Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Palu Kayu Penghancur Gunung
Kejutan demi kejutan mengubah cara pandang ribuan orang di Arena Utama. Tawa merendahkan yang sebelumnya mendominasi tribun kini tergantikan oleh kebisuan yang mencekam setiap kali Awan melangkah naik ke atas panggung.
Babak penyisihan terus berlanjut hingga matahari tergelincir ke ufuk barat. Bagi para kultivator di Alam Pengumpul Qi, pertarungan berturut-turut adalah ujian yang menyiksa Dantian mereka. Mereka harus segera duduk bersila, memakan Pil Pemulih Qi, dan bermeditasi dengan panik di waktu istirahat yang singkat untuk memulihkan energi.
Namun, Awan adalah sebuah anomali.
Ia tidak memiliki Dantian yang harus diisi. Stamina fisiknya yang dibangun dari membelah puluhan ribu balok Kayu Besi Hitam memberinya daya tahan yang mengerikan. Saat kultivator lain terengah-engah kehabisan napas spiritual, Awan hanya perlu minum air putih, mengatur napasnya ke ritme Seni Pedang Dasar Angin Jatuh, dan membiarkan asam laktat di ototnya terurai dengan sendirinya.
Di babak perempat final, lawannya—seorang Murid Luar di Tingkat Lima—bahkan memilih untuk langsung menyerah begitu wasit memulai pertandingan. Ia tidak ingin bernasib sama dengan tulang rusuk Yao Chen yang patah.
Kini, turnamen telah mencapai babak Semifinal. Hanya tersisa empat orang dari ribuan peserta.
"Panggung Utama! Babak Semifinal!" Suara wasit menggema ke seluruh penjuru arena yang kini telah disatukan menjadi satu panggung batu raksasa di tengah alun-alun. "Nomor urut 804, Murid Pelayan Awan, melawan nomor urut 42, Murid Luar Gao Shan!"
Gemuruh sorak-sorai kembali meledak. Ini adalah ujian yang sesungguhnya bagi Awan.
Gao Shan bukanlah kultivator biasa. Ia memiliki postur tubuh setinggi dua meter dengan otot-otot yang menonjol seperti beruang grizzly. Ia berada di Alam Pengumpul Qi Tingkat Enam, dan yang terpenting, ia adalah seorang pengguna Afinitas Elemen Tanah tingkat tinggi. Di Sekte Luar, pertahanannya dijuluki sebagai "Tembok Besi yang Tak Bisa Ditembus".
Awan berjalan menaiki tangga panggung. Angin sore meniup rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Di seberangnya, Gao Shan berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap Awan dengan raut wajah serius.
"Aku telah melihat pertandinganmu, Awan," suara Gao Shan berat dan menggelegar. "Kekuatan fisikmu melampaui logika manusia fana. Tapi serangan fisik murni memiliki satu kelemahan fatal: ia tidak akan berguna jika tidak bisa menembus pertahanan lawan. Hari ini, pedang kayumu akan hancur berkeping-keping."
Awan mencabut pedang Kayu Besi Hitam dari punggungnya dan membiarkan ujungnya menyentuh lantai batu.
"Kita lihat saja," jawab Awan singkat.
Wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Mulai!"
Gao Shan langsung menghentakkan sebelah kakinya ke tanah dengan keras. Gelombang energi Qi berwarna kuning kecokelatan meledak dari tubuhnya. Pecahan-pecahan batu granit dari lantai panggung melayang ke udara dan seketika menempel ke seluruh tubuh Gao Shan, menyatu dengan Qi-nya.
Dalam hitungan detik, tubuh raksasa Gao Shan telah terbungkus oleh lapisan zirah batu yang sangat tebal dan padat. Matanya bersinar dari balik helm batu tersebut.
"Teknik Bumi: Zirah Karang Raksasa!"
"Majulah, Awan! Tunjukkan padaku tenaga fanamu!" tantang Gao Shan, membuka kedua lengannya lebar-lebar tanpa berniat menghindar.
Awan tidak menunggu dua kali. Otot betisnya menegang, dan dengan ledakan tenaga yang meretakkan lantai, ia melesat ke depan bagai anak panah yang lepas dari busurnya.
Kedua tangannya menggenggam erat pedang kayu raksasa itu. Ia melompat, memutar pinggulnya di udara, dan menghantamkan tebasan vertikal dengan kekuatan maksimal tepat ke arah dada Gao Shan.
Jurus Dasar: Menebas!
BHOOOM!
Suara benturan yang memekakkan telinga bergema ke seluruh pegunungan. Udara di sekitar mereka terhempas membentuk gelombang kejut kecil.
Namun, saat debu menipis, penonton menahan napas.
Gao Shan hanya mundur setengah langkah. Zirah batu di dadanya memang retak memanjang, namun tidak hancur. Sebaliknya, tangan Awan bergetar hebat. Benturan balik dari zirah itu merambat melalui pedang kayunya, membuat telapak tangannya mati rasa.
Gao Shan tertawa terbahak-bahak dari balik zirahnya. "Hahaha! Hanya ini batasmu? Zirah Karang Raksasa milikku menyerap benturan fisik dan menyebarkannya ke tanah. Tenagamu tidak akan pernah—"
Ucapan Gao Shan terhenti saat melihat mata Awan.
Tidak ada kepanikan atau keputusasaan di mata manusia fana itu. Awan menatap zirah batu itu dengan tatapan yang sama saat ia menatap gelondongan Kayu Besi Hitam yang keras kepala.
Jika satu tebasan tidak cukup untuk membelah seratnya, batin Awan, maka seratus tebasan di titik yang sama akan melakukannya.
Awan tidak mundur. Alih-alih menjauh untuk mengambil ancang-ancang, ia menurunkan kuda-kudanya hingga nyaris berjongkok, mengunci jaraknya dengan Gao Shan.
Gao Shan mengangkat tinju batunya untuk meremukkan Awan, tetapi gerakan kultivator bertubuh besar itu terlalu lambat.
Awan menarik napas pendek. Ia mengubah genggamannya. Otot punggung, bahu, dan lengannya menegang hingga urat-uratnya terlihat nyaris meledak. Ia membuang semua gerakan yang tidak perlu dan memulai rentetan tebasan pendek.
TRAK! TRAK! TRAK! TRAK!
Penonton tidak bisa melihat dengan jelas pergerakan lengan Awan. Yang mereka dengar hanyalah rentetan suara benturan mengerikan yang terjadi dalam waktu sepersekian detik.
Satu detik... sepuluh ayunan.
Dua detik... dua puluh ayunan!
Setiap ayunan pedang kayu seberat lima puluh kilogram itu menghantam titik retakan yang sama persis di dada Gao Shan, akurat hingga hitungan milimeter. Ini adalah tingkat presisi yang mustahil dilakukan oleh kultivator yang mengandalkan mata, namun bagi otot Awan yang telah mengulang gerakan ini puluhan juta kali, ini hanyalah insting.
Wajah Gao Shan yang tadinya tertawa kini berubah menjadi horor.
Zirah batunya memang keras, dan Qi-nya terus berusaha memperbaiki retakan itu. Namun, kecepatan regenerasi Qi-nya tidak mampu mengimbangi kecepatan brutal dari hantaman fisik Awan. Tenaga destruktif itu menumpuk di satu titik, menciptakan resonansi yang menghancurkan struktur elemen tanah itu dari dalam.
"T-Tunggu—!" Gao Shan mencoba mundur.
Awan memutar pinggulnya untuk pukulan penutup, menarik napas panjang, dan mengayunkan pedang kayunya dengan segenap tenaga yang tersisa dari dasar Dantian fananya.
"Hancur!"
KRAAAK... BOOOM!
Zirah batu di dada Gao Shan meledak menjadi serpihan debu. Pedang Kayu Besi Hitam milik Awan menembus pertahanan mutlak itu dan menghantam dada Gao Shan.
Tulang rusuk kultivator raksasa itu berderak. Tubuhnya yang seberat ratusan kilogram terlempar ke udara dan meluncur deras menghantam lantai panggung hingga meninggalkan parit yang dalam. Gao Shan terkapar, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Ia berusaha bangkit, matanya memancarkan ketidakpercayaan, sebelum akhirnya matanya terbalik dan ia jatuh pingsan.
Keheningan kembali menyelimuti Arena Utama. Mulut para Murid Luar terbuka, seakan rahang mereka lepas. Penatua Kuang di tribun kehormatan tanpa sadar meremukkan pegangan kursinya karena terlalu bersemangat.
Manusia fana itu... baru saja menghancurkan pertahanan terkuat di Sekte Luar dengan murni ayunan kayu kasar!
Wasit, yang kini sudah terbiasa dengan hasil tak masuk akal ini, mengangkat tangannya yang gemetar.
"P-pemenangnya... Murid Pelayan, Awan! Dia... dia berhak maju ke Babak Final!"
Awan menyeka keringat yang menetes dari dagunya. Napasnya kini memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Menghancurkan zirah tadi telah menguras setengah dari stamina tubuhnya. Lengannya terasa pegal dan berdenyut, namun genggamannya pada pedang kayu itu tidak mengendur sedikit pun.
Ia menoleh ke arah sisi lain panggung, tempat di mana calon lawannya di babak final sedang berdiri.
Wu Jian. Murid Luar Peringkat Pertama. Alam Pengumpul Qi Tingkat Delapan. Sang Jenius Pedang dari Sekte Luar.
Wu Jian menatap Awan dengan sorot mata sedingin pedang es. Ia perlahan melompat naik ke atas panggung utama, tidak menunggu wasit untuk memanggilnya. Jubah biru mudanya berkibar, memancarkan tekanan Qi spiritual yang sangat pekat hingga membuat udara di sekitar panggung terasa berat.
"Kau membuktikan bahwa otot fana bisa mencapai batas yang menarik," suara Wu Jian terdengar jernih, membawa resonansi aura yang menekan jiwa. "Tetapi pertunjukan monyetmu berakhir di sini. Tidak akan ada lagi keajaiban, karena pedangku tidak akan memberimu kesempatan untuk mengayunkan kayu rongsokan itu."
Awan berdiri tegak, menyilangkan pedang kayunya di depan tubuh. Rasa lelah di ototnya perlahan tergantikan oleh aliran adrenalin yang panas.