Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Mendengar alasan yang meluap-luap dari mulut Saji, udara di ruangan itu kembali bergejolak, namun kali ini bukan dari Sona.
"Saji!" geram Momo dan Reya secara bersamaan. Keduanya melangkah maju memotong jarak, telapak tangan mereka mengepal kuat di sisi tubuh.
"Gen-chan... kau sungguh keterlaluan!" ucap Tomoe Meguri, tidak ada nada ceria sedikit pun dalam suaranya. Matanya menatap Saji dengan sorot permusuhan yang tajam.
"Saji-senpai!" seru Nimura Ruruko dari tempat duduknya. Gadis yang biasanya selalu menampilkan wajah polos dan senyum manis itu kini menatap Saji dengan kerutan di dahi dan sorot mata yang memancarkan rasa benci—sebuah ekspresi yang belum pernah satu kali pun ia tunjukkan sejak pertama kali bergabung dengan keluarga Sitri.
Melihat reaksi berantai tersebut, bahu Saji yang semula membusung kini perlahan mengendur. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya bergerak liar, memindai wajah Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura satu per satu. Ia menelengkan kepalanya sedikit ke kanan, raut kebingungan tercetak jelas di wajahnya.
Di dalam logika Saji, ia baru saja mengucapkan sebuah orasi pembelaan yang heroik untuk membela kehormatan sang Ketua. Ia berpikir bahwa setelah menjabarkan seluruh "kejahatan" Yudi, rekan-rekan wanitanya akan tersadar, mengangguk setuju, dan sepenuhnya mendukung tindakannya menghajar sang anak baru.
Namun kenyataannya justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Alih-alih mendapatkan tatapan kekaguman, ia justru menerima hujaman tatapan kesal, marah, dan lebih tepatnya... jijik dari setiap gadis di ruangan itu.
"Biar aku yang menjawab seluruh argumen bodoh dan cacat logikamu itu sekarang, Saji. Dan pastikan kau memasang telingamu baik-baik."
Sebuah suara memecah kebingungan Saji. Suara itu tidak berasal dari Sona, melainkan dari sisi pintu yang retak. Cahaya hijau zamrud dari lingkaran sihir tiba-tiba memudar dan menghilang sepenuhnya. Tsubaki Shinra menarik kedua tangannya dari dada Yudi. Gadis berkacamata itu perlahan bangkit berdiri. Sepatu pantofelnya menapak lantai kayu dengan bunyi ketukan yang sangat solid dan mengintimidasi.
Tsubaki memutar tubuhnya perlahan hingga sepenuhnya menghadap Saji. Tangan kirinya bergerak ke atas, mendorong bagian tengah bingkai kacamatanya. Pantulan cahaya menyembunyikan matanya sedetik, sebelum akhirnya menyorot tajam lurus ke arah pemuda pirang tersebut.
"Pertama," Tsubaki memulai penjelasannya. Ritme suaranya tidak sedatar biasanya; ada penekanan napas yang lebih berat di setiap pergantian kalimat. "Dalam pertandingan catur siang tadi, Yudi secara objektif memang telah kalah telak. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak memiliki peluang satu persen pun untuk bisa mengalahkan Sona Kaichou di atas papan, mengingat lawannya adalah pemegang gelar Ratu Catur yang tak terkalahkan di Akademi Kuoh. Namun, Yudi memiliki cara lain untuk menyerang balik, yakni dengan menargetkan fondasi mental Kaichou."
Tsubaki melangkah maju satu tindak. "Yudi sengaja meruntuhkan ego Sona Kaichou yang selama ini selalu berpikir bahwa segala parameter, termasuk waktu, bisa berada di bawah kendali mutlaknya. Karena itulah, Yudi dengan sangat cerdik memainkan taktik mengulur waktu secara pasif dengan tingkat presisi yang luar biasa, pergerakan yang bahkan sama sekali tidak disadari oleh kita yang mengamatinya. Bagi pemain catur amatiran pada umumnya, kelebihan sepuluh detik dari target hanyalah angin lalu, karena tujuan akhir mereka hanya untuk memenangkan pertandingan."
Tsubaki menyipitkan matanya. "Namun, bagi Kaichou, angka sepuluh detik itu adalah sebuah pukulan telak. Itu membuktikan bahwa kalkulasi absolutnya meleset, bahwa ia gagal menuntaskan target spesifik yang ia deklarasikan sendiri untuk mengalahkan seorang pemula. Fakta ini membuktikan satu hal yang sangat jelas: Yudi, yang baru bergabung semalam, jauh lebih memahami dan mampu membaca inti sifat perfeksionis Kaichou Jika dibandingkan dengan dirimu yang sudah berdiri berdampingan dengannya selama lebih dari satu tahun penuh, Saji."
Mendengar pembedahan psikologis yang sangat akurat itu, Saji terbungkam. Rahangnya yang tadi mengeras kini mengendur. Tatapan matanya yang semula memancarkan keteguhan membara perlahan memudar, digantikan oleh sorot kekosongan.
Namun Tsubaki belum selesai. Ia mengambil langkah maju yang kedua.
"Kedua," lanjut Tsubaki, suaranya kini sedikit naik. "Alasan utama mengapa Yudi menolak mentah-mentah tantangan pertandingan ulang dari Sona Kaichou adalah karena ia sangat tahu diri dan menyadari batas kemampuannya. Dan tindakan itu sama sekali bukanlah sebuah keburukan. Orang yang tahu kapan waktu yang tepat untuk menyarungkan kembali pedangnya ketika menyadari bahwa musuh di depannya terlampau kuat... adalah ciri dari seorang ksatria sejati."
Tsubaki menunjuk ke arah papan catur yang masih berada di atas meja bundar. "Ia tidak bertindak gegabah dan serampangan. Selain itu, dengan menolak bertanding lagi, ia berhasil melindungi pencapaian langka yang baru saja ia raih, yakni mematahkan rekor prediksi sang Ratu Catur. Yudi bahkan secara terbuka mengakui di depan kita semua bahwa menahan waktu Kaichou adalah pencapaian terbesarnya. Di mana letak kelakuan mempermainkannya dari sikap yang sangat realistis tersebut?"
Tubuh Saji semakin merosot ke bawah. Setiap kata yang meluncur dari bibir Tsubaki bagaikan bongkahan batu besar yang menghantam kepalanya bertubi-tubi. Perasaan heroisme dan pembenaran diri yang tadi membakar dadanya kini menyusut dengan cepat, menguap tanpa sisa seolah api kebanggaan itu baru saja diguyur oleh berton-ton air es dari fakta logis yang tidak bisa ia bantah.
Tsubaki menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia mengambil langkah maju ketiga, memangkas jarak antara dirinya dan Saji.
"Dan yang ketiga..." Suara Tsubaki kini bergetar karena luapan emosi yang tidak lagi bisa ia sembunyikan di balik topeng ketenangannya.
"...mengenai argumennya yang mengatakan bahwa Sona Kaichou yang menyentuhnya lebih dulu pagi ini, kebenaran tentang hal itu hanya diketahui oleh mereka berdua. Tapi, ada satu hal yang benar-benar tidak bisa ditolerir sama sekali oleh nalar mana pun di ruangan ini."
Mata Tsubaki memicing sangat tajam, menembus langsung ke retina Saji. "Itu adalah ucapan yang kau teriakkan tepat sebelum kau melontarkan pukulan pengecutmu tadi. 'Jangan sentuh orang yang aku suka'."
Tsubaki mencondongkan wajahnya ke depan. "Apa maksud dari kalimatmu itu, Saji? Apa maksudmu adalah, selain dirimu seorang, tidak ada satu pun orang lain yang memiliki hak untuk menyentuh Sona Kaichou secara fisik? Apa jika seandainya suatu hari nanti Nimura, Reya, Momo, Tomoe, atau bahkan diriku sendiri tidak sengaja menyentuh Sona Kaichou, kau juga akan memukul dan menghancurkan tulang kami semua dengan kekuatan nagamu itu?!"
Tsubaki membentak di akhir kalimatnya, suaranya bergema memenuhi ruang OSIS yang sunyi. Napas sang Wakil Ketua memburu kencang. Ia menghentikan sejenak proses pengobatan dan berdiri berhadapan langsung dengan Saji semata-mata untuk menancapkan seberapa serius dan berbahayanya pola pikir pemuda pirang tersebut.
"Itulah alasan utamanya!" Tsubaki mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke wajah Saji. "Itulah kenapa semua gadis di ruangan ini memandang ke arahmu dengan tatapan penuh kebencian, kemarahan, dan rasa jijik yang luar biasa! Karena kau... melalui ucapan dan tindakan brutalmu barusan... secara tidak langsung telah memperlakukan Sona Kaichou, pemimpin yang sangat kami hormati, sebagai barang kepemilikan pribadi milikmu sendiri, dasar keparat!"
Tsubaki menyelesaikan luapan amarahnya. Ia berdiri dengan dada naik turun, matanya mengunci Saji lekat-lekat, membiarkan keheningan mengambil alih untuk membiarkan kata-kata tersebut meresap ke dalam otak sang Pion pirang.
"Fukukaichou..." gumam Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura secara serempak. Mata keempat gadis itu membelalak, mulut mereka sedikit terbuka. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Tsubaki Shinra, sosok yang selama ini dikenal sebagai pilar ketenangan absolut, mampu meluapkan seluruh isi hati dan pikiran yang ingin mereka sampaikan kepada Saji dengan artikulasi yang begitu sempurna dan penuh emosi di akhir kalimatnya.
Di tengah kepungan tatapan tajam dan dinding argumen yang mengurungnya, Saji Genshirou hanya bisa membeku di tempatnya berpijak. Lututnya kehilangan seluruh kekuatannya. Ia tidak jatuh berlutut, namun postur tubuhnya merosot drastis bagaikan narapidana yang baru saja mendengar putusan vonis hukuman mati yang dibacakan langsung oleh sang hakim agung.
Tatapan matanya kosong, tertuju ke bawah, menatap lantai kayu di antara kedua sepatunya. Di tengah kebisuan yang mencekik leher Saji tersebut, sebuah suara memecah keheningan latar.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara langkah kaki yang berjalan dengan irama ritmis, lambat, namun memancarkan penekanan berat di setiap pijakannya, terdengar mendekat dari arah ujung meja bundar. Hawa dingin yang sempat mereda perlahan-lahan kembali menyelimuti permukaan lantai, merayap naik ke pergelangan kaki Saji.
Langkah kaki itu berhenti tepat berjarak setengah meter di depan sepatu Saji. Saji tidak perlu mendongakkan kepalanya untuk memastikan siapa entitas yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Ia telah menghabiskan waktu selama satu tahun penuh untuk mengabdi pada sosok tersebut; ia sudah sangat hafal dengan irama berjalannya, wangi parfumnya, dan hawa aura iblis yang memancar dari tubuhnya.
Sebuah bayangan panjang jatuh menutupi tubuh Saji, menelannya ke dalam kegelapan. Saji menahan napasnya. Otot-otot lehernya kaku tidak bisa digerakkan. Ia tahu persis siapa yang ada di depannya.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Saji sama sekali tidak memiliki bayangan sedikit pun tentang jenis hukuman, siksaan, atau eksekusi seperti apa yang akan diberikan oleh sang Ratu atas sikap lancang yang baru saja ia perbuat di dalam wilayah kekuasaannya.
...* * *...