Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Berbeda dengan gema desahan dan rintihan penuh cinta yang membakar udara penthouse mewah milik Diedrick Ashford, di sisi lain kota New York, keheningan mencekam melingkupi sebuah ruangan tersembunyi di lantai teratas Mansion Mewah Bond.
Ruangan itu remang, hanya diterangi oleh pendar biru dari deretan layar monitor dan satu lampu meja yang menyala temaram.
Bau tembakau berat dan alkohol membumbung pekat.
BZZZ... BZZZ...
Panggilan telepon yang bergetar nyaring di atas meja kaca mendadak memecah keheningan. Jemari tegap Arthur Bond terulur, meraih ponsel itu lalu menempelkannya ke telinga tanpa bersuara.
"Tuan Bond," suara serak seorang detektif swasta terdengar dari balik saluran telepon.
"Laporan penyelidikan mendalam terkait masa lalu istri Anda empat tahun lalu sudah selesai. Berkas dan lampiran bukti foto digital baru saja saya kirimkan ke email rahasia Anda. Anda bisa memverifikasinya sekarang."
Arthur mematikan sambungan secara sepihak. Jemarinya bergerak cepat membuka folder enkripsi di komputer mejanya.
Sebuah berkas tebal terbuka, memajang puluhan dokumen, riwayat sekolah, serta lampiran foto-foto lama beresolusi tinggi.
Deg.
Manik mata Arthur membelalak lebar.
Tangannya mendadak bergetar hebat saat kursor mouse mengklik lembaran foto-foto tersebut satu per satu.
Di layar monitor, terpampang foto sepasang kekasih remaja yang saling memeluk erat dengan latar belakang gedung High School ternama New York.
Gadis dalam foto itu adalah Rexana dengan rambut panjangnya yang indah dan senyum manis terpancar murni—senyuman hangat yang tidak pernah sekali pun diperlihatkan pada Arthur selama empat tahun pernikahan mereka.
Dan pria yang merangkul pinggang Rexana dengan tatapan penuh pemujaan di foto itu tak lain adalah...
Diedrick Glodereus Ashford.
PRANG!
Gelas wiski kristal di tangan Arthur dihantamkan ke dinding marmer hingga hancur berkeping-keping.
Pria itu berdiri mendadak, menatap sekeliling ruangan tersembunyi tersebut dengan napas memburu liar dan dada yang naik-turun menahan keputusasaan yang membakar.
Ruangan rahasia itu... dinding-dindingnya dipenuhi oleh ratusan foto wajah Rexana.
Foto saat wanita itu tersenyum, saat tertidur, saat berjalan kaku di mansion, hingga foto-foto tersembunyi yang diambil secara diam-diam.
Sebuah plot twist kejam yang tersimpan rapi di balik topeng iblis Arthur Bond: Pria itu sebetulnya sangat, amat mencintai istrinya.
Arthur telah jatuh cinta pada Rexana sejak pertama kali melihat gadis itu di sebuah acara jamuan bisnis bertahun-tahun lalu.
Cinta yang begitu obsesif dan mendalam membuat Arthur rela menggunakan segala kekuasaan dan kekayaannya untuk membuat keluarga Nycekerh memohon padanya.
Dia membeli seluruh hutang ayah Rexana, menekan keluarga itu hingga tak punya pilihan selain menyerahkan putri bungsu mereka sebagai penebus dosa.
Namun, harapan dan impian indah Arthur hancur berkeping-keping di malam pertama pernikahan mereka empat tahun lalu.
Saat itu, Rexana dengan kejujuran yang dingin mengaku bahwa dirinya sudah tidak per*wan, bahwa ia telah menyerahkan seluruh tubuh dan jiwanya kepada pria lain dari masa lalunya.
Dunia Arthur runtuh malam itu.
Pria yang dipujanya, gadis yang diimpikannya menjadi milik utuh dirinya, ternyata telah menyerahkan mahkota tertingginya pada orang lain—pria yang diasumsikan Arthur hanyalah lelaki miskin rendahan modal janji manis atas nama cinta.
Rasa sakit hati, harga diri yang terinjak, dan cemburu buta membuat Arthur bersumpah untuk menghukum Rexana.
Dia memboyong istrinya ke Swiss, mengisolasinya, memakinya dengan kata-kata kasar setiap hari, hanya demi membuat Rexana menyesal dan berlutut memohon ampun padanya.
Bahkan saat Arthur meniduri sepuluh wanita lain atau membawa kekasih gelapnya ke hadapan publik, semua itu hanyalah pelampiasan dendam yang sia-sia.
Karena di setiap desahan panjangnya di atas ranjang bersama wanita-wanita itu, hanya ada satu nama yang bergaung di dalam benaknya: Rexana. Rexana. Dan Rexana.
Tapi kenyataan malam ini jauh lebih mengerikan dari dugaan terburuknya.
Pemilik masa lalu istrinya bukanlah pria jalanan rendahan.
Pria itu adalah Diedrick Glodereus Ashford—salah satu penerus imperium paling berkuasa di New York!
"Sialan... SIALAN!" jerit Arthur murka, suaranya menggelegar menghancurkan keheningan mansion.
Arthur menyapu seluruh berkas di atas mejanya hingga berserakan di lantai.
Dia dibodohi!
Selama empat tahun ini dia ditipu oleh kebohongan Rexana!
Kebohongan yang kini justru mengantarkan istrinya sendiri kembali ke pelukan pria yang sangat dicintainya.
Pesta malam ini, lingerie sutra hitam yang dibelinya, dan instruksinya agar Rexana pergi ke penthouse... semuanya berubah menjadi karpet merah perselingkuhan yang dia fasilitasi sendiri di depan matanya!
"Diedrick Ashford..." desis Arthur dengan mata memerah sangar, urat-urat lehernya menegang penuh kegilaan. "Kau membohongiku, Rexana! Kau membodohiku!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arthur menyambar kunci mobil dan pistol dari dalam laci meja, melangkah lebar keluar dari ruangan rahasia itu untuk menjemput istrinya secara paksa.
***
Sementara di dalam kamar penthouse yang temaram, hembusan napas hangat dan pergulatan gairah masih membakar sprei sutra kelabu.
Dua jiwa yang saling merindukan itu tenggelam dalam lautan pemujaan.
Mereka berdua membiarkan kata "mabuk" menjadi dalih atas dosa dan kenikmatan yang terajut malam itu.
Desahan demi desahan meluncur pasrah dari bibir Rexana setiap kali Diedrick bergerak, menyatukan kembali serpihan-serpihan cinta yang sempat terputus selama empat tahun.
Hentakan lembut namun dominan dari Diedrick dipenuhi dengan kehati-hatian yang teramat sangat.
Pria itu merendahkan tubuhnya, menangkup pipi porselen Rexana, lalu menciumi sudut mata wanita itu yang masih basah oleh sisa air mata.
"Apa kau suka, honey?" bisik Diedrick dengan suara serak yang memikat, memutar panggulnya perlahan sembari menatap dalam-dalam mata redup yang kini berbinar hangat.
"Apa sakit? Katakan padaku jika ritme ini terlalu kencang..."
Rexana menggelengkan kepalanya dalam pasrah yang manis, melingkarkan kedua lengannya di leher tegap Diedrick, menarik pria itu makin rapat hingga tak ada celah di antara dada mereka.
"Tidak... tidak sakit..." rintih Rexana lirih, menatap bibir Diedrick yang terengap di atas wajahnya.
"Ini... sungguh nyaman, Diedrick..."
Diedrick mengecup bibir merah itu bertubi-tubi, memberikan ciuman-ciuman dalam yang sarat akan bisikan janji.
"Aku mencintaimu, Bellerina..." bisik Diedrick berulang kali bagaikan mantra, setiap dorongan tubuhnya seolah menyuarakan kerinduan yang teramat mendalam.
"Aku sangat mencintaimu... Jangan pernah meninggalkanku lagi, kumohon. Aku tidak peduli pada Arthur, aku tidak peduli pada dunia. Kau milikku, Rexana. Hanya milikku."
"Aku mencintaimu, Diedrick..." balas Rexana tanpa ragu lagi, menyerahkan seluruh sisa napas dan tubuhnya ke dalam dekapan hangat pria yang selalu menjadi satu-satunya pemilik hatinya.
Di atas ranjang itu, di antara helaan napas yang memburu dan pelukan yang tak ingin terlepas, mereka saling menyembuhkan luka masa lalu—sama sekali belum menyadari bahwa badai kemurkaan Arthur Bond sedang melaju kencang menembus jalanan malam New York, membawa dendam dan kegilaan yang siap menghancurkan segalanya.
love sekebon
happy graduation eh happy birthday mksdnya