NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

~​Kamis sore, sepulang sekolah~

​Bagi remaja SMA pada umumnya, menghabiskan waktu di kedai kopi sepulang sekolah adalah momen untuk bersantai, bermain game online, atau membicarakan lawan jenis. Namun, bagi jajaran eksekutif Unit Manajemen Krisis (eks-Bone Breakerz), duduk di Cafe Batavia sore itu terasa seperti mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan.

​Bella Anastasia duduk di ujung meja persegi panjang, punggungnya tegak sempurna tanpa menyentuh sandaran kursi. Di depan gadis itu terdapat secangkir Americano panas tanpa gula dan sebuah laptop yang baru saja ia pinjam dari fasilitas ruang kerja ayahnya di rumah. Di layar laptop tersebut, terbuka sebuah dokumen presentasi kosong. ​Di sisi kiri dan kanan meja, duduk Dion (Kepala Keamanan Internal), Rindi (Pengendali Keuangan), serta Tono dan Buno selaku Staf Observasi Lapangan. Di depan mereka terdapat minuman manis beraneka warna yang dibayari penuh oleh kas Bella sebagai bentuk "Tunjangan Meeting di Luar Kantor".

​"Terima kasih telah hadir tepat waktu," Bella membuka rapat dengan ketukan pelan jari telunjuknya di atas meja. "Agenda Management Retreat skala mikro hari ini adalah melakukan pemetaan terhadap kompetitor eksternal kita. Saudara Dion, silakan berikan laporan pembaruan (update report) mengenai pergerakan Geng Serigala."

​Dion berdehem. Ia telah berlatih di depan cermin toilet sekolah selama sepuluh menit agar tidak terdengar seperti preman pasar saat memberikan laporan.

​"Khem..laporan intelijen lapangan, Bos," Dion memulai, membuka catatan kecil di ponselnya. "Sejak insiden di depan gerbang tempo hari, Geng Serigala mulai meningkatkan patroli di area perbatasan teritori kita, yaitu di jalan raya depan warung Mang Asep dan perempatan dekat stasiun. Pemimpin mereka, Leo tidak terlihat turun langsung. Tapi wakilnya, si Toni secara aktif mencoba memprovokasi anggota kelas sepuluh kita untuk memancing reaksi keras dari kita."

​Bella mengetik laporan itu ke dalam laptop-nya dengan kecepatan tinggi, bunyi ketukan keyboard-nya terdengar konstan dan ritmis.

​"Taktik Penetrasi Pasar yang agresif," gumam Bella, ia kemudian memutar layar laptop-nya menghadap keempat anak buahnya. Di layar tersebut, terpampang sebuah tabel matriks berukuran 2x2.

​"Mari kita aplikasikan Analisis SWOT terhadap organisasi kita dalam menghadapi Geng Serigala," instruksi Bella.

​Tono mengangkat tangan dengan ragu. "Maaf, Bos. SWOT itu... makanan sejenis siomay atau gimana?"

​Dion menepuk belakang kepala Tono dengan agak keras. "Jangan malu-maluin divisi kita, Ton! SWOT itu... eeee..." Dion menatap Bella dengan senyum meringis, memberi isyarat minta bantuan. "Apa ya, Bos? Gue juga lupa."

​Bella menghela napas tipis, nyaris tak terlihat. "SWOT adalah akronim dari Strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (Ancaman). Ini adalah instrumen dasar untuk merancang strategi manajemen krisis."

​Bella menunjuk kuadran pertama. "Kekuatan (Strengths). Rindi, apa kekuatan utama organisasi kita saat ini?"

​Gadis remaja yang disebut namnya itu nampak berpikir sejenak sebelum menjawab "Uang, Bos? Kas kita kuat karena Bos yang modalin."

​"Tepat. Stabilitas finansial. Selain itu, kekuatan kita adalah keunggulan taktis. Kita memiliki dukungan diam-diam (tacit approval) dari Kepala Sekolah, Pak Surya. Posisi kita legal secara de facto di dalam sekolah."

​Bella beralih ke kuadran kedua. "Kelemahan (Weaknesses). Dion?"

​"Jumlah personel, Bos," jawab Dion cepat, insting tempurnya untuk bagian ini tidak pernah salah. "Geng Serigala punya sekitar dua puluh anggota aktif sedangkan kita cuma berlima. Secara logistik tempur fisik, kita kalah telak."

​"Valid," Bella mengetik pernyataan Dion. "Kelemahan kedua kita adalah rekam jejak (track record). Bu Ratna dari Divisi BK masih mencari celah untuk mendiskreditkan kita. Jika terjadi gesekan kecil saja, kita akan langsung dijadikan kambing hitam."

​Bella menatap mereka satu per satu dengan intensitas yang membuat udara di kedai kopi itu terasa lebih dingin.

​"Oleh karena itu, strategi kita untuk menghadapi Ancaman (Threats) dari Geng Serigala adalah dengan mengeksploitasi Peluang (Opportunities) dari kebodohan mereka. Kita tidak akan membalas provokasi fisik Toni. Jika mereka menyerang secara fisik di area sekolah, kita dokumentasikan, kita laporkan sebagai tindak pidana murni, dan kita biarkan kepolisian yang melakukan terminasi terhadap organisasi mereka. Kita akan mengalahkan mereka dengan birokrasi, bukan dengan besi."

​Keempat remaja laki-laki itu menelan ludah serempak. Di masa lalu, Geng Bone Breakerz ditakuti karena mereka nekat. Sekarang, di bawah kepemimpinan entitas asing di dalam tubuh Bella ini, mereka menyadari bahwa bos mereka jauh melampaui kata "nekat". Bos mereka berdarah dingin, kalkulatif, dan tidak memiliki ampun secara legal.

​"Rapat ditutup. Lanjutkan konsumsi makanan kalian," perintah Bella, menutup laptop-nya.

​Ia tidak menyadari bahwa di luar sana, musuh mereka tidak hanya berdiam diri. Geng Serigala sedang menyiapkan taktik Kampanye Hitam (Black Campaign) yang akan menyerang tepat di titik terlemah mereka: kepercayaan pihak sekolah.

~​Jumat pagi, pukul 06:00 WIB~

​Sesuatu yang sangat salah sedang terjadi di gerbang utama SMA Garuda. Saat mobil yang mengantar Bella tiba di area drop-off, ia melihat kerumunan besar siswa yang berbisik-bisik, beberapa guru yang bahkan terlihat panik, dan dua orang satpam yang sedang berusaha menutupi tembok utama sekolah menggunakan terpal biru.

​Bella turun dari mobil, merapikan roknya, dan berjalan mendekati kerumunan dengan langkah tenang. Begitu para siswa menyadari kehadirannya, mereka otomatis membelah, memberikan jalan seolah Bella adalah seorang jenderal yang sedang menginspeksi pasukan. Tatapan mereka campur aduk antara takut, menuduh, dan penasaran. ​Saat Bella melewati kerumunan dan melihat apa yang ada di balik celah terpal biru tersebut, langkahnya terhenti. ​Di sepanjang tembok putih pualam kebanggaan SMA Garuda yang memuat ukiran logo sekolah, terpampang sebuah grafiti raksasa berwarna merah darah dan hitam pekat. Grafiti itu dibuat menggunakan cat semprot (pilox) dan bertuliskan huruf-huruf tajam yang agresif

...​"BONE BREAKERZ BERKUASA! MATI KALIAN ANAK-ANAK SERIGALA! KAMI YANG PEGANG SEKOLAH INI!"...

​Di bawah tulisan tersebut, tergambar lambang tengkorak dengan dua tulang bersilang. logo lama Geng Bone Breakerz sebelum direstrukturisasi oleh Bella. Catnya masih sedikit basah, menandakan vandalisme ini dilakukan pada dini hari.

​"Bos!"

​Dari arah belakang, Dion, Rindi, Tono, dan Budi berlari mendekat. Napas mereka terengah-engah. Saat mereka melihat tulisan di tembok tersebut, wajah Dion langsung memerah padam oleh amarah.

​"Bajingan..." umpat Dion keras-keras. "Siapa yang berani makai nama geng kita?! Ini pasti kerjaannya si Toni anjing itu! Bos, kasih gue izin, gue bunuh dia sekarang juga!"

​"Kendalikan volume suaramu, Dion," tegur Bella tanpa menoleh. Matanya masih memindai grafiti tersebut seperti sedang menganalisis grafik penjualan yang anjlok. "Tindakan reaktif adalah persis apa yang mereka harapkan dari kita. Ini adalah sabotase korporat klasik. Mereka menggunakan teknik Pelanggaran Merek Dagang (Trademark Infringement) dan Kampanye Hitam (Black Campaign) untuk merusak kredibilitas kita di mata publik."

​Tepat pada saat itu, suara melengking yang sangat familier membelah kerumunan.

​"BELLA ANASTASIA!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!