Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELARIKAN DIRI
Sementara itu, di rumah Billy yang luas dan mewah, suasana ruang tengah terasa agak tegang. Cahaya lampu yang hangat tak mampu menyelimuti hati ketiga pemuda itu. Alex berdiri bersandar di dinding, menatap keluar jendela dengan tatapan tajam seakan sudah memprediksi apa yang akan terjadi. Ia lalu berbalik menatap Rey dan Billy, lalu menyindir mereka dengan nada yang penuh keyakinan.
"Gue bilang dari awal kan? Perasaan gue selalu tajam. Gue udah curiga sejak pertama kali melihat Joe. Pemuda itu bukan orang biasa — dia berbahaya, dan kita semua seharusnya lebih berhati-hati dari awal."
Rey hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Ya, ya... perasaan loe memang hebat, Alex. Selalu saja benar."
Billy duduk di sofa yang empuk, namun wajahnya sama sekali tidak tenang. Matanya menatap lurus ke depan tanpa melihat apa pun, pikirannya melayang jauh ke tempat yang sama sekali tidak bisa ia jangkau. Ia diam saja, mulutnya tertutup rapat, namun di dalam hatinya bergemuruh satu pikiran yang terus berputar tanpa henti. Semua akan berakhir besok. Joe dan Arthur... mereka berdua akan dibunuh besok. Tugas yang gue berikan pada Joe takkan pernah selesai, karena dia takkan hidup cukup lama untuk menyelesaikannya.
Rey menyadari keheningan panjang Billy yang terasa aneh. Ia melangkah mendekat lalu duduk di samping sahabatnya itu, menepuk bahu Billy perlahan. "Hei, Bil... melamun apa loe? Sejak tadi diam saja. Ada yang loe pikirkan?"
Billy tersentak pelan, lalu menggeleng cepat seakan ingin menepis pikirannya sendiri. "Enggak ada. Cuma... gue butuh minum sekarang. Mulut gue terasa kering sekali."
Rey mengerti maksudnya. Ia segera berdiri dan berjalan menuju meja khusus di sudut ruangan yang penuh dengan botol minuman berlabel mahal. Dengan sigap ia mengambil tiga gelas kaca bening, lalu menuangkan minuman berwarna cokelat pekat ke dalamnya. Setelah ketiganya memegang gelas masing-masing, Rey mengangkat gelasnya sedikit ke udara.
"Minum dulu. Hilangkan penat," ucapnya pelan.
Billy meminum isinya hingga tinggal seperempat, lalu menurunkan gelasnya dengan gerakan cepat. Wajahnya berubah menjadi serius, lalu menatap Alex dan Rey bergantian.
"Sebenarnya... gue ingin melihat Joe dan Arthur sendiri," ucapnya dengan suara rendah namun tegas. "Gue nggak ikut saat mereka ditangkap, jadi gue belum melihat mereka dalam keadaan itu."
Alex menaikkan sebelah alisnya, menatap Billy dengan tatapan menyelidik. "Kenapa? Apa loe berniat melepaskan mereka berdua?"
Billy tertawa pendek, namun tawanya sama sekali tidak terdengar gembira. Ia menggeleng keras. "Melepaskan? Sama sekali bukan. Justru sebaliknya — gue sendiri yang akan membunuh Joe dan Arthur."
Tangan kanannya merogoh saku jaket, lalu perlahan mengeluarkan sebuah benda berkilau yang ia letakkan di atas meja di hadapan mereka berdua. Sebuah pistol hitam yang tampak baru dan terawat baik.
"Gue yang akan menembak mereka berdua sendiri," ucapnya dengan nada dingin dan mantap. "Mata gue sendiri yang akan melihat mereka jatuh."
Rey dan Alex saling berpandangan sejenak. Rey lalu berdiri dan mengangkat gelasnya yang masih tersisa sedikit cairan. "Kalau begitu, ayo kita ke Loyalty Hotel sekarang juga. Di sana tempat mereka ditahan."
Alex langsung menghabiskan sisa minuman di gelasnya dengan sekali teguk, lalu meletakkan gelasnya dengan bunyi keras di meja. Billy pun melakukan hal yang sama. Ketiganya segera berdiri dan bersiap berangkat menuju hotel tempat Joe dan Arthur ditahan.
Pada saat yang sama, di dalam bangunan tinggi Loyalty Hotel, Joe dan Arthur sedang berjalan tertatih-tatih mengikuti langkah wanita misterius yang memimpin di depan. Mereka melewati lorong gelap menuju pintu bertuliskan "TANGGA DARURAT". Pintu itu terbuka sedikit, dan wanita itu menyelinap masuk lebih dulu. Joe membantu Arthur berjalan pelan menuruni anak tangga yang terbuat dari beton keras dan berbau lembap. Cahaya hanya berasal dari lampu-lampu kecil di dinding yang sesekali mati, membuat suasana semakin mencekam.
Wanita itu berjalan dengan langkah ringan dan cepat, seakan tidak memikul beban apa pun. Sesekali ia berhenti di lantai yang lebih bawah lalu menengok ke atas dengan wajah tidak sabar.
"Cepatlah!" bisiknya dengan nada kesal. "Siput saja lebih cepat dari kalian berdua! Kalau ketahuan, kita semua mati di sini!"
Arthur yang sedang bersandar berat di bahu Joe sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, tersenyum kecut lalu menjawab pelan. "Kakiku terasa seperti dipukuli palu besi berkali-kali. Seluruh badan gue sakit sekali... mana bisa kita lari cepat seperti loe yang segar bugar?"
Joe segera menimpali sambil menahan napas karena lelah. "Sudah, Arthur. Jangan diladeni kata-katanya. Kita terus saja berjalan."
Mereka pun terus menuruni tangga satu per satu dengan susah payah. Darah yang sempat mengering di wajah Joe kembali terasa perih terkena keringat dingin. Tangan Arthur yang terluka tergantung di bahu Joe, dan setiap langkah yang diambil membuat keduanya meringis menahan sakit.
Akhirnya mereka tiba di lantai paling bawah — pintu yang mengarah ke area parkir bawah tanah yang luas dan remang-remang. Wanita itu memberi isyarat tangan agar mereka berhenti dan bersembunyi di balik tiang beton besar. Tanpa perlu diberi tahu, Joe dan Arthur langsung menekuk tubuh dan menempel di dinding.
Dari kejauhan terlihat seorang bodyguard berbadan besar sedang berjalan perlahan sambil menyorotkan senter ke arah mobil-mobil yang terparkir. Langkah kakinya berat dan terdengar jelas di lantai beton yang luas. Ia berjalan melewati tempat mereka bersembunyi tanpa menyadari keberadaan mereka, lalu perlahan menjauh dan menghilang di balik deretan mobil.
Setelah yakin aman, wanita itu memberi isyarat agar segera keluar. Mereka berlari kecil menuju pintu keluar yang terbuka ke arah jalan samping hotel. Udara malam yang sejuk langsung menyambut wajah mereka, namun tidak ada waktu untuk menikmatinya.
Di pinggir jalan sudah menunggu sebuah mobil berwarna gelap dengan mesin yang menyala pelan. Pintu belakang terbuka sendiri.
"Cepat masuk!" bisik wanita itu.
Joe membantu Arthur masuk lebih dulu, lalu menyusul di belakangnya. Wanita itu pun naik ke kursi depan di sebelah pengemudi. Begitu pintu tertutup rapat, mobil itu perlahan melaju meninggalkan area hotel.
Di dalam kabin yang remang itu, Joe dan Arthur menatap wanita yang sedang menyetir dari kursi depan. Wajahnya terlihat lembut namun tegas, rambutnya diikat rapi, dan usianya kira-kira seumuran dengan ibu mereka — wanita yang tampak tenang dan berwibawa.
Arthur tersenyum tipis sambil mengerang pelan menahan sakit di tubuhnya. "Wah... sekarang bumi sudah mengirim pahlawan wanita untuk menolong kita ya? Bukan laki-laki lagi?"
Wanita yang memakai masker kain tadi — yang duduk di samping Joe — tertawa kecil mendengar ucapan itu. "Temanmu terlalu banyak bicara, Joe. Padahal baru saja selamat dari maut."
Joe menatap kedua wanita itu dengan penuh tanda tanya. Hatinya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena rasa ingin tahu yang besar. "Siapa kalian sebenarnya? Dan kenapa kalian berdua menolong gue dan Arthur? Apa tujuan kalian?"
Wanita yang duduk di sebelahnya perlahan mengangkat tangannya dan melepas masker kain yang menutupi separuh wajahnya. Saat wajahnya terlihat sepenuhnya di bawah cahaya lampu jalan yang lewat, mata Joe membelalak lebar-lebar. Napasnya tertahan seketika.
"Hai, Joe," ucap wanita itu dengan senyum lembut yang sangat ia kenal.
"Itu... Lisa?" gumam Joe tak percaya. "Tapi... kenapa loe tahu kita ada di dalam sana? Dan bagaimana loe bisa sampai ke tempat itu?"
Lisa tersenyum penuh arti lalu menoleh ke arah wanita yang sedang menyetir mobil itu. Wanita itu sedikit menoleh ke belakang, menatap Joe dengan tatapan tajam namun tenang.
"Perkenalkan, nama Tante adalah Susy. Tante adalah Mama Rey. Sekarang, kalian sudah menyadari siapa lawan kalian?"