NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pria itu adalah Marwan, mantan rekan bisnis Rahman di dunia gelap puluhan tahun lalu.
"Marwan, aku butuh bantuanmu malam ini juga," ucap Rahman langsung duduk di depannya.
Marwan tersedak kopinya melihat siapa yang datang.
"Bos Rahman?"
"Kukira bos sudah pensiun dan tobat jadi bapak kos yang alim."
"Ada angin apa bos besar turun gunung lagi?" tanya Marwan dengan senyum segan.
Rahman meletakkan secarik kertas berisi nomor rekening dan nama agen properti bodong itu.
"Namanya Toni, ini nomor rekening yang dia pakai untuk menipu anak kosku."
"Lacak posisi bajingan ini menggunakan koneksi orang dalam bankmu."
"Aku beri waktu dua jam dari sekarang," perintah Rahman dingin.
Marwan menatap kertas itu lalu tersenyum miring.
"Toni si agen properti palsu?"
"Bos tidak perlu menunggu dua jam, aku tahu persis di mana tikus ini bersembunyi."
"Dia sering berjudi di ruang bawah tanah ruko elektronik depan terminal."
Mata Rahman berkilat tajam mendengar informasi itu.
"Bagus."
"Kumpulkan tiga anak buahmu yang paling berandalan, kita pergi ke sana sekarang."
Satu jam kemudian, sebuah mobil minibus berhenti di depan ruko elektronik yang sudah tutup.
Rahman, Marwan, dan tiga preman berbadan besar turun dari mobil.
Marwan mengetuk pintu besi ruko itu dengan pola tertentu.
Klak.
Pintu terbuka kecil, menampilkan wajah penjaga yang langsung pucat melihat rombongan Marwan.
"Buka pintunya, aku mau menjemput Toni," desis Marwan mengancam.
Mereka menerobos masuk ke ruang bawah tanah yang penuh dengan asap rokok dan meja judi.
Di salah satu meja, seorang pria perlente berkemeja rapi sedang tertawa keras sambil menghitung tumpukan uang ratusan ribu.
Uang itu adalah hasil keringat Budi.
"Toni!" teriak Marwan menggelegar.
Pria bernama Toni itu menoleh dan wajahnya langsung memucat.
Ia mencoba lari ke arah pintu belakang, namun dua anak buah Marwan dengan cepat menyergap dan membantingnya ke lantai.
Bruk!
"Ampun, Bang Marwan! Saya tidak punya hutang sama abang!" teriak Toni ketakutan.
Rahman melangkah maju perlahan membelah kerumunan penjudi yang langsung menyingkir.
Ia berhenti tepat di depan Toni yang sedang ditahan di lantai.
"Kau memang tidak punya hutang pada Marwan."
"Tapi kau telah merampok masa depan anak asuhku."
Rahman menatap mata Toni dengan tatapan yang lebih dingin dari es.
"A-anak asuh siapa, Pak?"
"S-saya tidak kenal bapak," jawab Toni dengan suara bergetar hebat merasakan tekanan aura Rahman.
"Namanya Budi, buruh pabrik tekstil yang kau tipu tiga puluh juta siang tadi."
"Kau pikir kau bisa mengambil uang dari wilayah kekuasaan Rahman Affandi dan kabur begitu saja?!" bentak Rahman.
Toni menelan ludah dengan susah payah.
Nama Rahman Affandi mungkin asing bagi orang awam, tapi di kalangan penipu tua, nama itu adalah legenda lintah darat yang tak kenal ampun.
"M-maafkan saya, Bos Rahman."
"Uangnya masih ada, belum saya pakai sama sekali."
"Tolong jangan bunuh saya," Toni merengek seperti anak kecil.
"Ambil tasnya!" perintah Rahman pada anak buah Marwan.
Mereka merampas tas kulit milik Toni dan membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa gepok uang pecahan seratus ribu yang masih terikat rapi dari bank.
Rahman mengambil uang itu dan menghitungnya sekilas.
"Tiga puluh juta pas."
"Sebagai denda karena kau telah membuat halamanku bau alkohol malam ini..."
"Kau harus membayar biaya ganti rugi pembersihan sebesar sepuluh juta rupiah!" ancam Rahman dengan kelicikan aslinya.
Toni hanya bisa mengangguk pasrah.
"B-baik, Bos."
"Ambil saja sisa uang di dompet saya itu, ada sekitar sepuluh juta hasil judi saya malam ini."
Rahman mengambil uang denda itu tanpa rasa bersalah.
Uang penipu memang paling pantas dirampas kembali.
"Marwan, serahkan bajingan ini ke Polsek terdekat besok pagi."
"Pastikan dia membusuk di sel setidaknya selama lima tahun," perintah Rahman sebelum berbalik pergi.
"Beres, Bos Rahman."
"Senang bisa berbisnis lagi dengan Anda," ucap Marwan sambil membungkuk hormat.
Menjelang subuh, hujan sudah sepenuhnya berhenti.
Rahman kembali ke Kos Putra Putri Melati dengan langkah yang sedikit lelah namun puas.
Ia membuka pintu kamar nomor tujuh perlahan.
Budi masih tertidur pulas dengan sisa air mata mengering di pipinya.
Dimas tertidur di kursi plastik dekat kasur karena kelelahan berjaga.
Rahman meletakkan gepokan uang tiga puluh juta itu di atas bantal tepat di sebelah kepala Budi.
Ia juga meletakkan secarik kertas di atas uang tersebut.
"Jangan pernah mabuk lagi di kontrakanku, atau uang sewamu kunaikkan tiga kali lipat. - Bapak Kosmu."
Itulah isi pesan singkat yang ditulis Rahman.
Ting!
[Misi Darurat Selesai.]
[Mental penyewa Budi berhasil diselamatkan dan keadilan telah ditegakkan melalui jalur bawah tanah.]
[Afeksi Budi tidak dapat ditingkatkan lagi karena sudah mencapai batas pengabdian seumur hidup.]
[Hadiah: Tambahan umur 15 hari telah didistribusikan.]
[Hadiah: Voucher Renovasi Kamar Mandi Gratis dari sistem.]
Rahman tersenyum membaca notifikasi itu di dalam kamarnya sendiri.
Ia melempar sisa uang sepuluh juta hasil rampasannya ke dalam brankas besi tuanya.
"Uang tetaplah uang, rasanya menyenangkan melihat brankas ini terisi lagi."
"Tapi entah kenapa, melihat anak-anak bodoh itu bisa tersenyum besok pagi rasanya jauh lebih memuaskan."
Rahman menutup brankasnya dan bersiap untuk tidur, menyambut pagi baru yang pasti akan dipenuhi dengan tangisan haru dari seorang buruh pabrik.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...