NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29.

Harapan tinggalah harapan, itulah yang Keira rasakan saat ia menunggu reaksi Elang, namun pemuda itu tetap duduk tenang di kursinya. Tidak terlihat terkejut berlebihan, juga tidak terlihat tanda-tanda akan mengatakan sesuatu.

Entah kenapa justru sikap itulah yang membuat dadanya mulai terasa panas.

Detik seolah berubah menjadi jam, di tengah ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh empat orang dengan pikiran berbeda, senyum samar justru terbentuk di bibir Bram. Tatapannya sesekali beralih pada Keira, mengamati wanita itu dengan tatapan menilai. Cantik, cerdas, dan memiliki kedudukan. Cocok. Itulah yang Bram pikirkan.

Raksa akhirnya kembali bersuara, menarik atensi mereka yang sebelumnya sibuk bergelut dengan pikiran mereka sendiri kembali ke kenyataan yang sedang mereka hadapi.

“Tidak ada keputusan malam ini.” Ia menatap Keira dan Ravian bergantian.

"Aku tidak tidak meminta kalian langsung menerima.” Nada bicaranya tetap tenang, tatapannya beralih pada ayah Keira.

“Mereka bisa saling mengenal satu sama lain lebih dulu. Kalau memang tidak cocok, tidak ada yang perlu dilanjutkan.”

Ayah Keira mengangguk. “Itu juga yang saya pahami sejak awal.”

Ibu Keira tersenyum tipis kepada putrinya.

Meira menatap putranya, kemudian beralih pada Keira. Meski ia sendiri sedikit terkejut dengan rencana ayahnya, ia tidak langsung menolak.

Justru Ravian yang semakin tidak nyaman. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal perlahan. Savera tidak lagi melihat ke arahnya, wanita itu menunduk tanpa menyentuh makanannya lagi. Ia sangat ingin mengatakan sesuatu, namun lagi-lagi ia menunda.

Nanti, setelah makan malam berakhir dan saat mereka berdua, ia akan berbicara.

Di sisi lain meja, Keira kembali melirik Elang. Kali ini tatapan mereka bertemu. Pemuda itu tidak tersenyum, hanya memandangnya sebentar sebelum kembali menunduk, dan itu membuat ia semakin kesal.

.

.

.

Makan malam berakhir tanpa keputusan apa pun, namun suasana yang sebelumnya hangat sudah tidak benar-benar kembali setelah Raksa menyampaikan dengan lebih jelas bahwa ia ingin menjodohkan Ravian dengan Keira.

Gatra dan Arina menyambut dengan suka cita. Bram dan Radinka mengucapkan selamat.

Savera menjadi orang pertama yang keluar menuju halaman samping ketika ibunya masih berbicara dengan Meira.

Ravian yang melihat kepergian wanitanya segera berdiri, mengejar dan memanggil saat ia sudah cukup jauh dari keluarga.

“Vera.”

Wanita itu tidak berhenti. Ravian menyusul hingga mereka kini berada di luar.

“Savera.”

Kali ini Ravian berhasil meraih pergelangan tangan wanita itu, namun Savera segera menarik tangannya kembali.

“Lepas.”

“Aku tadi—”

Savera membalikkan badan sebelum Ravian menyelesaikan kalimat, membuat kata itu terputus begitu saja. “Kamu tadi diam.”

Kalimat itu melenyapkan seluruh alasan yang belum sempat keluar.

Ravian mengembuskan napas. “Aku kaget.”

“Aku juga.” Savera tersenyum tipis, tanpa kehangatan. “Tapi bedanya, aku tidak sedang diminta memilih orang lain di depanmu.”

Ravian kembali terdiam.

Savera melanjutkan, “Aku tidak berharap kamu berteriak atau membuat keributan.” Ia menatap Ravian lurus. “Aku cuma ingin sekali saja kamu mengatakan apa yang sebenarnya kamu inginkan sebelum orang lain memutuskan sesuatu untukmu. Tapi kamu selalu kehilangan kemampuanmu berbicara.”

“Savera, aku pasti akan bicara pada mereka. Tapi beri aku sedikit-”

“Sampai kapan?” potong Savera cepat.

Ravian tidak menjawab.

Savera tertawa hambar. “Selalu begitu.” Ia mundur satu langkah. “Beberapa hari lalu kamu bilang butuh sedikit waktu.”

Tatapan Savera perlahan berubah. “Sekarang aku baru tahu, ternyata waktu yang kamu minta digunakan untuk menunggu keluargamu memilihkan perempuan lain.”

“Bukan begitu-"

"Lalu apa?" suara Savera naik satu oktaf.

Savera mengangguk, kekecewaan di hatinya menumpuk. “Ini tidak adil untukku, Ravi," Savera kembali berbicara setelah menunggu namun hanya mendapatkan keheningan. "Aku menunggu seseorang yang bahkan tidak berani mengakui kalau dia memilihku.”

Setelah mengatakan itu, Savera berbalik pergi.

Ravian terpaku di tempatnya berdiri. Ia tidak lagi memanggil, namun tatapannya tak berpaling dari punggung Savera yang semakin jauh. Untuk pertama kalinya, ia sadar kata nanti yang selama ini terasa aman mulai benar-benar mengambil sesuatu darinya.

.

.

.

Di bagian lain halaman, Elang baru saja selesai berpamitan kepada Damar ketika sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Elang.”

Ia menoleh.

Keira berdiri beberapa meter darinya.

Dari ekspresi wajah saja, Elang sudah tahu wanita itu tidak datang untuk sekadar mengucapkan selamat malam.

Keira mendekat, menyapa singkat dan sopan Bram serta Radinka. “Bisa kita bicara sebentar.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Elang menurut, mengikuti langkah Keira setelah meminta kedua orang tuanya pulang lebih dulu. Mereka kini berada di sisi kediaman yang lebih sepi.

“Kenapa kamu diam saja?” tanya Keira tanpa basa-basi.

Elang mengernyit. “Aku harus mengatakan apa?”

“Apa saja.”

Elang menatap wanita di depannya selama beberapa saat dalam diam. “Kei, itu urusan keluarga Pak Ravian.”

“Aku tahu.”

“Pak Raksa juga sudah bilang tidak ada keputusan apa pun malam ini.”

“Aku juga dengar.”

“Lalu?”

Keira mengembuskan napas pelan. “Kamu tidak keberatan?”

Elang tersenyum samar, tetapi tidak ada humor di sana. “Apa aku memiliki hak untuk keberatan?”

Pertanyaan balasan itu membuat Keira membeku.

Elang melanjutkan lebih pelan. “Dia Pak Ravian Arkatama.”

“Lalu?"

“Aku hanya pegawai Daneswara yang bulan lalu bahkan masih kesulitan mencari pekerjaan.” Elang tertawa singkat pada dirinya sendiri. “Sedangkan dia? Dia pewaris Arkatama. Keluarganya punya nama, posisi, semuanya.”

Keira tidak mengatakan apa pun.

“Kalau keluargamu mempertimbangkan dia untukmu, aku tidak punya alasan untuk—”

“Berhenti.”

Elang diam seketika.

Keira maju satu langkah. “Siapa yang menyuruhmu membandingkan dirimu dengan Ravian?”

Elang menatapnya.

“Aku cuma bicara kenyataan.”

“Bukan.” Nada Keira terdengar semakin tegas. “Itu alasan yang kamu buat sendiri supaya kamu tidak perlu mengatakan apa yang sebenarnya kamu rasakan.”

Elang terdiam.

Keira mengunci pandangannya pada Elang. “Aku bahkan tidak peduli dia pewaris Arkatama.”

“Kei—”

“Aku belum selesai," ucap Keira sebelum Elang sempat menyelesaikan kalimat.

“Aku tidak menginginkan nama Arkatama. Aku tidak peduli dengan jabatan yang Ravian miliki.”

Tatapan Keira tak beralih sediki pun dari pemuda di depannya. “Dan aku tidak butuh pewaris perusahaan sebesar apa pun untuk menentukan siapa yang ingin aku kenal lebih dekat.”

Keira melanjutkan dengan suara jauh lebih pelan. “Yang aku suka itu kamu, Elang. Bukan pewaris Arkatama.”

Segala suara di sekitar mereka seakan menghilang. Elang menatap wanita yang berdiri di hadapannya dengan mata melebar.

. . .

. . .

To be continued...

1
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
😍😍😍😍😍
〈⎳ FT. Zira: tengkyuu ibuuu/Kiss//Kiss/
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
lahhh... kok gak sampai mereka menikah sih, gantung amat
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: heh, maksud nya?
total 2 replies
Endah Puji Lestari
😍😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏🙏
〈⎳ FT. Zira: terima kasih sudah setia menemani kaka🥰
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
eh... ciyus ini 😱😱😱🤔🤔🤔
〈⎳ FT. Zira: dari yg nanya🤣🤣🤣..kaborrr🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
total 3 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
ini sih kopernya🤭
〈⎳ FT. Zira: emang🤣🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
affa affaan ini 🤦‍♀️🤦‍♀️
〈⎳ FT. Zira: kaborrrr🤣🤣🏃‍♀️🏃‍♀️
total 3 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
karakter si elang ini cool banget dah. bkn kyk karakter utama novel biasanya yang bucin abis ama pasangannya. cinta tapi ga lebay
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: hidung mana ini
total 6 replies
Muft Smoker
selamat menikmati hidup mu Bram ,,
Zhu Yun💫
Ya nikmati sajalah Bram dari apa yang kamu tabur di masa lalu 🤭
Zhu Yun💫
Sudah matang kan mereka berdua buat diajak ngadon /Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Cihuy.. terpesona nih ya 🤭
Zhu Yun💫
Dan sekarang mereka sudah semakin dewasa, semakin tampan, semakin kokoh, semakin kekar, semakin tegak juga anunya /Facepalm//Facepalm//Hammer//Hammer/ tubuhnya maksudnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Kirain pak Raksa sudah... 🤭
Endah Puji Lestari
😍🙏
Muft Smoker
dsnii pak raksa bersikap adil agar gx da yg tersakiti ,, dan merasa di rebut posisi ny ,, meski secara gx langsung posisi elang emnk sejak lahir di rebut ma ravi Krn pertukaran tsb ,,
semoga setelah ni kebenaran segera di bongkar biar si Bram mempertanggung jawab kan perbuatan ny ,,




ayoo kak zira jgn lama2 ,,
Sutono jijien 1976 Sugeng
sudah kuduga bulan bapak nya 😁
Sutono jijien 1976 Sugeng
kayanya bukan bapak nya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
vote terbang
〈⎳ FT. Zira: whh.. terima kasih banyak kaka🥰😍
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
wahhh penyelesaian yang adil yah zee. ga ada yang tersakiti. tinggal hukumannya si bram ini.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: justru dengan ravi dibiarkan berkembang, harusnya si bram. malu
total 2 replies
Patrick Khan
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!