NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Toilet perempuan itu mendadak terasa hampa udara.

Mata Heera membelalak nyalang, menatap lekat-lekat pada cincin platina berhias satu berlian kecil yang baru saja ia tarik paksa dari balik seragam Almeera. Napas primadona sekolah itu memburu, dadanya naik-turun seiring dengan kepingan-kepingan fakta yang kini tersusun sempurna di kepalanya.

Sabun mandi yang sama. Riwayat Bluetooth di apartemen mewah. Kecemburuan Akram yang meledak-ledak. Dan kini... cincin yang sama persis.

"Kalian... nikah?!" Suara Heera melengking, memecah kesunyian toilet. Nada suaranya bergetar hebat antara syok, marah, dan tak percaya. "Lo dan Akram... suami istri?!"

Kepanikan menyergap Almeera layaknya tsunami. Namun, insting bertahannya yang sudah terlatih bertahun-tahun langsung mengambil alih. Dengan gerakan cepat dan kasar, Almeera menepis tangan Heera, merebut kembali kalungnya, dan memasukkannya rapat-rapat ke balik seragam.

"Jaga tangan lo, Heera!" desis Almeera, melangkah mundur dan merapikan kerahnya dengan tangan gemetar.

"Jawab gue, Almeera!" Heera melangkah maju, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Wajah cantiknya memerah karena amarah yang memuncak. "Lo berdua nipu satu sekolah?! Lo pikir gue bodoh?! Cincin itu persis sama kayak yang dipakai Akram setiap hari! Kalian nikah muda?! Gila! Ini skandal terbesar, Al! Kalau anak-anak tahu—"

"Terus lo mau apa?!" potong Almeera cepat.

Suara Almeera menggelegar, memantul di dinding keramik toilet. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menolak terlihat lemah, apalagi di depan perempuan yang selalu meremehkannya ini. Walaupun jantungnya berdetak liar seolah ingin melompat dari tulang rusuknya, Almeera memaksakan diri menatap Heera dengan sorot mata paling mematikan yang ia miliki.

"Mau lo sebarin ke satu sekolah? Silakan!" tantang Almeera, suaranya bergetar karena adrenalin. "Teriak sekarang ke koridor! Bikin pengumuman di mading! Kasih tahu guru-guru!"

Heera tersentak melihat reaksi Almeera yang justru menantangnya.

"Tapi ingat satu hal, Heera," Almeera melangkah maju, membalikkan keadaan hingga kini Heera yang terpaksa mundur. "Pernikahan ini kesepakatan keluarga Pradana dan Kusuma. Kalau lo bongkar rahasia ini, bukan cuma gue yang hancur. Lo bakal menghancurkan Akram. Lo bakal merusak reputasi Ketua OSIS yang selama ini dia bangun mati-matian. Lo bakal bikin dia dikeluarkan dari sekolah."

Almeera mencondongkan wajahnya, menatap lurus ke kedalaman mata Heera yang kini memancarkan keraguan.

"Dan kalau sampai itu terjadi, gue jamin, Akram bakal benci sama lo seumur hidupnya," ancam Almeera dengan suara rendah yang luar biasa dingin. "Lo mau ngambil risiko dibenci sama cowok yang lo kejar-kejar selama ini? Silakan coba."

Heera membeku. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya jatuh menetes membasahi pipinya. Logika kejam yang dilontarkan Almeera menghantamnya telak. Ia tahu persis bagaimana tabiat Akram. Jika Heera menghancurkan masa depan Akram, cowok itu tidak akan pernah memaafkannya.

Melihat Heera yang kehabisan kata-kata, Almeera memutar tubuhnya. Ia berjalan keluar dari toilet dengan langkah menghentak.

Namun, begitu ia keluar dari pintu dan berbelok ke arah koridor yang sepi, pertahanan Almeera runtuh seketika. Lututnya lemas. Ia bersandar di dinding koridor, meremas dadanya yang sesak. Napasnya putus-putus. Tangannya masih gemetar hebat setelah konfrontasi tadi.

"Al?"

Sebuah suara bariton yang berat dan familier membuat Almeera tersentak.

Akram berdiri hanya berjarak lima langkah darinya. Cowok itu menyandarkan sebelah bahunya di dinding dekat tangga darurat, seolah memang sedang menunggu. Matanya yang tajam langsung menangkap perubahan drastis pada wajah Almeera yang seputih kertas.

Akram menegakkan tubuhnya, melangkah cepat menghampiri Almeera. "Kenapa muka lo pucet banget? Lo sakit?"

Tanpa menjawab, Almeera langsung menarik lengan baju Akram dengan sisa tenaganya, menyeret cowok itu masuk ke balik pintu tangga darurat yang remang-remang dan bebas dari pantauan siswa lain.

Begitu pintu tangga darurat tertutup, Almeera menyandarkan punggungnya ke pintu. Matanya berkaca-kaca menatap Akram.

"Heera tahu, Kram," bisik Almeera parau, suaranya nyaris seperti rintihan.

Tubuh Akram menegang. Rahangnya mengeras seketika. "Tahu apa?"

"Semuanya." Almeera menunduk, meremas ujung roknya. "Tadi di toilet, dia narik kalung gue. Dia lihat cincinnya. Dia udah nyambungin semua hal, dari sabun, apartemen, sampai kelakuan lo yang nyita minuman gue tadi. Dia tahu kita nikah."

Hening.

Tidak ada umpatan, tidak ada amukan dari Akram. Cowok itu hanya diam. Namun, keheningan Akram justru terasa jauh lebih mengerikan. Matanya berubah segelap malam tanpa bintang. Otaknya sedang memproses krisis ini dengan kecepatan penuh.

Melihat Akram yang hanya diam, kepanikan Almeera semakin menjadi. "Kram... gimana kalau dia beneran nekat mulutnya bocor? Pensi tinggal besok! Kalau gosip ini nyebar, kita berdua bisa langsung dipanggil yayasan! Gue... gue nggak mau lo dikeluarin dari sekolah..."

Mendengar kalimat terakhir itu, Akram tersadar. Matanya yang dingin perlahan melembut. Cewek bar-bar ini sedang panik, namun dalam kepanikannya, Almeera justru memikirkan nasib Akram, bukan nasibnya sendiri.

Akram melangkah maju. Tanpa peringatan, ia menarik Almeera ke dalam pelukannya.

Almeera terkesiap. Wajahnya menabrak dada bidang Akram yang terbalut seragam putih abu-abu. Tangan kanan Akram melingkar erat di pinggangnya, sementara tangan kirinya menekan kepala Almeera agar bersandar nyaman di dadanya.

"Napas, Al. Napas," bisik Akram tepat di telinga Almeera. Suara baritonnya mengalun begitu tenang, memadamkan api kepanikan di kepala Almeera secara perlahan.

"Tapi, Kram—"

"Sst." Akram mengusap punggung Almeera dengan gerakan teratur. Aroma mint dan kehangatan tubuhnya seolah menjadi benteng pelindung terkuat di dunia saat ini. "Gue Ketos di sekolah ini. Nggak akan ada yang hancur. Nggak gue, nggak elo, nggak juga band lo."

Almeera memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu untuk sesaat. Jantung Akram yang berdetak kuat di bawah telinganya terasa menenangkan.

Akram melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah Almeera yang mendongak menatapnya. Ia menyelipkan anak rambut yang menempel di pipi gadis itu.

"Lo balik ke aula, kumpul sama anak NOISE. Jangan mikirin Heera, jangan mikirin apa pun selain penampilan lo besok," perintah Akram lembut namun tegas. "Biar gue yang ngurus Heera."

"Lo mau ngapain?" tanya Almeera cemas.

Akram tersenyum miring—senyum dingin yang hanya ia keluarkan saat ia benar-benar berniat menghancurkan sesuatu. "Gue cuma mau ngingetin dia soal posisi."

Heera masih berdiri di depan wastafel toilet sambil menangis sesenggukan. Harga dirinya hancur berantakan. Cowok yang ia cintai dan ia kejar setengah mati ternyata sudah menjadi milik sah dari musuh bebuyutannya sendiri.

Saat Heera melangkah keluar dari toilet, ia dikejutkan oleh sosok jangkung yang berdiri menghalangi jalan di koridor.

Akram.

Cowok itu berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana. Tatapannya begitu dingin hingga membuat Heera merinding.

"Kram..." Heera memanggil dengan suara bergetar, air mata kembali merebak di matanya. Ia melangkah mendekat, berharap Akram akan menyangkal semuanya. "Kram, please bilang ke gue kalau ucapan Almeera tadi bohong. Kalian nggak beneran nikah, kan? Kalian cuma—"

"Dia istri gue, Ra."

Tiga kata itu diucapkan Akram tanpa keraguan sedikit pun, memutus seluruh harapan Heera seketika.

Heera menutup mulutnya dengan tangan, terisak pilu. "Kenapa, Kram? Kenapa harus cewek urakan kayak dia?! Apa kurangnya gue?!"

Akram tidak bergeming. Wajahnya tidak menunjukkan empati sedikit pun. "Pernikahan ini urusan keluarga gue. Dan gue nggak punya kewajiban buat jelasin apa pun ke lo."

Akram melangkah maju satu tindak, membungkuk sedikit untuk menyejajarkan pandangannya dengan mata Heera yang basah. Aura dominasinya menguar pekat, mengunci pergerakan Heera.

"Denger baik-baik, Ra," suara Akram sangat pelan, layaknya desisan ular berbisa. "Kalau sampai besok pagi ada satu orang aja di sekolah ini yang tahu soal pernikahan gue, gue nggak akan cari tahu siapa yang nyebarin. Gue bakal langsung anggap lo pelakunya."

Heera menelan ludah dengan susah payah, tubuhnya gemetar.

"Lo tahu siapa bokap gue. Lo tahu keluarga gue bisa lakuin apa aja," lanjut Akram tanpa ampun. "Lo sentuh Almeera, atau lo sentuh rahasia ini... lo berhadapan langsung sama gue. Paham?"

Heera hanya bisa mengangguk kaku, ketakutan mengalahkan rasa patah hatinya. Akram yang ada di depannya saat ini bukanlah Akram si Ketua OSIS ramah yang pernah menjadi pacarnya, melainkan seorang pria yang sedang melindungi miliknya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Akram menegakkan tubuhnya dan berlalu pergi, meninggalkan Heera yang menangis dalam diam di sudut koridor.

Malam Hari, Pukul 22.00 WIB. Apartemen 2507.

Malam sebelum hari H Pensi selalu menjadi malam yang menegangkan bagi panitia maupun pengisi acara. Namun, ketegangan di kamar apartemen 2507 malam ini terasa berbeda.

Hujan gerimis turun di luar jendela. Almeera sudah berbaring di atas ranjang king size, memeluk guling dengan tatapan kosong ke arah langit-langit kamar. Pikirannya masih melayang pada rentetan kejadian hari ini. Dari Matcha Latte Reyhan, ancaman Heera, hingga pelukan Akram di tangga darurat.

Suara kenop pintu yang diputar membuat Almeera menoleh.

Akram masuk ke dalam kamar setelah selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah, ia mengenakan celana training panjang dan kaos oblong hitam. Aroma sabun mint menguar memenuhi ruangan.

Akram berjalan mendekati ranjang.

Biasanya, sebelum mereka tidur, Almeera akan sibuk menyusun bantal dan guling di tengah kasur untuk membangun 'Tembok Berlin' pemisah mereka. Namun malam ini, barikade itu tidak ada. Kasur itu terbentang luas tanpa pembatas.

Akram berhenti di tepi ranjang. Ia melirik Almeera yang balas menatapnya dalam diam. Tanpa ragu, Akram naik ke atas kasur dan berbaring di sebelah Almeera, menempati sisi kanannya.

Jarak mereka cukup dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang selalu bertengkar setiap hari.

Suasana hening. Hanya terdengar suara rintik hujan yang mengetuk kaca jendela.

"Heera nggak bakal buka mulut," suara Akram memecah keheningan. Ia menatap langit-langit kamar, persis seperti yang dilakukan Almeera tadi. "Gue jamin."

Almeera memutar kepalanya ke kanan, menatap profil samping wajah Akram. "Lo... ngancem dia, ya?"

Akram ikut menoleh ke kiri, hingga tatapan mereka bertemu di atas bantal. Jarak wajah mereka hanya sekitar dua jengkal. "Gue cuma ngasih tahu konsekuensi logis kalau dia macem-macem."

Almeera terdiam. Perutnya kembali bergejolak. Fakta bahwa Akram pasang badan untuk melindunginya benar-benar membuat dinding pertahanannya runtuh perlahan-lahan.

Tiba-tiba, tangan Akram bergerak di atas seprai. Cowok itu menggeser tangannya mendekati tangan Almeera. Jari kelingking Akram menyentuh jari kelingking Almeera, memberikan sengatan listrik kecil yang membuat napas Almeera tertahan.

Bukannya menarik tangannya, Akram justru menautkan jari-jarinya di sela-sela jari Almeera, menggenggam tangan gadis itu dengan lembut di atas kasur.

Jantung Almeera meledak. Matanya membelalak kaget. Ia ingin menarik tangannya, ia ingin mengomel seperti biasa, namun entah kenapa... genggaman tangan Akram terasa begitu hangat, pas, dan nyaman.

"Besok lo bakal jadi bintangnya, Al," bisik Akram pelan, ibu jarinya mengusap punggung tangan Almeera. Matanya mengunci pandangan gadis itu dengan intensitas yang sangat dalam. "Nggak usah mikirin Heera. Nggak usah mikirin rahasia kita. Main aja yang lepas."

"K-Kram..." suara Almeera mencicit, tenggorokannya mendadak kering. "Tangan gue..."

"Kenapa? Keringetan?" Akram tersenyum miring, senyum yang biasanya membuat Almeera kesal, namun malam ini justru terlihat sangat tampan. "Mulai sekarang, biasain. Karena gue bakal lebih sering megang tangan lo."

Almeera tidak membalas. Ia hanya menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang tanpa sadar mulai merayap naik. Di luar sana, badai masalah mungkin masih mengintai, namun malam ini, di bawah selimut yang sama dan dengan jari-jari yang bertaut erat, dua remaja yang bermusuhan itu akhirnya diam-diam mengakui bahwa mereka tidak ingin saling melepaskan.

Aturan ketiga resmi hangus malam ini.

1
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Reyhan gangguin aja 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
maaf tor Almeera sama Akram kelas berapa y
Aidil Kenzie Zie: oalah kirain kls 12 jadi kan nggak perlu lama backstreet nya 🤣🤣🥰🥰
total 2 replies
Aidil Kenzie Zie
ngaku nggak ya🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
akhirnya semua kupu-kupu 🦋🦋 terbang dari jantung 💓💓 mereka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
dig dig dig dig apa Akram akhirnya keceplosan bilang kalau Almeera istrinya 🤔🤔🤔🤔🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
si mbak mantan sok berkuasa 😏😏
Aidil Kenzie Zie
si Mama gimana sih 😡😡 pengen hub anaknya terbongkar apa nggak sadar kalo Akram udah nikah dan tinggal disana sama istrinya 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si Shopia udah dibilangin nyokap Al ganti parfum loundry masih aja kepo🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
si mama kok ember sich 🤭🤭🤭
Dara Sari
blm menarik banget alur cerita nya masih sedikit kaku dan kurang greget...maaf yaa Thor sedikit keritik semoga BS lbh baik kedepannya...
Moora: Makasiih tapi loh ya koreksiny... "gue suka gaya lo". Hehe jdi pelajaran kedepanny buat aku... 😊 makasiih
total 1 replies
Khusnul Khotimah
💪💪baru baca lihat bab terakhir dulu KLO menarik lanjut
Aidil Kenzie Zie
udah ngaku aja lagi PDKT 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
jantung mereka langsung dig dug dig dig🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
siap -siap makin panas dingin Akram
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!