NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: KEMARAHAN DAN PENGAKUAN TERSELUBUNG

Pernyataan Clara menggantung tebal di udara yang sarat akan debu tua. Keheningan di kamar tersegel itu begitu mencekam, hanya dihiasi deru napas memburu dari dua insan yang berdiri berseberangan.

Arsen menatap lembaran kertas kusam di tangan Clara, lalu beralih menatap wajah pucat gadis itu. Alih-alih pengakuan atas ikatan darah yang diucapkan Clara, raut wajah Arsen justru memutih kaku—menampilkan ekspresi kekagetan ganjil yang bercampur amarah tak terawat.

"Adik kandung?" Arsen mengulang kata itu dengan nada rendah yang dipenuhi cemoohan getir. "Adik kandung katamu?"

Arsen melangkah mendekat, menyambar kasar lembaran surat dokter dan tulisan tangan Ratna dari jemari Clara. Matanya menyapu cepat tiap baris kalimat berdebu di sana. Dahi Tuan Muda itu berkerut dalam; pupil matanya bergetar hebat saat membaca nama Ratna dan tuduhan perselingkuhan belasan tahun silam.

"Jadi... wanita yang melahirkanmu di gubuk reot itu..." bisik Arsen serak, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan yang membakar. Tangannya yang memegang kertas bergetar halus. "...adalah Ratna? Wanita yang dikurung Ayah di kamar ini?"

Clara membelalak kaget, menyapu raut wajah Arsen yang tampak teruncang hebat. "K-kau... kau tidak tahu?"

Arsen tertawa keras—sebuah tawa miring, gelap, dan sarat akan kerapuhan mental yang meledak seketika. Ia melemparkan kertas-kertas tua itu ke udara hingga berserakan di atas lantai marmer.

"Aku mengurungmu di kamar utama bukan karena aku tahu siapa ibumu, Clara!" bentak Arsen menggelegar, mencengkeram kembali kedua bahu Clara hingga gadis itu meringis. "Aku melarang siapa pun mendekati kamar ini karena ruangan ini adalah saksi bisu kehancuran keluarga Baskara! Tempat di mana Ayah berubah menjadi iblis tak berhati setelah dikhianati!"

Genggaman Arsen di bahu Clara makin mengetat, memancarkan amarah gila yang campur aduk dengan rasa frustrasi.

"Selama belasan tahun aku dibesarkan dalam bayang-bayang kegilaan Ayah akibat wanita bernama Ratna itu!" lanjut Arsen dengan nada menusuk, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang basah oleh air mata. "Aku tidak pernah tahu kalau kamu adalah anak dari wanita yang dibenci Ayah... Aku cuma tahu kamu adalah penawarku! Kamu milikku yang aku tebus dari utang 50 juta itu!"

Napas Clara tercekat hebat. Kenyataan baru ini menghantam mentalnya jauh lebih keras. Arsen selama ini mengontrol dan mengurungnya murni karena obsesi gila dan keinginan untuk melindunginya, tanpa menyadari rahasia kelam bahwa darah yang mengalir di tubuh Clara adalah darah yang sama dengan darahnya.

Arsen merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Pendar mata hitam Tuan Muda itu memancarkan kegelapan yang amat pekat—sebuah pengakuan terselubung atas obsesinya yang tak lagi peduli pada norma atau silsilah.

"Kalaupun kertas tua ini benar... kalaupun darah di tubuhmu sama dengan darahku..." bisik Arsen dingin di balik deru napasnya yang menekan di ceruk leher Clara, "...itu tidak akan mengubah apa pun. Kau sudah terikat denganku, Clara. Kau tidak akan pernah bisa lepas dari genggamanku—meski dunia menyebut kita sebagai dosa."

Arsen melepaskan cengkeramannya dari bahu Clara. Pria itu memutar tubuhnya membelakangi Clara, lalu meremas rambut hitamnya sendiri dengan kasar. Punggung lebaynya naik turun hebat, berjuang memadamkan badai emosi yang bergejolak di dadanya.

Rahasia besar ini terlalu mendadak, terlalu gila, dan terlalu berbahaya. Namun di atas semua kenyataan yang menghantam kesadarannya, ada satu hal yang paling membuat Arsen takut setengah mati: kehilangan Clara.

Arsen berbalik pelan. Pendar mata pekat yang tadinya dipenuhi kegelapan gila kini berganti menjadi tatapan yang begitu rapuh dan dipenuhi keputusasaan.

Ia melangkah mendekat, lalu perlahan berlutut di atas lantai berdebu, tepat di hadapan Clara yang masih menangis membeku di tepi tempat tidur tua.

"Jangan menatapku seperti itu, Clara..." bisik Arsen, suaranya terdengar begitu serak dan parau.

Tangan tegap Arsen yang biasanya keras dan tak tersentuh kini terulur ragu. Dengan sangat lembut, jemarinya merengkuh jemari dingin Clara, membawanya naik dan menempelkannya di pipinya sendiri. Arsen memejamkan mata rapat-rapat, menikmati kehangatan sentuhan penawarnya di tengah kekacauan dunia Baskara.

"Kau bisa membenciku... kau bisa menyumpahiku seumur hidupmu..." bisik Arsen lagi, menengadahkan kepalanya untuk menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Clara. "Tapi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Kalau Ayah tahu siapa kau sebenarnya, dia akan memusnahkanmu tanpa ragu, Clara."

Air mata Arsen menetes tipis—sebuah pemandangan langka yang tak pernah disaksikan oleh siapa pun di rumah ini. Tuan Muda Baskara yang dingin dan kejam kini bersimpuh pasrah di kaki seorang gadis.

"Biarkan aku menjadi iblis di mata orang lain, asal kau tetap aman di sisiku..." Arsen mendaratkan kecupan hangat yang begitu dalam dan protektif di punggung tangan Clara, seolah menyegel kembali ikatan terlarang mereka dengan cara yang paling possessif. "Kau milikku, Clara. Selamanya milikku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!