NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan

Terik matahari padang pasir Alabasta seolah tidak ada artinya dibandingkan dengan keheningan canggung yang baru saja melanda pelabuhan Nanohana.

​Monkey D. Luffy, pemuda dengan nilai buronan 30 Juta Belly dan kapten dari bajak laut Topi Jerami, berdiri membungkuk sambil memegangi perutnya yang kempis. Matanya yang setengah tertutup menatap Muzan Kibutsi dan Roy Mustang secara bergantian, seolah mencoba mengunyah eksistensi mereka di dalam kepalanya yang lapar.

​"Paman Berjubah Hitam... Paman Api..." gumam Luffy, menggaruk pipinya dengan wajah polos. "Apakah kalian koki? Aku lapar sekali. Apa kalian punya daging?"

​Di atas geladak kapal Tartarus, urat kemarahan seketika menonjol di dahi Enel. Dewa dari Skypiea itu melayang turun dengan perlahan, tongkat emasnya berderak dipenuhi percikan listrik biru yang berbahaya. Ego masifnya merasa tertampar keras.

​"Yahahahaha! Berani-beraninya kau, manusia fana yang kotor!" suara Enel meninggi, dipenuhi arogansi absolut. "Kau berdiri di hadapan Sang Dewa, tapi matamu hanya melihat daging?! Aku akan menghanguskanmu menjadi abu sebelum kau sempat—"

​"Tenanglah, Enel," potong Muzan dengan nada yang sangat datar.

​Suara itu tidak keras, namun mengandung wibawa yang membuat percikan listrik di tongkat Enel meredup. Sang Dewa Petir mendecakkan lidahnya dengan kesal, melipat tangan di dada, namun ia menurut dan menghentikan langkahnya.

​Vivi menelan ludah, tubuhnya gemetar di belakang Muzan. Luffy... dia benar-benar tidak tahu sedang berhadapan dengan monster macam apa! batinnya panik.

​Muzan Kibutsi menatap Luffy dalam diam. Otak superkomputernya yang ditopang 686 Poin Mental bekerja memproses miliaran probabilitas. Membunuh Luffy di sini tidak memberikan keuntungan logistik yang besar. Sebaliknya, membiarkan sang protagonis bergerak liar di Nanohana akan menciptakan pengalihan isu yang sempurna, mengacaukan radar Angkatan Laut dan Baroque Works sekaligus.

​Di dalam keheningan otaknya, Muzan memanggil antarmuka sistem.

​"Sistem," panggil Muzan secara internal. "Buka [Shop Standar]. Kategori Logistik & Konsumsi."

​«"Memproses... [Shop Standar] terbuka."»

​"Beli satu porsi [Daging Panggang Raksasa Kualitas Premium]. Gunakan saldo Belly."

​«"Transaksi berhasil. -5.000 Belly."»

«"Item [Daging Panggang Raksasa Kualitas Premium] telah ditambahkan ke Inventory."»

​Dengan gerakan yang sangat kasual, Muzan merogoh jubah hitamnya. Saat tangannya keluar, ia sudah memegang sepotong daging panggang tulang raksasa yang masih mengepulkan asap panas, lengkap dengan aroma bumbu rempah yang seketika membuat perut siapapun bergemuruh.

​Mata Luffy membelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Air liur menetes deras dari sudut mulutnya.

​"N-NIKUUUU!!! (DAGING!!!)" teriak Luffy histeris.

​Muzan melemparkan daging raksasa itu ke arah Luffy. Tanpa memedulikan etika atau rasa panas, Luffy menangkapnya di udara dan langsung melahap daging itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dalam lima detik, yang tersisa hanyalah tulang putih bersih.

​"Puhah! Umai! (Enak!)" Luffy mengusap mulutnya, wajahnya kembali berseri-seri. Ia menatap Muzan dengan senyum lebar. "Terima kasih, Paman Jubah Hitam! Kau orang jahat yang sangat baik!"

​Roy Mustang yang berdiri di samping Muzan menahan senyum gelinya, menggelengkan kepala melihat kepolosan kapten bajak laut tersebut. "Sebuah oksimoron yang menarik."

​Muzan melangkah maju satu langkah, menatap Luffy dengan mata hitamnya yang dingin namun penuh kalkulasi. "Jika kau masih lapar, Topi Jerami, satu potong daging tidak akan cukup untuk perut karetmu."

​Luffy mengangguk penuh semangat. "Benar! Perutku masih muat seratus potong lagi!"

​"Kalau begitu, pergilah ke pusat kota," Muzan menunjuk ke arah gang berdebu yang mengarah ke dalam Nanohana. "Ada sebuah restoran bernama Spice Bean di sana. Kudengar, ada seorang pria bertopi koboi yang makan tanpa henti di sana, dan dia membakar dagingnya sendiri dengan tinju apinya. Mungkin kau bisa meminta traktiran padanya."

​Luffy memiringkan kepalanya. "Topi koboi? Tinju api?"

​Tiba-tiba, mata Luffy berbinar cerah seolah mengingat sesuatu yang sangat penting. "Ah! Jangan-jangan... Yosh! Aku akan ke sana sekarang! Terima kasih, Paman!"

​Tanpa basa-basi lagi, Luffy berbalik dan berlari secepat kilat menembus gang pasar, meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Targetnya hanya satu: Restoran Spice Bean.

​Vivi menatap Muzan dengan kebingungan yang luar biasa. "Tuan Muzan... kenapa Anda memberinya makan? Dan kenapa Anda mengarahkannya ke restoran itu? Bukankah kehadiran mereka akan memancing perhatian Angkatan Laut?"

​Muzan memutar tubuhnya, senyum tipis terukir di bibirnya. "Tepat sekali, Tuan Putri. Kekacauan adalah sekutu terbaik bagi mereka yang bergerak di dalam bayangan. Di restoran Spice Bean saat ini, tidak hanya ada pria bertopi koboi itu... tapi juga anjing pemburu dari Angkatan Laut."

​Perkataan Muzan bukan sekadar gertakan. Melalui radar Mantra Enel yang terus menyala pasif di latar belakang pikirannya, Muzan tahu persis siapa saja tamu kelas atas yang ada di kota ini. Portgas D. Ace, Komandan Divisi Kedua Bajak Laut Shirohige, sedang makan di sana. Dan tak jauh dari sana, Kapten Smoker sedang menyisir kota.

​Menyatukan Luffy, Ace, dan Smoker di satu titik akan meledakkan kota ini, memberikan Erebus jalan tol bebas hambatan.

​Namun, sebelum Muzan bisa memerintahkan pasukannya untuk bergerak menuju tempat peristirahatan, suara langkah kaki berat dan derak senjata terdengar dari arah dermaga timur.

​Hembusan angin Nanohana mendadak berubah menjadi sangat tebal. Kabut putih berbau tembakau merayap di atas pasir, memblokir jalan keluar pelabuhan.

​Dari balik kabut asap tersebut, muncul sosok Kapten Smoker. Jaket Angkatan Lautnya berkibar, dua batang cerutu menyala di mulutnya, dan jutte berlapis Batu Laut tergenggam erat di bahunya. Di belakangnya, puluhan prajurit Angkatan Laut berbaris dengan senapan terhunus.

​Smoker menatap sisa-sisa kapal Baroque Works yang hangus di laut, lalu matanya perlahan beralih ke arah kapal hitam Tartarus, dan akhirnya terkunci pada sosok pria berseragam militer biru di depannya.

​"Aku sudah curiga saat mendengar ada ledakan api yang tidak wajar di pelabuhan ini," geram Smoker, suaranya berat dan mengancam. Asap tebal keluar dari hidungnya. "Ternyata benar. Kau... bajingan dari Loguetown."

​Mustang menyeringai elegan. Ia membalas tatapan sang Kapten Angkatan Laut tanpa rasa takut sedikit pun. "Kapten Asap. Dunia ini ternyata sangat sempit. Aku terkejut kau bisa mengikuti jejak kami sampai ke Grand Line. Apakah kau tidak punya pekerjaan lain di markasmu?"

​"Pekerjaanku adalah menangkap tikus-tikus berbahaya seperti kalian!" Smoker memajukan langkahnya, separuh tubuhnya mulai berubah menjadi asap. "Kapal hitam tanpa bendera, menghancurkan empat kapal layar hanya dalam beberapa detik, dan... oh, kau bahkan menyandera seorang gadis dari kerajaan ini?" Smoker melirik ke arah Vivi yang wajahnya pucat pasi.

​"Sandera adalah kata yang terlalu kasar, Kapten. Kami menyebutnya VIP Escort," balas Mustang tenang.

​"Aku tidak peduli apa sebutan kalian. Kalian semua, angkat tangan! Atau aku akan menahan kalian dengan paksa!" teriak Smoker, bersiap meluncurkan serangan White Out.

​Muzan Kibutsi berdiri tak bergeming. Ia melirik ke arah Enel, yang sedari tadi sudah mendidih karena egonya terus-menerus diabaikan.

​"Enel," panggil Muzan pelan, cukup untuk didengar oleh sang Dewa. "Berikan mereka sedikit salam dari langit. Jangan bunuh sang Kapten, kita butuh dia hidup untuk mengejar Topi Jerami. Cukup hancurkan barisannya."

​Mata Enel langsung berbinar buas. Senyum psikopat terukir di wajahnya. "Yahahahaha! Sesuai keinginanmu, Pencipta. Biarkan mereka merasakan murka Sang Dewa!"

​Enel melayang ke depan, melewati Mustang. Ia menatap Smoker dan puluhan prajurit Angkatan Laut dengan tatapan yang sangat merendahkan.

​"Asap, ya?" Enel tertawa melengking. "Kau pikir kabut kelabu milikmu itu bisa menutupi cahaya yang menerangi dunia?"

​Enel mengangkat jari telunjuk kanannya ke arah langit. Awan di atas pelabuhan Nanohana mendadak berputar liar. Suara gemuruh guntur yang sangat keras memekakkan telinga, membuat formasi Angkatan Laut seketika kacau balau.

​"A-Awan apa itu?! Padahal tadi cuacanya sangat cerah!" teriak salah satu prajurit dengan panik.

​Smoker melebarkan matanya, firasat buruk menghantamnya. Kekuatan ini... Logia?!

​"Menunduk!" teriak Smoker.

​Namun terlambat. Enel menurunkan jarinya.

​"El Thor!"

​KRAK-BOOOOMMMM!

​Bukan satu, melainkan tiga pilar petir raksasa menyambar turun dari langit secara serentak. Pilar petir itu tidak menghantam Smoker secara langsung, melainkan menghantam jalanan batu dan pasir di depan, kiri, dan kanan formasi Angkatan Laut.

​Ledakan elektromagnetik itu mengoyak daratan pelabuhan. Tanah meledak ke udara, menciptakan kawah-kawah berasap. Gelombang kejutnya menyapu puluhan prajurit Angkatan Laut, menerbangkan mereka seperti boneka kain tanpa menyentuh tubuh mereka secara fisik.

​Bahkan Smoker, yang tubuhnya sebagian telah berubah menjadi asap, terlempar mundur beberapa meter karena tekanan kejut yang luar biasa dari petir jutaan volt tersebut. Asapnya terdistorsi oleh ion listrik yang membakar udara.

​"Gkh!" Smoker terbatuk keras, memegangi dadanya. Matanya melotot menatap Enel dari balik kepulan debu. Petir... Buah Iblis tipe Logia Petir?! Tidak mungkin, kekuatan itu hanya ada dalam legenda! Siapa sebenarnya kelompok gila ini?!

​Ketika kepulan debu dan asap ledakan mulai mereda, Smoker dengan susah payah bangkit berdiri, menggenggam erat jutte-nya.

​Namun, dermaga itu kini kosong.

​Kapal hitam Tartarus telah meredupkan wujudnya, sistem kamuflase pasifnya diaktifkan oleh Muzan, membuatnya tampak membaur dengan bayangan tebing dermaga. Sementara itu, sosok Muzan, Mustang, Enel, Vivi, dan Mr. 9 telah menghilang sepenuhnya dari pandangan, menyelinap ke dalam hiruk-pikuk kota Nanohana yang tertutup badai debu ciptaan ledakan petir tadi.

​"Sialan!" Smoker memukul tanah dengan tinjunya hingga retak. Ia mengunyah cerutunya dengan penuh amarah. "Erebus... Loguetown, dan sekarang Logia Petir. Mereka berani mempermainkan Angkatan Laut!"

​Tepat saat itu, seorang prajurit komunikasi berlari mendekati Smoker dengan napas tersengal-sengal. "K-Kapten Smoker! Laporan dari unit kota! Kami baru saja melihat target utama kita, Monkey D. Luffy! Dia sedang berada di dalam restoran Spice Bean!"

​Smoker menoleh dengan tajam. Rahangnya mengeras. "Topi Jerami... Bagus. Jika aku belum bisa menangkap kelompok bayangan itu, aku akan memastikan bajak laut karet itu tidak lolos dari pulau ini!"

​Smoker melesat terbang menuju pusat kota Nanohana, meninggalkan pelabuhan yang hancur.

​Dari atas atap sebuah bangunan tinggi yang tak tersentuh kekacauan, Muzan Kibutsi mengawasi kepergian Smoker dengan senyum penuh kepuasan. Di belakangnya, Enel dan Mustang berdiri bersiaga, sementara Vivi menatap Muzan dengan campuran kekaguman dan ketakutan yang absolut.

​"Semuanya berjalan sesuai kalkulasi," ucap Muzan santai, berbalik menatap pasukannya. Sistem logistik di dalam kepalanya kembali berdenting pelan. "Sekarang, biarkan Topi Jerami, Angkatan Laut, dan Komandan Shirohige itu menghancurkan kota ini. Kita akan menuju panggung utama."

​Muzan menatap ke arah padang pasir luas yang membentang di luar tembok Nanohana.

​"Bersiaplah untuk perjalanan panjang, Tuan Putri. Rainbase dan Sir Crocodile sudah menunggu kedatangan kita."

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!