Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sejak Amira menemukan bahwa daftar tamu yang dibawa Alika bukan daftar resmi, ia tidak lagi bertanya terlalu banyak. Ia memilih menyimpan kejanggalan itu di dalam pikirannya sambil tetap menjalani persiapan pernikahan seperti biasa.
Kaizar pun tidak membahasnya lagi.
Pria itu hanya meminta orang-orangnya memastikan seluruh persiapan dilakukan berdasarkan daftar dan keputusan yang sudah mereka sepakati. Tidak ada tuduhan kepada Alika, tidak ada keributan dengan keluarga Wijaya.
Bagi Amira, sikap itu justru membuatnya sedikit lega.
Ia tidak ingin pernikahannya dipenuhi pertengkaran sebelum hari bahagia itu tiba.
Pagi ini, ruang keluarga kembali berubah menjadi tempat berkumpulnya para pekerja. Beberapa contoh kain diletakkan di atas sofa, sementara dua orang perempuan sedang mencatat ukuran gaun yang akan dikenakan Amira.
Amira berdiri di depan cermin besar dengan satu tangan memegang ujung kain yang sedang ditempelkan ke tubuhnya.
"Yang ini bagaimana?" tanya salah seorang penata busana.
Amira memperhatikan pantulan dirinya beberapa saat.
"Bagus, tapi bagian bawahnya terlalu ramai."
Penata busana itu segera mencatat sesuatu.
"Baik, Nona. Kami sederhanakan."
Amira mengangguk puas.
Dari kursi rodanya yang berada tidak jauh dari sana, Kaizar memperhatikan semua itu sejak tadi. Di tangannya terdapat sebuah berkas, tetapi halaman yang sama sudah beberapa menit tidak berpindah.
Amira akhirnya menyadarinya.
"Kamu dari tadi lihat aku terus."
Kaizar mengangkat wajah dari berkasnya.
"Aku sedang melihat gaunnya."
"Benarkah?"
"Iya."
Amira berjalan mendekat sambil menyipitkan mata.
"Kenapa aku merasa kamu sedang mencari alasan?"
Kaizar menutup berkas di tangannya.
"Kalau aku bilang aku memang sedang melihatmu, lalu apa?"
Amira terdiam sebentar.
Dua orang penata busana yang berada di dekat mereka langsung menundukkan wajah, pura-pura sibuk dengan kain.
Amira akhirnya berdeham kecil.
"Ya... tidak apa-apa."
Kaizar hampir tertawa melihat wajahnya.
"Baru juga aku bicara begitu, kau sudah salah tingkah."
"Aku tidak salah tingkah."
"Kalau begitu, kenapa wajahmu berubah?"
Amira segera berbalik menuju cermin.
"Karena panas."
Kaizar melihat pendingin ruangan yang menyala sejak tadi.
"Ruangan ini cukup dingin."
Amira meliriknya melalui cermin.
"Tuan Dingin memang tidak boleh kalah."
Kali ini Kaizar benar-benar tersenyum kecil.
Amira langsung menunjuknya.
"Nah! Aku lihat."
Kaizar kembali memasang wajah serius.
"Apa?"
"Kamu tersenyum."
"Aku tidak."
"Jangan bohong. Aku lihat."
"Kalau kau terus memperhatikanku, pekerjaanmu tidak akan selesai."
Amira tertawa kecil.
"Baiklah. Aku kembali mencoba gaun."
Suasana sederhana itu membuat ruangan yang biasanya terasa kaku menjadi lebih hidup.
Kaizar menyadarinya.
Dulu ia terbiasa dengan rumah yang terlalu tenang. Tidak ada suara orang bercanda, tidak ada seseorang yang mengomentari hal-hal kecil, bahkan tidak ada yang berani mengganggunya ketika sedang bekerja.
Sekarang semuanya berubah sejak Amira datang.
Dan anehnya, ia tidak ingin perubahan itu berhenti.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Siang harinya, Amira duduk di ruang kerja bersama seorang koordinator pernikahan. Mereka memeriksa kembali susunan acara yang akan berlangsung dua hari lagi.
"Untuk acara akad, semuanya sudah sesuai," ujar perempuan itu sambil menunjukkan catatan di tangannya. "Setelah itu baru dilanjutkan dengan acara keluarga."
Amira mengangguk.
"Bagus."
Ia membaca beberapa halaman sebelum berhenti pada bagian dekorasi.
"Ini bukannya sudah kita ubah?"
Koordinator itu memeriksa catatannya.
"Yang mana, Nona?"
"Bagian meja utama. Aku meminta bunga yang lebih sederhana."
Perempuan itu tampak bingung.
"Di catatan saya memang tertulis seperti ini."
Amira mengernyit.
Ia mengambil ponselnya dan membuka foto rancangan yang pernah mereka sepakati bersama.
"Yang ini yang aku maksud."
Koordinator itu membandingkan kedua catatan tersebut.
"Kalau begitu, saya akan mengubahnya."
"Jangan dulu."
Suara Kaizar terdengar dari belakang.
Amira menoleh.
Kaizar masuk ke ruangan dengan kursi rodanya, lalu berhenti di samping meja.
"Aku ingin tahu siapa yang mengubah catatan itu."
Koordinator tersebut tampak gugup.
"Saya tidak tahu, Tuan. Kemarin saya menerima revisi dari salah satu pihak keluarga."
"Pihak keluarga siapa?"
Perempuan itu membuka berkasnya.
"Katanya dari keluarga Wijaya."
Amira langsung terdiam.
Kaizar juga tidak segera menjawab.
Beberapa detik kemudian, Amira berkata pelan, "Mungkin memang ada perubahan dari pihak keluarga."
Ia tidak ingin langsung menghubungkan semuanya dengan Alika.
Kaizar menatapnya.
"Kalau memang ada perubahan, seharusnya kau mengetahuinya."
Amira mengangguk.
"Itu yang membuatku bingung."
Koordinator pernikahan kemudian meminta izin untuk memastikan kembali kepada seluruh pihak.
Kaizar mempersilahkannya.
Setelah perempuan itu keluar, Amira masih melihat catatan di meja.
"Kamu pikir ini sengaja?"
Kaizar tidak langsung menjawab.
"Aku belum tahu."
Amira mengangguk.
"Aku juga."
Ia kemudian menutup berkas.
"Kalau memang cuma kesalahan, kita perbaiki. Aku tidak mau membuat masalah hanya karena hal seperti ini."
Kaizar memandangnya cukup lama.
"Dan kalau bukan kesalahan?"
Amira menatap pria itu.
"Kalau bukan, kita akan tahu."
Jawaban tersebut membuat Kaizar diam sejenak.
Ia menyukai cara Amira menghadapi masalah.
Perempuan itu tidak gegabah.
Tetapi juga tidak lagi mudah mengabaikan sesuatu yang terasa janggal.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Menjelang sore, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Amira yang sedang berada di teras langsung mengenali orang yang turun dari dalamnya.
Alika.
Kakaknya membawa sebuah kotak panjang yang dibungkus rapi.
"Kakak datang lagi?"
Alika tersenyum sambil berjalan mendekat.
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Boleh."
Amira membantu mengambil kotak tersebut.
"Apa ini?"
"Untukmu."
Alika membuka kotaknya.
Di dalamnya terdapat sepasang sepatu berwarna putih dengan hiasan sederhana.
Amira langsung menyukainya.
"Bagus sekali."
"Aku melihatnya beberapa hari lalu. Aku pikir cocok untukmu."
Amira mengangkat sepatu itu.
"Terima kasih, Kak."
Alika memandangi wajah adiknya.
"Besok jangan lupa dipakai saat fitting terakhir."
Amira mengangguk.
"Tapi bukannya fitting terakhir sudah dijadwalkan?"
"Sudah. Kakak hanya ingin memastikan semuanya cocok."
Alika kemudian duduk di samping Amira.
"Mir."
"Hm?"
"Kalau nanti ada sesuatu yang berubah dalam acara pernikahan, jangan langsung panik, ya."
Amira menoleh.
"Berubah?"
Alika tertawa kecil.
"Maksud Kakak, namanya juga acara besar. Kadang ada hal-hal kecil yang tidak sesuai rencana."
Amira memandang kakaknya beberapa detik.
"Seperti dekorasi tadi?"
Alika tampak sedikit terkejut.
"Dekorasi?"
"Iya. Tadi ada catatan yang berubah."
"Oh."
Alika segera mengangguk.
"Mungkin dari panitia. Kakak juga tidak tahu."
Amira tidak membalas.
Ia hanya mengangguk pelan.
"Begitu."
Alika lalu mengganti topik pembicaraan.
Ia bertanya tentang gaun, undangan, makanan, sampai tamu keluarga.
Semua terdengar seperti obrolan biasa antara dua saudara.
Tidak ada satu pun perkataan yang cukup kuat untuk membuat Amira menuduhnya.
Tetapi ketika Alika pulang, Amira masih memikirkan satu hal.
Kenapa kakaknya tadi begitu cepat mengatakan bahwa perubahan kecil bisa saja terjadi?
Padahal ia belum mengatakan apa saja yang berubah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Malam mulai turun ketika Amira menemukan Kaizar berada di balkon.
Pria itu duduk menghadap halaman yang diterangi beberapa lampu.
Amira membawa dua cangkir minuman hangat dan meletakkan salah satunya di meja kecil di samping Kaizar.
"Kamu belum tidur?"
"Belum."
Amira duduk di kursi sebelahnya.
"Aku juga belum mengantuk."
Kaizar mengambil cangkir yang diberikan Amira.
"Besok masih banyak yang harus dilakukan."
"Makanya aku ingin duduk sebentar."
Beberapa saat mereka menikmati suasana tanpa banyak bicara.
Kemudian Amira memandang halaman.
"Kaizar."
"Hm?"
"Kita tinggal dua hari lagi."
Kaizar menoleh.
"Dua hari menuju pernikahan."
Amira mengangguk.
"Aku masih merasa aneh mengucapkannya."
"Menyesal?"
Amira langsung menggeleng.
"Enggak."
Ia menatap Kaizar.
"Aku cuma merasa semuanya berjalan cepat."
Kaizar tidak menyela.
"Aku dulu tidak pernah membayangkan akan menikah dengan orang yang baru kukenal. Apalagi dengan pria yang awalnya bahkan membuatku berpikir berkali-kali sebelum bicara."
Kaizar mengangkat alis.
"Awalnya?"
Amira terkekeh.
"Sekarang juga."
"Bagus."
"Kenapa bagus?"
"Berarti aku masih punya wibawa."
Amira tertawa.
"Kamu ini."
Kaizar kembali memandang halaman.
"Kalau kau masih punya keraguan, katakan sekarang."
Amira terdiam.
Kaizar melanjutkan dengan suara tenang, "Aku tidak ingin kau berdiri di sampingku nanti hanya karena merasa tidak punya pilihan."
Amira menatap wajah pria itu.
"Aku memang pernah merasa tidak punya pilihan."
Kaizar tidak bergerak.
"Tapi sekarang berbeda."
Amira tersenyum kecil.
"Sekarang aku memilih."
Kaizar menatapnya.
"Memilih apa?"
Amira mengangkat bahu.
"Memilih untuk tetap di sini."
Kalimat sederhana itu membuat suasana di antara mereka berubah.
Kaizar tidak menjawab untuk beberapa saat.
Kemudian ia berkata, "Kalau begitu, dua hari lagi kita menikah."
Amira mengangguk.
"Iya."
Ia menatap cincin yang melingkar di jarinya.
"Dan setelah itu?"
Kaizar memandangnya.
"Setelah itu, kita cari tahu seperti apa hidup kita."
Amira tersenyum.
"Bersama?"
Kaizar mengangguk.
"Bersama."
Amira menundukkan wajah sambil menyembunyikan senyum.
Dua hari lagi.
Hanya dua hari.
Ia tidak tahu bahwa sebelum hari itu berakhir, seseorang sedang menyiapkan sesuatu yang bisa mengubah suasana pernikahan mereka.
Dan kali ini, semuanya tidak akan berhenti pada sebuah daftar tamu atau dekorasi yang salah.
Bersambung...