"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Tinju Sang Predator
Suara tetesan air yang jatuh membentur ubin marmer pecah bergema di sepanjang koridor bawah tanah Akuarium Fujimi. Thomas melangkah melewati zona biota laut dalam dengan ketenangan mutlak. Ia tidak lagi memakai baju zirah komposit Kevlar-nya yang telah rusak akibat bertarung melawan bintang laut sebelumnya; kini ia hanya mengenakan kaus ketat hitam tanpa lengan yang memperlihatkan gumpalan otot dada dan tangannya yang padat berserat.
Di telapak tangan kirinya, bekas sayatan pisau eksperimen tadi telah hilang sepenuhnya. Sel-sel Bintang Laut Abadi yang telah menyatu dengan genetiknya siap bekerja memulihkan jaringan tubuhnya dalam hitungan detik.
Namun, memiliki pemulihan ekstrem saja tidak cukup. Untuk mendominasi kiamat ini tanpa bergantung pada senjata tajam, Thomas membutuhkan satu hal lagi: daya hancur eksplosif mutlak.
BZZZZZT... KRAAAK!
Langkah Thomas terhenti di depan gerbang kaca tebal bertuliskan: "Zona Khusus Karang & Udang Mantis Merah Pasifik."
Di dalam akuarium raksasa seluas lapangan basket yang telah retak parah, air laut hanya menggenangi lantai setinggi lutut. Di tengah-tengah reruntuhan batu karang buatan, berdiri sosok monster bermutasi yang sangat mengerikan.
Itu adalah mutasi dari Udang Mantis (Mantis Shrimp) Merah Pasifik.
Tubuh monster itu membengkak hingga sepanjang tiga meter. Kulit luarnya (exoskeleton) dilapisi karapas chitin tebal berwarna merah keemasan yang berkilat bagaikan baju zirah baja berat. Yang paling mematikan adalah sepasang daktil (dactyl clubs)—organ pemukul di bagian depan dadanya yang membesar seperti dua palu baja raksasa bermotif garis-garis kristal.
Di dalam ilmu biologi dunia lama, pukulan udang mantis biasa memiliki kecepatan setara peluru kaliber .22 dan mampu memecahkan kaca akuarium tebal. Kini, setelah bermutasi menjadi monster Tier 2 puncak, pasokan energi di dalam tubuhnya membuat sepasang palu chitin itu sanggup menghasilkan gelombang kejutan (shockwave) destruktif.
BANG!
Udang Mantis Mutan itu menghentakkan salah satu palunya ke pilar beton di dekatnya. Pillar beton tebal itu seketika hancur berkeping-keping, meledak menjadi debu dan pecahan batu yang beterbangan!
"Kecepatan pukulan kinetik dan cangkang pelindung chitin..." mata Thomas berbinar dingin. Ini adalah kepingan puzzle terakhir yang ia butuhkan.
SZZZT!
Melihat kedatangan Thomas, Udang Mantis Mutan itu melesat maju menembus air dengan kecepatan yang luar biasa! Sepasang palu chitin raksasanya diayunkan lurus menghantam dada Thomas.
Thomas tidak menarik parang hitam di punggungnya. Ia bahkan tidak mencoba menghindar.
Ia mengambil kuda-kuda kokoh di tengah genangan air, mengepalkan kedua tangan kosongnya, dan membiarkan pukulan eksplosif monster itu menghantam lengannya secara langsung!
BOOOOOOOOOOM!
Gelombang kejutan dahsyat meledak di udara! Air laut di sekitar kaki mereka terdorong hebat ke segala arah hingga menciptakan lingkar hampa udara sementara. Tulang lengan bawah Thomas patah berkeping-keping dan dagingnya robek parah dihantam tekanan kinetik ribuan kilogram!
Namun, sebelum monster itu sempat menarik kembali palunya, efek regenerasi sel Bintang Laut di tubuh Thomas bekerja secara instan!
SZZZT... CRAAK!
Hanya dalam waktu dua detik, tulang-tulang lengan Thomas yang hancur menyatu kembali dengan celak, serat ototnya merapat utuh, dan rasa sakitnya sirna seketika.
"Pukulan yang luar biasa," bisik Thomas dingin dengan senyum tipis di bibirnya. "Sekarang, kristal itu milikku."
Sebelum sang Udang Mantis sempat melancarkan serangan kedua, Thomas melangkah maju satu sentimeter, menyusup ke bawah rahang monster itu, lalu menghantamkan tinju kanan telanjangnya lurus ke dalam celah persendian leher chitin sang monster!
DUAAAMM!
Pukulan bertenaga Tier 2 gabungan ketahanan regeneratif Thomas menembus leher tebal Udang Mantis tersebut. Thomas tidak berhenti; ia memasukkan tangan kirinya ke dalam luka, merobek serat daging chitin monster itu dengan kekuatan mentah, lalu merenggut keluar inti energi yang tersembunyi di dalam kepala sang predator.
CRUNCH!
Udang Mantis raksasa itu kejang-kejang kaku sebelum akhirnya roboh menghantam air laut, meremukkan karang di bawahnya.
Di telapak tangan Thomas yang berdarah, tergeletak sebuah Kristal Zombie Tier 2 Puncak berwarna merah keemasan yang berkilat tajam bagaikan besi tempaan.
Thomas duduk di atas bangkai Udang Mantis itu, langsung menempelkan Kristal Merah Keemasan tersebut ke tengah dadanya.
BZZZZZZZZZT!
Proses penyatuan kali ini tidak merubah seluruh tubuhnya, melainkan terfokus secara dramatis pada kedua lengan dan struktur tulang tangannya.
Thomas memejamkan mata saat rasa terbakar yang membara menyelimuti kedua tangannya dari siku hingga ujung jari. Sel-sel tubuhnya menyerap struktur genetik chitin Udang Mantis. Lapisan kulit di kedua lengannya menebal, mengeras, dan membentuk jaringan Exoskeleton Chitin Berwarna Hitam Keemasan yang fleksibel namun sekeras baja tempaan.
Ketika Thomas membuka kepalan tangannya, lapisan exoskeleton hitam berkilau itu melapisi tangannya bagaikan sarung tangan tempur organik. Saat ia mengendurkan fokusnya, lapisan chitin tebal itu menyusup kembali ke bawah kulitnya, membuat tangannya tampak normal kembali.
Thomas mengepalkan tangan kanannya yang kini telah terlapisi exoskeleton chitin. Ia berdiri, lalu melayangkan satu pukulan lurus ke arah pilar utama bangunan akuarium di depannya.
BOOOOOOOOM!
Pilar beton tebal berdiameter dua meter itu retak hebat dan hancur berhamburan hanya dengan satu pukulan tangan kosong! Lapisan exoskeleton di tangannya tidak tergores sedikit pun, dan gelombang kejutan dari pukulannya bahkan membuat air di sekitarnya bergetar hebat.
Regenerasi ekstrem tanpa batas dari Bintang Laut, dipadu dengan ketahanan cangkang chitin dan daya hancur eksplosif dari Udang Mantis.
Thomas menatap kedua tangannya yang berkilat dalam gelap. Kini, ia tak lagi membutuhkan senjata tajam atau zirah buatan manusia. Tubuhnya sendiri telah menjelma menjadi senjata dan pertahanan terkuat di dunia baru.