NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:501
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: REAKSI TUBUH YANG SAMA

Jam istirahat kedua baru saja dimulai. Suasana kantin SMA Garuda Bangsa riuh oleh ratusan murid yang mengantre makanan. Clara berjalan perlahan menelusuri deretan stan makanan, berusaha mencari sesuatu yang terjangkau dan tidak mengocok perutnya yang terasa mual.

Dion yang membuntutinya sejak keluar kelas langsung mengambil posisi di samping Clara, membawa nampan berisi dua mangkuk sup hangat dan beberapa camilan.

"Clara, duduk di sini aja. Aku tahu kamu belum makan dari pagi, kan?" Dion menunjuk meja kosong di sudut kantin, lalu menggeser satu mangkuk ke hadapan Clara. "Ini sup jagung manis sama seafood cincang. Bagus buat nambah tenaga kamu yang sering lemas."

Clara menghentikan langkahnya, menatap Dion dengan perasaan serba salah. Bayangan ancaman Arsen di tangga darurat tadi pagi masih membayang jelas di benaknya. Namun, perutnya yang perih akibat anemia dan porsi makan yang minim tak bisa diajak kompromi.

"Makasih ya, Dion... tapi sebenarnya kamu nggak perlu sampai repot-repot begini," cicit Clara pelan seraya duduk berseberangan dengan Dion.

"Kita kan teman dari kota asal, Clara. Aku cuma nggak mau liat kamu pingsan lagi kayak di tempat karaoke waktu itu," sahut Dion tulus.

Tanpa curiga, Clara mengambil sendok dan menyuapkan sup hangat itu ke dalam mulutnya. Rasa gurih sup dan potongan udang cincang terasa menenangkan perutnya yang kosong. Namun, baru tiga suapan tertelan, tenggorokan Clara mendadak terasa gatal luar biasa.

Rasa panas menyengat yang hebat dengan cepat merambat ke dadanya.

"Ugh..." Clara meletakkan sendoknya. Tangannya refleks mencengkeram lehernya sendiri.

Dion panik. "Clara? Kamu kenapa?!"

Bintik-bintik merah mendadak bermunculan di kulit leher dan lengan Clara yang pucat. Napasnya memburu, terdengar bengek dan berat seolah saluran pernafasannya mendadak menyempit secara drastis. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sesak yang menghimpit dada.

"S-sesak... Dion..." bisik Clara terputus-putus.

Di meja utama kantin—tempat yang selalu dikosongkan khusus untuk Tuan Muda Arsen—pemuda itu sedang menyesap tehnya dengan tenang. Namun, begitu pendengarannya menangkap keributan di sudut kantin dan melihat tubuh Clara yang gemetar hebat, cangkir teh di tangannya terhempas kasar ke atas meja.

Brak!

Suara pecahan cangkir membuat separuh penghuni kantin terlonjak kaget. Tanpa memedulikan tatapan heran teman-temannya, Arsen melompati kursi dan berlari kencang menghampiri meja Clara.

Aura dingin dan tak tersentuh yang biasanya melekat pada Arsen mendadak runtuh total. Wajahnya yang selalu tanpa ekspresi kini diwarnai kepanikan yang teramat sangat.

"Clara!" bentak Arsen seraya menepis Dion yang sedang bingung harus melakukan apa.

Arsen menarik tubuh Clara yang lemas, mencengkeram kedua bahunya, lalu melirik mangkuk sup di meja. Matanya menyipit tajam saat melihat potongan kecil udang di dasar mangkuk.

"Kamu makan udang?!" suara Arsen meninggi, bergetar oleh amarah dan ketakutan yang tak bisa ia jelaskan.

Clara tidak bisa menjawab. Wajahnya yang semula pucat kini memerah panik, napasnya makin tercekat dan matanya mulai memutar ke atas.

"Minggir!" bentak Arsen pada Dion dan murid-murid yang berkerumun.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arsen menyusupkan tangannya ke bawah paha dan punggung Clara, menggendong tubuh lemas gadis itu secara bridal style di dekapannya. Arsen berlari kencang membelah kerumunan kantin menuju area parkir khusus di depan sekolah.

Dion berusaha mengejar dari belakang. "Arsen! Mau kamu bawa ke mana Clara?!"

"Tutup mulutmu!" bentak Arsen tanpa menoleh, matanya merah menahan emosi. "Gara-gara makanan sampahmu, dia hampir mati!"

Arsen menjejalkan tubuh Clara ke kursi belakang mobil sedan mewahnya, lalu memerintahkan supir pribadinya untuk tancap gas. "Ke Rumah Sakit Medika Sentosa! Sekarang! Hubungi Dokter Hendra untuk siapkan ruang penanganan darurat!"

Di sepanjang perjalanan, Arsen merengkuh tubuh Clara yang gemetar dan makin lemas. Ia mengeluarkan alat suntik otomatis (EpiPen) dari saku jasnya dan menyuntikkannya ke paha Clara sebagai pertolongan pertama. Jemari Arsen yang tremor menepuk-nepuk pipi pucat Clara.

"Tahan... napas pelan-pelan, Clara. Tetap sadar, jangan meram!" bisik Arsen tepat di telinga Clara. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan sarat akan kecemasan yang luar biasa.

Mobil berhenti mendadak di depan pintu IGD Rumah Sakit Medika Sentosa—rumah sakit swasta milik jaringan bisnis keluarganya. Dokter Hendra dan tim medis sudah bersiap dengan brankar.

Arsen sendiri yang memindahkan tubuh Clara ke atas brankar dan ikut berlari mendampingi tim medis hingga ke depan pintu ruang penanganan intensif.

Di luar ruangan, Arsen menyandar lemas di dinding lorong rumah sakit. Napasnya memburu, tangannya yang masih gemetar menatap pintu ruang tindakan yang tertutup rapat.

Dada Arsen bergemuruh hebat. Alergi udang dan makanan laut jenis crustacea adalah alergi anafilaksis tingkat fatal yang ia miliki sejak lahir—alergi langka yang bahkan tidak dimiliki oleh ayahnya. Reaksi tubuh Clara, bintik merah di lehernya, hingga titik sesak napas yang melumpuhkannya... semuanya sama persis dengan reaksi alergi yang menyiksa Arsen sejak kecil.

Bagaimana mungkin... bisa ada orang lain yang memiliki reaksi alergi yang persis sama denganku? batin Arsen penuh kebingungan, menatap telapak tangannya sendiri yang dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!