Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Diterima Kerja, Tapi..
"Maid?!"
Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berteriak setelah diterima bekerja.
"S-saya... j-j-jadi maid...?" tanyanya lagi dengan dahi berkeringat.
Seorang pria di depannya yang merupakan pemilik kafe menjawab, "Itu benar."
Moiro kembali memastikan, suaranya terbata-bata, "T-tapi... K-kenapa harus jadi maid...?"
"Karena jika dilihat lebih detail, kamu memiliki potensi menjadi seorang maid. Rambutmu yang berwarna pink alami seolah memberikan kesan ramah bagi pelanggan. Bukankah itu bagus?"
"Tapi... S-saya ini kan cowok..."
"Kalau itu masih bisa diakali. Kamu tenang saja."
Setelah pria itu berkata demikian sambil tersenyum, di belakangnya datang maid-maid yang cantik dan imut. Mereka berkumpul dengan membawa beberapa perlengkapan seperti baju maid, sisir, makeup, bando maid, hingga bantalan dada.
Bantalan dada? Hmm... Menarik.
Pria itu kembali berkata, "Para seniormu bisa langsung membantumu."
Moiro membatu seketika, duduk bergeming. Ujung bibirnya tersungging kaku, mulutnya bergetar, alisnya terangkat ringan. Beberapa detik berlalu, dan tak satu pun kata berhasil keluar dari mulutnya.
Ia tak menduga kalau dirinya akan diterima bekerja dan dijadikan maid.
Awalnya ia mengira dirinya akan menjadi penjaga kasir, atau mungkin pelayan normal alias waiters restoran ini. Tapi ternyata tidak—malah jadi maid! Kocak emang.
Padahal, niat awalnya bekerja paruh waktu di sini untuk melunasi utang orang tuanya yang bisa dibilang cukup banyak, tapi mungkin, kini dia akan berhutang jati diri pada dirinya sendiri untuk menahan malu.
Semoga jati dirinya gak hilang.
...---...
Seorang maid kini berdiri di belakangnya.
Ia memegang pundak Moiro sambil tersenyum, lalu membawanya keluar dari ruangan bos menuju tempat ganti pakaian.
Moiro menolak dan berusaha melawan. Namun semakin ia menolak, semakin banyak maid yang membawanya.
Moiro tak bisa melawan lagi, hingga ia didorong mendekat masuk ke dalam ruang ganti.
Moiro mengangkat satu tangannya cepat, lalu para maid sontak berhenti mendorongnya.
"Aku... bisa ganti baju sendiri kok," ucapnya dengan nada bergetar sambil menoleh, wajahnya membiru sedikit takut.
Ia mengambil pakaian kerjanya dari salah satu maid, dan segera masuk ke ruang ganti.
Di dalam, ia menatap cermin besar, sambil mengangkat baju maid di tangannya, mencocokkan dengan dirinya, "Apa aku... betulan harus kayak gini?!"
Ia membuang napas panjang. Wajahnya mulai memerah saat kembali menatap cermin, namun sorot matanya tajam, meski sedikit kaku.
.........
Selang beberapa waktu, ia keluar dengan pakaian maidnya.
Wajahnya memerah. Muka berpaling, sedikit menunduk ke kiri. Telunjuk kanannya menggaruk pelan pipi kanan. Sedangkan tangan kiri mendorong celemeknya yang putih khas maid ke bawah.
Ia terlihat cukup imut.
Maid-maid itu terkejut melihat Moiro.
Moiro melirik para maid, canggung, lalu berkata dengan malu, "Jangan tatap aku kayak gitu..."
Para maid terdiam. Wajah mereka memerah dengan cepat.
BOM!
Darah mimisan menyembur bersamaan dari hidung mereka.
Moiro membelalak, sontak berteriak dalam hatinya, "ADA APA INIII?!"
"Aaaahh, imut bangeet~!"
"Aku pengen meluk diaaa!"
"Gak kuat."
"Tanpa makeup aja udah imut. Apalagi kalo pake... Ngh!" >//<
*Ada yang pingsan juga.
Mereka mulai tumbang berjatuhan.
Melihat para maid yang kerasukan membuat Moiro bergetar, seolah baru saja menyaksikan pembantaian masal.
Ia menatap dengan raut wajah yang shock, lalu menjerit dalam hatinya, "I-INI PADA KENAPA DAAH?!"
Ya karena kau lah.
Satu per satu maid mulai kembali bangkit.
Mereka langsung berdiri dengan cepat, lalu perlahan mendekati Moiro dengan mata bersinar, wajah memerah, dan sedikit air liur membasahi bibir mereka—mirip hewan buas yang siap menyantap mangsa.
Lah, berarti Moiro bakal jadi santapan mereka, dong?
"A-Aku bakal make up-in kamu!"
"Bantalan dada udah siap di tangankuu~!"
"Ma-mau kusisir rambutmu...?"
"AKU MAU MELUK DIA!"
Para maid mulai mendekat dengan gerakan cepat dan liar.
Beneran hewan buas ini mah!
Moiro berlari menjauhi mereka dengan cepat karena takut.
Tetapi para maid tak tinggal diam. Mereka segera berlari mengikuti Moiro, berusaha menangkapnya.
Moiro yang berlari dengan ekspresi ketakutan menjadi semakin takut saat melihat ke belakang, "WAAA! KALIAN JANGAN NGEJAR AKUU! NYEREMIN BET WOOOII!"
Emangnya Moiro seimut apa sih sampe mereka kayak gitu? Aduh, pengen liat juga kan jadinya.