NovelToon NovelToon
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).

Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.

Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

Sampai mereka tau sisi lainnya.

Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:

"Apa mau main?"

Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI LAIN SUAMIKU.DEAN GALANG WIJAYA Bab 20 - Penilaian Kinerja Malam Pertama

SISI LAIN SUAMIKU.DEAN GALANG WIJAYA

Bab 20 - Penilaian Kinerja Malam Pertama

Pukul 06.30 pagi tepat.

Suasana di area ruang makan penthouse Kuningan kembali dipenuhi aroma kopi hitam polos yang kuat. Sinta melangkah masuk dengan jas almamater kedokterannya yang sudah rapi. Wajahnya tampak segar, dan berkat salep keramat kemarin, performa fisiknya saat berjalan sudah kembali pulih seratus persen tanpa menyisakan gaya abduksi sedikit pun.

Namun, langkah Sinta mendadak melambat saat melihat pemandangan di atas meja marmer. Di samping piring sarapannya—seperti yang sudah dijanjikan semalam—terdapat semangkuk besar buah stroberi segar yang merah merona, menggantikan botol yogurt pemberian dr. Reza yang entah sudah dibuang ke koordinat mana oleh kepala pelayan.

Dan yang lebih ekstrem lagi, tepat di samping mangkuk stroberi itu, terletak selembar dokumen resmi yang baru dicetak, lengkap dengan materai sepuluh ribu yang masih gres.

Dean Galang Wijaya sudah duduk tegak dengan kemeja formal berwarna biru navy yang licin. Wajah tampannya tetap lempeng bagai manekin toko pakaian. Tangannya dengan tenang menyodorkan sebuah pena mewah bermerek Montblanc ke arah Sinta.

"Selamat pagi, Nona Sinta. Silakan bubuhkan tanda tangan kamu pada adendum kontrak domestik di sebelah piringmu," ucap Dean berat, datar, dan tanpa dosa seperti biasa.

Sinta mengernyitkan alisnya, meraih kertas tersebut dan membaca judul tebal di bagian atas: ADENDUM REVISI SOP ATURAN JARAK FISIK DAN REGULASI EKSPRESI VISUAL DOMESTIK.

"Pak Dean... Anda benar-benar mencetaknya hitam di atas putih?!" pekik Sinta tertahan, matanya membelalak membaca poin demi poin yang ditulis dengan format hukum korporat yang sangat kaku.

Pasal 1: Pihak Kedua (Sinta) wajib menjaga radius spasial minimal 1,5 meter dari Objek Pria Non-Keluarga (Spesifikasi khusus: dr. Reza, Sp.A).

Pasal 2: Larangan mutlak pengaktifan otot wajah berupa senyuman manis nan teduh kepada Objek Pria tersebut demi menghindari distorsi interpretasi.

[POV Dean]

Akurasi implementasi: Dokumen adendum telah resmi diserahkan pada pukul 06.38 WIB. Respons visual Nona Sinta—mata yang membelalak sebesar tiga puluh persen dan helaan napas panjang—mengindikasikan bahwa dia sedang memproses data baru ini dengan tingkat keterkejutan yang tinggi. Namun, berdasarkan evaluasi keselamatan domestik Status Siaga 2 yang saya tetapkan pukul 23.45 tadi malam, penandatanganan dokumen ini bersifat mutlak untuk mencegah malfungsi emosional masif pada hipotalamus saya. Saya tidak ingin sistem operasional kerja saya di kantor kembali terganggu hanya karena memori otak saya terus memutar visualisasi ujung jarinya yang bersentuhan dengan dr. Reza. Neraca ketenangan saya harus berada di angka seratus persen hari ini.

"Penandatanganan ini demi efisiensi mitigasi risiko jangka panjang," sahut Dean lempeng tanpa saringan. "Jika kamu mematuhi regulasi ini, sistem rumah tangga kita akan berjalan dengan stabilitas maksimal."

Sinta hanya bisa mengembuskan napas pasrah, menahan kedutan di bibirnya agar tawa gemasnya tidak pecah. Sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kegilaan posesif suaminya, Sinta akhirnya menyambar pena Montblanc itu dan menggoreskan tanda tangannya dengan cepat.

"Puas, Pak Robot?" sindir Sinta manis, lalu buru-buru menyuap satu buah stroberi segar ke dalam mulutnya untuk meredam salah tingkahnya.

Dean menarik kembali dokumen itu dengan gerakan metodis yang rapi, memasukkannya ke dalam tas kerja kulitnya. "Diterima. Adendum resmi diaktifkan per menit ini."

Sore harinya di Rumah Sakit Pendidikan Santika.

Dean Galang Wijaya datang melakukan kunjungan resmi selaku perwakilan Wijaya Group untuk meninjau fasilitas bangsal anak yang baru saja menerima donasi alat medis. Didampingi oleh jajaran direksi rumah sakit, Dean melangkah tegap melintasi koridor area co-ass yang sore itu tampak agak lengang.

Saat rombongan direksi berhenti sejenak di dekat ruang diskusi kelompok untuk memeriksa cetak biru tata ruang, telinga jeli Dean mendadak menangkap suara tawa akrab beberapa mahasiswi dari balik pintu ruang istirahat co-ass yang sedikit terbuka.

Suara yang sangat familier bagi sistem pendengarannya: Nona Sinta.

Dean menghentikan langkahnya, membuat jajaran direksi di belakangnya ikut berhenti kaku dengan bingung. Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang, pria kaku itu justru memiringkan tubuh tegapnya beberapa derajat, menguping pembicaraan di dalam ruangan secara metodis.

Di dalam ruangan, dua rekan co-ass Sinta rupanya sedang gencar melakukan interogasi tingkat tinggi pada Sinta yang baru saja mengaku sudah menikah sebulan lalu.

"Ih Sinta, curang banget sih tiba-tiba udah nikah aja! Ayo dong spill, suami kamu itu orang mana? Kerjanya apa? Apakah dia tampan?" cerocos salah satu rekannya bersemangat.

Sinta yang sedang merapikan stetoskopnya terkekeh pelan. Demi menyembunyikan identitas konglomerat suaminya, dia terpaksa mengarang data cadangan. "Suamiku... dia cuma pegawai biasa kok di kantoran korporat. Tapi kalau soal wajah... ya, lumayan tampan lah."

"Lumayan tampan?" potong rekannya yang lain, tidak puas. "Kalau dibandingin sama Dokter Reza, gantengan mana? Dokter Reza kan idola pre-klinik kita dulu, Ta!"

Mendengar nama dr. Reza disebut, Dean yang berdiri di luar koridor langsung menegakkan punggungnya. Sepasang mata hitamnya berkilat tajam dengan tingkat fokus maksimal, siap mendeteksi dan mengaudit setiap suku kata yang akan keluar dari mulut istrinya.

Sinta terdiam sejenak. Di dalam kepalanya, terbayang garis rahang kokoh, sepasang mata tajam yang intens, serta proporsi tubuh tegap milik bapak robotnya yang kalau sedang memakai setelan tuksedo mahal... ketampanannya melesat berkali-kali lipat melampaui standar pria normal.

"Kalau dibandingin... suamiku masih jauh lebih tampan, sih," aku Sinta jujur, dengan pipi yang mendadak merona merah tipis.

Di luar pintu koridor, sistem operasional di dalam dada Dean Galang Wijaya mendadak mengalami lonjakan kepuasan psikologis yang sangat masif. Rahang kokohnya yang semula mengeras kaku secara instan mengendur beberapa milimeter.

[POV Dean]

Akurasi komparasi data visual: Nona Sinta baru saja merilis pernyataan validitas mutlak mengenai indikator fisik saya. Kesimpulan bahwa saya 'jauh lebih tampan' dibandingkan dr. Reza memiliki nilai akurasi seratus persen. Lonjakan kepuasan interna di dalam dada saya mendadak menstabilkan fluktuasi hormon akibat kecemburuan Status Siaga 2 semalam. Ini adalah sebuah pengakuan legal yang sangat efisien untuk memotong dominasi mental pria berumur dua puluh lima tahun itu dari sistem memori istri saya. Neraca kebanggaan maskulinitas saya berada di posisi surplus tertinggi.

Wajah tampan Dean tetap lempeng layaknya manekin toko pakaian, namun kedua daun telinganya sempat merona merah samar karena rasa puas yang tak terbendung di dalam kepalanya.

Namun, euforia kemenangan mutlak si bapak robot atas dr. Reza tidak bertahan lama. Di dalam ruangan, rekan-rekan Sinta justru kembali bersuara heboh, menaikkan intensitas interogasi ke tingkat yang jauh lebih sensitif dan intim.

"Wah, beneran?! Kenalin ke kita-kita dong, Ta! Bawa ke rumah sakit sekali-kali!" seru rekan-rekannya bersemangat. Sinta hanya membalasnya dengan tawa canggung.

Sampai di satu titik, salah satu temannya mencondongkan tubuh, berbisik heboh dengan nada menggoda yang sukses membuat pasokan oksigen di koridor luar serasa tersedot habis.

"Terus... gimana malam pertama kalian, Ta? Secara dia pegawai kantoran biasa yang sibuk, bagaimana performa suami kamu di atas ranjang?"

Sinta langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya dalam sekejap matang sempurna sampai ke leher. Terbayang kembali malam Jumat horor yang membuatnya harus berakhir di dokter kandungan dengan salep iritasi kemarin.

Sinta berdeham canggung, mencoba menjawab sekenanya agar interogasi memalukan ini cepat berakhir.

"Emm... tidak buruk," jawab Sinta lirih, suaranya terdengar pasrah. "Hanya saja... dia pria yang kaku dan agak membosankan."

JEDARRR!

Di luar pintu koridor, grafik kepuasan yang baru saja dicapai Dean langsung menukik tajam hingga mengalami crash total di titik nadir. Sistem operasi di dalam otaknya mendadak mengalami kerusakan akibat sengatan data verbal tersebut. Wajah tampannya tetap sedatar papan triplek proyek, namun kedua daun telinganya dalam sekejap berubah menjadi merah pekat karena menahan gejolak emosi masif yang belum pernah terjadi selama dua puluh derapan tahun hidupnya.

[POV Dean]

Deteksi kerusakan sistem berpikir skala prioritas satu: Laporan evaluasi fisik dari Nona Sinta mengenai kapasitas biologis saya baru saja bocor ke publik eksternal. Objek kata 'tidak buruk' memiliki nilai efisiensi hanya sebesar lima puluh persen, sangat tidak sinkron dengan seluruh tenaga fisik intensitas tinggi yang saya kerahkan hingga menjelang subuh malam itu. Dan anomali terbesar berada pada kesimpulan: 'Pria yang kaku dan agak membosankan'. Selama ini, seluruh keputusan manajerial dan taktis saya selalu dinilai visioner dan mengagumkan oleh papan direksi global. Bagaimana bisa istri saya sendiri mengklasifikasikan performa ranjang saya sebagai aktivitas yang membosankan?! Ini adalah sebuah penghinaan terhadap kapabilitas maskulinitas saya secara legal. Neraca harga diri saya anjlok ke titik terendah. Saya harus melakukan restrukturisasi taktik dan pembuktian performa ulang demi merevisi kesimpulan data tersebut malam ini juga.

Dean mengepalkan tangan kekarnya di samping tubuh, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan vaskularisasi darahnya yang bergejolak hebat. Tanpa menoleh lagi, dia kembali melangkah tegap memimpin rombongan direksi dengan aura dingin yang berkali-kali lipat lebih mencekam.

Di dalam ruangan, Sinta mendadak merinding ngeri, sama sekali tidak menyadari bahwa ulasannya tentang "performa bapak robot yang membosankan" telah memicu status bahaya tertinggi di dalam kepala suaminya.

1
falea sezi
🤣🤣malu yeee q kirim hadiah biar up makin banyak🤣
falea sezi: lah kenapa libur thor🤭
total 2 replies
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha
🤭🤭🤭
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
🤣🤣 lempeng amat pakk dean🤭
falea sezi
nyimak bagus q kirim hadiah nih
Lea
Lanjut 🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
mamah fitri
wkwkwkw... asli ngakak dengan karakter pak Dean.. lucu banget sih ya🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭 jangan lupa like ya kak oh ya boleh kasih ulasan hehehe ... tar aku update sehari 1 bab dulu.. soalnya masih nulis yang Toxic and control juga...hehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!