Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ani Sakit.
Nita menoleh Ani. “Mama harap, kamu tidak melakukan identifikasi DNA Fardan dengan anak itu! Sebagai seorang istri kamu harus menutupi aib suamimu!” Nita menatap tajam ke Ani.
Ani tidak sedikit pun takut dengan ancaman Nita. “Maaf, Ma. Ani harus identifikasi DNA Mas Fardan dan Malika. Supaya Ani tahu kebenarannya.” Ani menceritakan kepada Aldo dan Nita, apa yang membuat ia begitu yakin kalau Malika adalah anak Fardan.
Nita tersenyum mengejek setelah mendengar ucapan Ani. “Memangnya kamu punya uang untuk membayar identifikasi DNA? Biaya identifikasi DNA sangat mahal. Kamu tidak akan sanggup membayarnya.” Nita tahu yang memegang uang adalah Fardan, Ani hanya diberi secukupnya saja oleh Fardan.
“Insyaallah, Ani punya uangnya, Ma,” jawab Ani dengan mantap. Ia tidak takut lagi menghadapi orang tua Fardan. Ani sudah terlanjur sakit hati oleh ulah suaminya. Nita membulatkan matanya dan menatap tajam ke arah Ani setelah mendengar ucapan Ani. Kedua tangannya mengepal di atas kedua kaki. Ia tidak terima apa yang akan Ani lakukan terhadap Fardan.
“Sudah, Ma.” Aldo mengusap punggung Nita agar tenang. “Itu sudah menjadi hak Ani untuk mencari tahu tentang Fardan. Kita tidak bisa melarang. Kita doakan saja Fardan segera sadar dan bertanggung jawab atas semua perbuatannya,” lanjut Aldo.
Nita menoleh ke Aldo. “Bagaimana dengan nasib Fardan nanti, Pa? Bagaimana kalau suaminya Nadira melaporkan perbuatan Fardan?” tanya Nita. “Kasihan Fardan kalau harus masuk penjara.” Nita meneteskan air mata.
“Fardan harus bertanggung jawab atas apa yang sudah ia perbuat!” jawab Aldo. “Sudahlah, sekarang kita lihat keadaan Fardan.” Aldo berdiri dari tempat duduk. Ia membantu Nita berdiri. Aldo menuntun Nita menuju ke ruang rawat HCU bedah saraf. Ani mengikuti mereka dari belakang.
***
Pada suatu hari Ani sedang dalam keadaan tidak sehat. Namun, ia memaksakan pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Fardan. Ketika Ani hendak pulang dari rumah sakit, tiba-tiba teleponnya berdering. Ani mengeluarkan telepon seluler dari dalam tas. Di layar telepon terpampang nama serta wajah Ardi.
Ani menarik napas panjang. ‘Aduh, mau ngapai lagi, sih?’ Ani kesal karena Ardi meneleponnya. Terpaksa Ani menjawab telepon Ardi daripada telepon seluler miliknya terus saja berdering.
“Assalamualaikum,” ucap Ani.
“Wa’alaikumsalam.” Terdengar suara Ardi di seberang telepon.
“Ibu Ani sekarang ada di mana?” tanya Ardi.
“Di dekat rumah, baru turun dari ojek,” jawab Ani. Ia sengaja berbohong agar Ardi tidak mengganggunya.
“Saya mau mengajak Ibu makan. Dari siang saya belum makan.” Dari suaranya sepertinya Ardi kecewa.
Ani tersenyum senang karena berhasil membohongi Ardi. ‘Emang aku pikiran?’
“Makan dengan Pak Edwin aja!” jawab Ani.
“Edwin ada janji dengan calon istrinya. Mereka sedang mempersiapkan pernikahan mereka. Minggu depan mereka akan menikah,” ujar Ardi.
“Makan di rumah saja dengan Malika. Saya sedang tidak enak badan,” kata Ani.
“Kalau begitu, Ibu istirahat saja. Semoga cepat sembuh. Assalamualaikum.” Ardi mengakhiri pembicaraannya.
“Wa’alaikumsalam.” Ani bernapas lega. Ia berhasil menghindar dari Ardi. Ani memasukkan telepon seluler ke dalam tas.
Ketika ia hendak berjalan tiba-tiba tubuhnya mematung, matanya membelalak dan bibirnya membulat. Ardi berdiri di hadapannya. Ardi masih menggunakan seragam dinas. Ia masih terlihat tampan walaupun wajahnya sudah kelihatan lelah.
“Kok di sini? Katanya sedang sakit.” Ardi berdiri sambil memperhatikan Ani.
“Saya memang sedang sakit kepala, makanya saya mau pulang,” jawab Ani dengan tidak semangat. Ia menahan kepalanya yang sedang berdenyut.
Ardi memandang wajah Ani dengan khawatir. Wajah Ani terlihat pucat serta dahinya berkeringat. Badan Ani juga terlihat lemas. “Ibu sudah makan obat?” tanya Ardi dengan khawatir.
“Sudah,” jawab Ani.
“Sudah makan sore?” tanya Ardi lagi.
“Belum. Nanti saja di rumah,” jawab Ani.
“Saya antar pulang. Tapi kita sholat magrib dulu di sini,” ujar Ardi. Tak lama kemudian terdengar suara adzan magrib berkumandang dari masjid.
“Saya sedang tidak sholat,” jawab Ani. Ia sedang m3nstur4si.
“Kalau begitu, Ibu nunggu di luar mesjid,” kata Ardi. Mereka pun berjalan menuju ke mesjid. Ardi berjalan dengan pelan, ia mengikuti langkah Ani yang berjalan pelan-pelan. Ia takut ada apa-apa dengan Ani.
Mesjid rumah sakit berada di dekat tempat parkir. Sesampai di mesjid Ardi menyapu pandangan ke sekeliling mencari tempat duduk untuk Ani. Pandangan Ardi tertuju pada teras mesjid. “Ibu duduk dulu di sana.” Ardi menunjuk ke teras mesjid. Ani menoleh ke tempat yang ditunjuk oleh Ardi lalu ia berjalan menuju teras mesjid. Ardi menjaga Ani dari belakang. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan Ani.
“Ibu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana! Saya mau sholat dulu,” kata Ardi. Ani menjawab dengan mengangguk. Ardi berjalan menuju ke tempat wudhu. Ia meninggalkan Ani sendirian.
Lima belas menit kemudian sholat magrib pun selesai. Ardi menghampiri Ani sambil menenteng sepatu. Ia duduk di sebelah Ani lalu memakai sepatu. Ani memperhatikan Ardi yang sedang memakai sepatu. Sampai akhirnya Ardi selesai memakai sepatu. “Ayo kita pergi.” Ardi langsung berdiri. Ani juga berdiri. Mereka pun berjalan meninggalkan mesjid menuju ke tempat parkir.
“Kuat nggak jalan sampai tempat parkir?” tanya Ardi melihat Ani berjalan dengan lemas. “Masih kuat,” jawab Ani.
“Kalau nggak kuat, nanti saya bopong,” ujar Ardi sambil memandang Ani dengan wajah khawatir. Ani menarik napas panjang mendengar ucapan Ardi.
“Nggak usah!” jawab Ani.