NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Dua Dunia

Di puncak tebing, jauh di atas udara kotor dan jalanan berlumpur Distrik Bawah, Kastil Adiwangsa berdiri congkak menantang langit malam. Namun, di dalam Ruang Takhta yang diterangi ratusan lilin abadi, keheningan yang mencekik mengalahkan kemegahan ruangan tersebut.

Paman Varian duduk di singgasana yang terbuat dari lelehan pedang para musuh leluhur. Wajahnya yang dihiasi bekas luka bakar kini tampak mengeras, menatap tajam ke arah patahan pedang baja yang tergeletak di atas karpet beludru merah di hadapannya.

Komandan Kael berlutut di tengah ruangan. Zirahnya penyok, wajahnya pucat karena kelelahan, dan harga dirinya telah hancur berkeping-keping. Di belakangnya, selusin ksatria elit Ignis yang tersisa berdiri menunduk—sebagian ditandu, sebagian lagi kehilangan anggota gerak.

"Jadi, biarku luruskan cerita menggelikan ini, Kael," suara Varian rendah, namun memancarkan bahaya yang mematikan. Pria paruh baya itu bangkit dari singgasananya, melangkah pelan menuruni tangga pualam. "Enam puluh ksatria elit klan, dipimpin oleh dewa perang utara... dipukul mundur oleh sekumpulan preman jalanan bermodalkan pipa berkarat. Dan kau membiarkan keponakanku yang cacat itu mematahkan pedangmu dengan tangan kosong?"

"Dia bukan lagi anak cacat yang Anda buang, Yang Mulia," jawab Kael, suaranya parau namun tegas. Ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah mata Varian. "Dia adalah anomali murni. Kaelen tidak hanya menolak sihir kita; dia melahapnya. Saat dia melepaskan auranya, seluruh elemen api di perbatasan mati total. Kami tidak bisa memanggil mana sekecil percikan korek api sekalipun. Pasukan kita buta dan lumpuh di dalam kegelapan."

Varian berhenti melangkah. Matanya sedikit melebar sebelum ia menyipitkannya kembali. Fakta bahwa Kaelen bisa bertahan hidup di Distrik Bawah sudah cukup mengganggu, tetapi mendengar pemuda itu kini bisa memadamkan sihir dalam skala area adalah ancaman absolut bagi eksistensi klan Adiwangsa.

"Itu mustahil. Kecuali dia menemukan artefak penyaring," gumam Varian pada dirinya sendiri. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Varian menatap Kael dengan dingin. "Kau mengecewakanku, Kael. Bawa sisa pasukanmu ke Barak Pembersihan. Kalian dilarang keluar sebelum aku memberikan perintah."

Kael menunduk dalam-dalam, lalu berdiri dan memimpin pasukannya keluar dari Ruang Takhta.

Setelah pintu ganda tertutup rapat, Varian berjalan menuju sebuah cermin obsidian raksasa di sudut ruangan. Ia mengiris telapak tangannya sendiri dengan belati kecil, membiarkan darahnya menetes ke permukaan cermin.

"Panggil Garda Gerhana," bisik Varian ke arah cermin yang kini mulai beriak seperti air berdarah. "Tikus got itu sudah mulai belajar menggigit. Kirim para pembunuh bayangan. Jangan gunakan sihir elemen. Gunakan racun, kutukan darah, dan baja murni. Aku ingin kepala Kaelen berada di atas mejaku sebelum bulan purnama."

Sementara itu, di kedalaman Distrik Bawah, suasana jauh dari kata hening.

Di dalam markas kasino Bos Rexor, dentuman musik dan sorak-sorai perayaan memekakkan telinga. Para anggota geng jalanan merayakan kemenangan mustahil mereka atas ksatria elit dunia atas. Botol-botol anggur bajakan dibuka, dan koin-koin emas hasil rampasan zirah ksatria dilemparkan ke udara.

Di ruang VIP, Rexor menuangkan anggur merah kualitas terbaik ke dalam dua gelas kristal. Ia menyodorkan salah satunya kepada Kaelen yang sedang duduk tenang di sofa kulit, mengusap pelan Inti Leviathan di balik jubahnya yang sesekali berpendar biru.

Lyra bertengger di tepi jendela, membersihkan sisa darah dari belatinya, sementara Dokter Silas sibuk mencatat data dari alat pemindai mana portabel yang ia arahkan ke tubuh Kaelen.

"Bersulang untuk pahlawan baru Sektor Empat!" seru Rexor, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Dengan kau di garis depan, Kaelen, kita tidak hanya akan mempertahankan wilayah ini. Kita bisa mencaplok Sektor Tiga, Dua, dan Satu! Kau akan menjadi tangan kananku. Algojo paling mematikan yang pernah dimiliki dunia bawah."

Kaelen tidak menyentuh gelas anggur di mejanya. Ia menatap Rexor dengan pandangan kosong yang membuat senyum bos mafia itu perlahan luntur.

"Aku rasa kau salah paham, Rexor," ucap Kaelen, suaranya tenang namun memotong kebisingan ruangan layaknya pedang es. "Aku bukan anjing penyerangmu. Aku membantumu malam ini untuk membayar harga Jangkar Mana ini. Utangku lunas."

Rexor meletakkan gelasnya dengan keras ke atas meja. Urat di leher besarnya menonjol. "Kau mulai arogan, Nak. Kau mungkin bisa menelan sihir, tapi di ruangan ini, aku punya puluhan penembak jitu yang pelurunya terbuat dari timah murni, bukan sihir. Jangan lupa siapa yang memberimu logam di dadamu itu."

"Aku tidak lupa," Kaelen mencondongkan tubuhnya ke depan. Tiba-tiba, lampu-lampu kristal di ruangan VIP itu berkedip redup. Udara mendadak terasa berat. "Tapi jangan lupa, Rexor. Distrik Bawah bernapas menggunakan mesin uap yang ditenagai oleh reaktor kristal mana. Aku bisa menyedot energi dari pasukan ksatria elit... apa yang membuatmu berpikir aku tidak bisa mematikan seluruh sumber daya Sektor Empat dalam satu kedipan mata?"

Mata Rexor melebar. Ia melihat pendar biru di dada Kaelen bersinar lebih terang, seirama dengan meredupnya lampu di ruangan itu. Kaelen tidak sedang menggertak. Ia benar-benar memiliki kunci untuk mematikan denyut nadi seluruh wilayah bawah tanah.

Seketika, tawa Rexor meledak, menutupi ketegangannya. "Hahaha! Astaga, kau benar-benar memiliki darah Adiwangsa yang kejam, Bocah! Baik, baik. Bukan bawahan. Mitra. Apa langkahmu selanjutnya, Mitra?"

Kaelen menyandarkan kembali punggungnya, membiarkan lampu ruangan menyala normal. "Paman Varian bukan orang bodoh. Setelah kekalahan ini, dia tidak akan mengirim pasukan biasa lagi. Dia akan menaikkan Kubah Matahari—perisai magis yang menutupi seluruh Distrik Atas. Selama kubah itu aktif, tidak ada satu pun pasukan fisik yang bisa menembusnya."

"Kubah Matahari ditenagai oleh Akar Magma purba yang berada jauh di bawah fondasi kastil," sela Silas, membetulkan letak kacamatanya. Pria tua itu menatap peta gulung yang ia gelar di atas meja. "Jika kau ingin meruntuhkan pertahanan kastil, kau harus menyedot energinya langsung dari akar tersebut."

"Masalahnya," Lyra melompat turun dari jendela, wajahnya berubah serius, "Akar Magma itu tidak ada di Distrik Atas. Akarnya menembus ke bawah sini, tepatnya di Zona Mati—reruntuhan labirin kuno di bawah Sektor Satu yang dipenuhi monster mutasi dan gas beracun. Bahkan orang-orang Rexor tidak ada yang berani mendekati tempat itu."

Kaelen berdiri, meraih sarung tangan kulitnya yang sempat robek dan merapikan jubahnya. Tatapannya terpaku pada titik merah di peta yang ditunjuk Silas.

"Kalau begitu, kita akan pergi ke Zona Mati besok," putus Kaelen tanpa keraguan. Matanya berkilat menantang bayangan kematian yang selalu mengikutinya. "Bersiaplah, Lyra. Kita akan memotong akar pohon raksasa itu, dan membiarkan klan Adiwangsa runtuh menimpa bumi."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!