Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU BUTA
Setelah pergi meninggalkan tempat pertemuan yang menyakitkan itu, Alena terus berjalan tanpa tujuan yang jelas sampai kakinya terasa lemas , alena duduk di bangku kayu panjang di pinggir taman kota yang agak sepi. Badannya terasa gemetar , dan air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah begitu saja,
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang pelan menahan isak tangis yang ingin meledak. dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menindih napasnya.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki pelan mendekat ke arahnya. Sebuah sapu tangan bersih berwarna biru lembut tersodorkan tepat di depan wajahnya.
Alena mengangkat wajah perlahan dengan mata berkaca-kaca.Bima berdiri di sebelahnya dengan tatapan prihatin namun tidak ingin mengganggu.
"Ambil saja. Lap air matamu," kata Bima pelan dan lembut.
Alena menerima sapu tangan itu dengan tangan gemetar. Ia tidak berkata apa-apa, dan langsung mengusap air matanya pelan. Bima lalu duduk di sisi lain bangku itu, memberi jarak yang cukup agar Alena merasa nyaman. Ia diam saja, tidak bertanya apa yang terjadi, tidak mendesak untuk bercerita. Ia hanya ada di sana, menemaninya dalam keheningan.
Setelah cukup tenang, Alena menatap Bima dengan pandangan bingung.
"Mas Bima... kenapa hidupku harus begini ya? Kenapa setiap kali aku mencoba hidup tenang, selalu ada saja hal yang datang menyakiti hatiku? Apa aku memang salah kalau ingin dihargai sebagai manusia biasa?"
Bima menatapnya lembut.
"Tidak ada yang salah denganmu Alena. Kamu hanya terlalu baik pada orang yang tidak tahu menghargai kebaikan."
"Kenapa mereka begitu mudah menyakitiku? Kenapa aku nggak bisa membenci mereka sepenuhnya?" isak Alena kembali meneteskan air mata.
Sementara itu di jalan lain, Reihan berjalan cepat menuju tempat biasanya Alena beristirahat. Tangannya memegang seikat bunga mawar merah yang indah, jantungnya berdegup kencang penuh harapan. Ia sudah berniat ingin menyampaikan perasaannya pada Alena hari ini.
Namun saat ia berbelok ke arah taman, langkah kakinya tiba-tiba terhenti di tempat. Jantungnya terasa seperti diremas kuat hingga rasanya sulit bernapas. Dari kejauhan ia melihat Alena sedang duduk di bangku kayu bersama Bima, dan yang membuat darahnya mendidih adalah ia melihat air mata mengalir di pipi Alena.
"Kenapa dia menangis ? Apa yang sudah dilakukan pria itu pada Alena?" batin Reihan meledak amarah.
Tanpa berpikir panjang lagi, Reihan langsung berlari cepat menghampiri mereka berdua. Begitu sampai di depan bangku, ia langsung meraih kerah baju Bima dengan kasar dan menariknya berdiri.
"apa yang sudah kamu lakukan, kenapa alena sampai menangis! Apa yang sudah kau lakukan padanya!" teriak Reihan dengan wajah merah padam menahan amarah yang memuncak.
Bima terkejut luar biasa namun tetap tenang. "Lepaskan dulu Mas. Kamu salah paham."
"Salah paham bagaimana! Aku melihatnya sendiri! Dia menangis karenamu!" Reihan tidak mau mendengar penjelasan, langsung melayangkan pukulan keras mengenai wajah Bima.
Buk!
Bima terhuyung ke belakang, sudut bibirnya langsung berdarah. Ia tidak membalas, hanya menatap Reihan dengan pandangan sedih.
Alena terkejut, ia langsung berdiri dengan napas terengah-engah.
"Mas Reihan! Apa yang kamu lakukan! Berhenti!"
Reihan hendak menghajar Bima untuk kedua kalinya dengan pukulan yang lebih keras.
"Jangan menghalangi Alena! Aku harus memberinya pelajaran!"
"Cukup! Berhenti Mas!" Alena langsung berdiri di antara mereka berdua sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi berteriak sekuat tenaga.
Suara teriakan Alena begitu keras hingga membuat Reihan seketika berhenti mengangkat tangannya. Ia menatap Alena dengan napas memburu.
"Kenapa kamu membela dia? Bukan nya dia yang bikin kami nangis?" tanya Reihan bingung dan kesal.
Alena menatap Reihan dengan pandangan heran sekaligus kecewa.
"Kamu ini kenapa sih Mas? Dia nggak melakukan apa-apa sama aku! Dia hanya duduk menemaniku saja!"
"Kalau begitu kenapa kamu menangis ? Apa yang dia katakan padamu?" desak Reihan tidak percaya.
Alena menoleh ke arah Bima dengan perasaan bersalah. "Maaf ya Mas Bima. Aku nggak nyangka akan terjadi hal seperti ini."
"Tidak apa-apa Alena. Aku mengerti," jawab Bima sambil mengusap darah di bibirnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Alena langsung membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.
Reihan langsung berlari mengejarnya. Ia menyusul sampai di pinggir jalan dan menahan lengan Alena agar berhenti.
"Alena! Tunggu dulu! Jelaskan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tadi kamu nangis ?" tanya Reihan dengan napas tidak teratur.
Alena melepaskan tangan Reihan perlahan.
"Mas Reihan... kenapa kamu selalu bertindak tanpa berpikir dulu? Kamu memukul orang yang tidak bersalah."
"Karena aku tidak tega melihatmu menangis! Aku tidak mau ada orang yang menyakitimu!" seru Reihan.
"Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan. Dan kamu juga tidak berhak bertindak semena-mena begitu," jawab Alena pelan namun tegas.
"Jawab aku Lena! Apa yang sudah dia lakukan sampai kamu menangis begitu?" Reihan terus memaksa ingin tahu.
Alena hanya menatapnya lama tanpa berkata apa-apa, lalu perlahan menunduk. Pikirannya kacau balau antara rasa sedih karena pertemuan dengan Hendra, rasa bersalah pada Bima, dan rasa heran melihat sikap Reihan yang tiba-tiba menjadi begitu kasar.