Sekuel SUAMIKU BERWAJAH CACAT
Novel ini, menceritakan kisah cinta segitiga. Jadi bijaklah, dalam membaca.
Haris Wilson, anak pertama dari pasangan Henri Wilson, dan Rania Cullen, tidak menyangkah hidupnya akan berakhir menikahi anak dari pelayannya sendiri Bibi Ana.
Apalagi saat itu, Haris Wilson mempunyai seorang kekasih yang begitu dicintainya, yaitu seorang supermodel, bernama Kenny.
Haris menentang keras perjodohan ini, karena
dia sudah mempunyai kekasih, dan yang membuat dia sangat menolak perjodohan ini adalah, anak dari pelayannya itu, adalah seorang gadis cacat.
Tapi Haris tak dapat menolak, karena ayahnya Henri Wilson mengancam, kalau dia tidak menikahi Vivian, maka jabatannya sebagai seorang CEO diperusahaan, akan dicabut.
Karena tidak ingin kehilangan jabatannya, dia menyetujui pernikahan ini, tapi dengan membuat kesepakatan pernikahan kontrak, yang dia buat bersama Vivian.
Tapi itulah cinta bisa tumbuh kapan saja, Harispun tak dapat menolak pesona Vivian, saat mendapati gadis itu sudah bisa berjalan, ditambah lagi dengan kelembutan, dan perhatian dari wanita itu, membuat ia terjebak dengan permainan yang dia ciptakan sendiri, hingga membuat ia harus memilih Vivian, sigadis cacat, atau Kenny wanita yang begitu dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.18.Legah.
Tangannya masih merangkul penuh pinggang istrinya.
Hembusan nafas serasa membangkitkan gairah, apalagi dada milik Vivian yang terlihat jelas semakin membangkitkan gairahnya, dan diapun ingin menikmatinya.
Tangannya perlahan mulai berjalan menelusuri tubuh Vivian, dan bibirnya perlahan mulai menelusuri pundak istrinya, dan berakhir dileher jenjang itu.
"Tuan....!"Serunya, dengan suara yang sudah terdengar pelan.
Tidak memperdulikan rintihan itu, dia terus menelusuri bagian sensitif istrinya, mulai dari sekedar kecupan, berakhir dengan tanda merah disana.
"Jangan menolakku Vivian, karena bagaimanapun aku punya hak atas dirimu." Pintanya, dengan memberikan gigitan kecil ditelinga Vivian, yang membangkitkan gairah wanita itu.
Membalikkan badan istrinya, hingga posisi mereka berhadapan.
Tatapan matanya sudah mulai berkabut, dan ingin segera melepaskan hasratnya.
"Tuan.."Panggil Vivian, yang masih ingin tetap menolak.
Tidak memperdulikan mendekat, dan mulai mencium leher wanita itu.
Vivian hanya memejamkan mata, saat tangan Haris sudah mulai membuka kembali pengait branya, hingga membuat kedua gundukan itu terlihat jelas, dan nyata.Gairahnya semakin membuncah, saat dada istrinya terlihat jelas yang begitu membangkitkan gairahnya.
"Tuan.., kau akan kekantor. Bisakah kita menundanya nanti?" Pinta Vivian, dengan raut wajah sudah terlihat pucat, tapi keinginannya itu tidak diindahkan oleh Haris.
Menarik tangan Vivian, hingga masuk kedalam pelukannya. Dan dengan perlahan Haris mendorong tubuh istrinya, keatas sofa panjang dan menindihnya.
Raut wajahnya sudah berubah pucat, dan tak bisa dipungkiri rasa gugup semakin menyelimuti dirinya, apalagi saat Haris sudah membuka baju, yang melekat pada tubuh seksinya.
Mencengkram kedua tangan Vivian, sembari tersenyum.
"Kau takut..?" Bertanya, pada posisi sudah menindih istrinya.
Hanya mengangguk, dengan raut wajah yang sudah berubah pucat.
"Bukankah ini adalah kewajibanmu?" Dengan senyuman, menatap istrinya.
"Tapi Tuan.."
"Akukan sudah pernah bilang padamu, kalau aku tidak berjanji untuk nanti."
"Tapi.." Serunya terputus, saat Haris sudah membungkamnya dengan ciuman.
Vivian tak sanggup melawan cumbuan lelaki tampan itu, sebab Haris mendekapnya dengan begitu erat.
Bibirnya terus menelusuri tubuh Vivian, hingga kedua gundukan itu. Vivian hanya bisa memejamkan mata, saat Suaminya mulai mengecupnya, dan lebih lama bermain disana, hingga membuat desahan lolos begitu saja, karena tidak pernah mengalami hal ini.
"Tuan......" Panggilnya dengan nafas yang terengah-engah, hingga membuat Haris tersenyum, sebab tau Vivian sudah mulai hanyut dalam permainan yang ia ciptakan.
Tatapan matanya beralih menatap istrinya, yang tampak begitu kelelahan.
"Tuan, Kau bisa melakukan dengan Nona Kenny, jangan denganku." Pintanya, dengan tatapan penuh harap.
"Semakin kau menolakku, membuat aku semakin ingin memilikimu Vivian, bahkan dadamu aku sudah menikmatinya." Jawabnya, tersenyum.
"Tapi aku..." Jawabnya yang kembali terputus, saat Haris kembali membungkamnya dengan ciuman.
Kali ini Haris menciumnya dengan begitu rakus, hingga membuat Vivian begitu takut, sebab kali ini Haris mencumbuhnya dengan sangat buas.
Melepaskan helaian pakaian yang menutup benda perkasa itu, hingga terlihat jelas oleh istrinya.
Rasa takut semakin menyelimutinya, karena.dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apalagi sekarang Haris mencoba untuk melepaskan helaian kain, yang menutupi area sensitifnya.
"Ya Tuhan, aku mohon tolong aku. Aku belum siap untuk melakukan ini dengannya, karena dia sama sekali ti**dak mencintaiku." pintanya penuh harap, karena tahu bagaimana pernikahannya seperti apa.
Mereka masih asyik dengan kegiatan mereka, hingga suara telepone yang mengalihkan perhatian Vivian, tapi sama sekali tidak dengan Haris. Lelaki tampan itu, masih tetap ingin melepaskan hasratnya yang sudah menggebu.
"Sayang, ada telepone untukmu?" Seru Vivian.
Haris begitu terkejut, saat mendengar Vivian memanggilnya dengan sebutan sayang, ada rasa senang dalam diri lelaki tampan itu, saat mendapat panggilan Sayang dari istrinya.
"Abaikan saja, Vivian.."Dengan tetap melanjutkan cumbuan, pada area dada Vivian yang sudah dipenuhi tanda merah disana.
"Tapi Sayang..., mungkin saja itu telepone penting."
Menghembuskan nafas kasar, dengan beranjak dari tubuh istrinya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Vivian menghembuskan nafas lega, saat terlepas dari kukuhan suaminya.
..."Bahkan aku harus memanggilnya Sayang, agar dia mau menghentikan hal ini,sebab aku belum mau melakukan hal ini sama sekali dengannya."...
Meraih telepone genggamnya, dan tertera nama James, yang merupakan sekretaris pribadinya.
"Untuk apa dia menghubungiku." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
"Angkat saja teleponenya Sayang, mungkin ada hal penting yang ingin dia sampaikan, mungkin bisa saja urusan kerjaan."
Mendengar masukan dari Vivian, Harispun memutuskan untuk mengangkat teleponenya.
PERCAKAPAN LEWAT TELEPONE.
Haris: Hallo James (Dengan suara yang terdengar malas.
James: Tuan, bisakah kau datang kemari? Nona Kenny ingin kau yang memilih warna mobil, untuknya.
Haris: Apa dia tidak bisa memilihnya sendiri?! kenapa harus denganku..?! ( Dengan suara yang terdengar kesal.
Tiba-tiba saja, terdengar suara Kenny yang tengah merajuk.
Kenny: Sayang.., aku inginnya kau yang memilih aku mobil apa, dan warna apa Sayang.., kau tau, James sangatlah bodoh, jadi aku minta kau harus datang sekarang juga.( Pintanya, dengan nada yang begitu manja.
Haris langsung berbalik menatap Vivian, dan wanita itu hanya menampilkan senyumanya, yang ingin menyampaikan kalau aku baik-baik saja.
"Aku akan pergi, Kenny meminta aku untuk menemaninya membeli mobil." Ucapnya, dengan suara yang terdengar berat.
"Pergilah Tuan, aku tidak apa-apa."
Mengernyitkan dahinya, saat mendengar panggilan Vivian yang sudah berubah padanya.
"Tadi kau memanggilku dengan sebutan Sayang, kenapa sekarang kau memanggilku dengan sebutan Tuan lagi?" Tanyanya, dengan menatap lekat istrinya.
Tertawa, agar actingnya terlihat sempurna.
"Maafkan aku Tuan, eh..maksudku Sayang,mungkin aku belum terbiasa."
Menghembuskan nafas dalam, sebelum berbicara.
"Pakailah bajumu, kita bisa melanjutkannya nanti."
"Iya Sayang, tentu." Jawab Vivian, mencoba untuk tersenyum.
Haris segera berjalan kearah lemari, untuk berganti pakaian.
Memutuskan untuk mengenakan pakaian casualnya, saat akan menemui kekasihnya.Mengenakan kaos, sembari menghampiri sofa yang tadi digunakan pasangan Suami istri itu, untuk bercinta.
"Kau tidak apa-apa aku tinggal?" Tanya Haris, yang begitu mengkhawatirkan Vivian.
Tersenyum, saat menadapat pertanyaan itu.
"Tentu saja Sayang, aku akan baik-baik saja.Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku." Jawab Vivian, meyakinkan Suaminya yang sudah selesai pula mengenakan pakaian.
Beranjak dari duduknya, sembari menghampiri istrinya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, dan ingat kau tidak boleh kemana-mana tanpa ijin dariku." Pamitnya dengan mengecup singkat bibir Vivian, dan berlalu pergi dari kamar itu.
Setelah kepergian Haris, Vivian langsung menghebuskan nafas legahnya.
"Terimakasih Tuhan, setidaknya engkau masih melindungiku, buatlah aku bisa kuat menghadapi semua ini." Gumamnya, dengan pandangan menerawang.
Setelah terdiam sebentar, dan memikirkan hal yang baru saja terjadi, Vivian memutuskan untuk pergi mencari kerja.
Keluar dari kamar, setelah menyambar sebuah blazer yang menggelantung didinding kamarnya
"Ahh...setidaknya ini bisa menutupi tanda merah ini." Serunya dengan melekatkan kancing blazer, agar dapat menutupi tanda merah yang bertebaran pada lehernya.
Turun dari tangga dengan terus terenyum, dan saat sudah sampai dilantai bawah dia berpapasan dengan Alma, sang kepala pelayan rumah itu.
"Anda kemana Nona?" Tanya Alma, saat mendapati istri dari majikannya sudah terlihat cantik.
"Bibi Alma, aku akan pergi sebentar."
"Tapi Nona, Tuan menyampaikan pesan pada saya, kalau Nona tidak boleh kemana-mana." Serunya, tegas.
"Aku hanya sebentar Bibi, lagi pula aku sudah menghubunginya." Bohong, Vivian.
"Baiklah Nona, setidaknya pulanglah sebelum Tuan pulang kerumah."
"Tentu Bibi, aku akan pulang sebelum Tuan Haris kembali kerumah."
"Baiklah Nona, kalau begitu hati-hati."
Vivian berlalu keluar dari kediaman mewah itu, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Dia bisa menemui kekasihnya, tapi dia melarangku untuk tidak kemana-mana, peraturan macam apa itu." Gerutunya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
aasyeiikk ... bakal makin posesif aja bos nya si james 😁👍🏻
bisaan ni author pilih visual nya
posesif tanda cinta .. ouw ouw oooo
sudah jelas vivian berstatus kan istri "sah"
kenny dasaarrr
gemesss gau thor aaaaa mantaff👍🏻🤣