Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

01. Kehidupan Kantor Naya

Suara derit printer berkecepatan tinggi dan denting mesin pembuat kopi di sudut lantai empat gedung PT Aetheris Land & Development menjadi musik latar yang saban hari didengar Mala Jinaya.

Di tengah riuh kesibukan kantor kontraktor properti itu, gadis 23 tahun tersebut menunduk dalam-dalam di depan mejanya, menatap tumpukan berkas laporan yang menjulang seperti benteng.

​Sebagai staf admin termuda, tugas Naya sebenarnya sederhana tapi menumpuk. Menginput daftar harga bahan bangunan, merapikan nota tagihan supplier, dan mengetik laporan proyek di komputer. Pekerjaan yang butuh ketelitian tinggi dan memakan waktu berjam-jam.

​"Naya! Ini laporan tagihan bahan bangunan buat proyek apartemen BSD kok belum beres sih?!"

Suara nyaring Lady memecah keheningan ruangan. ​Wanita berusia awal tiga puluhan itu berdiri di depan meja Naya dengan folder tebal di tangannya.

Marina, 28 tahun, senior Naya yang lain, berdiri di samping Lady sambil menyilangkan tangan dan menyeringai tipis.

​Naya sedikit tersentak. Ia buru-buru berdiri, jemarinya meremas ujung kemeja kerja yang mulai melar. "M–maaf, Kak Lady. Itu... berkasnya baru dikasih Kak Marina tadi jam empat sore, sementara datanya banyak banget yang harus diketik ulang—"

​"Lho, kok malah nyalahin Marina?" potong Lady dengan nada meninggi, menarik perhatian beberapa karyawan lain, termasuk Bian dan Raka yang hanya menonton dari bilik kerja mereka.

"Kamu kan admin di sini, Nay! Harusnya ketikan begini selesai dengan cepat. Jangan bikin alasan!"

​Marina menimpali dengan wajah tanpa dosa, "Iya, Naya. Padahal dari kemarin kan aku udah nitip nota-nota itu. Kamu aja yang kelamaan, sambil main handphone kali kamu, makanya lama."

​Padahal, Naya tahu betul Marina baru menyerahkan tumpukan nota yang berantakan itu satu jam yang lalu karena ketahuan lupa menginputnya ke sistem. Namun, bibir Naya terkatup rapat. Rasa tidak enakan yang kronis dan ketakutannya akan konflik membuat kata-kata pembelaannya menguap begitu saja.

​Naya menundukkan kepala lebih dalam, mengabaikan rasa panas yang mulai menjalar di pinggir matanya. "Iya, Kak. Maaf... nanti aku ketik sampai selesai malam ini biar besok pagi siap."

​"Nah, gitu dong dari tadi! Jangan kebiasaan alesan," cetus Lady melengos pergi, diikuti Marina yang tersenyum puas karena beban kerjanya berhasil dilempar.

​Naya menghela napas panjang, mendudukkan kembali tubuhnya yang lelah di kursi putar. Ia mengusap dadanya pelan, membuang napas kasar melalui mulut. "Gapapa, Nay. Cuma lembur sebentar," bisiknya pada diri sendiri. Kalimat mantra yang selalu ia ucapkan sejak bekerja di sini, dua bulan lalu tepatnya.

​Sementara itu, beberapa meter di seberang ruangan, pintu kaca tebal bertuliskan Divisi Perencanaan & Struktur (Engineering) terbuka.

​Rafael Ibra, berusia 27 tahun, keluar dari ruangannya dengan menggulung lengan kemeja putih hingga ke siku.

Sepasang matanya menatap lurus ke lembaran denah arsitektur di tangannya. Sebagai Lead Engineer, pikiran Ibra sepenuhnya tertuju pada rapat eksekutif dan audit struktur gedung yang harus diselesaikannya sore ini.

​Pria itu berjalan begitu saja melewati lorong divisi administrasi. Langkah kakinya cepat dan tegas, sama sekali tidak menoleh atau memedulikan hiruk-pikuk keributan kecil di ruangan seberang yang pintu kacanya terbuka.

Bagi Ibra, area luar divisinya hanyalah angin lalu yang tak perlu ia campuri. Juga, untuk apa pedulikan kerjaan orang lain, semua orang punya tanggung jawab masing-masing pada pekerjaannya.

***

Jam dinding sudah menunjukkan angka sembilan, namun kerjaan Naya di depan komputer belum juga selesai. Ia sendirian disana, yang lainnya sudah pulang.

Naya menguap, berkali-kali mengucek matanya dibalik kacamata minusnya. Sehingga, ketika jarum jam mengarah ke angka sebelas, barulah semuanya selesai. Naya menggeliat sejenak di depan mejanya, merapikan meja lalu bangkit.

Dan ketika keluar ruangan, ia pikir hanya dia sendirian di kantor besar itu. Untunglah, di seberang ruangan terlihat ada satu meja yang lampunya menyala, yang artinya, ada yang sedang lembur juga, dan dia tidak sendirian.

Keadaan sangat sepi, bahkan di lift pun begitu. Naya memejamkan matanya saja usai menekan tombol, ia tak ingin melihat sekeliling sebab takut akan melihat hantu. Jujur saja, meski sudah dewasa, Naya masih takut dengan hal-hal berbau mistis. Akibat dulunya sering menonton film horor.

Saat suara lift berdenting, barulah Naya berani membuka mata. Bertepatan saat pintu lift terbuka, Naya yang agak ceroboh menabrak seseorang yang akan masuk.

Brukk

Beberapa lembar kertas Naya terjatuh dari tangannya.

"Aduh, maaf, saya nggak sengaja."

Tanpa melihat wajah orang di depannya Naya menunduk meminta maaf lalu memunguti lembar kertasnya yang bertebaran.

"Iya, gapapa," sahut laki-laki bertubuh tegap itu. Masuk ke dalam lift, pintunya hampir tertutup dan sosok itu bisa melihat perempuan itu dari pijakannya sedang mengumpulkan kertas-kertas itu.

Namun, kala menunduk, tepat disamping kakinya, ada satu lembar yang tersisa, ia rasa milik perempuan tadi, jadinya ia kembali menekan tombol lift.

Sosok itu adalah Ibra, ka menahan tombol pintu lift dengan satu jemarinya, lalu membungkuk perlahan untuk memungut lembar kertas yang tertinggal di dekat sepatu pantofelnya. Ia mengamati kertas itu sejenak di bawah temaram lampu lift. Sebuah nota tagihan supplier yang rapi dengan guratan tanda tangan yang khas, milik divisi administrasi.

​Pria itu melangkah keluar dari lift menuju lobby utama yang sudah menyepi. Dentang langkah kakinya bergema pelan di atas marmer kilap lantai dasar gedung PT Aetheris Land & Development.

​Ibra mengedarkan pandangan ke sekeliling area lobby. Meja resepsionis sudah kosong melompong, dan sofa-sofa tamu tampak seperti bayangan bisu di balik pendar redup lampu malam. Tidak ada siapa-siapa di sana, selain seorang petugas keamanan yang tertidur ayam di dekat pintu kaca utama.

​"Perempuan yang tadi...?" gumam Ibra pelan.

​Ia berjalan mendekati pintu kaca dan melihat ke arah pelataran parkir luar.

Di sana, yang tersisa hanyalah deretan tiang lampu dan sapuan angin malam. Suara deru halus mesin sepeda motor yang kian menjauh menjadi satu-satunya tanda bahwa sosok ber-kacamata yang menabraknya tadi baru saja membelah kegelapan jalan raya.

​Ibra menghela napas pendek. Ia melirik kembali lembaran kertas di tangannya. Salinan nota yang tampak penting, mungkin salah satu dari tumpukan berkas yang membuat perempuan itu harus bertahan di kantor hingga larut malam.

​"Terburu-buru sekali," bisik Ibra pada diri sendiri.

​Tanpa ekspresi berlebih, pria itu melipat kertas tersebut secara presisi menjadi dua bagian, lalu memasukannya ke dalam saku kemeja putihnya yang tergulung.

Pikirannya kembali dingin, menepis urusan orang lain yang bukan bagian dari tugas tekniknya. Namun setidaknya, ia tahu kertas ini harus kembali ke meja divisi administrasi besok pagi.

​Ibra pun berbalik, menyapa singkat petugas keamanan yang terbangun kaget, lalu melangkah kembali ke area lift, menuju ruangannya di lantai empat.

Dan di dalam keheningan lantai empat yang tinggal menyisakan pendar lampu dari mejanya, pria itu kembali duduk, menyelaraskan lembaran nota milik perempuan itu di samping berkas tekniknya, membiarkan malamnya berlanjut sedikit lebih panjang demi menuntaskan satu hal lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!