Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di balik Amplop Coklat
Suara bising pendingin udara dan dentingan papan ketik di lantai 12 seolah lenyap seketika dari pendengaran Alina. Darahnya terasa berhenti mengalir, meninggalkan sensasi dingin yang merambat dari jemari tangan hingga ke ujung kakinya. Dunia di sekitarnya mendadak berputar tajam.
Di depannya, Clara berdiri dengan dagu terangkat penuh kemenangan. Senyum sinis di bibir berlapis lipstik merah menyala itu bagaikan mata pisau yang siap mengoyak pertahanan Alina.
Amplop cokelat berlogo resmi instansi kependudukan itu tergeletak di atas mejanya, dengan sudut yang sengaja disobek cukup lebar untuk memperlihatkan sebaris kalimat tercetak tebal: STATUS PERKAWINAN: KAWIN.
"Kenapa diam, Alina?" bisik Clara lagi, suaranya sangat pelan namun sarat akan ancaman mematikan. "Kaget karena kebohongan kecilmu terbongkar? Di formulir lamaran kerja dan data HRD PT Dirgantara, kamu dengan sangat jelas mencantumkan status belum menikah. Kenapa tiba-tiba di dokumen kependudukan resmi statusmu berubah jadi istri orang?"
Alina berusaha keras menguasai diri. Jemarinya yang gemetar meremas tepi mejanya, mencoba mencari tumpuan agar tubuhnya tidak runtuh. Ia menelan ludah, memaksakan matanya menatap langsung ke dalam manik mata Clara yang penuh dengki.
"Mbak Clara ... membaca dokumen pribadi milik orang lain tanpa izin adalah pelanggaran privasi," ujar Alina, berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar, meski hatinya menjerit ketakutan.
Clara tertawa renyah, sebuah tawa dingin yang membuat beberapa staf di dekat mereka menoleh penasaran. "Privasi? Kurir kantor menyerahkan surat itu ke meja administrasi karena alamat tujuannya adalah kantor ini dan nama penerimanya adalah kamu. Sebagai senior, aku cuma memastikan dokumen divisi kita tidak ada yang terselip. Dan beruntung sekali aku membukanya ... jadi aku tahu kalau kita punya staf baru yang suka memalsukan data diri."
"Saya tidak memalsukan data diri," potong Alina cepat, matanya menajam. "Saat melamar pekerjaan ini dua minggu lalu, status saya memang belum menikah. Proses administrasi kependudukan membutuhkan waktu, dan perubahan status baru tercatat resmi baru-baru ini."
Clara memiringkan kepalanya, menatap Alina dengan pandangan menilai yang melukai. "Oh, ya? Menikah mendadak dalam waktu seminggu? Tanpa ada pesta, tanpa ada cerita, bahkan tanpa mengundang satu pun teman kerja? Pria bodoh mana yang mau menikahi gadis miskin tanpa latar belakang seperti kamu dalam waktu singkat?"
Kata-kata Clara bagaikan racun yang menusuk dada. Namun di balik rasa sakit itu, Alina menyadari satu hal yang teramat krusial: ("Clara tidak tahu siapa pria itu.") Clara hanya tahu status pernikahan Alina telah berubah, tetapi tidak memiliki petunjuk sama sekali bahwa pria yang menikahi Alina adalah CEO mereka sendiri, Devan Dirgantara.
Alina menyambar amplop cokelat itu dengan cepat, mengamankannya ke dalam tas selempangnya sebelum Clara sempat melihat lembaran lampiran lebih jauh.
"Siapa pun suami saya, itu adalah urusan pribadi saya dan tidak ada hubungannya dengan kinerja saya di kantor ini," tegas Alina dengan nada dingin yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. "Jika Mbak Clara merasa ada masalah dengan data HRD saya, silakan laporkan ke Mbak Maya atau bagian Personalia. Saya siap memberikan klarifikasi resmi."
Raut wajah Clara sedikit berubah melihat keberanian Alina yang mendadak. Senyum kemenangannya memudar, berganti menjadi kernyihan jengkel. Ia tidak menyangka gadis yang dikiranya lembut dan mudah ditindas ini sanggup memberikan perlawanan sekeras itu.
"Jangan berlagak sombong, Alina," ancam Clara sambil bersedekap. "Perusahaan ini sangat ketat soal integritas. Sekali kamu terbukti memberikan data palsu ke HRD, kamu bisa dipecat secara tidak hormat. Kita lihat saja seberapa lama kamu bisa bertahan di sini!"
Clara membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan hentakan sepatu hak tinggi yang tajam, meninggalkan Alina yang berdiri mematung dalam ketegangan yang menyiksa.
Siska, yang menyaksikan interaksi tegang itu dari kubikel sebelah, segera menggeser kursinya mendekati Alina. Wajahnya dipenuhi rasa khawatir.
"Alina, kamu tidak apa-apa?" bisik Siska cemas. "Mbak Clara ngomong apa tadi? Kenapa bawa-bawa dokumen kependudukan segala?"
Alina menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa panas di matanya. Ia tersenyum tipis ke arah Siska. "Tidak apa-apa, Siska. Cuma masalah administrasi kecil soal perubahan status berkas kependudukanku. Mbak Clara cuma terlalu berlebihan."
"Duh, wanita itu benar-benar makin mencari-cari kesalahanmu ya," Siska menghela napas geli campur kesal. "Sejak dipermalukan Pak Devan di ruang rapat minggu lalu, dia makin sengit sama kamu. Kamu harus ekstra hati-hati, Alina. Jangan sampai dia bikin ulah lagi di depan Mbak Maya atau HRD."
"Iya, Siska. Terima kasih ya ..."
Pukul lima sore lewat tiga puluh menit. Jam kerja resmi telah usai, namun Alina duduk terpaku di mejanya, memandangi layar komputer yang sudah dimatikan. Pikirannya melayang liar dalam kegelapan ketakutan.
Surat dari Dinas Kependudukan itu memang merupakan dokumen rutin verifikasi BPJS dan jaminan kesehatan karyawan. Namun, keteledoran Alina yang tidak memperbarui alamat surat-menyurat pribadi membuat surat itu terkirim ke kantor. Jika Clara membawa masalah ini ke HRD, tim HRD tentu akan melakukan verifikasi ulang, dan dalam proses itu, nama Devan Dirgantara sebagai suami sah bisa saja terpapar di dalam sistem basis data nasional.
Pernikahan rahasia mereka berada di ujung tanduk.
Dengan jemari yang gemetar, Alina merogoh ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan singkat, menatap nomor kontak bertuliskan Pak Devan. Alina ragu-ragu.
Haruskah ia melaporkan hal ini pada Devan? Bukankah Devan sudah memperingatkannya untuk menjaga rahasia ini dengan nyawanya? Apakah Devan akan marah dan menganggapnya tidak kompeten?
Saat Alina sedang berkecamuk dengan pikirannya sendiri, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk.
[Pak Devan]:Naik ke lantai 20 sekarang. Pak Bagas sudah menunggu di lift khusus.
]
Jantung Alina serasa berhenti berdetak. Ia langsung merapikan tasnya, mengambil amplop cokelat itu, dan melangkah terburu-buru menuju koridor belakang.
Di depan lift khusus nomor 3, Pak Bagas, asisten pribadi Devan yang paruh baya dan selalu berwajah tenang, sudah berdiri menunggunya. Pak Bagas mengangguk hormat saat melihat Alina mendekat.
"Selamat sore, Ibu Alina. Mari, Tuan Devan sudah menunggu di dalam," sapa Pak Bagas sopan.
"Selamat sore, Pak Bagas. Terima kasih," jawab Alina singkat. Ia melangkah masuk ke dalam lift yang meluncur mulus menuju lantai paling atas.
Ketika pintu lift lantai 20 terbuka, suasana di lorong eksekutif itu tampak sangat remang. Cahaya matahari terbenam berwarna oranye keemasan menerobos masuk dari jendela kaca raksasa, membingkai siluet tinggi Devan yang sedang berdiri di tengah ruangan kerjanya, membelakangi pintu.
Alina melangkah masuk, membiarkan Pak Bagas menutup pintu ganda dari luar. Suasana hening seketika mengurung mereka berdua.
"Pak Devan ..." panggil Alina pelan.
Devan membalikkan badannya perlahan. Pria itu sudah melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi hingga siku. Raut wajahnya tampak sangat lelah, namun matanya yang tajam langsung menangkap gelisah yang terpancar dari wajah Alina.
"Ada apa?" tanya Devan langsung pada intinya. Suaranya bass, berat, namun tidak menunjukkan kemarahan. "Pak Bagas memberi tahu saya bahwa ada keributan kecil di lantai 12 sore ini."
Alina menelan ludah. Ia melangkah mendekati meja kerja Devan, mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya, dan meletakkannya di atas meja kaca dengan tangan bergetar.
"Maafkan saya, Pak Devan," suara Alina parau, dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. "Saya melakukan keteledoran besar. Surat verifikasi data kependudukan saya terkirim ke kantor ... dan Mbak Clara sempat membuka amplopnya sebelum saya terima."
Alis tegas Devan berkerut tajam. Ia meraih amplop yang ada ditangan Alina.