NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: DINDA DAN PENGUJI HOROR

Kebetulan, atau mungkin bukan kebetulan sama sekali mengingat belakangan dia jadi ragu membedakan mana kebetulan mana bukan, Bang Tua ada urusan mengambil berkas di ruang seminar fakultas siang itu, tepat ketika sebuah seminar proposal sedang berlangsung di ruangan sebelah, pintunya terbuka sedikit karena AC ruangan itu sedang rusak dan penyelenggara sengaja membiarkan pintu terbuka supaya udara lebih segar.

Dari celah pintu itu, samar samar terdengar suara seorang dosen yang bicara dengan nada tinggi, jauh lebih keras dari volume wajar untuk sebuah forum akademik. Rasa penasaran, yang sudah jadi sifat dasarnya sejak kecil meski selalu dia sembunyikan di balik wajah datarnya, membuat langkahnya melambat, pura pura sibuk membenarkan tali sepatu di dekat pintu itu supaya bisa mendengar lebih jelas tanpa terlihat mencolok, taktik lama yang sudah beberapa kali dia pakai belakangan ini.

"Kamu ini mahasiswa atau peneliti senior? Kok berani-beraninya bantah pendapat saya di forum resmi begini," suara itu terdengar menggelegar, disusul tawa kecil dari beberapa mahasiswa lain di ruangan, tawa yang terdengar canggung, lebih ke arah tawa takut daripada tawa lucu beneran.

Bang Tua mengintip sedikit dari celah pintu, dan mendapati seorang mahasiswi berdiri di depan layar presentasi, tubuhnya sedikit gemetar tapi wajahnya tetap berusaha tenang, mempertahankan sikap tegak meski jelas terlihat tertekan. Di depannya, seorang dosen senior berkacamata tebal duduk dengan gaya angkuh, tangannya terlipat di dada, memandang si mahasiswi dengan tatapan merendahkan yang khas, sosok yang langsung Bang Tua kenali sebagai Prof. Dr. Bonar, dosen senior yang memang terkenal seantero fakultas dengan julukan "penguji horor", julukan yang menurutnya sendiri, dalam hati, "kayaknya lebih cocok buat dia daripada buat film horor beneran, soalnya yang bikin merinding bukan hantunya, tapi cara dia ngomong itu".

"Maaf, Pak, saya cuma mau menjelaskan bahwa referensi yang saya gunakan itu memang mendukung pendekatan yang berbeda dari yang Bapak sebutkan tadi, bukan bermaksud membantah," jawab si mahasiswi, suaranya tetap sopan meski terdengar jelas dia sedang menahan diri mati matian supaya tidak terlihat gentar.

"Referensi apa itu? Jurnal internasional bereputasi atau cuma blog blog abal abal yang kau cari di internet? Saya sudah puluhan tahun di bidang ini, kau baru semester berapa berani-beraninya koreksi saya," balas Prof. Bonar, suaranya makin meninggi, jelas menikmati momen di mana dia bisa menekan mahasiswa di depan forum, gaya bicara yang sepertinya sudah jadi kebiasaan lama, mungkin sudah dia praktikkan sejak zaman mahasiswa itu masih pakai seragam putih abu abu.

Bang Tua, yang berdiri di luar pintu, merasakan darahnya mulai naik, dalam hati sudah menyusun berbagai komentar pedas, "ini bapak kalau segitu bangganya sama gelar profesornya, mestinya dipajang aja di dada kayak medali olimpiade, biar semua orang langsung ngerti tanpa perlu diomelin dulu". Tapi dia menahan diri, sesuai kebiasaan lamanya, mengamati dari jauh tanpa berani masuk campur, meski kali ini rasa geramnya terasa jauh lebih besar dari biasanya.

Mahasiswi itu, yang belakangan baru Bang Tua ketahui namanya Dinda setelah menanyakan ke salah satu dosen lain yang kebetulan lewat, tetap berusaha mempertahankan argumennya dengan tenang, meski matanya sesekali berkaca kaca menahan tangis yang jelas jelas ingin keluar tapi ditahan mati matian di depan forum. "Baik, Pak, saya akan revisi sesuai arahan Bapak," jawabnya akhirnya, memilih mengalah bukan karena setuju, tapi karena tahu betul melanjutkan perdebatan hanya akan memperpanjang penderitaannya di forum itu.

Prof. Bonar mengangguk puas, seolah kemenangan kecil itu adalah pencapaian besar baginya, lalu melanjutkan mencecar pertanyaan pertanyaan lain dengan nada yang sama merendahkan, membuat sesi seminar itu terasa lebih seperti sidang interogasi dibanding forum akademik yang sehat. Bang Tua akhirnya melanjutkan langkahnya, tidak sanggup berlama lama mendengarkan tanpa bisa berbuat apa apa, dalam hati menggerutu panjang, "dosen kayak gini, kalau ilmunya sebanyak sombongnya, mestinya udah dapat Nobel dari kemarin kemarin, bukannya cuma dapat julukan horor dari mahasiswa".

Sore harinya, di ruang dosen, Bang Tua sempat bertanya sekilas ke salah satu kolega yang kebetulan satu bidang dengan Prof. Bonar, mencoba mencari tahu lebih jauh soal reputasi dosen senior itu tanpa terkesan mencurigai secara langsung. "Pak, Prof. Bonar itu emang terkenal keras ya kalau nguji?"

Kolega itu tertawa kecil, seolah pertanyaan itu sudah sering dia dengar dari dosen dosen lain. "Terkenal keras aja masih kurang tepat istilahnya, Pak Sahat. Dia itu udah kayak legenda urban di kalangan mahasiswa, katanya kalau sidang sama dia, harus siapin mental baja, jangan lupa bawa air minum banyak banyak, soalnya bisa didudukin sampai tiga jam nonstop."

"Emang kenapa dia bisa segitu galaknya? Ada sejarahnya kah?" tanya Bang Tua lagi, penasaran sekaligus mencoba mencari benang merah dengan apa yang sudah dia dengar di rapat mendadak beberapa hari lalu.

"Wah, itu cerita panjang, Pak. Katanya sih dia dulu punya masalah etik, tapi entah gimana caranya selamat, ada yang bilang ada yang bantu di belakang layar. Sejak itu dia jadi makin dekat sama orang yang nolongnya itu, sekarang jadi semacam, apa ya istilahnya, pasukan setia gitu," jawab kolega itu, sambil merendahkan suaranya, seolah membicarakan sesuatu yang sebenarnya cukup sensitif untuk dibahas terang terangan.

Bang Tua mengangguk, mencatat detail itu baik baik dalam ingatannya, meski dia belum sepenuhnya paham ke mana arah cerita ini akan bermuara. Yang jelas, potongan potongan informasi yang mulai dia kumpulkan, soal Riko yang terhambat dosen apatis, soal Dinda yang ditekan dosen penguji horor, mulai terasa seperti bagian bagian puzzle yang belum lengkap gambarnya, tapi entah kenapa dia mulai curiga semuanya terhubung ke sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar masalah personal masing masing dosen.

Malam harinya, di kos, dia sempat membuka lagi buku catatan kecilnya, halaman baru, menuliskan nama Riko dan Dinda berdampingan, dengan tanda panah kecil yang menghubungkan keduanya ke satu titik pertanyaan besar yang belum bisa dia jawab. Dalam hati dia sempat bercanda sendiri melihat coretannya itu, "ini catatan penelitian apa peta persekongkolan detektif detektifan, kalau nanti ketahuan orang, bisa dikira bapak lagi susun rencana kejahatan, padahal yang mau digagalkan justru kejahatannya".

Dia merebahkan diri di kasurnya, menatap langit langit kamar sambil mengingat ulang ekspresi Dinda yang berusaha tegar di depan Prof. Bonar tadi siang, mengingatkannya sedikit pada dirinya sendiri di masa muda, saat masih berani mempertahankan kebenaran dengan data dan argumen, sebelum akhirnya dunia mengajarkannya bahwa keberanian semacam itu sering kali tidak dihargai sebagaimana mestinya. Dia berharap, kali ini, ceritanya bisa berakhir berbeda dari yang pernah dia alami dulu.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!