Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mempersatukan 4 Kota
Setelah pertempuran sengit melawan monster ular raksasa, para anggota Miracle Zenith akhirnya melangkah kembali ke dalam markas villa tua mereka. Suasana di dalam ruangan tidak sepenuhnya tenang. Meskipun mereka berhasil menang, rasa ganjal dan kesal masih menyelimuti sebagian besar dari mereka.
"Wah, asli ya! Tuh cewek yang namanya Vikka minta ditarik mukanya!" geram Sintia sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. Jemarinya masih memercikkan hawa dingin tipis. "Kita udah jauh-jauh ngebantu, bukannya bilang terima kasih, malah nempeleng tangan orang!"
"Sabar, Sin... sabar," ujar Serafe sambil menyodorkan segelas air hangat. "Azkailah benar tadi, orang yang lagi ketutup gengsi mah dipukul balik juga nggak bakal sadar."
"Tapi tetep aja ngeselin, Ra!" timpal Arkan sambil membetulkan posisi sarung tangan tanahnya. "Mereka tuh mandang kita sebelah mata banget, padahal kalau Ayyasy nggak nebas kristalnya tadi, udah rata mereka semua!"
Di saat teman-temannya sibuk meluapkan kekesalan, Ayyasy justru duduk terdiam di sudut ruangan. Matanya menatap kosong ke arah lantai. Sebagai ketua, ia tidak hanya memikirkan gengsi atau perlakuan kasar Vikka, melainkan ancaman monster yang makin hari makin kuat. Jika para pahlawan dari empat kota ini terus terpecah belah karena ego masing-masing, kota-kota mereka akan berada dalam bahaya besar.
Sementara itu, jauh di markas utama Kota Cyber...
Atmosfer di dalam ruangan berlayar monitor biru itu terasa sangat tegang. Vikka berjalan mondar-mandir dengan napas memburu, raut wajahnya dipenuhi rasa frustrasi dan emosi yang belum padam.
"Gue nggak terima!" bentak Vikka sambil memukul meja kontrol. "Panggung kita direbut gitu aja sama bocah-bocah Zenith! Mereka cuma hoki dapat momen pas kita lagi lengah!"
Tasya yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Vikka akhirnya hilang kesabaran. Muka ketua Miracle Kosmik itu merapikan rambutnya dan menatap Vikka tajam.
"Bisa berhenti deny (tidak mau mengakui) nggak, Vikka?!" tegur Tasya dengan nada dingin namun menusuk. "Terima kenyataan! Zenith itu punya potensi besar! Kalau bukan karena kombinasi serangan mereka tadi, kita udah kalah di sana! Gengsi lu itu bisa bikin kita semua mati konyol kalau ada serangan monster yang lebih parah!"
Vikka membelalakkan mata, hendak membalas bentakan Tasya, namun situasi di dalam ruangan makin keruh dengan perdebatan anggota lain yang ikut-ikutan membela gengsi tim masing-masing.
Melihat kondisi yang makin tidak kondusif, Davi melangkah menghampiri Arunnaqa dan Tasya.
"Naq, Sya... ikut gue sebentar ke luar," bisik Davi pelan namun penuh penekanan.
Tanpa banyak bicara, Arunnaqa dan Tasya mengangguk setuju. Ketiga pemimpin tim itu melangkah keluar meninggalkan keriuhan markas. Mereka berjalan menyusuri jalanan malam Kota Cyber yang lengang, membiarkan terpaan angin malam mendinginkan kepala mereka.
Setelah merasa jarak mereka sudah cukup jauh dan aman dari jangkauan anggota tim lainnya, Davi menghentikan langkahnya di sebuah taman kota yang sepi.
"Gue ngajak kalian ke sini karena gue tahu kalian berdua punya pemikiran yang sama kayak gue," ujar Davi sambil menatap Arunnaqa dan Tasya secara bergantian. "Kita nggak bisa biarin perselisihan ini berlarut-larut. Satu-satunya cara agar kita bisa bertahan hidup adalah menyatukan Miracle dari 4 kota."
Arunnaqa menghela napas panjang lalu tersenyum tipis. "Gue setuju banget. Anggota tim kita terlalu tertutup sama keangkuhan mereka sendiri."
"Sama," tambah Tasya. "Ayyasy itu pemimpin yang tegas. Dia nolak kerja sama kemarin bukan karena sombong, tapi karena dia menjaga harga diri timnya dari hinaan Vikka."
Arunnaqa kemudian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel canggih miliknya. Ia menggeser layar dan mulai mengontak nomor telepon Ayyasy—nomor yang sempat ia dapatkan saat mencari data Miracle Zenith.
Di markas Zenith, ponsel di dalam saku Ayyasy mendadak bergetar.
BZZZ... BZZZ...
Ayyasy merogoh saku celananya dan melihat layar ponsel yang menampilkan nomor tak dikenal dari kode area Kota Cyber. Menyadari siapa yang kemungkinan besar meneleponnya, Ayyasy bangkit dari duduknya.
"Gue ke balkon sebentar ya," pamit Ayyasy pelan kepada teman-temannya yang masih sibuk mengomel di ruang tamu.
Ayyasy melangkah menuju balkon lantai dua yang hening. Ia menggeser tombol hijau di layarnya dan menempelkan ponsel itu di telinga.
"Halo?" sapa Ayyasy tenang.
"Ayyasy... ini gue, Arunnaqa," suara di ujung telepon terdengar jernih. "Gue lagi sama Tasya dan Davi. Gue mau minta maaf atas kejadian tadi... dan gue mau ngomong serius sama lu."
Ayyasy menyandarkan sikutnya di pembatas balkon, menatap pemandangan bintang-bintang di langit malam. "Ngomong soal apa, Naq?"
"Soal masa depan kita semua," sahut suara Davi memotong di seberang telepon. "Kita butuh lu dan Miracle Zenith. Bisa ngga kita bertiga ketemu lu secara pribadi tanpa melibatkan anggota yang lain?"
Keesokan harinya, tepat pukul 09.00 pagi, sesuai dengan janji yang dibuat semalam, Ayyasy, Arunnaqa, Tasya, dan Davi berkumpul di sebuah restoran di pusat Kota Zenith.
Setelah memesan makanan dan minuman, suasana di meja mereka yang tadinya sedikit canggung perlahan mencair. Mereka mulai membuka topik utama: bagaimana cara melunakkan keras kepalanya para anggota dari keempat tim dan menyatukan mereka menjadi satu kekuatan utuh.
"Menurut gue, kita harus bikin turnamen kecil antar-tim," usul Davi sambil menyesap minumannya. "Anak-anak Harvest dan Cyber itu tipikal yang baru bakal respect kalau udah ngelihat skill lawan secara langsung dalam duel satu lawan satu."
Tasya menggeleng pelan, kurang setuju. "Kalau dibuat turnamen, yang ada malah makin memicu persaingan unhealthy dan bikin gengsi mereka makin membumbung tinggi. Menurut gue, mending kita bikin misi gabungan buatan. Kita simulasiin ada ancaman besar, terus paksa mereka buat kerja sama dalam kelompok acak."
Ayyasy menyandarkan tubuhnya di kursi sambil mengetuk-ngetuk meja. "Misi buatan terlalu berisiko kalau mereka masih egois. Yang ada bukannya kerja sama, malah saling salah-salahan kalau simulasinya gagal."
Arunnaqa yang dari tadi menyimak akhirnya angkat bicara. "Gimana kalau kita bikin Latihan Bersama di markas Zenith?"
Tiga pasang mata langsung tertuju pada Arunnaqa.
"Markas Zenith itu tempat yang netral buat tim luar, tapi sekaligus jadi 'kandang' buat tim Zenith," lanjut Arunnaqa menjelaskan. "Di sana, kita nggak cuma latihan fisik atau tanding kekuatan, tapi kita rancang sesi latihan yang mewajibkan kombinasi elemen. Misalnya, Vikka yang tipe serangan laser harus dilatih bareng Sintia yang pengguna es buat bikin serangan pembiasan cahaya. Mau nggak mau, mereka harus komunikasi dan ngikis gengsi masing-masing."
Ayyasy, Tasya, dan Davi saling pandang. Senyum tipis mengembang di wajah Ayyasy.
"Pendapat yang bagus, Naq. Gue setuju," respon Ayyasy tegas. "Markas kita punya lahan yang cukup luas di belakang villa buat menampung latihan empat tim sekaligus."
"Gue dan Davi bakal pastikan anak-anak Kosmik dan Harvest ikut tanpa banyak protes," tambah Tasya optimis.
Setelah menyepakati rencana tersebut dan menghabiskan hidangan mereka, keempat ketua itu berjabat tangan erat. Kesepakatan rahasia telah dibuat, dan langkah awal demi menyatukan Miracle dari 4 kota pun resmi dimulai.
Beberapa hari kemudian, hari latihan bersama yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Rombongan besar Miracle dari tiga kota akhirnya menginjakkan kaki di markas Zenith.
Meski langkah kaki mereka menunjukkan keterpaksaan dan wajah mereka dilipat masam, Ayyasy tetap menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Arunnaqa, Tasya, dan Davi membalas sambutan itu dengan hangat, lalu mengarahkan seluruh anggota menuju
halaman belakang villa yang luas.
Namun, dasar tidak bisa menjaga sikap, para anggota dari tiga kota mulai melontarkan cemoohan saat melihat kondisi bangunan tua tersebut.
"Dih, ini markas atau gudang terbengkalai sih? Jelek banget!" cerocos Vikka sambil mengibaskan tangan di depan dadanya.
Cheryl melipat tangan lalu melirik sinis ke arah sudut bangunan. "Iya, tempat kayak gini mah lebih cocok jadi tempat penampungan sampah."
"Udah kayak sarang setan, gelap dan kusam!" timpal Tsalwa melengkapi ejekan teman-temannya.
Para anggota Miracle Zenith yang mendengar hal itu langsung mengepalkan tangan, raut
wajah mereka memerah menahan amarah. Beruntung, Ayyasy, Arunnaqa, Tasya, dan Davi dengan cepat menengahi situasi sebelum kekerasan terjadi. Latihan pun dipaksa untuk segera dimulai.
Satu per satu anggota mulai menunjukkan kehebatan kekuatan mereka. Namun bukannya saling belajar, sesi itu malah berubah jadi ajang pamer dan menyombongkan diri. Berulang kali adu mulut terjadi, terutama memicu emosi Sintia yang
memang gampang tersulut.
Karena sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan kekanak-kanakan dari para tamu tersebut, Night yang dari tadi diam akhirnya
mengambil tindakan.
FUSHHH...
Night mengaktifkan salah satu teknik khususnya: Bayangan Ketakutan. Seketika, seluruh tubuh Night memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat dan mencekam.
Gelombang energi ghaib itu menyebar cepat, membuat siapa saja dari tiga kota yang berada di dekatnya mendadak gemetar, merinding, dan diselimuti rasa takut yang luar biasa. Anehnya, aura itu sama sekali tidak berdampak pada anggota Miracle Zenith.
Vikka, Cheryl, dan Tsalwa langsung bungkam, wajah mereka pucat pasi menatap sosok Night yang bagaikan monster kegelapan.
Di tengah atmosfer yang mendadak horor dan mencekam itu, Serafe justru berjalan mendekati Night dengan ekspresi wajah polos tanpa dosa.
"Night... kok bayangan kamu kayak bocor gitu sih?" tanya Serafe heran sambil memiringkan kepala. "Sini, sini, aku tambal pakai cahaya aku biar enggak bocor lagi!"
TAK!
Night langsung menepuk jidatnya sendiri, pasrah dengan kepolosan Serafe yang merusak momen intimidasi keren yang baru saja ia buat.
Seketika, aura mencekam tadi sirnah terhapus oleh suara gelak tawa. Anggota Miracle Zenith meledak dalam tawa ngakak melihat tingkah Serafe. Tak tahan menahan geli, Davi, Tasya, dan Arunnaqa pun ikut tertawa terbahak-bahak melihat momen konyol tersebut.
Sintia yang gemas langsung berjalan cepat menghampiri Serafe. Tanpa basa-basi, ia menarik kerah belakang jaket Serafe lalu menyeret cowok polos itu menuju bangku penonton.
"Lu bisa enggak sih jadi orang jangan polos-polos banget?!" omel Sintia sambil mendudukkan Serafe dengan kasar, membuat gelak tawa di halaman belakang makin pecah.
Momen konyol itu tanpa disadari mulai mengikis dinding ketegangan keras di antara empat kota tersebut.