia sangat tampan dengan cara yang liar, namun ketampanannya memiliki aura yang begitu dingin, beku, dan tidak tersentuh oleh peradaban mana pun.

Begitu rasa pusingnya sedikit berkurang dan logika ilmiahnya kembali terkumpul, Hera segera menyadari betapa intim dan memalukannya posisi mereka saat ini.

Dia berada dalam dekapan penuh pria itu, diangkat di atas dahan pohon purba yang tinggi. Genggaman tangan pria itu pada punggung dan bagian belakang lututnya terasa begitu tebal, kokoh, dan tidak tergoyahkan. Genggaman yang sekeras jepitan besi.

Watak keras kepala, ego tinggi, serta gengsi akademis seorang Grahansa mendadak bangkit kembali dengan kekuatan penuh di dalam dadanya.

"Hei! Lepaskan aku!" bentak Hera. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian malam di atas kanopi Alas Purba.

Kedua tangannya yang terbalut sarung tangan lapangan langsung bergerak, mendorong dada bidang Sulung dengan sekuat tenaga. Namun, usaha kerasnya terasa begitu konyol. Dada pria itu terasa sekeras dinding batu karang yang kokoh.

Dorongan Hera sama sekali tidak mampu menggeser posisi atau postur tubuh Sulung bahkan satu milimeter pun. Pria itu tidak membalas ucapan Hera, tidak juga mengaduh kesakitan.

Dia hanya menatap wanita kota itu dengan pandangan datar yang kosong, seolah-olah teriakan marah Hera hanyalah suara desiran angin malam yang tidak penting untuk didengarkan.

"Dengar tidak, sih? Aku bilang turunkan aku sekarang juga!" Hera mulai dihinggapi rasa panik yang nyata.

Dia mulai meronta secara agresif. Kaki sepatu bot gunungnya dihentakkan ke udara, sementara kedua siku tangannya mencoba memukul pundak kekar Sulung berulang kali.

"Jangan lancang ya! Aku punya kaki, aku bisa berjalan sendiri! Lepaskan cengkeraman tanganmu!"

Sulung mengembuskan napas pendek dari lubang hidungnya, menyebarkan uap putih tipis di udara dingin malam.

Tampaknya, dia sudah kehilangan kesabaran menghadapi kegaduhan luar biasa yang dibuat oleh mahluk asing berbaju modern di dalam dekapannya ini.

Bagi seorang panglima tertinggi klan, kepatuhan adalah hal utama, dan wanita ini terlalu banyak bicara.

Tanpa memberikan aba-aba, peringatan, atau memedulikan protes keras Hera, Sulung mengubah posisi dekapannya dengan satu gerakan taktis yang sangat cepat, efisien, dan bertenaga luar biasa.

"Ah! Apa yang kau lakukan?!" Hera terpekik kaget saat tubuhnya mendadak diputar balik di udara.

Sebelum kesadaran Hera sempat mencerna apa yang sebenarnya terjadi, perutnya sudah mendarat dengan keras di atas pundak kanan Sulung yang lebar, tegap, dan sekokoh kayu jati tua.

Sulung memanggul Hera dengan satu gerakan mulus, seolah-olah sang profesor muda tidak lebih dari sekarung logistik ringan atau hewan hasil buruan kecil di hutan.

Lengan kanan Sulung yang berotot besar dan keras langsung melingkar kuat di sekeliling bagian belakang paha Hera, mengunci pergerakan kedua kaki wanita itu secara mutlak hingga dia tidak bisa lagi menendang.

"Tuan! Turunkan aku! Apa-apaan ini?!" jerit Hera histeris.

Wajahnya kini kembali menggantung ke arah bawah, terpaksa menatap punggung tegap Sulung yang dibalut oleh rompi kulit binatang yang berbau khas hutan.

"Kau tidak punya tata krama ya?! Ini pelecehan namanya! Di kotaku, kau sudah bisa dipenjara karena bertindak sekasar ini kepada wanita!"

Hera benar-benar mengamuk di atas pundak Sulung. Rasa dongkol dan harga dirinya yang diinjak-injak membuat watak keras kepalanya meledak tanpa kendali.

Kedua tangannya yang bebas bergantian memukul-mukul punggung kekar pria itu bertubi-tubi dengan kepalan tinjunya. Dia mencakar kain rompi kulitnya, menggeliatkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan liar demi bisa merosot jatuh dari pundak besi tersebut.

Namun, semua usaha fisiknya sia-sia belaka. Sulung tetap melangkah dengan tenang, seolah pukulan Hera hanya seperti tepukan sayap kupu-kupu di punggungnya.

"Dengar ya, Tarzan liar! Kalau kau tidak menurunkanku sekarang juga dalam hitungan ketiga, aku bersumpah akan membuatmu menyesal! Satu... dua..."

Plak!

Sebuah hantaman telapak tangan yang sangat besar, lebar, dan berat mendarat telak di bagian belakang paha Hera yang dibalut oleh kain celana gunung tebal. Suara tepukan keras itu terdengar sangat nyaring, menggema memotong keheningan malam Alas Purba yang pekat.

Hera langsung terdiam seketika. Kalimat ancamannya terputus di tengah jalan. Matanya membelalak sempurna, membeku dalam rasa terkejut, syok, dan tidak percaya yang luar biasa besar. Seluruh dunianya seolah runtuh dalam satu detik. "Kau... kau baru saja memukulku?!"

"Diam," ucap Sulung.

Itu adalah kata pertama yang akhirnya keluar dari bibir tipis pria misterius tersebut. Suaranya terdengar sangat berat, dalam, kering, dan bergetar rendah di tenggorokan, memancarkan gelombang getaran intimidasi yang langsung menusuk indra pendengaran Hera.

Aura dominasi yang dipancarkan dari satu kata tunggal itu begitu pekat dan pejal, menuntut kepatuhan mutlak dan ketundukan total dari siapa pun yang mendengarnya. Sifatnya mengikat, membuat lidah Hera mendadak kelu untuk membalas.

Sulung tidak menghentikan atau bahkan memperlambat langkah jalannya sedikit pun setelah tindakan tegas barusan.

Dia tetap melangkah maju dengan santai namun pasti, melompati jalinan dahan-dahan pohon raksasa dengan keseimbangan tubuh yang luar biasa mengagumkan.

Pundaknya yang kokoh menyangga tubuh Hera dengan stabil, membawa wanita kota itu menembus kepekatan kabut Alas Purba. Hera, yang kini terpaksa berhenti meronta karena terlalu syok dengan tamparan di pahanya dan aura mengerikan dari suara pria itu, hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan perasaan kesal yang teramat sangat berbaur dengan rasa takut yang mulai merayap kembali. Dia menyadari, hukum dunia modern yang selalu ia agungkan sama sekali tidak berlaku di bawah kuasa pria berambut panjang ini.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!