Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Hari kompetisi debat regional akhirnya tiba, digelar di aula besar salah satu universitas ternama yang menjadi tuan rumah acara tahunan tersebut. Berbagai sekolah elite dari seluruh wilayah berkumpul, menciptakan suasana kompetitif yang kental sejak pagi hari.
Keluarga Vale hadir lengkap mendukung Aria, duduk di barisan penonton bersama beberapa orang tua siswa lain yang juga datang mendukung tim debat masing-masing sekolah.
"Kakak kelihatan tegang," bisik Rean pada orang tuanya, memperhatikan Aria yang sedang melakukan pemanasan terakhir bersama timnya di sudut aula.
"Wajar," jawab Liora lembut. "Tapi Kakakmu selalu tampil baik di bawah tekanan."
Babak penyisihan berjalan lancar bagi tim Aria, berhasil melaju hingga babak semifinal melawan tim dari sekolah rival yang ternyata dipimpin oleh Marcus, pemuda yang beberapa kali berinteraksi dengan Aria selama masa latihan.
"Ini dia pertandingan yang ditunggu-tunggu," komentar salah satu juri melalui pengeras suara, memperkenalkan kedua tim yang akan bertanding di babak semifinal.
Aria berdiri di podium timnya, menatap Marcus yang berdiri di podium seberang dengan senyum kompetitif yang saling dibalas keduanya.
"Semoga menang yang terbaik," kata Marcus sebelum debat dimulai, nada suaranya sportif namun tetap menyimpan tantangan.
"Pasti," balas Aria percaya diri, tidak gentar sedikit pun.
Debat berlangsung sengit, kedua tim saling melontarkan argumen tajam dengan data dan logika yang kuat. Aria tampil memukau sebagai pembicara utama timnya, menyampaikan argumen dengan artikulasi jelas dan bantahan yang tepat sasaran terhadap setiap poin yang diajukan tim lawan.
Di kursi penonton, Rean menyaksikan penampilan kakaknya dengan kagum, baru menyadari betapa hebatnya kemampuan Aria yang selama ini jarang ia lihat langsung, tersembunyi di balik sifat jahilnya sehari-hari di rumah.
"Kakak keren banget," gumamnya, tidak sadar mengucapkannya cukup keras hingga beberapa penonton di sekitarnya menoleh sekilas dengan senyum.
Setelah pertarungan argumen yang ketat selama hampir satu jam, juri akhirnya mengumumkan hasil babak semifinal itu — tim Aria berhasil unggul tipis, melaju ke babak final yang akan berlangsung sore harinya.
"Selamat," kata Marcus tulus, menjabat tangan Aria usai pengumuman hasil. "Timmu emang kuat."
"Timmu juga," balas Aria, membalas jabat tangan itu dengan senyum sportif. "Semoga bertemu lagi di kompetisi berikutnya."
---
Babak final berlangsung sore harinya, mempertemukan tim Aria dengan sekolah lain yang juga tidak kalah kuat. Ketegangan di aula semakin terasa, mengingat gelar juara regional menjadi taruhan besar bagi kedua tim yang bertanding.
Rean, bersama seluruh keluarganya, menyaksikan dengan napas tertahan setiap argumen yang dilontarkan kedua tim, berharap penuh agar kakaknya bisa membawa pulang kemenangan yang telah diperjuangkan dengan kerja keras selama berminggu-minggu.
Ketika juri akhirnya mengumumkan hasil akhir, seluruh aula menahan napas sejenak sebelum sorak-sorai meledak dari sisi tim Aria — mereka berhasil meraih gelar juara regional, hasil dari kerja keras dan dedikasi yang telah mereka curahkan selama masa persiapan panjang.
"KAKAK MENANG!" seru Rean spontan, melompat dari kursinya penuh kebahagiaan.
Aria berlari menghampiri keluarganya begitu acara resmi berakhir, langsung memeluk Rean erat-erat dengan mata berkaca-kaca bahagia.
"Kita menang!" serunya, hampir menangis haru.
"Selamat, Kak," Rean membalas pelukan itu tulus, ikut merasakan kebahagiaan yang sama besarnya.
Darius dan Liora menghampiri mereka berdua, memberikan pelukan hangat penuh kebanggaan atas pencapaian luar biasa yang baru saja diraih putri sulung mereka.
Malam itu, Keluarga Vale merayakan kemenangan Aria dengan makan malam spesial di restoran favorit mereka, dipenuhi tawa dan cerita bahagia — sebuah momen kebersamaan keluarga yang, sekali lagi, mengingatkan Rean betapa berharganya kehidupan baru yang kini ia jalani, dikelilingi orang-orang yang mencintainya dengan tulus.
---
Seminggu setelah study tour berakhir, kehidupan sekolah kembali pada rutinitas biasa, meski suasana di antara berbagai kelompok pertemanan terasa sedikit berbeda dari sebelumnya. Kedekatan yang terjalin selama tiga hari perjalanan bersama telah menciptakan ikatan baru yang melampaui batas kelas 10-A dan 10-B.
Di ruang OSIS, interaksi antara Rean dan Kieran kini terasa jauh lebih hangat dibanding sebelumnya. Percakapan singkat mereka di tepi bukit pegunungan telah membuka jalan bagi komunikasi yang lebih terbuka, meski keduanya belum sepenuhnya membahas hal-hal personal secara mendalam.
"Kamu ada waktu bantu aku review proposal kegiatan bulan depan?" tanya Kieran suatu sore, menyerahkan setumpuk dokumen kepada Rean.
"Boleh," jawab Rean, menerima dokumen itu dengan senang hati. "Kegiatan apa ini?"
"Rencananya kita mau bikin pameran karya seni siswa," jelas Kieran, duduk di kursi seberang. "Menampilkan lukisan, fotografi, sampai karya tulis dari berbagai klub."
Mereka mendiskusikan detail proposal itu bersama, sesekali bertukar ide dan masukan dengan lancar, sebuah dinamika kerja sama yang jauh berbeda dari suasana canggung dan penuh ketegangan di awal semester.
"Menurutku, kita bisa libatkan klub sastra juga buat bagian karya tulis," usul Rean, teringat teman-temannya di klub yang sering menghasilkan puisi dan cerita pendek yang bagus.
"Ide bagus," Kieran mengangguk setuju, mencatat masukan itu. "Kamu bisa koordinasi sama mereka?"
"Tentu," jawab Rean antusias, senang bisa menghubungkan dua dunia kegiatannya sekaligus.
---
Di klub sastra sore harinya, Rean menyampaikan rencana kolaborasi itu kepada anggota lain, disambut antusiasme yang meriah dari seluruh anggota, termasuk Elora yang langsung bersemangat menyiapkan beberapa karya terbaiknya untuk dipamerkan.
"Ini kesempatan bagus buat kita unjuk karya," kata Elora bersemangat, mulai membuka buku catatannya sendiri yang berisi berbagai tulisan pribadi yang selama ini jarang ia tunjukkan pada orang lain.
"Kamu nulis puisi juga?" tanya Rean penasaran, melirik halaman-halaman yang dipenuhi tulisan tangan rapi itu.
"Beberapa," Elora sedikit malu-malu, menutup bukunya cepat. "Nggak terlalu bagus, sih."
"Aku yakin bagus, kok," Rean tersenyum menyemangati. "Kamu selalu pintar merangkai kata-kata pas ngejelasin sesuatu."
Pujian tulus itu membuat pipi Elora sedikit merona, memberanikan diri untuk mempertimbangkan kembali menampilkan salah satu puisi pribadinya di pameran mendatang — sebuah karya yang, tanpa disadari siapa pun kecuali dirinya sendiri, sebenarnya terinspirasi dari perasaannya sendiri terhadap seseorang yang duduk tepat di sampingnya saat itu.
---
Sementara itu, di rumah, Kieran menceritakan perkembangan kerja samanya dengan Rean kepada kakaknya saat makan malam, sesuatu yang jarang ia lakukan secara sukarela sebelumnya.
"Kudengar kalian sekarang kerja bareng dengan lancar," komentar kakaknya, tersenyum mendengar cerita itu.
"Iya," Kieran mengangguk, sedikit tersenyum sendiri mengingat berbagai diskusi produktif mereka belakangan ini. "Dia punya banyak ide bagus, ternyata."
"Kelihatannya kamu udah mulai lebih tenang," kakaknya memperhatikan dengan seksama, lega melihat perubahan positif pada adiknya.
"Aku masih belajar," aku Kieran jujur. "Tapi setidaknya, aku udah nggak lagi ngerasa harus membenci seseorang cuma karena dia deket sama orang yang aku suka."
Kakaknya tersenyum bangga mendengar pengakuan dewasa itu, menepuk bahu Kieran pelan. "Itu langkah besar, Kieran. Aku bangga sama kamu."
Malam itu, Kieran merasa sedikit lebih ringan dari biasanya, meski ia tahu perjalanan menerima perasaannya sepenuhnya masih panjang. Namun setidaknya, ia telah menemukan cara untuk hidup berdampingan dengan kenyataan yang ada, tanpa harus terus dihantui kepahitan yang selama ini mengganggu ketenangannya.
Sementara di sisi lain kota, Rean dan Elora terus melanjutkan persiapan pameran karya seni mereka, tidak menyadari bahwa di balik kesibukan sederhana itu, benang-benang perasaan yang selama ini tumbuh perlahan semakin mendekati titik di mana kejujuran tidak bisa lagi ditunda selamanya.