NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 Semua yang Direbut Perlahan Hilang

“Apakah kita perlu memindahkan Nona Alkina lagi?”

Mira menatap ke arah toko buku tempat Alkina sedang bekerja sambil membantu anak kecil memilih buku cerita. Wajah gadis itu terlihat jauh lebih hidup sekarang.

Dan Mira tahu ia tidak akan membiarkan siapa pun merusak ketenangan itu lagi.

“Tidak perlu,” jawab Mira tenang.

“Tapi mulai sekarang…” Tatapan wanita itu berubah dingin.

“…awasi Sisil dan juga keluarga kandungnya.”

******

Pagi itu suasana rumah keluarga Wiratmaja terasa sangat sunyi.

Sisil turun tangga dengan wajah kusut setelah semalaman tidak bisa tidur. Kepalanya penuh pikiran sejak Ranti mulai menarik semua fasilitas yang biasa ia nikmati.

Namun ia masih mencoba berpikir positif, mungkin Ranti hanya marah sementara, mungkin semuanya akan kembali normal.

“Aunty,” panggilnya sambil duduk di kursi meja makan.

Ranti yang sedang membaca dokumen hanya melirik sekilas.

“Ada apa?” tanyanya.

“Aku mau kartu yang kemarin diblokir dibuka lagi aunty.”

“Tidak akan.” Jawaban singkat itu membuat Sisil langsung menegang.

“Aku butuh kartu itu aunty.”

Ranti menutup dokumennya perlahan.

“Untuk apa?” tanya Ranti sekarang melihat ke arah Sisil.

“Hari ini aku mau pergi sama teman-teman aku aunty.”

Ranti mengeluarkan dompet lalu meletakkan selembar uang di meja.

“Ini uang untuk kamu.” Ucap Ranti dengan wajah datarnya. Ia meletakkan satu lembar uang seratus ribu.

Sisil langsung membeku.

“Cuma segini?” ucap Sisil yang sudah terbiasa memegang uang lembaran uang merah yang banyak.

“Mulai hari ini uang belanja kamu sebanyak ini.”

Wajah gadis itu langsung pucat.

“Cuma seratus ribu?”

Ranti menatapnya dingin.

“Kurang?” tanya Ranti yang tentunya ia tahu jawabannya.

“Tentu saja kurang aunty.” Sisil yakin tantenya itu akan memberikan tambahan. Ia berpikir tantenya itu hanya bercanda saja.

“Kalau begitu jangan keluar .” Ucap Ranti yang membuat Sisil tidak percaya akan jawaban yang diberikan oleh Ranti.

"Atau kamu cari kerja saja untuk mendapatkan banyak uang... Mulai sekarang belajar cara mendapatkan uang, jangan cuma minta."

Deg.

Jantung Sisil mulai berdebar keras karena tatapan Ranti sekarang benar-benar berbeda.

Tidak ada lagi kelembutan. Tidak ada lagi kasih sayang berlebihan yang tersisa hanya dingin… dan kecewa.

“Aunty bercanda kan?” Sisil masih merasa bahwa Ranti tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Apa saya terlihat bercanda?” ucap Ranti datar.

Sisil langsung berdiri.

“Mana mungkin aku hidup pakai uang segini, jangan main-main deh tante... Lagian aku masih kuliah mana mungkin aku kerja sekarang.” Dengan tidak tahu malunya Sisil berucap seperti itu.

“Kalau begitu kamu minta uang sama orang tua kandung kamu.” Ucapan Ranti bukannya membuat anak itu menyerah malah semakin parah.

“Aunty jahat, aunty tidak menepati janji aunty sama orang tua aku.”

Ranti tersenyum tipis.

“Kamu terlalu lebai…”

“Alkina bahkan sering tidak punya uang jajan... Bahkan Alkina bekerja untuk mendapatkan uang tambahan.” Kalimat itu langsung membuat Sisil terdiam.

Ranti perlahan berdiri mendekatinya.

“Dan anehnya… dia masih bertahan hidup.” Suara perempuan itu tenang namun jauh lebih menakutkan daripada bentakan.

Sisil yang kesal memutuskan untuk pergi dari sana tanpa menunggu ucapan Ranti selanjutnya.

Hari itu juga Sisil mencoba menggunakan salah satu rekening pribadinya namun wajahnya langsung pucat saat transaksi ditolak.

“Apa-apaan ini?” Ia mencoba lagi tapi tetap saja gagal.

Dengan panik ia menelepon bank dan jawaban yang diterima membuat tubuhnya dingin.

“Maaf Nona, akses rekening tersebut sudah dicabut atas permintaan pemilik utama.”

“Pemilik utama?” bingung Sisil.

1
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
Ds Phone
yang sorang menesal yang sorang tamak harta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!