"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap Tidur Disofa
***
Melihat perubahan sikap Alana yang mendadak melunak dan penuh perhatian, naluri jahil Mirza langsung bangkit kembali. Dia merasa inilah saatnya mencoba keberuntungannya untuk malam ini.
Mirza menggeser duduknya makin dekat, menyunggingkan senyum manis yang penuh arti.
"Nah, karena kamu udah baik begini ... aku mau minta syarat kecil boleh enggak, Al?"
"Syarat apa lagi?" tanya Alana curiga, mendadak memasang mode siaga.
"Malam ini ... sebelum kita terbang ke Swiss, boleh ya aku tidur di atas ranjang sama kamu?" gumam Mirza seraya menunjuk tempat tidur besar di kamar mereka.
"Hitung-hitung pemanasan gitu, biar terbiasa pas tidur satu kasur di Swiss nanti."
"Nggak boleh!" potong Alana cepat tanpa ragu. Wajahnya yang tadinya lembut seketika kembali galak.
"Kamu tetap tidur di sofa! Di Swiss nanti juga kamu tetap tidur di sofa!"
"Lho, kok gitu?" protes Mirza berpura-pura cemberut.
"Pokoknya jangan coba-coba macam-macam ya, Mirza! Sebelum aku cekik kamu pas kamu tidur nanti!" ancam Alana seraya melotot tajam.
Mirza mengusap dadanya, berakting memelas.
"Aduh, galak banget ... Dingin lho udara malam ini, Al. Kalau aku kedinginan terus sakit, gimana? Nanti pas di Swiss aku malah demam."
"Bagus dong, aku enggak peduli!" sahut Alana sambil melipat dadanya santai.
"Kalau kamu sakit, ya kita enggak jadi bulan madu. Beres kan?"
Mirza tertawa pelan mendengar keteguhan istrinya, sementara Alana buru-buru menyambar jaket parasut tipis milik Mirza yang tadi sempat diperdebatkan.
"Sudah! Sekarang kamu diam, terus pergi tidur!" seru Alana mengomando, memasukkan jaket tipis itu ke dalam koper dengan tatapan menantang.
"Daripada kamu ngobrol terus yang enggak-enggak, mending tidur sekarang sebelum aku beneran masukin semua jaket tipis ini ke koper kamu, biar kamu di sana kedinginan sampai beku!"
Melihat Alana yang sudah bersiap mengamuk lagi, Mirza akhirnya mengangkat kedua tangannya menyerah, meski tawa dan senyum puas masih menghiasi wajah tampannya.
***
Pendar cahaya dari layar laptop memantul di wajah tegap Virzha. Jemarinya yang berurat bergerak lincah menelusuri deretan file dokumen rahasia mengenai riwayat perjalanan serta rekam medis Liam.
Dering ponsel di samping laptop memecahkan keheningan malam. Virzha tidak langsung mengangkatnya. Dia membiarkan getaran itu berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya menyambar ponsel tersebut dan menempelkannya ke telinga.
"Bicara," desis Virzha dingin.
"Bos, saya dapat informasi valid terbaru," suara asisten kepercayaannya terdengar dari balik telepon.
"Besok pagi, Nona Alana dan Mirza dijadwalkan terbang ke Swiss untuk melakukan bulan madu yang sempat tertunda."
Mata Virzha seketika memicing tajam. Tatapannya tertuju pada foto Alana yang terpasang di sudut mejanya. Sebuah senyum miring yang menyimpan obsesi dan rencana besar terukir tipis di bibirnya.
"Swiss ...." gumam Virzha pelan, menimbang-nimbang situasi.
Ini adalah kesempatan emas. Di luar negeri, jauh dari jangkauan Liam dan pengawasan keluarga Mahendra, Alana tidak memiliki benteng perlindungan yang kuat. Ini adalah celah paling sempurna baginya untuk bergerak lebih dekat.
"Pesankan saya tiket pesawat ke Swiss besok," perintah Virzha tanpa ragu, suaranya terdengar penuh penekanan.
"Pastikan di jadwal penerbangan yang sama. Saya sendiri yang akan mengawasi mereka dari dekat."
***
"Mau ke Swiss?! Pagi-pagi begini?! Kok kamu baru bilang sekarang, Mas?!"
Pekikan nyaring Elma memecah ketenangan pagi di kediaman mewah mereka. Matanya membelalak tak percaya menatap koper sedang yang sudah disiapkan di dekat pintu utama, lalu beralih menatap suaminya yang sudah rapi mengenakan kemeja dan setelan jas elegan.
Virzha merapikan jam tangan mewahnya dengan santai, wajahnya tetap datar tanpa beban.
"Ini urusan pekerjaan, Elma, bukan jalan-jalan. Aku enggak perlu melapor atau izin dulu sama kamu untuk urusan bisnis."
"Tapi tetap aja kamu harus bilang dari jauh-jauh hari, Mas!" cercecah Elma penuh kekesalan, melipat dadanya rapat-rapat.
"Kalau tahu begini, aku kan bisa ikut! Aku sama Clarissa bisa jalan-jalan dan belanja di Swiss sementara kamu sibuk kerja. Tenang aja, aku enggak bakal ganggu urusan kamu kok!"
Virzha menghela napas pendek, menatap istrinya dingin. Kehadiran Elma dan putri mereka di Swiss hanya akan merusak rencananya untuk mendekati Alana. Namun membantahnya berlarut-larut hanya akan membuang waktu.
"Kamu nyusul saja nanti," utus Virzha tegas, menolak secara halus tanpa memberi ruang perdebatan.
"Aku harus berangkat sekarang karena ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda. Beli tiket sendiri atau suruh orang atur keberangkatan kamu."
Virzha melangkah keluar menuju halaman depan tanpa menunggu balasan Elma. Di samping mobil sedan hitam yang terparkir, asisten kepercayaannya sudah berdiri patuh membukakan pintu penumpang.
"Atur penerbangan untuk Elma dan Clarissa setelah ini," bisik Virzha pelan pada asistennya saat melewati pria itu, memastikan suaranya tidak terdengar oleh Elma.
"Pastikan beda pesawat dan beda hotel dengan saya."
"Baik, Bos," jawab sang asisten mengangguk paham.
Virzha memutar badannya sejenak, menatap Elma yang menyusul berdiri di ambang pintu dengan wajah merengut.
"Aku berangkat dulu."
Tanpa menunggu pelukan atau kata perpisahan lebih panjang, Virzha masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup rapat, dan kendaraan mewah itu perlahan meluncur meninggalkan area perumahan menuju bandara, mengejar penerbangan yang sama dengan Alana.
***
Di dalam sedan hitam yang meluncur membelah jalanan pagi menuju bandara, Virzha menyandarkan punggungnya di kursi penumpang. Jemarinya membuka galeri ponsel rahasianya, menampilkan puluhan potret Alana yang berhasil dikumpulkan oleh orang-orang suruhannya.
Virzha mengusap layar kaca itu dengan lembut. Ibu jarinya membelai lembut paras Alana.
"Kamu cantik sekali, Nak ... benar-benar mirip Ayudya," bisik Virzha parau, tatapannya menyiratkan kerinduan yang amat mendalam.
Mata Alana yang teduh, bentuk hidungnya yang mancung sempurna, hingga kelembutan raut wajahnya benar-benar merupakan ciptaan ulang dari Ayudya. Setiap kali memandangi Alana, Virzha seperti melihat kembali sosok wanita yang dulu sangat mencintai dan dihormatinya sebelum dia sendiri menghancurkan segalanya.
Virzha mengalihkan pandangannya sebentar ke arah spion tengah, menatap asistennya yang sedang fokus mengemudi.
"Selama saya di Swiss, pegang seluruh urusan kantor di Jakarta. Dan ingat ... jangan sampai Elma tahu alasan sebenarnya saya pergi ke Swiss."
"Baik, Bos. Semua urusan di sini akan saya tangani," jawab sang asisten patuh.
Bukan berarti Virzha tidak bisa menemui Alana secara langsung di Jakarta. Sangat mudah baginya untuk mendatangi rumah Mahendra atau mencegat Alana di jalan. Namun, langkah gegabah seperti itu hanya akan memancing kecurigaan Alana dan menciptakan kegaduhan besar dengan Liam.
Virzha menginginkan pendekatan yang halus dan alami. Dia ingin hadir di kehidupan Alana sebagai sosok yang hangat terlebih dahulu, membangun rasa percaya agar Alana tidak menolaknya atau membencinya saat kebenaran itu akhirnya terungkap.
Sebab Virzha sadar betul, jika tiba-tiba dia muncul dan mengaku sebagai ayah kandung, Alana pasti akan terguncang, bingung, dan sangat membencinya. Apalagi jika gadis itu sampai tahu kenyataan pahit di balik tragedi puluhan tahun lalu, bahwa Virzha-lah yang menjadi penyebab kematian Ayudya akibat kecerobohan dan pengkhianatannya saat berselingkuh dengan Elma.
"Papa enggak akan mengulangi kesalahan yang sama, Alana," gumam Virzha dingin seraya mematikan layar ponselnya.
"Papa akan pastikan kamu kembali ... dengan cara Papa sendiri."
***
Pesawat akhirnya mendarat mulus di Bandara Zurich setelah menempuh perjalanan udara belasan jam dari Jakarta. Roda pesawat yang menyentuh landasan diiringi suara gemuruh mesin yang perlahan mereda, menandakan mereka telah tiba di daratan Swiss.
Namun, di sepanjang penerbangan panjang itu, Mirza sama sekali tidak bersuara. Pria yang biasanya tiada hari tanpa menggoda Alana itu mendadak menjadi patung bernapas.
Wajah tampannya yang biasa dipenuhi cengiran jahil kini berubah pucat pasi bagaikan kapas. Kedua tangannya mencengkeram erat pegangan kursi hingga buku-buku jarinya memutih.
Meski suhu AC di dalam kabin terasa sangat dingin menusuk tulang, butiran keringat dingin masih terus menetes dan mengalir dari pelipisnya.
Alana yang duduk di sebelahnya menatap Mirza dengan heran sekaligus campur aduk. Dia menyikut pelan lengan suaminya.
"Mirza ... kamu masih hidup, kan?"
"Hhmm."
Mirza tidak menoleh. Dia hanya berdehem pelan, suara baritonnya terdengar amat serak dan lemas.
Satu per satu penumpang mulai bangkit dari kursi mereka, mengambil bagasi kabin, dan mengantre untuk keluar. Sementara itu, Mirza masih bergeming di tempat duduknya.
Tangannya berpindah memegangi perut yang terasa diaduk-aduk, sementara tenggorokannya terus bergerak berulang kali menelan ludah untuk menahan rasa mual yang membuncah. Dunia di sekitarnya terasa berputar hebat.
Alana yang mulai benar-benar cemas menepuk pelan lengan Mirza.
"Mirza?"
Mirza tersentak kaget. Matanya mengerjap lambat, menatap Alana dengan pandangan kosong dan linglung.
"Ayo turun ... orang-orang di belakang kita udah pada ngantri tuh," ajak Alana pelan, nada bicaranya kini sepenuhnya melunak tanpa ada sisa ketusan sedikit pun, mengingat pesan mamanya untuk selalu menjaga Mirza.
Mirza mendesah panjang, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Dengan perlahan dan hati-hati, dia melepas sabuk pengaman lalu mencoba berdiri.
Namun, baru dua langkah kaki panjangnya menapak di lorong kabin, gelombang pusing yang luar biasa kembali menghantam kepalanya. Pandangannya menggelap seketika. Mirza refleks menghentikan langkah dan menutup rapat mulutnya dengan sebelah tangan, wajahnya meringis menahan mual yang makin mendesak keluar.
Melihat respons tubuh Mirza yang begitu hebat, Alana seketika panik. Dka langsung sigap memeluk lengan Mirza, menahan bobot tubuh suaminya agar tidak ambruk di tengah lorong pesawat.
"Mirza! Kamu kenapa?! Jangan bikin aku takut dong!" seru Alana khawatir, matanya menatap panik pada raut pusing dan pucat di wajah suaminya.