Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: DMAM
Keesokan harinya...
Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung di sepanjang jalan kecil pemukiman.
Di depan pintu rumah kayu yang sederhana, Aisyah sedang membetulkan letak selendang ibunya dengan penuh kehangatan. Tak hanya itu, tas pakaian ukuran sedang pun sudah tergeletak rapi di samping bale-bale.
"Aisyah, apa gak sebaiknya ikut ibu saja ke Bandung? Bibi kamu kasihan, kemarin suaminya telepon katanya tensinya tinggi lagi," ujar Bu Rahmi dengan penuh harap sambil menatap wajah anak tunggalnya itu.
"Sepertinya gak bisa, Bu... Hari ini ada ulangan harian anak-anak, jadi gak bisa dibatalin. Kasihan mereka sudah belajar dari kemarin-kemarin. Lagi pula, rekap nilai kelas empat harus Aisyah kumpulkan ke Pak Dudung nanti sore," jawab Aisyah lembut.
Jemarinya merapikan lipatan gamis ibunya lalu berkata lagi, "Ibu hati-hati ya di jalan. Nanti kalau sudah sampai di terminal Leuwipanjang, langsung kabari Aisyah."
Bu Rahmi menghela napas, namun matanya memancarkan rasa bangga atas dedikasi putrinya. "Ya sudah kalau begitu. Kamu di rumah sendirian hati-hati. Pintu dan jendela jangan lupa dikunci rapat-rapat kalau malam. Perasaan Ibu dari tadi malam agak kurang tenang."
"InsyaAllah Aisyah tidak apa-apa, Bu. Ada Allah yang menjaga."
Aisyah meraih tangan kanan ibunya dan mencium punggung tangan yang mulai keriput itu dengan hormat, disusul dengan kecupan hangat di kedua pipi Bu Rahmi.
Setelah beberapa saat, mereka berdua pun berjalan menyusuri gang sempit bersama-sama.
Begitu sampai di persimpangan jalan raya, langkah mereka terpisah. Bu Rahmi menaiki angkutan umum menuju Terminal Bus Kampung Rambutan untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung, sementara Aisyah memutar arah berjalan kaki menuju Sekolah Dasar Negeri 04 Pagi yang jaraknya hanya beberapa ratus meter.
Pagi itu, jalanan terasa damai. Angin mengibaskan ujung jilbab merah muda yang dikenakan Aisyah hingga menampilkan kecantikan alaminya.
Dalam hatinya, Aisyah memanjatkan doa agar perjalanan ibunya lancar dan sang bibi di Bandung diberikan kesembuhan. Ia sama sekali tidak menduga bahwa di balik pintu gerbang sekolah, sebuah skenario gila sedang menunggunya.
~Wah, ada apa ya? Lanjut...~
Langkah kaki Aisyah yang tenang mendadak terhenti begitu ia menjejakkan kaki tepat di depan gerbang besi sekolah, karena sesosok anak laki-laki kecil yang bernama Bimo, murid kelas dua, tiba-tiba berlari menghampirinya dari balik pos penjaga sekolah.
Tanpa menguapkan sepatah kata pun, Bimo menyodorkan sekuntum bunga mawar merah segar yang tangkainya telah dirapikan dari duri.
Anak itu tersenyum meringis sambil menjejalkan mawar tersebut ke jemari Aisyah, lalu berbalik berlari kencang tanpa memberikan penjelasan apa pun.
Aisyah terpaku di tempatnya. Matanya berkedip heran menatap mawar beraroma wangi di tangannya. "Bimo? Eh, Bimo! Ini dari siapa?" teriak Aisyah, namun anak kecil itu sudah hilang di belokan kantin.
Aisyah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Ada-ada saja..." gumamnya.
Namun, keheranannya belum berakhir. Begitu ia melangkah lima pijakan menuju lorong kelas, seorang murid perempuan kelas tiga menghampirinya dengan canggung. Sambil menunduk malu, ia menyerahkan sekuntum mawar merah kedua.
"Bu Aisyah, ini..." ucap anak itu singkat, lalu berbalik lari menyusul teman-temannya.
"Eh, Tunggu dulu!" panggil Aisyah lagi, namun panggilannya sia-sia.
Hingga, setiap tiga atau lima langkah Aisyah berjalan menyusuri koridor utama sekolah, anak-anak murid dari berbagai kelas secara bergantian keluar dari balik pilar, bawah pohon mangga, hingga area perpustakaan.
Masing-masing dari mereka membawa satu hingga dua kuntum mawar merah segar dan menyerahkannya langsung ke tangan sang guru honorer.
"Bu Aisyah, ini buat Ibu!"
"Nih, Bu Guru!"
"Satu lagi, Bu!"
Aisyah yang makin kebingungan hanya bisa menerima bunga-bunga tersebut dengan kedua tangannya yang mulai kewalahan menampung.
Ketika Aisyah akhirnya sampai di ambang pintu kelas empat, kelas tempatnya mengajar, tangan kanannya telah memeluk sebundel besar mawar merah yang harumnya menyerbak kuat.
Bunga-bunga tunggal itu kini telah menyatu menjadi sebuket besar mawar merah tanpa pita pembungkus.
Ruang kelas empat sudah riuh oleh celoteh anak-anak yang duduk rapi di bangku masing-masing. Begitu melihat Aisyah masuk memeluk gunung mawar merah, sorak-sorai kecil terdengar dari bangku belakang.
Aisyah lalu meletakkan buket mawar dadakan itu di atas meja gurunya. Ia kemudian membetulkan posisi duduknya, dan menatap murid-muridnya dengan dahi berkerut namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman heran.
"Anak-anak... Ada apa ini? Apa hari ini Hari Guru? Kok Ibu dapet banyak sekali mawar?" tanya Aisyah heran seraya memandang anak-anak satu per satu.
Anak-anak kelas empat saling pandang. Beberapa di antara mereka terkikik geli sambil menutupi mulut dengan telapak tangan.
"Ibu... Bunga-bunga itu bukan dari kami," jawab Rangga, ketua kelas yang duduk di barisan paling depan berkata jujur.
Mendengar jawaban Rangga, Aisyah semakin mengerutkan keningnya. "Loh? Kalau bukan dari kalian, dari siapa? Tadi Bimo sama Siska yang kasih ke Ibu di depan."
"Bunga-bunga itu pemberian Om tampan di luar sana," lanjut Rangga polos sambil mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tegak lurus ke arah luar jendela kelas yang mengarah ke gerbang utama sekolah.
Kata-kata Rangga bagai sentilan dingin yang membuat darah Aisyah berdesir sekejap. Om tampan di luar?
Sebuah nama pun langsung terlintas di benaknya, hingga membuatnya merasa cemas. Mungkinkah Dimas? pikirnya menduga-duga.
Aisyah mendadak terpaku di depan kelas. Tanpa mengulur waktu, ia berbalik, keluar dari kelas empat, dan melangkah cepat menuju koridor luar yang membatasi area lapangan sekolah dengan pagar depan.
Lalu, pandangannya menyapu sekeliling area luar gerbang besi yang terbuka separuh.
Dan benar saja.
Di sana, Dimas tengah berdiri dan bersandar pada bodi mobil sedan putih metallic mewahnya. Pria itu mengenakan kemeja kasual bermerek, kacamata hitam yang disangkutkan di kerah baju.
Begitu tatapan mata mereka bertemu, Dimas langsung menegakkan tubuhnya dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah Aisyah dengan raut wajah yang penuh percaya diri.
Sementara di samping mobilnya, tampak sebuah keranjang plastik besar yang kini sudah kosong, bekas wadah ratusan mawar yang baru saja ia bagikan kepada anak-anak sekolah dengan imbalan uang jajan seribuan.
Aisyah memejamkan matanya sejenak, lalu menghembuskan napas yang panjang dari sela bibirnya. Hatinya dihinggapi rasa jengkel yang bercampur dengan keheranan.
Bagaimana bisa seorang pria berusia hampir tiga puluh tahun berpikir bahwa menerobos area sekolah dasar dan memanfatkan murid-murid kecil untuk membagikan bunga adalah cara yang bijak untuk memikat hati wanita?
Aisyah tidak membalas lambaian tangan Dimas sama sekali. Wajahnya pun berubah datar tanpa ekspresi. Dengan sengaja ia langsung membalikkan badan lalu melangkah kembali masuk ke dalam kelas, dan menutup pintu kayu kelas empat rapat-rapat.
Dimas yang menyaksikan reaksi dingin itu dari luar gerbang perlahan menurunkan tangannya yang melambai. Senyum di wajahnya pun memudar, berganti dengan guratan heran dan sedikit rasa gusar.
Sementara di dalam kelas, Aisyah berjalan menuju mejanya. Ia mengambil sebuket mawar merah yang harum itu, lalu menggesernya ke sudut meja yang paling jauh, tepat di sebelah tempat sampah.
"Baik, anak-anak," ujar Aisyah, seraya berusaha mengendalikan ketegangan di dalam hatinya. "Buka buku tulis kalian. Bersihkan meja dari buku pelajaran lain. Hari ini kita langsung ulangan harian matematika seperti yang sudah Ibu janjikan."
**
Proses ulangan harian berlangsung selama sembilan puluh menit. Sementara di luar kelas, Dimas yang tidak terbiasa diabaikan mulai merasa gelisah.
Pria itu tidak berani menerobos masuk ke area dalam sekolah karena penjaga sekolah yang seorang pria paruh baya kumis tebal bernama Pak Kumis, berdiri mengawasinya dari pos depan dengan pandangan curiga.
Namun, alih-alih pulang atau menunggu dengan sopan, tabiat impulsif Dimas kembali muncul.
Sekitar pukul sepuluh pagi, saat jam istirahat dimulai dan riuh suara anak-anak memenuhi lapangan, suara petikan gitar akustik yang terbilang berantakan mendadak terdengar dari luar pagar kelas empat.
Rupanya, Dimas telah menyewa seorang pengamen jalanan di depan gang untuk mengiringinya bernyanyi.
"Aisyah... dengarkan penyesalanku..." suara Dimas bernyanyi melengking lewat pagar besi, yang mencoba menyanyikan lagu romantis populer dengan vokal yang jauh dari kata merdu.
Sontak seluruh murid yang sedang berlarian di lapangan berhenti. Mereka lalu berbondong-bondong berlari menuju pagar dan bersorak-sorak gembira menyaksikan pertunjukan gratis tersebut.
"Hore! Om mawar nyanyi!"
"Lucu banget Om-nya!"
Bersambung...