Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Setelah acara perkenalan dan pengumuman pertunangan selesai, suasana aula kembali ramai.
Alunan musik klasik kembali terdengar mengiringi obrolan para tamu.
Para pelayan berlalu-lalang membawa hidangan dan minuman.
Beberapa pengusaha tampak mengelilingi Tuan Adrian untuk mengucapkan selamat.
"Selamat, Tuan Adrian. Putri Anda benar-benar luar biasa."
"Terima kasih."
"Semoga kerja sama perusahaan kita semakin erat."
"Tentu."
Di sisi lain, Rafael juga tak luput dari perhatian.
Banyak rekan bisnis ayahnya yang menepuk bahunya sambil mengucapkan selamat atas pertunangan tersebut.
Namun, tatapan Rafael justru sesekali mencari keberadaan Zilia.
Sementara itu, Zilia mulai merasa sesak. Senyum yang sejak tadi ia paksakan perlahan memudar.
Banyak tamu datang silih berganti. Ada yang mengajaknya berbincang. Ada pula yang memperkenalkan putra mereka dengan berbagai alasan.
"Nona Zilia, saya berharap suatu saat kita bisa bekerja sama."
"Terima kasih."
"Kalau ada waktu, saya ingin mengajak Nona bermain golf."
Zilia hanya tersenyum sopan tanpa memberikan jawaban.
Semakin lama, kepalanya semakin pening.
Ia merasa seperti sedang dipamerkan di hadapan semua orang.
"Aku butuh udara segar..."
gumamnya pelan.
Memanfaatkan semua orang yang masih sibuk berbincang, Zilia melangkah pelan meninggalkan aula.
Ia melewati lorong panjang menuju taman belakang mansion.
Begitu pintu kaca terbuka, embusan angin malam langsung menyapa wajahnya.
Zilia mengembuskan napas panjang.
"Ah... akhirnya sepi."
Ia berjalan menyusuri taman yang diterangi lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak.
Di tengah taman terdapat sebuah gazebo menghadap kolam yang dipenuhi bunga teratai.
Tanpa ragu, Zilia duduk di sana. Matanya menatap pantulan cahaya bulan di permukaan air.
"Kenapa semuanya berubah begitu cepat?"
Baru beberapa minggu lalu ia masih tinggal sederhana bersama Ibu Retno. Bekerja keras mengejar cita-cita. Mencintai seseorang yang ia yakini akan menjadi pendamping hidupnya.
Kini...
Ia berada di tengah keluarga besar yang penuh aturan.
Dijodohkan. Diumumkan sebagai ahli waris.
Bahkan pertunangannya diumumkan di depan banyak orang tanpa benar-benar meminta persetujuannya.
"Hidupku benar-benar bukan milikku lagi."
Tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk matanya.
Namun kali ini bukan karena Vio.
Melainkan karena ia merasa kehilangan kebebasan. Di kejauhan, dari balik jendela aula, sepasang mata memperhatikan sosok Zilia yang duduk sendirian.
Rafael.
Ia baru saja selesai berbincang dengan beberapa tamu ketika menyadari Zilia menghilang.
"Permisi sebentar."
Rafael berpamitan kepada lawan bicaranya. Langkahnya pelan menuju taman belakang.
Namun sebelum ia sempat menghampiri...
Seseorang lebih dulu berjalan ke arah gazebo.
Vio.
Pria itu berdiri beberapa langkah di depan Zilia.
Tatapannya dipenuhi penyesalan.
"Zil..."
Suara pelannya membuat Zilia mengangkat wajah.
Begitu melihat siapa yang datang, raut wajahnya kembali dingin.
"Aku pikir kamu sudah mengerti."
Vio menggeleng pelan.
"Aku hanya ingin bicara sebentar."
"Dua menit saja."
Tanpa mereka sadari...
Dari balik pepohonan, Rafael menghentikan langkahnya.
Ia memilih tidak langsung muncul. Tatapannya bergantian mengarah kepada Vio dan Zilia.
Sementara itu, di sisi lain taman, sepasang mata lain juga sedang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Lora.
Gadis itu mengepalkan kedua tangannya.
"Bagus..."
"Kalian bertemu lagi."
"Kali ini, aku akan memastikan Kak Rafael melihat sendiri bagaimana dekatnya Kak Zilia dengan mantan kekasihnya."
Senyum licik perlahan terukir di bibir Lora.
Sebuah rencana mulai terbentuk di dalam benaknya. Ia berniat memanfaatkan pertemuan itu untuk menghancurkan kepercayaan Rafael terhadap Zilia.
Dari balik deretan pohon hias, Lora menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
"Nah... sekarang tinggal tunggu Kak Rafael lihat semuanya."
Ia sengaja tidak keluar.
Matanya terus mengawasi Vio dan Zilia yang sedang berbicara di gazebo.
Dalam benaknya, Rafael pasti akan marah besar jika melihat calon tunangannya masih bertemu mantan kekasih.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
Rafael melangkah keluar dari balik pepohonan dengan raut wajah yang tetap tenang.
Tak ada amarah. Tak ada salah paham.
Ia justru berdiri beberapa langkah dari mereka sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Tatapannya tertuju kepada Vio.
"Bicaramu sudah selesai?"
Vio menoleh.
"Kamu lagi."
Rafael mengangguk santai.
"Iya, aku lagi."
"Aku sedang bicara dengan Zilia."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, jangan ikut campur."
Rafael tersenyum tipis.
"Aku memang tidak ikut campur."
"Lalu kenapa datang?"
"Karena aku melihat Zilia sudah beberapa kali bilang tidak."
Rafael melirik sekilas ke arah Zilia.
"Tapi kamu masih memaksanya."
Vio mengepalkan rahangnya.
"Aku hanya ingin dia mendengarkan penjelasanku."
"Penjelasanmu sudah berkali-kali. Kalau dia tetap menolak, berarti itu haknya."
Vio melangkah mendekat.
"Kamu tidak mengerti hubungan kami."
Rafael tidak bergeming.
"Mungkin. Tapi aku mengerti satu hal."
"Apa?"
"Seseorang yang benar-benar mencintai perempuan... tidak akan terus memaksakan kehendaknya ketika perempuan itu sudah mengatakan 'cukup'."
Kalimat itu membuat Vio terdiam sesaat. Zilia sendiri hanya berdiri di belakang Rafael.
Ia sama sekali tidak berniat menyela.
"Vio."
Suara Zilia terdengar tenang.
"Aku sudah membuat keputusanku. Tolong hormati."
"Aku tidak bisa. Aku masih mencintaimu, Zilia."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kamu menyerah?"
Zilia menggeleng pelan.
"Yang menyerah bukan aku. Kamu yang lebih dulu melepaskan. Kamu menikahi perempuan lain. Itu sudah cukup menjadi jawaban."
Vio menggertakkan giginya.
"Aku sudah bilang itu karena terpaksa."
"Dan aku sudah bilang... aku tidak ingin menjadi bagian dari hubungan yang rumit."
Keheningan kembali menyelimuti taman.
Tak jauh dari sana, Lora mulai menggigit bibirnya sendiri.
"Kenapa? Kenapa Kak Rafael tidak marah? Kenapa dia malah membela Kak Zilia?"
Rencana yang tadi disusunnya runtuh begitu saja.
Ia berharap Rafael salah paham. Yang terjadi justru sebaliknya. Rafael malah menunjukkan kepercayaan kepada Zilia. Hal itu membuat hati Lora semakin dipenuhi rasa iri. Sementara itu, Rafael kembali menatap Vio. Nada bicaranya masih tenang. Namun kali ini jauh lebih tegas.
"Tuan Vio."
"Saya menghargai perasaan Anda. Tapi saya juga meminta Anda menghargai keputusan Zilia. Jangan paksa dia terus."
"Kalau Anda benar-benar menyayanginya, biarkan dia menjalani hidup yang dia pilih."
Vio menatap Rafael dengan sorot mata tajam.
"Aku belum menyerah."
"Itu hakmu."
"Tapi ingat."
Rafael melangkah satu langkah mendekat.
"Selama kamu mengejarnya dengan cara memaksa... yang kamu dapatkan bukan cinta. Melainkan kebencian."
Ucapan itu membuat Vio terdiam.Rafael kemudian menoleh kepada Zilia.
"Ayo. Kita kembali."
Zilia mengangguk pelan.
Tanpa menoleh lagi kepada Vio, ia berjalan meninggalkan tempat bersama Rafael.
Vio hanya mampu memandangi punggung mereka yang semakin menjauh. Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan Rafael yang menjadi lawannya. Melainkan keputusan Zilia sendiri yang sudah tidak bisa ia ubah lagi.
Setelah itu, Zilia memilih untuk masuk ke kamar.
Suasana di kediaman Tuan Adrian masih cukup ramai. Beberapa anggota keluarga dan para pelayan berlalu-lalang menyiapkan berbagai keperluan.
Rafael yang baru saja menyelesaikan pembicaraan dengan Tuan Adrian hendak menuju ruang tamu.
Namun langkahnya terhenti saat Lora tiba-tiba menghadangnya.
"Kak Rafael."
Rafael menoleh sekilas.
"Lora."
Lora tersenyum manis sambil membawa sebuah nampan kecil. Di atasnya terdapat segelas minuman dingin.
"Kakak pasti capek, kan? Dari tadi ngobrol terus."
Rafael menggeleng tipis.
"Terima kasih, nggak usah repot."
Lora menyodorkan gelas itu lebih dekat.
"Anggap saja ucapan selamat datang dariku."
Rafael sempat ragu.
Namun karena tidak ingin bersikap tidak enak kepada adik Zilia, ia akhirnya menerima gelas tersebut.
"Terima kasih."
"Iya, sama-sama."
Lora memperhatikan Rafael yang mulai meneguk minuman itu.
Satu tegukan.
Dua tegukan.
Hingga akhirnya gelas itu kosong.
"Nah, gitu dong."
"Kalau habis, aku senang."
Rafael mengembalikan gelas itu.
"Terimakasih."
Lora tersenyum semakin lebar.
"Spesial buat Kak Rafael."
Rafael mengangguk singkat.
"Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Iya."
Lora menatap punggung Rafael yang semakin menjauh.
Senyumnya perlahan berubah menjadi seringai tipis.
"Sebentar lagi... aku ingin lihat, sekuat apa kamu menahan diri, Kak Rafael."
Lora lalu berbalik pergi, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara Rafael sama sekali tidak menyadari bahwa minuman yang baru saja diminumnya telah dicampuri sesuatu.
Beberapa menit kemudian, saat hendak menemui Zilia, tubuh Rafael mulai terasa tidak nyaman.
Awalnya hanya sedikit pusing.
Namun perlahan, hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia mengernyit.
"Aneh..."
"Apa aku terlalu lelah?"
Rafael sama sekali belum menyadari bahwa seseorang baru saja menjebaknya.
Rafael berjalan menyusuri lorong lantai dua dengan langkah yang semakin berat.
Napasnya mulai tidak beraturan.
Ia memijat pelipisnya beberapa kali, berharap rasa pusing itu segera hilang.
Namun, bukannya membaik, tubuhnya justru terasa semakin panas. Rafael naik ke lantai atas, berharap tidak salah kamar.
Saat melewati kamar Zilia yang pintunya sedikit terbuka, Rafael melihat gadis itu sedang sibuk merapikan beberapa buku di atas meja.
Menyadari kehadiran Rafael, Zilia segera menoleh.
"Kamu? Kamu kenapa?"
Rafael mencoba tersenyum, tetapi senyumnya terlihat dipaksakan.
"Aku... boleh masuk sebentar?"
"Tat-tapi..."
Zilia akhirnya mengangguk.
"Iya, silakan."
Rafael masuk ke dalam kamar dan menutup pintu perlahan, bukan untuk menguncinya, melainkan agar suara dari luar tidak terdengar jelas.
Zilia yang melihat wajah Rafael langsung mengernyit.
"Kamu kenapa?"
"Wajahmu pucat."
Rafael menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa."
"Jangan bohong."
"Kamu kelihatan nggak sehat."
Zilia mengambil segelas air putih lalu menyodorkannya.
"Nih, minum dulu."
Rafael menerima gelas itu.
"Terima kasih."
Ia meneguk air putih tersebut hingga habis.
Namun beberapa detik kemudian, tubuhnya justru semakin tidak nyaman.
Keringat mulai membasahi dahinya.
Napasnya terdengar semakin berat.
Zilia yang melihat keadaan Rafael mulai panik.
"Kamu benar-benar nggak apa-apa?"
Rafael memejamkan mata sejenak.
"Tadi..."
"Lora memberiku minuman."
"Setelah itu badanku mulai terasa aneh."
Zilia langsung terdiam.
"Minuman?"
Rafael mengangguk pelan.
"Awalnya kupikir cuma kelelahan."
"Tapi sekarang... rasanya ada yang tidak beres."
Tanpa mereka sadari, bahaya yang disiapkan Lora mulai memperlihatkan akibatnya.
Rafael terus mundur sambil mengatur napasnya.
"Jangan dekati aku..."
Suaranya terdengar berat dan bergetar.
Zilia justru semakin khawatir.
"Rafael, kita ke rumah sakit saja."
Rafael menggeleng keras.
"Tidak."
"Aku... belum tentu bisa mengendalikan diriku."
Belum sempat Zilia menjawab, Rafael mendadak memegang kepalanya.
Pandangan matanya semakin kabur.
Rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuat sisa kesadarannya perlahan memudar.
"Rafael!"
Zilia refleks memegang lengannya agar pria itu tidak terjatuh.
Sentuhan itu justru membuat Rafael membeku.
Dalam hitungan detik...
Benteng terakhir yang ia pertahankan runtuh.
Refleks, Rafael menarik tubuh Zilia ke dalam pelukannya.
Zilia membelalakkan mata.
"Ra... Rafael!"
Rafael memejamkan mata rapat.
Napasnya memburu.
Ia berusaha melepaskan pelukannya, tetapi pengaruh obat membuat tubuhnya tidak lagi mampu berpikir jernih.
Dalam kondisi setengah sadar, wajah mereka semakin dekat.
Tanpa sengaja, bibir Rafael menyentuh bibir Zilia dalam sebuah kecupan, lalu menyezapnya.
Mata Zilia membelalak.
Ia terpaku, terlalu terkejut untuk bereaksi.
Namun hanya beberapa detik kemudian, Rafael seperti tersentak.
Kesadarannya perlahan kembali.
Matanya membelalak penuh penyesalan.
Ia segera melepaskan Zilia dan mundur beberapa langkah.
"Astaga..."
Rafael mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Apa yang baru saja kulakukan?"
Tatapannya dipenuhi rasa bersalah.
"Maaf..."
"Aku benar-benar minta maaf."
"Aku tidak pernah berniat melakukan itu."
Sebelum sempat menenangkan diri, efek obat kembali menyerang.
Tubuh Rafael bergetar.
Napasnya kembali memburu.
Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, berusaha mempertahankan sisa kesadarannya.
"Zilia..."
"Tolong..."
"...di mana kamar mandi?"
Zilia langsung menunjukkan dan Rafael segera masuk ke kamar mandi.
Air dingin dari shower terus mengguyur tubuh Rafael.
Byur...
Byur...
Napasnya yang semula memburu perlahan mulai teratur.
Beberapa menit kemudian, Rafael mematikan keran. Rambutnya yang basah menutupi sebagian dahinya. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum menatap Zilia.
"Maaf."
Suaranya terdengar berat.
"Aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu ketakutan."
Zilia menggeleng pelan.
Rafael mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tahu siapa pelakunya."
Zilia mengernyit.
"Siapa?"
"Lora."
Seketika wajah Zilia berubah.
"Lora?"
"Iya."
"Dia sendiri yang memberikan minuman itu kepadaku. Awalnya aku tidak curiga. Tapi setelah tubuhku mulai bereaksi, aku langsung tahu ada yang tidak beres.nKetika kutanya, dia malah tersenyum. Dia bahkan mencoba mendekatiku."
Rahang Rafael mengeras mengingat kejadian beberapa menit lalu.
Zilia mengepalkan jemarinya. Merasa malu karena perbuatan saudaranya yang kelewat batas.
"Kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu?"
Rafael menghela napas panjang.
"Karena dia terobsesi. Sejak kecil dia memang sering mengejarku. Tapi aku selalu menganggapnya hanya adik. Sayangnya, dia mengartikan semuanya berbeda."
Zilia terdiam.
Kini ia mulai memahami mengapa Lora begitu membencinya.
Rafael menatap Zilia dengan wajah serius.
"Aku minta satu hal. Apa?"
"Jangan ceritakan kejadian malam ini kepada siapa pun."
"Kenapa?"
"Kalau Om Adrian tahu sekarang... Lora bisa diusir dari rumah malam ini juga. Padahal besok kedua keluarga masih harus bertemu."
"Mulai malam ini... jangan pernah menerima makanan atau minuman dari Lora.nAku khawatir dia tidak akan berhenti sampai di sini."
Ucapan itu membuat Zilia merasakan firasat yang tidak enak.
Ia sadar...
Kebencian Lora kepadanya ternyata jauh lebih dalam daripada yang selama ini ia bayangkan.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄