NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 : Bakar Jagung

"Angin malam ini sangat tajam, Luoxue. Masuklah ke dalam, kau bisa jatuh sakit jika terus diluar hawa sedingin ini," tegur Raja Shen Tianyi lembut, menyampirkan jubah bulu rubah salju ke bahu istrinya dari belakang.

Ratu Bai Luoxue tidak beranjak dari balkon pualam Istana Naga Surgawi. Matanya terus menatap ke arah selatan, ke arah pegunungan yang jauh. "Aku tidak bisa tidur, Tianyi. Entah mengapa, perasaanku sangat tidak enak malam ini. Bintang-bintang di atas sana seakan menyembunyikan sesuatu. Bagaimana keadaan Yuan dan Rui di sekte?"

"Mereka berdua pewaris darah murni Naga Surgawi, Istriku. Putra kita orang kuat," jawab Tianyi, memeluk pinggang istrinya.

"Kuat? Mereka masih anak-anak, Tianyi! Rui sangat nakal dan sembrono. Dia pasti selalu membuat Yuan pusing setiap hari. Apakah keputusan kita mengirim mereka ke Perguruan Cang Yue benar? Bagaimana jika Tetua di sana menghukum mereka terlalu keras? Bagaimana jika anakku kelaparan dan kedinginan?" berondong Ratu Luoxue, suaranya mulai bergetar karena rindu.

Raja Tianyi membalikkan tubuh sang Ratu, menatap kedua mata istrinya lekat-lekat. "Luoxue, dengarkan aku. Yuan kelak akan duduk di singgasana ini. Dia harus tahu bagaimana penderitaan rakyat dari bawah. Dan Rui... jika ia terus bermanja di istana ini, kekuatannya akan menjadi bumerang. Mereka berdua harus belajar mandiri dan berdisiplin."

"Tapi aku merindukan mereka, Suamiku. Aku sangat ingin memeluk kedua putraku."

"Aku tahu. Aku juga sangat merindukan mereka."

"YANG MULIA! AMPUN, YANG MULIA!"

Teriakan histeris memecah momen mereka. Kasim Kepala Zhao menerobos masuk ke balkon dengan langkah terseret-seret dan langsung menjatuhkan diri, bersujud di lantai pualam hingga dahinya berdarah. Napasnya terengah-engah dan wajahnya sepucat kertas.

"Ada apa, Kasim Zhao?! Kenapa kau menerobos masuk tanpa pengumuman pengawal?!" bentak Raja Tianyi, auranya kembali mengeras menjadi penguasa yang menggetarkan langit.

"K-Keadaan darurat tingkat tertinggi, Yang Mulia!" Kasim Zhao gemetar hebat, menyerahkan sebuah gulungan kertas yang berlumuran darah kering. "Laporan dari Merpati Darah baru saja tiba! Desa-desa di pinggiran Hutan Bambu Mutiara habis dibakar oleh sekumpulan perampok!"

"Hanya karena perampok kau menerobos kamarku?!"

"B-bukan hanya itu, Yang Mulia! Yang lebih buruk... segel kuno di Kuil Puncak Bintang telah hancur total!"

"Apa katamu?!" Ratu Luoxue memekik ngeri.

"B-benar, Yang Mulia Ratu! Sesosok Iblis Serigala Primordial telah bangkit dari bawah kuil! Makhluk itu mengamuk dan sedang menuju Perguruan Cang Yue! Makhluk itu meneriakkan satu hal... ia mencari Putra Mahkota untuk dibunuh!"

Wajah Raja dan Ratu memucat seketika. Darah mereka seakan membeku.

---

Sementara ketegangan mematikan menyelimuti ibu kota, suara tawa dan derak api unggun justru meramaikan halaman belakang Perguruan Cang Yue.

"Hahaha! Lihat ini, Nona-nona cantik! Jurus Jagung Terbang Membelah Surga!" teriak Yui heboh. Ia melempar tiga bonggol jagung berlapis mentega ke udara, berputar dengan gaya akrobatik murahan, dan menangkap salah satunya menggunakan mulut.

"Wahhh! Tuan Muda Yui sangat hebat!" sorak Jia Li dan Su Yin sambil bertepuk tangan kegirangan.

Di sudut halaman yang menjauh dari api unggun, Shen Yuan hanya duduk diam di atas sebuah log kayu. Wajah pemuda itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Matanya menatap kosong ke arah langit malam yang tak berbulan, hanya ditemani ribuan bintang.

"Haaaah..." Yuan menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.

Yui, yang kebetulan sedang mengunyah jagung, menyadari gelagat aneh kakaknya. Ia segera berjalan menghampiri Yuan dan duduk merapat di sebelahnya.

"Hei, Kakak yang wajahnya sekaku batu bata kuil. Kau kenapa?" tanya Yui cerewet, menyodorkan sisa jagungnya. "Kau kesambet roh penunggu ladang ginseng ya? Daritadi melamun terus."

"Bukan urusanmu," jawab Yuan dingin, menepis tangan adiknya pelan. "Makan saja jagungmu."

"Wah, lihat tatapan kosong dan mata berkaca-kaca itu," goda Yui tak mau menyerah, menyikut lengan Yuan. "Jangan bohong padaku. Perutmu masih melilit gara-gara obat nyamuk superku semalam? Atau kau sedang cemburu melihatku dikelilingi gadis-gadis cantik?"

"Rui, tutup mulutmu sebentar. Kepalaku pusing mendengar suaramu yang tidak pernah berhenti."

"Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu! Ayo mengaku padaku, Kak! Kau merindukan bantal sutramu di rumah, kan?"

Yuan menoleh, menatap mata biru Yui lekat-lekat. Sisi arogannya runtuh seketika. Suaranya merendah, nyaris tak terdengar oleh derak api. "Rui... aku... aku sangat merindukan Ayah dan Ibu."

Kunyah Yui terhenti. Senyum konyol di bibirnya lenyap seketika. "Oh."

"Melihat bintang-bintang itu, aku terus memikirkan apakah Ibu sedang menatap bintang yang sama sekarang," lanjut Yuan dengan nada getir. "Apakah Ayah sedang sibuk membaca gulungan laporan di ruang kerjanya? Kita sudah terlalu lama di tempat ini."

Yui menunduk menatap bara api di kejauhan. Mata birunya meredup. "Aku juga merindukan mereka, Kak. Aku rindu masakan Ibu. Aku benci membersihkan ladang. Aku... aku ingin pulang."

"Kalian merindukan orang tua kalian?"

Suara lembut itu membuat keduanya mendongak. Lin Yue sudah berdiri di depan mereka sambil membawa dua cangkir bambu berisi teh hangat. Ia ikut duduk bersila di depan Yuan dan Rui.

"Kenapa wajah Kak Yuan merah begitu menahan tangis?" tanya Lin Yue polos.

"Aku tidak menangis! Asap api unggun ini masuk ke mataku!" kilah Yuan cepat, memalingkan wajahnya yang memerah malu karena ketahuan.

"Hahaha, akui saja kau cengeng, Kak!" Yui kembali menemukan selera humornya. "Nah, Nona Lin Yue, kau mendengarnya, kan? Kami berdua sangat ingin melihat wajah orang tua kami. Apakah kau punya ide kabur yang brilian lagi?"

"Kalau kalian sangat rindu, kenapa kalian tidak meminta izin pulang saja selama beberapa hari?" saran Lin Yue sambil menyerahkan teh pada Yuan. "Kalian bisa pulang, memeluk ayah dan ibu kalian, lalu kembali lagi ke sini untuk melanjutkan hukuman."

"Tidak semudah itu, Lin Yue," keluh Yuan sambil meniup tehnya. "Siang tadi aku sudah mencoba memohon pada Tetua Pertama saat kita di ladang."

"Lalu apa kata Tetua galak itu?" tanya Lin Yue penasaran.

"Dia melarang keras. Katanya kita sedang dalam masa hukuman ketat. Jangankan pulang untuk menjenguk keluarga, tertinggal satu pelajaran meditasi dasar saja, dia bersumpah akan mencabut status kita dari divisi luar."

"Dasar kakek tua botak menyebalkan!" umpat Yui tiba-tiba, amarahnya meledak menggantikan kesedihannya. "Dia pasti melarang kita karena dia iri tidak punya keluarga untuk dikunjungi! Cih, lihat saja, suatu hari nanti akan kubekukan jenggotnya dan kujadikan sapu ijuk!"

"Rui, kecilkan suaramu! Kau mau kita benar-benar dihukum mencuci kandang babi besok pagi?!" desis Yuan panik, menoleh ke kiri dan kanan.

"Biar saja! Aku ini pria tampan, biarpun menyikat kandang babi keringatku tetap wangi!" balas Yui tak peduli. Ia kembali memakan jagung bakarnya dengan gerakan beringas. Saus mentega dan arang hitam menempel berantakan di sekitar mulut dan dagunya. "Lihat, jagung ini jauh lebih mengerti perasaanku daripada kakek tua itu!"

Lin Yue terkikik geli melihat wajah Yui yang belepotan. "Yui, Yui. Kau ini kalau makan benar-benar persis seperti anak babi kelaparan."

"Hei, ini namanya menikmati hidup dengan rakus—"

Ucapan Yui terputus seketika saat Lin Yue tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan. Tanpa ragu, tangan gadis itu terulur, dan ibu jarinya dengan sangat lembut mengusap sudut bibir Yui, membersihkan butiran jagung dan noda mentega yang menempel di sana.

"Makanya, kalau makan itu pelan-pelan sedikit. Wajah tampanmu tertutup bumbu," tegur Lin Yue sambil tersenyum manis, mengelap ibu jarinya sendiri menggunakan sapu tangan sutra.

Yui hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu nyengir lebar. "Terima kasih, Nona Lin Yue yang baik hati. Sentuhanmu sangat pas, kau memang pantas jadi pelayan pribadiku."

Namun di sebelah mereka, Shen Yuan mematung kaku.

Matanya menatap tajam ke arah ibu jari Lin Yue, lalu beralih menatap senyum lebar adiknya. Dadanya mendadak terasa sesak dan panas. Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba meremas jantungnya dengan sangat kuat. Tangannya tanpa sadar meremas cangkir bambu di pangkuannya.

'Kenapa aku merasa sangat kesal melihat Lin Yue menyentuhnya? Kenapa dadaku terasa panas melihat mereka berdua tertawa?' batin Yuan, rahangnya mengeras.

"Kak Yuan? Kenapa wajahmu makin kusut dan seram begitu?" tanya Lin Yue, menyadari aura dingin yang tiba-tiba memancar dari pemuda itu.

"Bukan apa-apa," jawab Yuan ketus, membuang mukanya ke arah pohon. "Aku hanya muak melihat cara makan Yui yang berantakan dan tidak beretika."

"Hei! Kenapa kau jadi marah padaku, Kak—"

GLETEK.... SREKKK....

Suara goresan panjang kuku logam yang mencakar dinding batu bata itu memotong protes Yui seketika. Suara itu terdengar luar biasa keras dari arah tembok belakang halaman sekte.

Api unggun di tengah halaman tiba-tiba berkedip redup seolah kehabisan oksigen. Hembusan angin malam mendadak membawa bau anyir darah yang sangat pekat dan busuk. Tawa para gadis Asrama Selatan di seberang sana langsung berhenti total.

"S-suara apa itu?" bisik Lin Yue gemetar, refleks bergeser mendekat ke arah Yuan.

Yui membuang sisa jagungnya ke tanah. Wajah konyolnya lenyap tak berbekas. Matanya melebar ngeri mengenali ritme suara itu. "Itu... itu suara yang sama! Suara kuku yang kudengar di luar pintu ruang hukuman semalam!"

***

Like

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!