Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Suasana di ruang makan keluarga Santoso mendadak berubah menjadi sangat dingin hingga seolah-olah mampu membekukan udara di sekitarnya. Dentingan sendok dan garpu yang tadinya mengisi keheningan kini berhenti total.
Rangga Pratama, pria berdarah dingin yang dikenal sebagai CEO paling disegani di kancah bisnis nasional, perlahan meletakkan serbet kain di atas meja. Gerakannya sangat tenang namun memancarkan otoritas mutlak yang membuat siapa pun tidak berani bernapas terlalu kencang. Ia menoleh ke arah sisi kanannya, tempat di mana Rania duduk dengan kepala tertunduk dalam, menahan gemetar di balik cengkeraman tangannya sendiri.
Mengingat kembali laporan investigasi dari Pak Darma yang dibacanya siang tadi—di mana terbukti bahwa toko roti Sweet Crumb dikelola dengan keringat, kecerdasan, dan omzet ratusan juta rupiah murni dari kerja keras Rania tanpa bantuan sepeser pun—membuat darah Rangga mendidih mendengar hinaan murahan dari orang tua kandung istrinya sendiri.
Tanpa diduga oleh siapapun di meja makan itu, Rangga menggeser kursinya sedikit mendekat. Sebuah tangan yang kokoh dan hangat tiba-tiba merengkuh pinggang ramping Rania dengan erat, menarik tubuh gadis itu merapat ke sisi tubuhnya secara protektif.
Rania terperanjat pelan. Ia mendongakkan kepalanya, menatap wajah Rangga dengan mata terbelalak kaget.
Rangga tidak membalas tatapan istrinya. Pria itu justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi, mengarahkan pandangan tajam setajam silet langsung kepada Sarah dan Andre yang duduk di ujung meja seberang.
"Maaf, Nyonya dan Tuan Santoso," suara bariton Rangga menggelegar tegas, dingin, namun sarat akan penekanan yang mutlak. "Sepertinya ada kesalahpahaman besar yang harus saya luruskan di meja makan ini."
Sarah mengerjap kaget, menatap menantunya dengan bingung. "Kesalahpahaman apa, Rangga? Kami hanya menceritakan kenyataan tentang—"
"Kenyataan yang kalian katakan itu seratus persen salah," potong Rangga tanpa ragu, suaranya memotong ucapan Sarah mentah-mentah. Rengkuhan di pinggang Rania semakin dipererat, seolah menunjukkan kepemilikan yang sah sekaligus benteng perlindungan. "Sebagai CEO Pratama Group, saya tahu persis bagaimana menilai sebuah instansi bisnis yang sehat. Toko roti Sweet Crumb milik istri saya, Rania, bukanlah usaha murahan kelas teri seperti yang kalian rendahkan. Toko itu memiliki manajemen finansial kelas atas, omzet ratusan juta yang stabil, dan independensi penuh yang dibangun dari keringatnya sendiri."
Rangga melayangkan tatapan semakin tajam, membuat Sarah dan Andre tertegun membisu.
"Jadi, jika kalian berniat merendahkan hasil kerja keras istri saya di hadapan saya, ketahuilah satu hal," lanjut Rangga dengan nada suara yang merendah namun menusuk telinga, "di mata saya, toko roti istri saya jauh lebih bernilai, jauh lebih terhormat, dan jauh lebih berkelas daripada model sembarangan mana pun yang hanya bisa kabur meninggalkan tanggung jawab."
Skakmat!
Sindiran telak itu mendarat tepat di ulu hati Sarah dan Andre. Wajah Sarah langsung memucat pasi, bibirnya terbuka namun tidak ada satu pun suara yang keluar untuk membela diri. Sentilan halus mengenai model sembarangan jelas-jelas mengarah langsung pada Resti—putri kesayangan mereka yang kabur ke Paris. Sarah langsung bungkam seribu bahasa, menunduk malu tanpa berani mengangkat wajahnya lagi.
Meskipun pembelaan telak itu berhasil membungkam mulut kedua orang tuanya, hati Rania justru terasa dihantam gelombang rasa sakit yang teramat sangat di dalam dadanya.
Ia memang terselamatkan dan dibela secara telak oleh suaminya di depan meja makan. Namun, di lubuk hati paling dalam, luka masa kecilnya kembali menganga lebar. Rania adalah anak kandung yang keluar dari rahim yang sama dengan Resti, tetapi selama puluhan tahun hidup di rumah itu, posisinya senantiasa diperlakukan bagaikan anak pungut yang tidak pernah dianggap berharga. Setiap pencapaiannya selalu dipandang sebelah mata, sementara kesalahan kecilnya dibesar-besarkan.
Bulir air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya luruh juga, menetes perlahan membasahi pipinya yang mulus tanpa isakan suara.
Rangga, yang berada tepat di sampingnya, dengan cepat menyadari perubahan drastis pada tubuh Rania. Pria itu merasakan bahu istrinya bergetar halus. Ketika ia menoleh, ia melihat jejak air mata bening di pipi wanita yang biasanya selalu garang, sinis, dan memasang duri perisai itu.
Pemandangan tersebut entah mengapa menusuk relung hati Rangga secara tidak biasa. Ada rasa iba yang bercampur dengan kemarahan baru terhadap keluarga Santoso yang begitu buta menilai permata di tengah kubangan lumpur mereka sendiri.
Rangga tidak ingin tinggal sedetik pun lebih lama di rumah yang beracun itu.
"Makan malam ini sepertinya sudah cukup," ucap Rangga dingin, berdiri dari kursinya sambil tetap merangkul pinggang Rania dengan lembut namun tegas. Ia menatap Andre dan Sarah sekilas. "Kami permisi pulang lebih dulu. Jangan pernah undang kami lagi untuk acara makan malam omong kosong seperti ini."
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari tuan rumah, Rangga menggenggam tangan Rania dengan kuat—genggaman yang begitu kokoh, hangat, dan sarat akan perlindungan—lalu menuntun wanita itu melangkah keluar meninggalkan ruang makan menuju pintu utama rumah megah tersebut.
Andre dan Sarah hanya bisa terpaku kaku di tempat duduk mereka, tidak berani mencegah langkah sang menantu konglomerat yang telanjur murka.
Malam itu, udara dingin ibu kota menyelimuti jalanan saat mobil sedan mewah Rangga melaju membelah kemahalan lampu-lampu kota. Di dalam kabin mobil yang senyap, hanya terdengar alunan musik instrumental klasik bernada lembut dari radio mobil.
Rangga fokus menyetir dengan kedua tangan memegang kemudi kemudi kulit, sementara pandangannya lurus ke depan menatap jalanan basah akibat sisa hujan sore tadi. Sejak keluar dari rumah orang tuanya, Rangga tidak melepaskan genggaman tangan kanannya dari jemari Rania. Ia menggenggam tangan itu dengan erat—bukan sekadar genggaman biasa, melainkan sebuah ikatan tak terucap, seolah ingin menyampaikan pesan tanpa kata. kau tidak sendiri.
Rania duduk menyandarkan punggungnya di kursi penumpang. Ia menatap ke luar jendela kaca mobil, melihat pantulan lampu-lampu gedung yang buram karena sisa air mata di sudut matanya. Hatinya masih terasa sesak oleh perlakuan orang tuanya, namun di sisi lain, telapak tangannya merasakan kehangatan luar biasa dari genggaman tangan pria di sampingnya.
Pikirannya berputar liar.
'Pri... Ini... Suamiku,' batin Rania bertanya-tanya di dalam hati kecilnya.'Kemarin malam dia bersumpah tidak akan pernah sudi menyentuhku dan bilang tidak akan peduli padaku. Tapi hari ini, di hadapan orang tuaku. Dia berdiri membela mati matian, dan mengenggam tanganku sehangat ini.'
Rania perlahan menolehkan kepalanya, memandangi profil wajah tegas Rangga dari samping. Cahaya lampu jalanan yang menyorot masuk melalui kaca mobil mempertegas garis rahang kokoh sang suami yang tampak begitu mempesona dan karismatik.
Rania mengerjap pelan, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan nada menggoda dan rasa penasaran yang membuncah. Ia memutuskan untuk menguji pertahanan sang tuan muda yang terkenal gengsian itu.
"Ternyata ya..." suara Rania memecah keheningan kabin mobil dengan nada ringan namun menusuk, "...suamiku yang dulunya bilang paling tidak peduli dan benci padaku ini, sekarang justru jadi pahlawan kesiangan yang membela harga diriku di depan mamakku."
Rangga langsung tersentak kecil di balik kemudi. Tenggorokannya berdeham pelan untuk menutupi salah tingkah. Wajah dinginnya sedikit menegang, namun ia tetap mempertahankan pandangan lurus ke depan.
"Jangan kegeeran, Rania," elak Rangga dengan suara dingin yang dibuat-buat, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. "Aku membela toko rotimu bukan karena peduli padamu, tapi demi menjaga reputasi marga Pratama agar tidak terlihat memiliki besan yang pikun dan norak di depan publik. Jangan salah paham."
Rania terkekeh kecil, tawanya terdengar merdu di tengah kesunyian mobil. Ia semakin mendekatkan wajahnya, menatap Rangga dengan tatapan menyelidik penuh kemenangan.
"Oh, benarkah begitu alasannya, Tuan CEO?" goda Rania dengan suara dilembut-lembutkan secara sarkas. "Tapi pipimu yang sedikit memerah di balik temaram lampu jalan itu berkata lain, suamiku tercinta. Ngaku saja... jangan-jangan dalam perjalanan pulang ini, kau sebenarnya mulai jatuh cinta padaku, ya?"
Mendengar tuduhan blak-blakan yang telak mengenai isi hatinya, Rangga mendengus keras. Gengsinya langsung melonjak setinggi langit. Pria itu menoleh sekilas ke arah Rania dengan tatapan tajam pura-pura kesal.
"Jatuh cinta kepadamu?!" sergah Rangga dengan nada suara meninggi, tidak terima. "Kau ini hobi sekali berkhayal di malam hari, ya! Wanita paling cerewet, pelit, dan galak sedunia sepertimu tidak masuk dalam daftar kriteria wanita impianku bahkan dalam mimpi buruk sekalipun!"
"Halah, bilang saja gengsi!" balas Rania tidak mau kalah, melipat tangan di depan dada sambil tersenyum lebar mengejek. "Biasanya pria yang paling keras mengelak itu adalah pria yang diam-diam sudah terjatuh paling dalam. Tenang saja, Tuan Rangga, kalau kau mau mengaku cinta, aku bisa mempertimbangkan diskon khusus untuk pembelian roti di toko Sweet Crumb khusus untuk suamiku."
"Kurang ajar!" tukas Rangga gemas, hampir saja memutar setirnya sedikit karena kesal menghadapi mulut tajam istrinya. "Diskon roti apa?! Dengar ya, Rania Santoso—eh, Rania Pratama! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita garang sepertimu!"
"Buktikan saja kalau tidak!" tantang Rania dengan mata berbinar jenaka, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh ancaman dingin suaminya.
Di sepanjang sisa perjalanan malam itu, kabin mobil mewah tersebut dipenuhi oleh rentetan perdebatan sengit, lemparan sindiran tajam, dan bantahan-bantahan gengsi tingkat tinggi antara keduanya. Tidak ada lagi suasana canggung atau dingin seperti malam-malam sebelumnya.
Di balik setiap kalimat ketus dan bantahan sengit yang mereka lemparkan satu sama lain, ada sebuah kehangatan aneh yang perlahan-lahan merayap mengisi rongga dada Rangga maupun Rania—sebuah ikatan tak kasat mata yang mulai mengikis dinding kebencian palsu di antara pernikahan mereka.
•
•
•
•