Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.
Beberapa anggota keluarga yang baru tiba langsung mengarahkan pandangan kepada mereka bertiga dengan ekspresi berbeda.
Bu Retno dan Cantika langsung mendekat ke arah Tedy. Namun, begitu melihat sudut bibir suaminya pecah, Cantika spontan membelalakkan matanya penuh.
"Bibir kamu kenapa, Mas?" tanyanya cemas berusaha menyentuh bibir suaminya.
Tedy melirik Kahiyang dengan tatapan kesal. "Kahiyang baru saja menampar mas."
"Apa?" Cantika langsung menoleh kepada Kahiyang. "Emang Mas Tedy salah apa sampai kamu menamparnya, Ay? Kasar sekali sih, kamu jadi perempuan?" tanyanya tak terima. "Pantas saja dulu Mas Tedy meninggalkanmu dan lebih memilihku."
Kahiyang mengembuskan napas panjang. "Kenapa aku menamparnya? Karena sesuatu yang keluar dari mulutnya adalah sampah. Dan aku justru berterima kasih kamu mau menampung sampah sepertinya," ucapnya tanpa merasa takut sedikitpun.
"Jaga mulut kamu ya, Ay. Jangan mentang-mentang sekarang hari pernikahanmu, lantas kamu bisa berbuat semaumu!" balas Cantika tak mau kalah.
Kahiyang menatap sepupunya tidak percaya. "Apa kamu nggak salah bicara? Justru kalianlah yang merusak acara ini. Kalau saja suamimu itu bisa menjaga mulutnya yang macam perempuan itu, tak mungkin aku sampai hilang kesabaran. Apa diamku selama ini kalian anggap lemah karena tak pernah membalas hinaan kalian?"
Cantika menoleh ke arah Tedy. "Sekarang jawab apa yang kamu katakan pada Ayang, Mas. Kenapa dia sampai menamparmu?"
Sultan yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Saya melihat semuanya, lelaki ini menghina kami. Istri saya tidak akan melakukan hal itu andai pecundang ini bisa menjaga mulutnya. Alih-alih meminta maaf dia justru mengangkat tangan hendak membalas."
Mata Cantika membulat penuh. "Apa kamu bilang? Suamiku pecundang? Eh, emang kamu pikir dirimu siapa, kamu itu hanya pria culun yang kebetulan saja dipilih eyang menjadi suami dari perawan...."
Plak Plak Plak!!!
Belum selesai Cantika bicara tapi mulutnya langsung kena ciuman telapak tangan tiga kali dari Nyonya Kirana yang sejak sudah menahan geram melihat pasutri itu. Semua orang terbelalak kaget melihat kejadian begitu cepat tersebut. Mereka menutup mulut sambil menahan napas menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak terkecuali Bu Arimbi, tak percaya besannya ternyata bar-bar juga. Namun, dalam hati ia tersenyum.
Bu Retno yang tak terima anak perempuannya menerima perlakuan buruk, langsung maju beberapa langkah. Wajahnya memerah padam menahan amarah, sementara tangannya sudah terangkat hendak menunjuk ke arah Nyonya Kirana.
"Berani sekali kamu menampar anak saya!" bentaknya dengan suara meninggi. "Jangan mentang-mentang kamu ibu mertuanya Kahiyang, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mempermalukan keluarga kami!"
Nyonya Kirana sama sekali tidak gentar. Ia justru melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Bu Retno dengan tenang.
"Saya menampar mulutnya, bukan untuk mempermalukannya. Kalau dia tidak bisa menjaga mulut, jangan salahkan orang lain kalau tangannya yang bergerak lebih dulu," jawab Nyonya Kirana datar.
Bu Retno semakin tersulut. "Kamu dengar sendiri apa yang dikatakan anak saya? Dia hanya membela suaminya!"
"Dan saya juga mendengar dengan jelas apa yang dia katakan kepada menantu saya," balas Nyonya Kirana tak mau kalah. "Dia bukan sekadar membela suaminya. Tapi dia menghina anak dan menantu kami, bahkan menghina Eyang yang sudah memilih anak kami menjadi cucu menantunya."
Bu Retno terdiam sesaat, sepertinya ia mendapat lawan yang sepadan. Akan tetapi, dirinya tetap tak mau menyerah dan tetap menyalahkan orang lain.
"Bagaimanapun juga, tidak seharusnya kamu main tangan!" tukasnya seraya berkacak pinggang.
"Kalau begitu, ajari anakmu menjaga lisannya," sahut Nyonya Kirana tanpa basa-basi. "Saya tidak akan diam melihat anak dan menantu saya dihina di depan keluarga besar kalian."
Cantika yang masih memegang pipinya mulai menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Bu, lihatlah mereka semua membela Kahiyang. Aku yang dipermalukan di sini."
Bu Retno langsung meraih tangan putrinya. "Ibu di sini, Sayang. Ibu nggak akan membiarkan siapa pun memperlakukanmu seperti ini."
Tedy yang sejak tadi berdiri di samping Cantika akhirnya ikut maju. "Sudahlah, Bu. Aku memang tadi terlalu emosi, tapi saya tidak terima kalau sampai—"
"Diam...!" potong Sultan tegas.
Wajahnya memang masih terlihat seperti Rafa yang culun dan sederhana, tetapi sorot matanya kali ini jauh berbeda, lebih mendominasi. "Jangan mencoba memutarbalikkan keadaan. Saya sudah melihat semuanya."
Seketika Tedy menoleh ke Sultan, rahangnya tampak mengeras. "Ini masalah keluarga saya dan Kahiyang. Kamu tidak perlu ikut campur."
"Dia istri saya. Jika ada siapa saja yang menghina atau menyakitinya, saya berhak ikut campur," jawab Sultan menegaskan.
Kahiyang yang sejak tadi diam, menatap Sultan. Ada rasa hangat yang perlahan menjalar memenuhi rongga dadanya mendengar pembelaan itu.
Cantika langsung menyela, "Mau sok jadi pahlawan kesiangan rupanya! Baru menikah saja sudah berani melawan keluarga!"
Sultan menoleh kepadanya. "Saya tidak melawan siapa pun. Saya hanya membela istri saya ketika dia diperlakukan tidak pantas."
Bu Retno hendak kembali membalas, tetapi suara Eyang Bramantyo lebih dulu terdengar keras dari tempatnya berdiri.
"Sudah cukup!"
Suasana yang semula kasak-kusuk langsung senyap. Eyang Bramantyo menatap satu per satu anggota keluarga yang terlibat. Wajahnya terlihat kecewa.
"Hari ini seharusnya semua keluarga berkumpul untuk mendoakan pernikahan Kahiyang dan Rafa. Tapi kalian justru membuat keributan di depan semua orang."
Tatapannya kemudian berhenti pada Tedy dan Cantika. "Kamu Tedy... Bukankah dirimu sudah meninggalkan Kahiyang dan lebih memilih Cantika? Lalu kenapa masih mendekati Kahiyang dan memprovokasi dia? Jangan kamu pikir aku tidak melihat apa yang kamu lakukan tadi."
Tedy tersentak kecil, tetapi segera menguasai dirinya. "Si4l4n...!" batinnya bergejolak menahan kesal.
Eyang Bramantyo terdiam sesaat guna mengambil napas. "Seharusnya kamu bisa menjaga batasanmu dengan tidak membuat masalah di hari pernikahan Kahiyang dan Rafa saat ini. Atau memang kamu sengaja?"
Bu Retno tampak hendak membantah, tetapi Eyang Bramantyo mengangkat tangannya. "Saya belum selesai bicara..."
Bu Retno pun terdiam tak berani membantah. Namun, terlihat jelas raut tak terima dari wajahnya.
"Aku tidak peduli siapa yang merasa paling benar. Tapi mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina cucu menantu pilihanku di rumah ini," sambung Eyang Bramantyo.
Tedy mengepalkan tangannya kuat-kuat, tetapi berusaha menyembunyikan kekesalan wajahnya. Sementara Cantika menggenggam lengannya erat. Ia sendiri masih terlihat kesal, tetapi tidak berani membantah.
“Ayah... Tedy tak bermaksud—” Retno kembali mencoba membela menantunya.
“Cukup, Retno!” tegas Eyang Bramantyo. “Jangan karena dia menantumu, lalu semua kesalahannya kamu benarkan.”
Bu Retno langsung terdiam. Rahangnya mengeras menahan kesal.
“Bagaimanapun Tedy yang salah di sini. Jadi jangan coba-coba membelanya di depanku. Sebaiknya kalian menghormati rumah tangga orang lain dan jangan membawa masalah masa lalu di hari bahagia Kahiyang,” lanjut Eyang Bramantyo tak terbantahkan.
Pak Andika dan Bu Arimbi yang sejak tadi diam, akhirnya bisa bernapas lega. Begitu pun dengan Tuan Bahtiar dan Nyonya Kirana yang sedikit banyak mulai paham masalah yang terjadi di antara keluarga besannya tersebut.
Kahiyang sendiri langsung menundukkan kepala. Di sampingnya, Sultan menggenggam tangannya erat, membuat gadis itu sedikit merasa lebih tenang.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭