NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 18 ] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Setelah perdebatan panas dengan klan mafia Mans dua Minggu lalu, Edward baru menyadari bahwa jika ia salah langkah sekali lagi, tidak mustahil dirinya akan hancur dengan sendirinya.

Belum lagi identitas Amora Lemos yang terasa sangat janggal, memicu kecurigaannya tentang bagaimana hubungan wanita itu dengan Gilbert.

Dari segala ketidakpastian itulah, timbul rencana lain di benak Edward untuk sesegera mungkin menguasai seluruh jalur perbatasan barat.

Langkah ini bukan hanya akan mempermudah transaksi ilegal mereka, melainkan juga memperlancar keuntungan timbal balik dari siapa pun yang mewakilinya.

Brilian!

Rencananya hampir sempurna, hingga akhirnya proyek tersebut menyita waktunya selama dua minggu penuh.

"Vin, kamu kontrol keadaan di sini. Kalau ada apa-apa, langsung laporkan padaku."

"Baik, Tuan."

Edward memutuskan pulang menggunakan mobil pribadi dengan didampingi sopirnya.

Ia kembali ke rumah hanya untuk mendapati kamar tidurnya kosong. Namun, sebelum sempat merebahkan diri, sekilas mata Edward menangkap salah satu bingkai foto—foto yang mengabadikan momen paling berkesan dalam hidupnya

Sebuah foto keluarga berbingkai perak kusam tergeletak di atas meja kayu mahogany. Bagi Edward, bingkai itu bukan sekadar tempat menyimpan memori, melainkan kotak pandora yang mengunci kenangan kelam yang enggan hengkang dari kepalanya.

Di dalam remang kamar, jemari Edward yang berurat tegas mengusap kaca foto tersebut. Seketika, kilas balik mencekam itu menghantam kesadarannya.

Crrrkkk!

Bzzzt!

Suara kayu terbakar dan deru kobaran api bergemuruh dalam ingatannya. Mansion megah itu hancur dilalap si jago merah. Setiap sudut ruangan bertransformasi menjadi neraka tanpa batas.

"PENGHIANAT!"

Gema teriakan seorang wanita terdengar memecah jerit hening nostalgia itu. Wanita itu terikat rantai besi yang membakar kulitnya. Wajahnya penuh luka bernanah, namun tatapannya kokoh, memancarkan keberanian yang menolak tunduk.

"Suamiku akan membalas perbuatanmu!" jerit wanita itu lagi.

DOR!!!

Satu letusan tembakan pistol menghentikan napasnya seketika. Tubuh wanita itu ambruk.

Edward kecil menyaksikan seluruhnya. Ia ingat betul bagaimana tubuh mungilnya dan anak-anak lain meringkuk ketakutan di sudut gelap, menanti fajar dingin yang diiringi rintihan hujan. Sejak malam berdarah itu, Edward menanam dendam pada satu kata

pengkhianatan.

Kesetiaan baginya adalah hukum mutlak—jalan dua arah. Ia menuntut kepatuhan mutlak dari para bawahannya, namun ia siap mempertaruhkan nyawa demi melindungi mereka yang tetap berdiri bersamanya. Terutama adik-adiknya. Meski tak sedarah, ia bersumpah akan menjaga keluarga yang ia bangun dari puing-puing trauma ini.

Tok!

Tok!

Tok!

Ketukan di pintu memutus lamunan Edward. Suasana kamar yang semula pekat oleh trauma mendadak surut.

"Kak! Bisa kita bicara?"

Edward menghela napas, menepis bayangan masa lalu lalu menegakkan posisinya.

"Masuk."

Seorang pria muda melangkah masuk. Setelan jasnya masih rapi, menempel pas di tubuhnya yang tegap, melengkapi wajah tampannya. Namun, raut wajahnya menyiratkan kegelisahan yang menggelitik.

"Ada apa mencariku? Mengapa tidak mencari istrimu?" tanya Edward seraya menyilangkan tangan di dada, menatap adiknya dengan selidik.

Oscar tersentak kecil. Jemarinya merapikan kerah kemeja yang sebenarnya sudah rapi—gestur khasnya saat salah tingkah.

"Baru saja selesai berbincang panjang dengan vendor dari China. Mereka cukup baik terhadap jalinan kesepakatan kerja kita dan..." Oscar menghentikan kalimatnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebingungan merangkai kata. "...sebenarnya bukan itu yang ingin aku ceritakan."

Edward tidak memotong. Tatapannya tenang, menghimpun wibawa yang secara perlahan memberi adiknya dorongan moral.

"Lanjutkan."

Oscar menghela napas panjang, matanya berbinar bingung sekaligus antusias. "Kak, ini tentang kejujuran perasaan ku terhadapnya. Jujur saja rasanya berbeda... Entah mengapa aku begitu nyaman berada di dekatnya. Rasanya selalu bersemangat ketika melihatnya bahagia."

Oscar melangkah mendekati meja kerja Edward, menyandarkan jemarinya di tepi meja. "Dan tentang pernikahan kami... Pernikahan kami baik-baik saja. Dia benar-benar menjaga nama baikku di setiap sudut rumah. Seolah-olah dia tahu batasan apa yang perlu dia jaga untukku. Belum lagi tentang bagaimana dia memper—"

"Lalu sekarang kamu mencintainya?" potong Edward tiba-tiba. Suaranya datar, namun sanggup menghentikan napas Oscar seketika.

Oscar membeku. Bola matanya bergerak gelisah. Cinta? Apakah perasaan aneh yang membakar dadanya ini disebut cinta? Selama ini ia tidak pernah membuang waktu demi wanita. Walau banyak yang mendekati, tak satu pun yang menggetarkan hatinya seperti ini.

Melihat reaksi adiknya, Edward menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit awkward menghadapi kepolosan Oscar. Namun, kecemasan lain perlahan menggerogoti pikirannya.

"Aku yakin hubungan kami akan baik-baik saja," lanjut Oscar, berusaha menepis keraguan di matanya dengan senyum tipis. "Setelah masa satu tahun selesai, aku akan menikahinya secara utuh. Tidak lagi dengan pernikahan siri."

Edward tetap diam seribu bahasa. Raut wajahnya mengeras. "Lalu bagaimana jika dia memilih meninggalkanmu? Setelah sejuta kebohongan yang kamu lontarkan kepadanya?"

Oscar mengkerutkan dahi. "Untuk sebuah kesetiaan—"

"Bagaimana jika sebenarnya selama ini sikap baiknya terhadapmu hanyalah kedok untuk bertahan? Dan mendapatkan kompensasi itu?" menyela Edward cepat. Ia bangkit dari kursi, melangkah mendekati Oscar hingga jarak mereka hanya bertaut satu langkah. Iris mata tajam kedua pria itu beradu dalam ketegangan yang mencekik.

"Kompensasi?" bisik Oscar, suaranya goyah.

Edward berbalik menjauh, merogoh saku jasnya lalu melempar sebuah buku cek di atas meja. Di sana tertulis angka nominal fantastis $300.000.

"Aku sendiri yang melihat semuanya," ujar Edward pelan, menakar reaksi adiknya. "Saat kamu meninggalkannya tadi di tengah pesta... aku sudah lebih dulu bertanya padanya. Aku tidak memaksanya, aku hanya ingin memastikan. Dan jujur saja, aku sangat terkejut karena ternyata dia memilih uang tersebut. Dia mungkin akan pergi setelah satu tahun kontrak pernikahan kalian selesai."

Setiap kata yang keluar dari mulut Edward terasa bagai belati yang menusuk langsung ke dada Oscar. Nafas pria muda itu menajam.

"Pernah kukatakan padamu perihal kelanjutan hubungan kalian, tapi tidak pernah kukatakan untuk melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius," lanjut Edward dingin. Ia merangkul bahu adiknya yang kaku, menuntunnya keluar dari ruangan. "Pikirkan itu baik-baik, Oscar."

Cklek.

Pintu tertutup. Edward meninggalkan adiknya sendirian di lorong mansion yang megah namun terasa begitu menekan.

Oscar terpaku di tempatnya. Kata-kata sang kakak berputar-putar di kepalanya bagai dentang lonceng kematian. Apakah selama ini Anisa hanya berpura-pura? Apakah senyum lembut itu dijual seharga tiga ratus ribu dolar?

Rasa dada yang bergemuruh memicu kepanikan dalam diri Oscar. Ia tidak marah—ia ketakutan. Ia takut kehilangan kehangatan yang baru saja ia rasakan. Dengan langkah terburu-buru, ia menelusuri lorong-lorong mansion yang kian sepi seiring berlalunya acara ulang tahun Zaidan.

Hingga akhirnya, langkahnya terhenti.

Di atas balkon yang menjulang ke luar, berdiri sosok wanita berbalut pakaian santun dan cadar yang tertiup angin malam. Anisa menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang, seolah menatap kebebasan yang berada jauh di luar jangkauan mansion terkunci ini.

"Anisa?" panggil Oscar, berusaha menetralkan suaranya yang bergetar.

Anisa berbalik. Matanya memancarkan kehangatan mendalam saat melihat suaminya. Ia melangkah mendekat, lalu dengan lembut menyapu tetes keringat dingin di pelipis Oscar menggunakan ujung selendangnya. "Sudah selesai, Mas?"

"Iya, sudah..." Oscar menatap wajah itu lekat-lekat, mencari kebohongan yang dituduhkan kakaknya, namun tak menemukan apa pun selain ketulusan. "Kamu gimana? Sudah makan?"

"Saya belum nafsu makan. Mungkin nanti, Mas," jawab Anisa jujur, tanpa ada tekanan di matanya.

Mereka berdua bergeming di tepi balkon, menatap lanskap kota di bawah sana yang dipenuhi kerlip lampu malam. Windu malam berhembus dingin. Oscar menggulung lengan kemejanya hingga siku, gestur gelisah yang tak mampu ia sembunyikan.

"Nis..." suara Oscar memecah keheningan, berat dan lirih. "Kalau nanti kamu punya toko kue sendiri... menu apa yang mau kamu jadikan andalan utama?"

Anisa tersentak. Matanya berbinar bahagia, kedua tangannya bertaut di dada. "Wah... Mas tahu saya berniat membuka toko kue?!" Senyum di balik cadarnya terpancar jelas dari sudut matanya yang menyipit indah. "Iya, saya memang berniat membuka toko kue kecil. Mungkin cinnamon roll dan kue-kue kering tradisional, Mas. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

Oscar tersenyum tipis, namun tatapannya kosong menatap wajah istrinya. "Tidak apa-apa. Aku cuma berpikir... waktu satu tahun untuk kontrak pernikahan kita tidak akan terasa. Sebentar lagi selesai. Kamu akhirnya bisa bebas membangun tokomu dan... tanpa perlu terikat dengan pria sepertiku lagi."

Dada Anisa berdesir aneh. Ia menangkap nada kehilangan yang amat dalam dari intonasi bicara suaminya. Ia memajukan tubuhnya sedikit. "Ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu, Mas?"

Pertanyaan lembut itu justru menghancurkan benteng pertahanan Oscar. Pria yang biasanya dingin dan ditakuti di dunia luar itu mendadak rapuh di hadapan wanita di depannya.

Napas Oscar memburu, matanya memerah menahan gejolak emosi. "Nis... aku tahu pernikahan kita berawal dari perjanjian utang. Aku juga tahu siapa diriku. Aku pria yang hidup di dunia gelap, penuh kebohongan, dan jauh dari Tuhan. Sedangkan kamu... kamu wanita saleha yang selalu menghabiskan malam dengan sajadahmu."

Anisa mencelos. Ia membisu, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir suaminya.

"Setiap malam aku terjaga, Nis. Mendengarmu berbisik menyebut namaku dalam doamu... hatiku hancur," jerit Oscar lirih. Suaranya gemetar hebat saat ketakutannya membuncah. "Aku merasa tidak pantas ada di dekatmu! Tapi sialnya... aku justru mencintaimu! Sangat mencintaimu sampai membuatku ketakutan setengah mati setiap hari!"

Oscar mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku takut pada diriku sendiri! Aku takut suatu hari sifat monsterku mengambil alih, aku hilang kendali, melanggar batasanmu, atau lebih parah... merusakmu dan memenjarakanmu di rumah terkutuk ini selamanya! Aku tidak mau merusakmu, Nis!"

Suara Oscar merendah, dipenuhi kepasrahan yang menyayat hati. "Jika nanti kontrak ini selesai dan kamu memilih pergi demi kebahagiaanmu, aku tidak akan menahanmu dengan kekerasan. Aku siap kamu benci. Aku siap menanggung semua caci maki dari mulutmu, asalkan kamu keluar dari sini dengan utuh dan bahagia..."

Oscar menatap Anisa dengan mata basah. "Katakan jujur, Nis... apa kamu tersiksa bersamaku?"

Setetes air mata Anisa luruh, meresap ke dalam kain cadarnya. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang meluap. Wanita itu melangkah mendekati Oscar, menyisakan jarak satu langkah demi menjaga batasan mereka.

"Mas Oscar... angkat kepalamu. Tolong lihat saya, Mas," tutur Anisa lembut namun tegas.

Oscar perlahan mendongak, mendapati tatapan Anisa yang begitu teduh.

"Mas sebut diri Mas monster. Tapi monster mana yang menangis karena takut menyakiti wanitanya?" bisik Anisa, suaranya bergetar menahan tangis bahagia. "Monster mana yang menekan seluruh egonya demi menjaga kehormatan istrinya? Di rumah ini, di balik sikap dinginmu dulu, saya justru menemukan laki-laki paling berkarisma yang menghargaiku."

Anisa menggelengkan kepalanya perlahan. "Saya tidak pernah tersiksa, Mas. Dan saya tidak ingin pergi ke mana-mana,asal mas tahu sekarang pernikahan kita sudah bertaut 1 bulan 4 hari dan karena tanpa sadar... saya juga..."

"Kalau saya... saya sudah jatuh cinta kepadamu. Saya mencintaimu, Mas Oscar. Dengan segala kekuranganmu."

Oscar tertegun, seolah tersambar petir di siang bolong. Matanya melebar, napasnya tertahan. "Kamu... mencintaiku? Tapi kontrak pernikahan kita—Tunggu. Pernikahan kontrak kita sebentar lagi selesai. Dan itu artinya... status pernikahan siri kita juga akan selesai?"

Anisa terkekeh pelan, mata indahnya menyipit menatap kebingungan suaminya yang menggemaskan.

Tanpa mampu menahan letupan kebahagiaan yang meluap-luap di dadanya, Oscar melepaskan seluruh kendali dirinya.

Grep!

Dengan satu gerakan mantap, Oscar merengkuh pinggang Anisa dan mengangkat tubuh mungil wanita itu ke udara. Ia memutar-mutar tubuhnya di atas balkon, membawa Anisa dalam dekapan eratnya. Tawa lepas yang murni dan bahagia membahana dari tenggorokan Oscar—suara tawa yang belum pernah didengar siapa pun di mansion itu selama bertahun-tahun.

"Mas Oscar! Turunkan, nanti jatuh!" seru Anisa setengah tertawa, jemarinya memegang bahu tegap suaminya erat-erat.

Oscar akhirnya menurunkan Anisa, namun kedua tangannya masih betah bertengger di pinggang sang istri. Napasnya terengah, wajahnya berseri-seri dipenuhi rona bahagia.

Ia menatap Anisa dengan tatapan memohon yang menggemaskan. "Nis... kalau pernikahan siri ini selesai, artinya kita harus mengulanginya dari awal, kan? Secara hukum negara dan agama."

Anisa mengangguk pelan, meredakan debar dadanya. "I..iya, Mas."

"Kalau begitu..." Oscar mendekatkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya canggung.

"Boleh tidak"

"... sebelum kita nikah resmi, kita pacaran dulu? Aku... aku ingin mengajakmu pacaran. Seperti anak-anak muda lainnya. Tapi janji, tetap dalam batasan yang aman!"

Anisa terpana sejenak sebelum akhirnya terkekeh manis. Hatinya lumer melihat sisi kekanak-kanakan dari pria garang ini. "

Pacaran? Tapi saya tidak pernah pacaran Mas yakin?"

"Yakin! Aku mau mentraktirmu jalan-jalan malam, makan es krim, naik motor... Tolong izinkan aku mencintaimu dengan cara yang normal, Nis."

Anisa menunduk malu, lalu mengangguk pelan. "Saya juga penasaran bagaimana rasanya pacaran, Mas... Jadi, saya setuju."

"Ehem!"

Sebuah dehaman keras dari arah pintu balkon mengagetkan mereka berdua. Oscar dan Anisa refleks meloncat mundur, memberi jarak.

Di ambang pintu, Edward berdiri bersandar pada bingkai kayu. Wajahnya yang biasa dingin kini dihiasi senyum tipis penuh arti. Tanpa mengungkit soal cek uang bernilai fantastis tadi—yang rupanya hanyalah ujian kesetiaan darinya—Edward merogoh saku celananya.

Fwip!

Sebuah kunci motor berlogo Ninja melayang di udara. Oscar dengan sigap menangkapnya.

"Gunakan motor itu," ujar Edward datar, namun matanya memancarkan rasa lega yang mendalam. "Bawa istrimu menikmati angin malam. Jangan pulang terlalu larut."

Tanpa menunggu jawaban, Edward berbalik dan berlalu pergi, meninggalkan sepasang kekasih yang baru memadu janji itu.

beberapa menit kemudian, deru mesin motor sport berkapasitas besar menggelegar membelah keheningan malam mansion. Motor Ninja hitam mengkilap itu meluncur mulus melewati gerbang besi yang terbuka lebar.

Di atas jok motor, Oscar mengendarai kuda besinya dengan senyum yang tak kunjung luntur. Di belakangnya, Anisa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Oscar, menyandarkan kepalanya di punggung tegap sang suami. Angin malam kota menampar lembut wajah mereka, menyapu sisa-sisa kelam masa lalu, dan menggantikannya dengan lembaran baru yang penuh dengan kebebasan dan cinta.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!