Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Tim Kecil
Catatan di pintu kulkas awalnya hanya lelucon.
Tiga hari kemudian, catatan itu berubah menjadi sistem kerja rumah gadang.
Raka benar-benar menulis minimal dua jam sebelum membantu siapa pun. Ayu benar-benar dipaksa makan sebelum jam dua siang. Nenek Sari menjadi pengawas yang terlalu menikmati tugasnya. Setiap kali Ayu terlihat melewati waktu makan, Nenek akan menunjuk catatan merah di kulkas seperti hakim menunjuk pasal.
"Ayu, aturan rumah."
"Nek, ini aturan buatan Kak Raka."
"Sudah ditempel di kulkas, berarti aturan rumah."
Raka yang sedang duduk di meja pojok pura-pura tidak mendengar, tapi senyumnya mengkhianati.
Sebagai balasan, Ayu mulai mengawasi jam menulis Raka. Kalau Raka terlalu lama membantu di dapur sebelum membuka laptop, ia akan mengetuk meja dengan sendok.
"KentangGila, deadline."
Raka menatapnya dari balik kacamata. "Sekarang Mbak Ayu ikut memanggil saya begitu?"
"Nama pena harus dimanfaatkan."
"Saya menyesal memberi tahu."
"Terlambat."
Mereka menjadi tim kecil tanpa pernah membicarakannya.
Ayu mengatur menu, pemasok, booking homestay, dan konten utama. Raka membantu membuat jadwal unggahan, membalas komentar yang perlu jawaban sopan, mencadangkan file video, dan sesekali menjadi tangan tambahan di dapur. Datuk Harun tetap mengurus halaman dan hewan. Nenek Sari mengambil posisi paling penting menurut dirinya sendiri: memastikan semua orang makan.
Pada suatu pagi yang sibuk, pemasok datang terlambat, dua tamu homestay meminta sarapan lebih cepat, dan satu keluarga dari Padang tiba tanpa reservasi karena melihat video viral. Ayu hampir membagi tubuhnya menjadi tiga.
"Mbak Ayu, tamu homestay sudah saya beri teh dan keripik," kata Raka sambil masuk dari teras. "Keluarga dari Padang saya arahkan duduk di ruang makan luar. Mereka bersedia menunggu dua puluh menit. Pemasok bilang lima menit lagi sampai."
Ayu berhenti di depan kompor.
"Kak Raka mengatur semua itu?"
"Saya hanya bertanya dan mencatat."
"Itu namanya mengatur."
"Kalau salah, saya minta maaf."
Ayu menggeleng cepat. "Tidak salah. Justru... terima kasih."
Raka tampak lega.
Siang itu berjalan lancar karena bantuan kecil yang tepat waktu. Setelah semua tamu makan, Ayu duduk di kursi dapur sambil memegang segelas air. Kakinya pegal, tapi kepalanya tidak berdenyut seperti dulu saat bekerja di hotel.
Dulu, ketika dapur kacau, ia selalu merasa sendirian menahan dinding runtuh.
Sekarang, sebelum ia sempat berteriak, ada seseorang yang sudah menahan sisi lain.
Sore harinya, Ayu menemukan Raka di teras belakang. Laptopnya terbuka, tapi ia tidak mengetik. Ia menatap sawah dengan wajah berpikir terlalu jauh.
"Deadline macet?" tanya Ayu.
"Tidak."
"Pembaca marah?"
"Selalu, tapi bukan itu."
Ayu duduk di kursi seberangnya. Di antara mereka ada meja kecil dengan dua gelas teh. Angin membawa aroma tanah dan daun pisang dari belakang rumah.
Raka menutup laptop pelan. "Saya tadi melihat pengumuman awal CPNS."
Ayu menegakkan badan. "CPNS?"
"Iya. Tahun ini formasi untuk pengadilan cukup banyak. Ada beberapa posisi di Sumatera Barat juga. Pengadilan Negeri Bukittinggi termasuk kemungkinan lokasi penempatan."
"Kak Raka mau daftar?"
Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya sendiri. "Saya lulusan hukum. Dulu saya sempat berpikir masuk sistem peradilan. Bukan karena gajinya besar, jelas tidak dibanding tulisan saya. Tapi ada bagian dari saya yang masih ingin memakai ilmu itu."
Ayu mendengarkan.
"Dan kalau di Bukittinggi?" tanyanya pelan.
Raka mengangkat wajah.
Ayu pura-pura melihat sawah. "Maksudnya, jaraknya dekat. Dari sini cuma sekitar setengah jam."
"Iya." Suara Raka turun sedikit. "Kalau di Bukittinggi, saya tidak harus kembali ke Jakarta."
Kalimat itu keluar pelan, tapi Ayu mendengarnya jelas. Bukan kembali ke kantor lama. Bukan kembali ke kos. Kembali ke Jakarta. Seolah kota itu bukan sekadar tempat, melainkan sesuatu yang harus ia hadapi kalau tidak menemukan alasan cukup kuat untuk tinggal.
Ayu tidak berani bertanya apakah alasan itu termasuk dirinya. Ia hanya merasakan ujung jarinya menghangat di sekitar gelas teh.
Lama sekali ia tidak minum.
"Masalahnya, kalau saya daftar dan lolos, hidup saya akan lebih terikat. Jam kerja, aturan kantor, ujian, penempatan. Menulis masih bisa, tapi tidak sebebas sekarang."
"Kak Raka takut kehilangan bebas?"
"Saya takut salah memilih." Ia tersenyum tipis. "Dulu saya memilih menulis karena itu cara keluar dari rumah. Sekarang saya harus memilih bukan karena ingin kabur."
Kalimat itu membuat Ayu diam.
Ia tahu betapa sulitnya memilih ketika keputusan tidak lagi lahir dari luka. Setelah punya uang, ia juga harus belajar memilih bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada Jakarta, tapi karena benar-benar ingin membangun hidup di sini.
"Kalau Kak Raka daftar, daftar karena Kakak mau," kata Ayu pelan. "Bukan karena Papa, bukan karena Sri, bukan karena orang lain menganggap penulis bukan pekerjaan."
Raka menatapnya.
"Dan kalau Kakak butuh tempat belajar yang tenang, kamar nomor tiga masih ada."
"Sebagai fasilitas homestay?"
"Sebagai..." Ayu berhenti, sadar ia hampir mengatakan sesuatu yang terlalu dekat. "Sebagai kamar yang sudah terbukti cocok untuk KentangGila."
Raka tertawa pelan. "Baik."
Malamnya, Raka tidak langsung mendaftar. Ia mencetak pengumuman, membaca syarat, membuat daftar materi, dan menghitung kemungkinan waktunya. Ayu menyiapkan sepiring pisang goreng di meja tanpa banyak bicara. Nenek Sari lewat dan melihat kertas-kertas itu.
"Apa lagi ini?"
"Pengumuman CPNS, Nek," jawab Raka.
Nenek langsung duduk. "Jadi pegawai negeri?"
"Baru mau daftar."
"Kalau jadi pegawai negeri di Bukittinggi, berarti tetap dekat sini?"
Raka melirik Ayu tanpa sadar. Ayu pura-pura sibuk memindahkan piring.
"Kalau penempatannya di Bukittinggi, iya," jawab Raka.
Nenek Sari mengangguk sangat serius. "Daftar."
"Nek," Ayu menegur.
"Apa? Nenek mendukung anak muda punya masa depan."
Datuk Harun yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Kalau mau daftar, belajar yang benar."
Raka menunduk hormat. "Iya, Datuk."
Setelah Nenek dan Datuk masuk, Raka menatap tumpukan kertas di meja.
"Mbak Ayu."
"Hmm?"
"Kalau saya benar-benar daftar, mungkin saya akan merepotkan. Jadwal belajar, simulasi tes, mungkin harus ke Bukittinggi beberapa kali."
Ayu mengambil spidol merah dari dekat kulkas dan menuliskan baris baru di bawah aturan lama.
`Setiap hari: Raka belajar CPNS minimal 2 jam setelah menulis.`
Lalu ia menambahkan baris kedua.
`Ayu wajib menyediakan kopi atau teh, tapi tidak boleh mengganggu.`
Raka membaca, lalu tersenyum.
"Sepertinya kulkas ini semakin berbahaya."
"Kulkas ini saksi kontrak."
Ponsel Raka berbunyi sebelum ia sempat menjawab.
Notifikasi resmi dari portal pendaftaran muncul di layar.
`Pendaftaran CPNS tahun ini dibuka dalam tujuh hari.`
Ayu dan Raka sama-sama menatap layar itu.
Hidup kecil yang baru mereka susun mendadak mendapat pintu lain lagi.