Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Terjebak
Aroma dari ayam ketumbar yang biasanya membangkitkan selera, pagi ini mendadak terasa bagai racun bagi Naya. Baru saja melangkah masuk ke dapur dengan seragam kantor yang rapi, hidungnya langsung menangkap bau menyengat dari wajan Bunda.
Seketika, rasa mual yang luar biasa hebat melilit perutnya.
Ugh!
Tanpa sempat menyapa Bunda, Naya memutar tubuhnya dan berlari kencang menuju kamar mandi.
Hoek! Hoek!
Ia jongkok di depan wastafel, meremas pinggirannya erat-erat saat cairan asam berulang kali terlempar keluar dari tenggorokannya. Tubuhnya gemetar, matanya berair menahan sensasi mual yang seolah memeras seluruh isi perutnya yang sebenarnya masih kosong.
"Lho, Naya! Kamu kenapa, Nak?" Bunda tergesa-gesa menyusul, memijat tengkuk Naya dengan raut wajah cemas.
Naya membilas mulutnya dengan air kran, napasnya terengah-engah. Wajahnya pucat pasi di depan cermin.
"Nggak tahu, Bun..." bisik Naya lemas. "Kayaknya maag."
"Atau masuk angin. Kemarin malam makan sate kambing, terus tidur pakai kipas angin full. Udah, kamu minum teh hangat dulu, nanti Bunda ambilkan minyak angin."
Naya hanya mengangguk lemas, membiarkan Bunda menuntunnya duduk. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bunda benar--ini pasti cuma masuk angin akibat pola makannya yang sembarangan belakangan ini.
Namun, siksaan itu tak berhenti di rumah.
Selama seminggu terakhir, indra penciuman Naya menjadi sangat peka dan sensitif secara tidak wajar. Segala jenis aroma yang berbau tajam dan menyengat--terutama bumbu-bumbu dapur, minyak wangi menyengat, hingga asap kendaraan--seketika sukses memicu rasa mual yang mendadak.
Di kantor, Naya sampai harus memundurkan kursinya saat Dion datang mendekat membawa nasi uduk beraroma serunding gurih, yang katanya ini makanan sangat viral sejak grand opening. Seperti biasa, memberikannya pada Gea. Mereka semakin dekat kabarnya.
"Kak Dion, jauhin makanannya dari aku, tolong..." gumam Naya seraya menutup hidung dan mulutnya rapat-rapat dengan tisu.
Dion mengernyit bingung seraya memegang bungkus nasi uduknya. "Lah? Biasanya kamu biasa-biasa aja, malah kadang minta. Nasi uduk wangi gini disuruh jauh-jauh?"
"Mual, Kak... Bau bumbunya nusuk," sahut Naya lemas, wajahnya sudah kembali memucat.
Gea yang berada di sebelah Naya langsung menatap temannya itu curiga. "Kamu sakit, Nay? Dari kemarin aku perhatiin kamu bolak-balik toilet terus, muka kamu juga lemes banget."
Naya mengangguk, setuju.
"Masuk angin kayaknya. Lambung aku lagi agak rewel kayaknya," sahut Naya, tersenyum, meski dadanya berdebar kencang menahan gelisah yang makin tak menentu kala mengatakannya.
Dari seberang, Ibra tak sengaja menangkap sosok Naya, lewat pintu kaca yang tertutup. Pria itu menatap Naya dengan dahi berkerut cemas, melihat betapa lemas dan pucatnya gadis itu beberapa hari belakangan.
Beberapa kali juga melihat Naya ke toilet sendirian. Ibra mengepalkan tangannya, bertarung dengan dorongan kuat di dadanya untuk tidak menghampiri Naya. Namun lagi-lagi, ia harus menahan diri agar tidak membuat Naya takut dan tertekan.
Entah sampai kapan harus begini, Ibra muak sebenarnya.
Siang harinya, Naya berdiri sendirian di dalam toilet kantor yang sepi. Ia membasuh wajahnya yang pucat dengan air dingin, mencoba mengusir sisa-sisa rasa mual yang masih mengganjal di tenggorokannya.
Saat jemarinya yang dingin mengusap sisa air di pipi, mata Naya mendadak tertuju pada kalender mungil yang ia pasang di layar kunci ponselnya yang menyala sebab notifikasi sistem.
Jantung Naya seperti berhenti berdetak seketika.
Tunggu.
Tanggal berapa ini?
Naya membelalak, jemarinya bergetar hebat saat membuka aplikasi pencatat siklus haid yang ada di ponselnya. Ia meneliti deretan angka di sana, menghitung tanggal demi tanggal dengan napas yang mulai tercekat.
Bulan lalu... aku haid tanggal lima. Dan sekarang... udah lewat satu bulan, bahkan lebih.
Darah Naya serasa membeku di dalam pembuluh. Sensasi dingin merayapi dari ujung kaki hingga puncak kepalanya. Selama ini, karena kesibukannya dan usahanya untuk terus menghindari bayang-bayang Ibra, ia sama sekali tidak menyadari bahwa siklus bulannya telah terlewat begitu jauh.
Tangan kanan Naya perlahan turun, meraba perut bawahnya yang terasa kian padat di balik kemeja kerjanya. Mual yang saban pagi menyiksanya, perubahan selera makan yang mendadak gila-gilaan, perutnya yang agak sesak, dan... keterlambatan haid ini.
Semua puzzle yang selama ini ia hindari, kini menyatu begitu sempurna, menghantam kesadaran Naya hingga dadanya terasa remuk.
"Gak... gak mungkin..." bisik Naya gemetar di depan cermin toilet, menatap pantulan dirinya yang dipenuhi ketakutan luar biasa.
Naya mundur perlahan, memutar gagang pintu toilet dengan jemari yang dingin dan gemetaran. Dadanya masih bergejolak hebat, napasnya patah-patah, menahan gelombang panik yang baru saja menghantamnya di depan cermin.
Ia hanya ingin segera keluar, kembali ke kubikelnya, dan mengurung diri dari kenyataan mengerikan yang baru saja menyenggol pikirannya.
Enggak, itu mustahil.
Namun, begitu pintu itu terdorong terbuka, pemandangan pahit dan mengerikan terlihat.
Deg.
Sosok tegap itu sudah berdiri di sana. Tepat di ambang pintu.
Naya membeku total. Iris matanya membelalak lebar mendapati Ibra yang berdiri dengan dada kembang-kempis, seolah pria itu memang sudah berdiri menunggunya di sana sejak tadi. Tatapan Ibra begitu tajam, pekat, dan sarat akan rasa cemas yang tak lagi bisa pria itu sembunyikan.
Instingnya membawa langkah Ibra menyusuri koridor sepi ini saat kebetulan melihat Naya, jadi dia mengikuti tiap gerak-gerik Naya yang tampak tak wajar, yang entah sejak kapan namun Ibra menyadarinya baru-baru ini.
Rasa takut yang luar biasa seketika menyengat seluruh sendi tubuh Naya. Sebelum Naya sempat memutar tubuh atau menerobos lewat celah samping untuk kabur, Ibra bergerak lebih cepat.
Pria itu melangkah maju memotong jalan, meraih bahu Naya pelan namun penuh penekanan, lalu mendorong tubuh kecil gadis itu kembali mundur ke dalam toilet.
Melupakan semua nasihat papanya tentang memberi ruang mendadak buyar begitu saja. Melihat wajah Naya yang sepucat itu, Ibra tidak bisa lagi hanya diam. Persetanlah!
Brak.
Klek.
Dengan satu gerakan tangannya yang tangkas, Ibra menutup pintu rapat-rapat dan memutar selot kuncinya dari dalam.
Suara denting kunci yang terkunci itu bergema nyaring di dalam ruangan yang sempit. Jantung Naya rasanya melompat keluar dari rongga dadanya. Ia mundur beberapa langkah sampai pinggulnya membentur tepi wastafel porselen yang dingin, menatap Ibra dengan tatapan horor yang campur aduk.
"K-kamu mau ngapain?" bisik Naya panik, suaranya bergetar hebat. Matanya bergerak liar menatap pintu yang terkunci, lalu beralih pada wajah Ibra yang teramat dekat. "Keluar... ini toilet, nanti ada orang yang l-lihat."
"Saya minta maaf. Saya tahu ini salah. Tapi hanya ini caranya."
Naya meneguk ludahnya susah payah.
"Saya memperhatikan kamu Naya, selalu," potong Ibra dengan suara bariton yang sangat rendah, dalam, dan bergetar menahan gejolak emosi. Pria itu mengikis jarak, berdiri tegap memangkas ruang di antara mereka hingga Naya bisa merasakan deru napas hangat Ibra yang menerpa wajahnya.
"Wajahmu pucat. Kamu bolak-balik ke toilet, kamu juga kelihatan lemah, dan kamu terus-terusan nyentuh perut kamu," lanjut Ibra. Pandangannya turun, menatap lurus pada jemari Naya yang secara refleks meremas kain kemeja kerja di bagian perut bawahnya.
Naya serta-merta menarik tangannya ke belakang tubuh, menyembunyikannya rapat-rapat. "Aku... S-saya aku... sa-saya cuma masuk angin! Tolong buka pintunya, saya mau keluar..."
"Bukan cuma masuk angin, kan?" bisik Ibra lagi. Pria itu menundukkan sedikit tubuhnya, menatap langsung ke dalam manik mata Naya yang mulai berkaca-kaca. Ada keputusasaan dan rasa bersalah yang amat dalam berkilat di mata pria itu.
"Tolong jangan lari lagi, Naya... jujur sama saya, kamu kenapa? Apa benar yang ada dipikiran saya?"
Naya memejamkan mata rapat-rapat, tak sanggup menahan tatapan yang seolah sanggup mengulitinya itu. Menunduk, jemarinya gemetar di atas perut bawahnya sendiri.
Selama ini ia mengira waktu akan menghapus semuanya.
Namun ternyata, ada hal-hal yang tidak pergi.
Ia hanya tumbuh diam-diam.
Di dalam toilet kantor yang sepi dan terkunci ini, Naya dan Ibra terjebak. Naya merasa dunianya benar-benar runtuh--terperangkap bersama pria yang menjadi sumber trauma, sementara sebuah kemungkinan baru saja muncul dan membuat seluruh tubuhnya terasa membeku.
Dan kini, untuk pertama kalinya, Naya tidak tahu mana yang lebih menakutkan--tatapan Ibra di hadapannya, atau kemungkinan bahwa sesuatu telah berubah di dalam tubuhnya.
Sesuatu yang bahkan belum berani ia sebut dalam hati.
Makasih thor lanjut up ya