Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERANKAS YANG TERBUKA
"Kemarin sore jam berapa kamu kasih kodenya ke Melia, Bu?"
Sinta bertanya sambil setengah berlari menyusuri trotoar menuju mobil Tari. Bu Retno mengikuti di belakang dengan napas tersengal, kebayanya kusut, tangannya mencengkeram tas kecil seperti orang memegang pelampung.
"Jam empat. Sebelum dia pergi ke butik."
"Dia pergi sendiri?"
"Diantar sopir. Pulangnya jam tujuh malam."
"Dan brankasnya Ibu periksa kapan?"
"Jam dua pagi. Setelah polisi menelepon Damar bilang kamu ada di sana." Bu Retno menelan ludah. "Aku tidak bisa tidur. Aku buka brankas cuma untuk memastikan semuanya aman. Isinya sudah tidak ada."
Tari membuka pintu mobil. "Jadi ada jeda sepuluh jam. Siapa saja yang masuk kamar Ibu dalam sepuluh jam itu?"
"Pembantu. Rini. Damar. Dan Melia, yang kamarnya persis di sebelah."
"Rini tidak tahu kodenya?"
"Tidak." Bu Retno masuk ke kursi belakang tanpa menunggu dipersilakan. "Tapi Rini bisa saja melihat Melia keluar masuk."
Sinta duduk di sebelahnya, menutup pintu, dan menatap mertuanya dari samping. Wajah perempuan itu berubah selama dua puluh menit terakhir. Kerutan di sudut matanya makin dalam, bibirnya menipis, dan sorot angkuh yang selama tujuh tahun ia pakai seperti baju zirah kini berlubang di banyak tempat.
"Ibu takut," kata Sinta pelan.
"Aku tidak takut."
"Tangan Ibu gemetar."
Bu Retno menurunkan pandangan ke pangkuannya. Memang gemetar. Ia mengepalkan jemarinya, lalu membuka lagi, lalu menyerah menyembunyikannya.
"Aku bukan takut pada Melia," ucapnya akhirnya. "Aku takut pada apa yang ada di dalam amplop itu, kalau jatuh ke tangan Hendra."
"Dokumen ketiga yang Ibu sebut tadi."
"Ya."
"Isinya apa?"
"Nanti kamu lihat sendiri." Bu Retno memalingkan wajah ke jendela. "Kalau dia memang tidak membawanya ke ayahnya."
---
Rumah Wiryawan siang itu sunyi. Tidak ada tukang kebun, tidak ada suara televisi, hanya tirai yang bergoyang pelan tertiup kipas di ruang tamu. Rini muncul dari dapur dengan mata sembap, rambut diikat sembarangan, dan langsung menegang melihat siapa yang masuk bersama ibunya.
"Bu, kenapa dia dibawa pulang?" bisiknya tajam sambil menunjuk Sinta.
"Diam, Rini. Melia di mana?"
"Di kamar. Dari tadi pagi nggak keluar."
"Panggil."
"Tapi Bu..."
"Aku bilang panggil."
Rini mendengus, lalu berlalu ke lorong dengan langkah dibanting. Sinta berdiri di tengah ruang tamu, mengamati sekeliling dengan mata yang kini terasa asing. Tujuh tahun ia menyapu lantai ini, mengelap kaca-kaca ini, menyiapkan makan di meja panjang itu. Tapi hari ini untuk pertama kalinya ia melihat rumah itu bukan sebagai penjara, melainkan sebagai tempat kejadian perkara.
"Kak Sinta."
Melia muncul di ujung lorong, mengenakan daster putih dan rambut tergerai basah, seperti baru selesai mandi. Wajahnya segar, senyumnya lembut, tapi matanya langsung melompat ke arah ibu mertuanya, lalu ke Tari, lalu kembali ke Sinta, mengukur berapa orang yang berdiri melawannya.
"Wah, rame sekali. Ada acara apa?"
"Brankas Ibu terbuka semalam," kata Sinta tanpa basa-basi. "Isinya hilang. Ibu bilang kodenya baru dikasih ke kamu."
Melia berkedip sekali. Pelan. Lalu tertawa kecil, canggung dan terlalu pas.
"Brankas? Aku tidak pernah membukanya, Kak. Aku bahkan tidak tahu letaknya."
"Tapi kodenya kamu pegang."
"Bu Retno memang memberikan angkanya, tapi katanya buat jaga-jaga kalau ada apa-apa." Melia menatap Bu Retno dengan mata berkaca. "Ibu, aku salah apa? Kenapa Ibu menuduhku seperti ini?"
Bu Retno tak menjawab. Ia hanya menatap Melia lekat-lekat, seperti hakim yang menunggu terdakwa terpeleset di kalimat berikutnya.
"Sudah berapa lama Mas Reza menghubungimu?" tanya Sinta tenang.
Wajah Melia membeku.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup. Senyum itu tidak runtuh, tidak pecah, hanya berhenti bergerak seperti topeng yang macet di tengah ekspresi.
"Siapa?" tanya Melia lirih.
"Lelaki yang kamu telepon di taman malam itu. Yang kamu panggil 'Mas'. Yang bengkelnya dibakar."
"Aku tidak tahu siapa yang Kakak maksud."
"Mel." Bu Retno akhirnya bersuara, dan nadanya begitu datar hingga Rini yang berdiri di lorong menggigil. "Tadi pagi Pak Wiryo ketahuan bekerja untuk ayahmu. Dua tahun. Kalau kamu masih mau berbohong padaku, lakukan sekarang. Setelah ini aku tidak akan sabar lagi."
Melia menatapnya. Lama. Matanya yang tadi berkaca-kaca mulai berair sungguhan, dan tubuhnya, perlahan, merosot jatuh ke sofa seperti boneka yang talinya digunting.
"Aku tidak mau menikah dengan Mas Damar," bisiknya.
Hening.
"Aku tidak mau, Bu. Dari awal aku tidak mau." Air mata menetes ke pangkuannya. "Tapi Papa bilang kalau aku menolak, Papa akan... akan melakukan sesuatu pada Mas Reza. Dan pada bayiku."
"Melakukan apa?"
"Papa bilang kecelakaan itu gampang diatur."
Sinta merasakan bulu kuduknya meremang. Tari yang berdiri di dekat pintu diam-diam mengangkat ponselnya, dan lampu merah kecil menyala lagi.
"Jadi kamu yang ambil amplop itu?" tanya Bu Retno.
"Iya." Melia mengangguk di antara isak. "Tadi malam, jam sebelas. Papa telepon, suruh aku ambil semua dokumen di brankas. Aku bilang tidak mau. Papa bilang kalau aku tidak ambil, besok pagi bengkel Mas Reza tidak akan jadi bengkel lagi tapi kuburan."
"Dan kamu ambil."
"Aku ambil." Ia menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku masukkan ke dalam tas, lalu Pak Wiryo yang jemput lewat pintu belakang. Aku pikir itu cuma kertas. Aku tidak tahu isinya apa."
"Kamu tidak baca?"
"Aku cuma lihat satu. Amplop paling tebal."
Sinta melangkah maju, berjongkok di depan Melia, dan menatap wajah basah itu tanpa belas kasihan, tapi juga tanpa amarah.
"Mel, aku mau percaya padamu, tapi kamu sudah berbohong padaku dua kali. Kalau kamu mau aku membantu, kamu harus jujur sekarang. Semuanya."
"Aku jujur."
"Kamu bilang kamu tidak tahu isi amplop itu. Tapi malam di taman, kamu bilang ke Mas Reza, 'Dia tidak tahu isinya, kalau sampai dia tahu...' Siapa yang kamu maksud dengan 'dia'?"
Melia mengangkat wajah dan menatap Sinta. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Ketakutan, tapi bercampur dengan hal lain yang lebih sulit dinamai, mungkin rasa bersalah, mungkin rasa kasihan.
"Kakak," bisiknya.
"Aku?"
"Papa bilang amplop itu memuat sesuatu yang akan membuat Kakak berhenti melawan keluarga ini selamanya. Bukan hasil lab Mas Damar. Bukan surat perjanjian." Melia menelan ludah. "Itu tentang Kakak sendiri."
"Tentang aku apa?"
"Papa tidak pernah bilang. Tapi tadi malam, waktu aku menyerahkan tasnya ke Pak Wiryo, aku lihat satu lembar jatuh ke lantai. Cuma sebentar. Aku sempat membaca satu nama di atasnya."
Jantung Sinta berdegup keras. Ia sudah menduga jawabannya sebelum Melia mengucapkannya, dan itu justru membuat dadanya terasa dingin.
"Nama siapa?"
"Nama bapaknya Kakak." Melia menatapnya, air matanya menetes tanpa suara. "Pak Darmawan. Tanggalnya sepuluh hari sebelum beliau meninggal. Dan tertulis di sana, Kak, bahwa tagihan operasinya dibayar bukan oleh Bu Retno."
Sinta tidak bergerak.
Bu Retno, di belakangnya, menarik napas tajam. Rini yang sejak tadi menyimak dari lorong menutup mulutnya dengan tangan.
"Lalu dibayar siapa?" tanya Sinta, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
Melia membuka mulut, tapi ponselnya tiba-tiba bergetar keras di saku daster. Ia merogohnya dengan tangan gemetar, melihat layar, dan wajahnya langsung pucat pasi seperti kertas.
"Papa," bisiknya. "Dia tahu aku di sini."
"Jangan diangkat," perintah Bu Retno.
Tapi sebelum siapa pun sempat bergerak, ponsel itu berbunyi sekali lagi, kali ini bukan panggilan, melainkan pesan singkat yang muncul di layar yang terbuka. Sinta membacanya dari jarak dekat, dan seluruh darah di tubuhnya serasa surut.
*Kalau Sinta sampai tahu siapa yang membayar operasi bapaknya, kamu tahu apa yang harus dilakukan, Mel. Anak itu tidak boleh keluar dari rumah itu hidup-hidup.*