Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA BAGIAN 2
Setelah bertahun-tahun berjuang sendirian hanya bersama Yovana, Bunda akhirnya memberanikan diri untuk menikah lagi.
Bukan hal yang mudah untuk mengambil keputusan itu. Bunda sudah terlalu terbiasa bergantung pada diri sendiri. Namun, jauh di dalam hatinya, ia merasa Yovana membutuhkan sosok seorang ayah, meski anak gadisnya itu tak pernah sekalipun mengeluh atau meminta.
Pertemuan Bunda dengan Zain terjadi begitu saja, sederhana dan tanpa alur yang berbelit-belit. Tidak ada cerita cinta yang muluk-muluk atau janji-janji manis yang berlebihan. Zain hadir sebagai pria yang terlihat dewasa, tenang, dan pembawaannya membuat Bunda merasa bahwa beban hidup yang selama ini ia pikul sendirian mungkin bisa menjadi sedikit lebih ringan.
"Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang mewah," ucap Zain suatu sore saat mereka duduk bersama. "Tapi aku janji akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kamu dan Yovana."
Kalimat sederhana itu meluluhkan hati Bunda. Kepercayaan pun mulai tumbuh.
Tak lama setelahnya, mereka memutuskan untuk menikah secara siri. Acara itu berlangsung sangat sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa orang terdekat. Bagi Bunda, status formal tak begitu penting; yang paling utama adalah ia kini memiliki tempat untuk berbagi beban.
Bagi Yovana, kehadiran Zain di rumah mereka awalnya terasa sangat canggung. Ia sama sekali tidak terbiasa berbagi ruang dengan seorang laki-laki dewasa, apalagi memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Mulai sekarang, Om Zain akan tinggal bersamanya kita, ya," ujar Bunda lembut saat merapikan meja makan.
Yovana hanya mengulas senyum tipis, menyembunyikan rasa canggungnya. "Yovana harus panggil apa?"
Bunda tertawa pelan. "Panggil Ayah saja kalau kamu sudah merasa nyaman."
Yovana mengangguk pelan, sementara Zain yang berdiri tak jauh dari mereka memberikan senyuman hangat.
"Tidak perlu dipaksakan," pukas Zain menenangkan. "Panggil seplastisnya kamu saja. Santai."
Sikap Zain yang santai dan tidak menuntut itu membuat beban di dada Yovana sedikit berkurang. Zain tidak memaksakan diri untuk langsung dicintai sebagai seorang ayah, dan ia juga tidak bersikap sok mengatur.
Di minggu-minggu pertama, kebersamaan mereka berjalan cukup hangat. Zain sering membantu Bunda merapikan hal-hal kecil di rumah. Ia juga beberapa kali menyisihkan uangnya untuk membeli kebutuhan Yovana—buku pelajaran baru, sepatu sekolah, hingga tas yang sudah lama diinginkan gadis itu. Hal-hal kecil yang sebelumnya sering ditunda Bunda karena keterbatasan biaya.
Suatu sore, Zain pulang dari luar dan meletakkan sebuah buku tebal di meja belajar Yovana.
"Ini untuk kamu," kata Zain ramah.
Yovana menatap buku itu, lalu menoleh pada Zain. "Buat Yovana, Om?"
Zain mengangguk. "Bunda bilang kamu suka sekali membaca. Sempat lewat toko buku tadi, jadi sekalian dibeli."
Mata Yovana seketika berbinar gembira. "Terima kasih banyak, ya."
"Sama-sama. Kalau nanti butuh buku sekolah atau alat tulis lain, bilang saja ke Saya."
Yovana tersenyum tulus. "Iya."
Dari balik pintu dapur, Bunda memperhatikan interaksi kecil itu dengan perasaan haru. Dadanya hangat. Bunda semakin yakin bahwa keputusannya tidak salah. Yovana akhirnya memiliki sosok pelindung—seorang pria yang jujur, baik, dan bisa diandalkan.
Bunda tak pernah membayangkan bahwa kepercayaan yang ia titipkan sore itu, kelak akan menjadi luka paling mematikan dalam hidupnya.
Beberapa bulan berlalu. Kehadiran Zain sudah menjadi bagian dari rutinitas harian mereka. Namun, pekerjaan Zain membuatnya harus sering bepergian ke luar kota.
Suatu malam, Zain berkemas di kamar dan memberi tahu Bunda bahwa ia harus pergi untuk beberapa hari.
"Cuma sebentar, kok. Urusan pekerjaan di luar daerah," kata Zain sambil mengancingkan tasnya.
Bunda mengangguk mengerti. "Hati-hati di jalan. Jangan lupa kabar-kabari."
"Pasti." Zain tersenyum tipis.
Saat melangkah menuju pintu depan, Zain sempat menepuk pelan bahu Yovana yang sedang duduk membaca di sofa ruang tamu. "Jaga Bunda baik-baik selama Saya pergi, ya."
Yovana mendongak dan mengangguk pelan. "Iya."
Bunda berdiri di ambang pintu, menatap punggung Zain sampai mobil yang menjemputnya menghilang di belokan jalan. Saat itu, tak ada rasa curiga sedikit pun. Tak ada yang menyangka bahwa kepergian tersebut adalah awal dari perubahan besar yang pelan-pelan merayap masuk ke dalam rumah mereka.
Hari-hari tanpa Zain berjalan biasa saja. Bunda kembali fokus pada pekerjaannya, sementara Yovana sibuk dengan kegiatan sekolah dan tugas-tugasnya.
Namun, memasuki minggu ketiga, Bunda mulai merasa ada yang aneh. Komunikasi dari Zain makin menipis. Jika di awal ia rutin menelpon setiap malam, lama-kelamaan menjadi dua hari sekali, hingga akhirnya berganti menjadi pesan singkat yang jarang-jarang.
"Ayah masih lama kerjanya, Bunda?" tanya Yovana suatu malam saat mereka makan malam berdua.
Bunda menghentikan sendoknya sejenak, lalu tersenyum menenangkan. "Masih ada urusan pekerjaan yang belum selesai di sana, Nak."
"Kok lama sekali, ya?"
"Namanya juga kerja mencari nafkah, pasti banyak urusannya," jawab Bunda, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. "Sebentar lagi juga pulang."
Yovana tak bertanya lagi dan melanjutkan makan. Ia tak tahu, dan Bunda pun tak curiga, bahwa di luar sana Zain tidak sekadar bekerja. Laki-laki itu mulai membangun jaringan sosial baru, berpindah-pindah kota, dan menjalani sisi kehidupan yang sama sekali tak pernah ia ceritakan di rumah. Setiap kali Bunda bertanya kapan ia kembali, Zain selalu memberikan jawaban menggantung yang sama: 'Sebentar lagi.'
Hampir dua bulan kemudian, barulah Zain kembali melangkah masuk ke rumah.
Bunda menyambutnya dengan rasa lega yang luar biasa. Senyum yang sempat meredup kini kembali terpancar. "Akhirnya kamu pulang juga."
Zain memeluk Bunda erat. "Maaf ya, sudah membuat kamu menunggu lama."
Yovana berdiri tak jauh dari sana, mengamati dari samping. Zain yang menyadari keberadaannya menoleh dan tersenyum.
"Kamu kelihatan makin tinggi, ya," celetuk Zain.
Yovana terkekeh kecil. "Masa, sih?"
"Iya, serius." Zain tertawa pelan.
Malam itu, suasana rumah kembali hangat. Mereka makan malam bersama, saling bertukar cerita tentang hari-hari yang dilewati. Bunda merasa kebahagiaan keluarganya telah utuh kembali. Ia sama sekali tidak menyadari rahasia apa saja yang dibawa Zain dari perjalanannya.
Dan yang paling tragis, Bunda tidak pernah menduga bahwa pria yang baru saja ia peluk itu kelak akan berubah menjadi sosok paling menakutkan yang menghancurkan masa depan putrinya.
Malam semakin larut. Bunda sudah tertidur pulas karena lelah, sementara Yovana masih duduk di ruang tengah, menamatkan beberapa lembar terakhir bukunya.
Zain keluar dari kamar dengan pakaian santai dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Yovana.
"Belum tidur?" tanya Zain pelan, agar tidak membangunkan Bunda.
Yovana menggeleng. "Belum. Sedikit lagi selesai."
Zain berdiri beberapa detik di dekat meja, menatap Yovana. "Suka sama bukunya?"
Yovana mengangguk ramah. "Suka banget. Ceritanya bagus."
Zain tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat biasa. "Baguslah kalau suka."
Setelah itu, Zain kembali melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Yovana melanjutkan bacaannya tanpa rasa curiga sedikit pun. Bagi Yovana saat itu, Zain masihlah sosok pria baik hati yang telah membelikannya buku dan meringankan beban ibunya. Seorang ayah sambung yang perlahan mulai ia terima kehadirannya. Seseorang yang ia percaya, seseorang yang seharusnya melindunginya dari bahaya.
Yovana sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keheningan malam itu, sebuah benih ancaman telah mulai tertanam. Dan di masa depan, Yovana akan merutuki dirinya sendiri karena pernah percaya pada pria tersebut.