NovelToon NovelToon
ISTRI GILA SANG DUKE

ISTRI GILA SANG DUKE

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:115k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.

​Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!

​Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. PERTARUNGAN HIDUP DAN MATI

Udara malam berembus semakin dingin, membawa serta aroma amis darah yang mulai mendominasi pelataran lapang dekat tebing sungai.

Di bawah naungan cahaya bulan purnama yang pucat, Virelia berdiri tegak, membiarkan rambut pirangnya tersibak angin. Kelima pembunuh bayaran elit yang mengepungnya tidak lagi membuang waktu. Dengan teriakan menggelegar, mereka menerjang secara serentak, menghunus pedang tajam yang siap merobek daging.

"Sombong sekali. Ternyata pemimpin revolusioner hanya seorang gadis," ejek salah satu pembunuh bayaran itu.

"Yang sombong adalah kalian. Aturan dalam pertarungan; jangan pernah remehkan musuk di pertempuran," ujar Virelia.

Alih-alih mengambil posisi bertahan, Virelia justru langsung melesat maju menyongsong mereka tanpa gentar sedikit pun.

KLANG!

KLANG!

SCHWING!

Gerakan Virelia luar biasa cepat, laksana kilat perak yang membelah kegelapan. Ia menepis tebasan pedang musuh pertama menggunakan belatinya, berputar anggun di bawah lengan musuh kedua, lalu melayangkan tendangan telak ke arah rahang musuh ketiga hingga pria bertopeng itu terpental keras ke tanah.

"Hah! Pengecut kalian! Kalah dari perempuan! Banci!" ejek Virelia.

Virelia tidak berniat menyelesaikan semuanya di hutan terbuka ini. Sebagai seorang ahli taktik perang bayangan, ia tahu persis kelemahan bertarung di tempat terpencil: jika ia tewas atau terluka parah di sini, tidak akan ada seorang pun yang menemukan jasadnya sampai berhari-hari. Sebaliknya, jika ia memancing mereka kembali ke dalam labirin lorong ibu kota, keramaian pagi hari akan menjamin keselamatannya jika ia jatuh pingsan.

Aku harus masuk ke kota, batin Virelia penuh perhitungan, menahan nyeri kecil di bahunya akibat sabetan pisau sebelumnya.

"Kejar dia! Jangan biarkan target melarikan diri ke arah gerbang kota!" geram pemimpin pembunuh bayaran itu murka.

Virelia berbalik badan, berlari kencang menerobos semak-semak, sengaja membiarkan para pembunuh itu mengejarnya dari belakang. Sambil berlari, ia tidak tinggal diam. Setiap kali ada musuh yang berhasil memerkecil jarak, Virelia akan berbalik secara tiba-tiba, menghajar wajah mereka dengan sikuan keras atau lemparan belati kilat, lalu kembali berlari.

BUGH!

BRAK!

Satu per satu pembunuh bayaran itu tersungkur di sepanjang jalur pelarian, meringis kesakitan akibat hantaman brutal sang ketua pembunuh bayaran.

Tidak lama kemudian, bayangan bangunan-bangunan batu dan lampu lampion remang-remang distrik terluar ibu kota Valdoria mulai terlihat. Mereka telah melewati tembok perbatasan dan masuk ke dalam labirin lorong sempit kota.

Bagus, di sini, aku memiliki banyak jalur pintas, pikir Virelia.

Virelia membelok tajam ke sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding batu tua yang tinggi. Namun, ruang gerak yang semakin sempit ini justru menjadi pisau bermata dua.

Sang pemimpin pembunuh bayaran, yang membaca arah gerakan Virelia, memberikan sebuah isyarat tangan rahasia kepada dua anak buahnya yang tersisa. Ketika Virelia melompat melewati tumpukan kotak kayu untuk menghindari tebasan, dari sudut buta sebelah kiri ...

SYUT!

Sebuah jarum kecil beracun melesat nyaris tak terdengar.

Virelia sempat merasakan goresan angin dan mencoba mengelak, tetapi keterlambatan sepersekian detik membuat jarum itu menembus kain sarung tangan kulitnya dan menancap telak di pergelangan tangan kanannya.

"Argh! Sialan!" cicit Virelia tertahan, meringis saat rasa kebas langsung menyebar seketika ke seluruh lengan kanannya, membuat belatinya terlepas berdenting ke tanah.

Kelengahan itu dimanfaatkan dengan sempurna oleh sang pemimpin.

SLASH!

Sebelum Virelia sempat menarik jarak, bilah belati panjang milik sang pemimpin melesat lurus dan menancap cukup dalam di sisi perut kirinya.

"Ukh!"

Darah segar langsung merembes keluar, membasahi pakaian dan jubah hitam Virelia dalam sekejap.

Rasa sakit yang membakar berpadu dengan cairan racun pelumpuh yang kini mulai mengalir deras memasuki aliran darahnya. Dalam hitungan detik, pandangan Virelia mulai kabur. Kaki yang tadinya begitu ringan dan lincah kini terasa seperti terbuat dari timah, sangat berat dan sulit dikendalikan.

"Anjing istana sialan," umpat Virelia.

Meskipun kesadarannya mulai tergerus oleh racun, naluri bertahan hidup seorang Raven tidak pernah padam. Ia tidak mungkin mati di tempat kumuh ini.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang dimilikinya, Virelia mengandalkan teknik pernapasan tingkat tinggi untuk memerlambat peredaran darah, lalu menerjang dua pembunuh terakhir yang mencoba mendekatinya. Ia menghantam leher mereka dengan hantaman tangan kosong bertenaga penuh hingga kedua pria itu ambruk tak bernyawa.

Terakhir, ia berbalik menghadapi sang pemimpin pembunuh yang berdiri terpaku karena terkejut melihat betapa tangguhnya wanita itu meskipun sudah tertusuk dan diracuni.

"K-Kau monster!" cicit pemimpin pembunuh itu gemetar.

"Baru tahu? Anjing istana hanya bisa melolong tapi tidak ada otaknya. Kau kira kenapa aku ditakuti?" ujar Virelia angkuh.

Virelia melangkah gontai, matanya menyalang tajam penuh amarah. Dengan satu gerakan putaran terakhir yang mengerahkan seluruh sisa tenaganya, Virelia menghantam dada sang pemimpin dengan telapak tangannya, mengirimkan gelombang kejut internal yang langsung menghentikan detak jantung pria itu seketika.

BRUK!

Sang pemimpin pembunuh tewas seketika, jatuh tersungkur ke atas batu paving yang basah.

Di sekelilingnya, kelima pembunuh bayaran itu kini terbujur kaku tak bernyawa.

Misi telah selesai. Black Dawn selamat.

Namun, harga yang harus dibayar Virelia sangat mahal. Racun pelumpuh itu kini telah sepenuhnya menguasai sistem sarafnya. Kakinya gemetar hebat, pandangannya berputar-putar, dan luka di perutnya mengeluarkan darah yang cukup banyak.

"Sial ..." gumam Virelia lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Gadis itu berjalan tertatih-tatih, menyandarkan tubuhnya yang melemah pada dinding batu sebuah gang sempit yang sepi.

Lututnya akhirnya menyerah. Virelia terduduk di atas tanah yang dingin, napasnya tersengal-sengal pendek, dan kesadarannya perlahan-lahan mulai tenggelam ke dalam kegelapan yang pekat.

Apakah aku akan mati di sini? Tidak keren sama sekali, batinnya lemah, matanya perlahan-lahan tertutup.

Tepat di ambang keputusasaan itu, di ujung lorong gang yang gelap, terdengar suara derap sepatu bot yang menghantam genangan air dengan mantap dan teratur.

CLACK ... CLACK ... CLACK.

Langkah itu berhenti tepat di hadapan sang gadis.

Virelia mengerahkan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk membuka sedikit kelopak matanya yang terasa sangat berat.

Di bawah temaram cahaya lampion dinding yang hampir padam, sesosok pria berpostur tegap berdiri menjulang menatapnya. Pria itu mengenakan jubah panjang yang berkibar pelan tertiup angin malam.

Pria itu perlahan-lahan menjatuhkan satu lututnya ke tanah, menyamakan tingginya dengan Virelia yang terduduk lemah. Tangan besar dan hangat pria itu terulur, mengelus lembut wajah sang gadis.

Sepasang mata biru yang sangat akrab, mata yang selalu menatap Virelia dengan penuh kelembutan dan kehangatan di Kediaman Duke. Mata itu kini menatap sang gadis dengan sorot mata yang dipenuhi oleh campuran antara rasa khawatir yang teramat sangat dan seringai dingin yang luar biasa tajam.

Pria itu mendekatkan wajahnya, lalu berucap tepat di telinga Virelia dengan suara bariton yang rendah, tenang, dan penuh kekhawatiran;

"Permainan gilamu sudah berakhir, Istriku."

1
Nurlaila Hidayah
waaaahh mntaaaap, kreen thor
Nurlaila Hidayah
kala dunia sudah gila kita pun harus menjadi gila🤭 apalagi punya pemimpin seperti lucien yg pasti kita harus bener2 gila biar terbebas dari hukuman🤣🤣
Nurlaila Hidayah
aku mau siapin popcorn sama minuman buat nonton aksi gilamu vir
Nurlaila Hidayah
Julian pusing punya atasan yg sama2 gila🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
uuhhh kael aku padamu/Kiss//Kiss//Kiss/
Nurlaila Hidayah
wiiiih mntap ketika kael sudah ngeluarin kta2 sumpah
Nurlaila Hidayah
🤣🤣🤣🤣 bekas lipstik ga tuh,kocak euy Bru nemu novel kek gini🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
🤣🤣🤣bukannya mengikuti virelia buat keamanan Mlah dikejar banci🤣🤣🤣 gimna kalo sampe kael tau habis Klian ber 2🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
🤣🤣🤣dang putri bingung sendiri menghadapi pelayan yg benar2 sabar dan mengikuti aksi pura2 gila smpe bingung mau ngapain🤣🤣🤣 semangat thor
Nurlaila Hidayah
siapakah mata2 yg b smpe bisa tau apa yg direncanain oleh virelia? moga Duke bisa menyelamatkan'a dgan segera
Nurlaila Hidayah
kocak euy pas pengawal dtg ikut2n berdrama🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
🤣🤣🤣🤣 ternyata pengganti pelayan dan penjaga)pengawal sama2 gila dan duke pun ikutan berimajinasi gila🤣🤣🤣 pusing kan kau sekarang putri gmna cara'a lepas dri kael🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
waaaah ada apa dengan istana? mntap thor ga bsa diprediksi crta'a bkal sperti apa
Nurlaila Hidayah
tuh kan cuma pura2 aja, psti ada alasan dri semua yg dilakukan valeria ini. apa ya motif yg sungguh'a smpai hrus berpura2 sperti ini
Nurlaila Hidayah
kya'a sang putri emg bner2 ingin kluar dri istana dengan cara berpura2 gila trs kaisar Mlah menjodohkan dgan duke, dan skrg sdg mncari celah buat si usir/diasingkan oleh Duk sendiri, tpi duke sndri bkan org yg mudah tuk mmbuat keputusan yg merugikan diri sndri/kdiaman suke🤔
Nurlaila Hidayah
pusing kan kael lebih pusing drpda harus buat strategi perang drpd menghadapi orgil🤣🤣🤣 lma2 struk nanti kau kael
Nurlaila Hidayah
waaaah jael kya'a mlai sedikit tahu bhwa sang putri tdak bnar2 gila/hanya berpura2 gila
Nurlaila Hidayah
mampir thor, mdah2n ceritanya seru, menarik dan ada yg bisa diambil pelajaran sperti cerita sebelum2'a
Weni Kasandra
cerita yang bagus☺️
zee_
terima kasih thor. karyamu selalu keren/Good//Good//Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!