Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah yang Dicampakkan
Waktu berjalan dengan ritme yang semakin dingin di dalam rumah besar keluarga Pratama. Semenjak insiden di acara keluarga besar beberapa waktu lalu, interaksi antara Arka dan Kirana merosot tajam hingga berada di titik nol. Mereka hidup seperti dua orang penyewa kamar yang kebetulan berbagi atap yang sama—berpapasan tanpa saling menyapa, berbagi meja makan dalam keheningan yang kaku, dan tidur di kamar yang terpisah jauh.
Bagi Arka, keheningan itu seharusnya menjadi situasi yang ideal. Tidak ada lagi rengekan, tidak ada lagi protes manja, dan tidak ada lagi usaha-usaha kekanak-kanakan yang mengganggu konsentrasinya. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Arka merasa ada ruang hampa yang aneh. Cara Kirana memandangnya kini bukan lagi dengan binar kekaguman atau tuntutan perhatian, melainkan tatapan kosong yang diabaikan—tatapan seorang asing yang bahkan tidak sudi membuang tenaga untuk sekadar membencinya.
Hari ini adalah tanggal 15 Mei, bertepatan dengan hari ulang tahun Arka yang ketiga puluh satu.
Di dunia luar, ulang tahun seorang CEO muda dari grup konglomerat Pratama tentu menjadi momen penting. Berbagai kiriman karangan bunga mewah, hadiah-hadiah eksklusif dari para mitra bisnis, serta ucapan selamat bertubi-tubi memenuhi meja kerjanya sejak pagi hari. Namun, Arka sama sekali tidak peduli pada perayaan semacam itu. Baginya, hari ulang tahun hanyalah tanggal biasa di kalender kerja.
Namun, ada satu hal kecil yang sempat mengusik pikirannya pagi tadi sebelum ia berangkat ke kantor.
Beberapa hari sebelumnya, tanpa sengaja, Arka melihat sebuah kantong belanja kecil berwarna gelap terselip rapi di atas meja konsol dekat pintu masuk. Di atas kantong itu, tertera secarik sticky note kecil bertuliskan tulisan tangan yang sangat rapi: Selamat ulang tahun, Mas.
Saat itu, Arka langsung mengabaikannya dengan sebelah alis terangkat sinis. Ia berasumsi itu adalah kiriman dari salah satu rekan bisnis atau sekadar hadiah formalitas yang dibelikan oleh staf rumah tangga atas perintah mertuanya. Tanpa berniat memeriksa atau membuka isinya, Arka mengambil kantong tersebut dengan sebelah tangan, berjalan keluar rumah menuju garasi, dan begitu sampai di mobil, ia melemparnya begitu saja ke dalam laci dashboard mobil sedan mewahnya, menumpuknya di bawah tumpukan dokumen tol dan buku servis kendaraan.
Pikiran tentang kotak itu sempat terlintas sekilas di kepalanya saat ia sedang memimpin rapat direksi siang tadi, namun Arka dengan cepat menepisnya. Ia tidak ingin ambil pusing.
Di sisi lain rumah, di ruang tamu lantai bawah, Kirana duduk sendirian di sofa panjang berwarna krem. Di hadapannya di atas meja kaca, tergeletak dompet kulit kecil miliknya yang kini tampak jauh lebih tipis dari biasanya.
Hadiah itu memang benar dari Kirana.
Itu adalah hasil dari pengorbanan kecil yang dilakukan Kirana selama berminggu-minggu terakhir. Sejak ia memutuskan untuk berhenti meminta uang kepada Arka dan menolak menggunakan kartu kredit hitam pemberian suaminya, Kirana mulai memutar otak. Ia tidak lagi pergi berbelanja barang-barang mewah. Sebagai gantinya, ia menyisihkan sisa uang tunai dari tabungan lamanya—serta hasil kecil dari penjualan beberapa barang pribadinya—untuk membeli sebuah hadiah ulang tahun bagi Arka.
Kirana tahu persis betapa sukanya Arka pada kerapian profesional. Dengan riset kecil-kecilan dari majalah bisnis yang sering dibaca suaminya, Kirana berhasil membelikan sebuah dasi sutra bermerek asal Italia dengan motif garis klasik berwarna navy dan perak—dasi yang menurutnya sangat cocok dipadukan dengan setelan jas kerja Arka.
Bagi Kirana, pembelian itu bukan lagi tentang memohon kasih sayang atau merengek agar disukai. Itu adalah bentuk terakhir dari pemenuhan etika moralnya sebagai seorang istri sah. Ia ingin memberikan sesuatu yang layak di hari ulang tahun suaminya, terlepas dari apakah hadiah itu nantinya akan dihargai atau tidak.
Kirana melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Ia tahu Arka biasanya akan pulang pukul delapan malam setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor.
Ketika suara mesin mobil sedan mewah memasuki halaman rumah dan deru bannya berhenti di garasi, Kirana tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia hanya mendengar langkah kaki tegap suaminya melintasi pintu depan, menaiki tangga menuju lantai atas tanpa sedikit pun singgah di ruang tamu.
Kirana menghela napas pelan, lalu beranjak menuju kamarnya di lantai bawah. Tidak ada rasa sakit di dadanya, tidak ada air mata yang mendesak keluar. Yang ada hanyalah kelegaan kecil bahwa kewajiban moralnya telah selesai dilaksanakan.
Di dalam garasi yang remang-remang, di malam yang sama, Arka baru saja kembali dari kantornya yang melelahkan. Ia membuka pintu kursi pengemudi mobil mewahnya, meletakkan tas kerjanya di kursi sebelah, lalu hendak mengambil kartu akses gerbang rumah yang tersimpan di dalam laci dashboard.
Saat Arka menarik pegangan laci dashboard hingga terbuka lebar, tumpukan kertas-kertas tol berantakan, dan di bawahnya, kantong belanja kecil berwarna gelap yang ia letakkan pagi tadi ikut terseret keluar.
Kantong itu terjatuh miring, membuat sebuah kotak beludru kecil di dalamnya meluncur keluar dan mendarat tepat di atas karpet karet mobil.
Arka mengernyitkan dahi. Rasa penasarannya yang sedari tadi tertekan akhirnya terpancing juga. Dengan gerakan lambat, ia memungut kotak beludru berwarna biru gelap tersebut. Di atas tutup kotak itu, secarik sticky note berwarna kuning pastel masih menempel erat dengan tulisan tangan yang sangat dikenalinya: Selamat ulang tahun, Mas.
Tiba-tiba, udara di dalam kabin mobil terasa menipis.
Arka tertegun. Ia memandangi tulisan tangan itu lekat-lekat. Itu bukan tulisan tangan staf rumah tangga, dan jelas bukan surat formal dari relasi bisnis. Itu adalah tulisan tangan Kirana—tulisan tangan yang selama ini jarang ia perhatikan karena kesibukannya dan penolakannya yang membabi buta.
Dengan jari-jemarinya yang sedikit kaku, Arka membuka penutup kotak beludru tersebut.
Di dalam kotak itu, terbaring rapi sebuah dasi sutra bermerek asal Italia dengan kombinasi warna navy dan garis perak yang elegan. Bahan dasi itu tampak sangat halus, dipilih dengan selera tinggi yang menunjukkan bahwa sang pembeli benar-benar memikirkan apa yang pantas dikenakan oleh seorang eksekutif profesional sepertinya.
Arka terdiam mematung di balik kemudi mobilnya.
Sebuah hantaman telak mendadak menghantam ulu hatinya dengan sangat keras. Ingatannya berputar kembali ke beberapa minggu lalu, saat ia dengan begitu arogan dan dingin melemparkan kantong belanja itu ke dalam laci mobil tanpa pernah mau repot-repot membuka, melihat, atau sekadar menghargai usaha di baliknya.
Ia ingat bagaimana Kirana menatapnya dengan mata penuh harap di pagi-pagi sebelumnya. Ia ingat bagaimana ia selalu mengabaikan setiap inci ketulusan kecil yang coba ditunjukkan istrinya, menganggap semua itu sebagai beban kekanak-kanakan dari seorang wanita manja.
Dan sekarang, hadiah ulang tahun yang dibeli dengan ketulusan itu tergeletak mengenaskan di dalam laci mobil yang kotor oleh debu jalanan, dicampakkan begitu saja oleh keangkuhannya sendiri.
"Sial..." desis Arka lirih. Suaranya terdengar serak, tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa bersalah yang mendadak membuncah begitu hebat hingga membuatnya nyaris kehabisan napas.
Arka menutup kembali kotak beludru itu dengan tangan yang bergetar hebat. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, sementara bayangan wajah dingin Kirana—wanita yang kini hidup bagaikan patung es di bawah atap yang sama—berputar liar di dalam kepalanya.
Malam itu, di dalam mobil mewahnya yang sunyi di dalam garasi yang gelap, sang CEO yang terbiasa mengendalikan ribuan karyawan harus mengakui kekalahan telaknya di hadapan sebuah dasi yang tercampak—sebuah bukti nyata bahwa ia sendiri telah menghancurkan satu-satunya hal tulus yang pernah diberikan oleh istrinya.