NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk angin dan hamil, efeknya tak berbeda jauh.

Meskipun kondisi tubuhnya tak kunjung membaik, Sabrina tidak mau absen kuliah. Tugas yang makin menumpuk dan ketakutannya tertinggal pelajaran memaksanya untuk tetap beraktivitas seperti biasa.

Sudah beberapa hari berlalu, namun rona di wajahnya tak kunjung kembali, ia masih tampak begitu pucat dan layu.

Di dalam kelas, ia harus berjuang ekstra keras untuk tetap fokus mendengarkan penjelasan dosen, sementara kepalanya terus berdenyut pusing.

Nafsu makannya pun merosot tajam. Saat jam istirahat tiba dan teman-temannya mengajak ke kantin, Sabrina hanya memesan teh hangat dan duduk diam.

Setiap kali mencium aroma bumbu tumisan atau makanan berbau menyengat dari meja sebelah, perutnya langsung bergejolak hebat, menahan rasa mual.

"Kamu beneran nggak apa-apa, Sab? Wajah kamu pucat banget," tanya salah satu teman sekelasnya penuh khawatir saat melihat Sabrina mengusap dadanya yang mual.

"Nggak apa-apa kok, cuma masuk angin sama kecapekan aja," jawab Sabrina memberi alasan pelan sambil tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan keadaannya.

"Efek, masuk angin sama hamil itu nggak beda jauh ya." Celetuk salah satu temannya, yang membuat Sabrina langsung tersentak.

Sore itu, mobil hitam milik Julian membelah jalanan kota yang cukup padat. Di dalam kabin mobil, Julian sesekali melirik ke arah kursi penumpang.

Ia menyadari ada yang berbeda dari kekasihnya, Sabrina menyandarkan kepala di kaca jendela, menyilangkan tangan di dada, dan wajahnya tampak sangat kuyu.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Julian lembut, mengikis keheningan di antara mereka seraya mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap pelan jemari Sabrina.

Sabrina menoleh perlahan, mengulas senyum tipis yang dipaksakan agar Julian tidak terlalu cemas.

"Tidak apa-apa, Kak... Sudah beberapa hari ini badan aku terasa tidak enak aja," jawab Sabrina pelan, suaranya terdengar lemas.

"Pusing, terus perut sering mual. Mungkin cuma kecapekan aja gara-gara tugas kuliah lagi numpuk banget."

Mendengar hal itu, Julian mengernyitkan alisnya halus, memancarkan rasa perhatian yang selalu berhasil membuat Sabrina meluluh.

"Kecapekan? makanya jangan terlalu diforsir dong, sayang," ujar Julian penuh perhatian. Ia lalu melihat jam di dasbor mobil.

"Ya udah, kita makan malam dulu yuk? Aku beliin makanan kesukaan kamu biar badan kamu enakan dikit, habis itu baru aku antar pulang."

Namun, membayangkan aroma makanan saja seketika membuat perut Sabrina kembali bergejolak mual. Ia dengan cepat menggelengkan kepala.

"Tidak usah, Kak." tolak Sabrina halus sambil meremas jemari Julian pelan.

"Aku lagi tidak selera makan sama sekali. Aku mau pulang saja ke kosan, mau langsung istirahat."

Julian menatap Sabrina sejenak, memastikan raut wajah gadis itu yang memang tampak sangat pucat.

"Beneran nggak mau makan dulu? Nanti maag kamu kumat, lho," bujuk Julian lagi.

"Beneran, Kak. Aku cuma butuh tidur aja kok," bisik Sabrina meyakinkan.

Julian akhirnya mengangguk mengalah. Ia memutar kemudi, mengarahkan mobilnya menuju gang kos Sabrina.

"Ya udah kalau gitu, malam ini kamu tidur cepat ya. Jangan megang tugas dulu."

Sabrina mengangguk lega dalam diam, menyandarkan kembali kepalanya ke jendela, tanpa menyadari bahwa rasa tidak enak badan yang ia anggap sekadar kecapekan itu menyimpan jawaban yang sama sekali tak terduga.

Sesampainya di kamar kos, Sabrina tidak sanggup lagi menahan rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya.

Tanpa sempat mengganti pakaiannya, ia langsung melempar tas ke lantai dan merebahkan diri di atas ranjang.

Matanya dipejamkan rapat-rapat, berharap rasa pusing yang menekan kepalanya bisa segera menguap bersama rasa kantuk. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.

Baru beberapa menit tertidur ayam, sebuah gejolak hebat mendadak mencengkeram lambungnya. Rasa mual yang jauh lebih berat dan menyiksa dari sebelum-sebelumnya datang menyerang secara tiba-tiba, membuat perutnya seperti dikocok hebat.

"Ugh...!"

Sabrina tersentak bangun, memegangi perut dan dadanya yang terasa sangat sesak. Napasnya memburu seketika.

Tanpa sempat menyalakan lampu kamar, ia berlari kencang menuju kamar mandi di sudut ruangan.

Ia berlutut di lantai dingin, membungkuk di depan wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya.

Karena sejak siang ia belum mengisi perutnya dengan makanan berat, yang keluar hanyalah cairan asam berwarna bening yang membuat kerongkongannya terasa membakar dan pahit.

"Hah... hah..."

Napas Sabrina terengah-engah, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit dan lemas yang luar biasa.

Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan lehernya. Tubuhnya gemetar hebat saat berusaha berdiri tegak, memegangi tepi wastafel agar tidak ambruk ke lantai.

Saat membasuh mulutnya dengan air mengalir, pandangan Sabrina tertuju pada pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang remang.

Wajahnya benar-benar pucat pasi seperti mayat, dan bibirnya yang biasanya merona kini tampak memutih.

Rasa takut yang asing mendadak menyusup ke dalam dadanya. Ini bukan lagi sekadar lelah atau masuk angin biasa.

Gejolak hebat di dalam tubuhnya terasa terlalu intens, memunculkan tanda tanya besar yang kini mulai merayap liar di kepalanya.

Di dalam ruang kamar mandi yang sempit dan dingin itu, napas Sabrina memburu. Ia memaksakan dirinya berdiri, berpegangan erat pada tepi wastafel, lalu kembali menatap cermin.

Pandangannya terkunci pada pantulan dirinya sendiri. Wajah yang begitu pucat, mata yang berkaca-kaca, dan bibir yang bergetar hebat.

Atau... dia...?

Perkataan temannya tadi mulai terngiang di pikirannya. Apalagi, tanggal haidnya sudah sangat lewat.

Sabrina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah mencoba menghempaskan pikiran liar itu keluar dari kepalanya.

"Tidak... Tidak mungkin," bisiknya pada bayangan di cermin, suaranya parau dan bergetar.

"Tidak mungkin aku hamil. Aku selalu minum obatnya. Kak Julian juga dibilang obat itu aman."

Ia terus menggeleng, menolak membayangkan kenyataan tersebut. Ia tidak berani, bahkan sekadar menyelesaikannya dalam pikiran.

Sabrina tidak bisa terus-terusan terkurung dalam kecemasan ini. Ia harus mendapatkan jawaban, entah itu apa, agar pikirannya bisa tenang kembali.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menyambar dompet yang tergeletak di meja belajar, lalu melangkah terburu-buru keluar dari kamar kosnya.

Ia tak memedulikan penampilannya yang berantakan, rambut yang sedikit acak-acakan dan wajah yang masih menyisakan sisa pucat. Ia hanya ingin segera sampai ke apotek terdekat.

Langkah kakinya di sepanjang lorong kos yang sepi terdengar menggema, seirama dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Udara sore yang mulai mendingin menerpa wajahnya, namun Sabrina tidak merasakannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat, apotek.

Setelah berjalan hampir sepuluh menit, papan nama apotek dengan lampu neon yang mulai menyala di kejauhan tampak di depan mata.

Sabrina mempercepat langkahnya. Rasa malu dan canggung sempat muncul saat ia membayangkan harus membeli alat tes kehamilan itu, namun rasa takut akan ketidakpastian jauh lebih kuat.

Di depan pintu kaca apotek, Sabrina berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan diri, lalu mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang terang benderang, siap menghadapi jawaban yang sebenarnya ia takuti.

1
Nurr Tika
orang tuanya aja ga bsa ndidik jd kelakuanya jd gitu
Nurr Tika
adrian bkn mslah lgi
Nurr Tika
adrian udah di hantui walau lwat mimpi
Nurr Tika
penasaran knpa tiba" sabrina bundir
Nurr Tika
apa teman"julian ada hubunganya dengan kematian sabrina
Nurr Tika
julian km ga akan hidup tenang
Nurr Tika
kayanya sabrina hamil terus julian ga mau tanggung jawab
Nurr Tika
nanti km menyesal sabrina
Nurr Tika
sabrina knpa langsung suka sih harusnya selidiki dulu
Nurr Tika
ternyata julian palayboy
Siti Yatmi
nah kan..bener 1 lagi test pack menghancurkan wanita bodoh....sabrina kamu sadar ga sih...kamu itu cinta bukan budak nafsu, setiap ketemu ko pasti anu2..ya hamil lah...
Siti Yatmi
test pack.....jawaban yg selalu membuat hancur wanita bodoh....
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..kasian banget kamu, terlalu naif kamu jd cwe....
Siti Yatmi
nah..kan hamidun...deh...hadehhh..sabrina oon amat sih..ga selamanya itu pil bisa cegah kehamilan...astogeeeee....
Siti Yatmi
masih abu2 sementara..menerka nerka...😄
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..lo mah bukan polos, tapi begoooo....pacaran aja belom lama, udh mau aja di anu anu..haduhh
Siti Yatmi
hadehhh .julian....kamu mah bukan cinta, tapi nafsu....harus nya sabrina jgn mau...
Siti Yatmi
ngga ada caption nya thor..🤣
Siti Yatmi
thor...itu flash back kah???sumpah..ga mudeng aku...😄
Maple latte: iya itu flashback🤭 aduhh🤣
total 1 replies
Siti Yatmi
kaya lagu kotak...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!