Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Brak.
Pintu ruang interogasi ditutup dengan sangat kasar dari luar.
Dimas duduk di kursi besi dengan kedua tangan terborgol erat.
Nafasnya memburu dan matanya menatap tajam ke arah polisi di depannya.
"Lepaskan borgol ini sekarang juga."
"Kalian benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kalian tangkap."
Dimas berteriak dengan urat leher yang menonjol keluar.
Inspektur Budi hanya tersenyum tipis mendengar ancaman itu.
Srek.
Budi membuka sebuah map merah tebal di atas meja.
"Kami sangat tahu siapa kau, Tuan Dimas Pratama."
"Kau adalah tersangka utama kasus pembunuhan dan pencucian uang."
Budi menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya perlahan.
Huuuh.
Asap rokok mengepul memenuhi ruangan yang sempit itu.
"Tutup mulutmu, polisi rendahan."
"Aku punya pengacara terbaik di kota ini."
"Aku bisa membeli seluruh kantor polisi ini beserta isinya jika aku mau."
Dimas masih bersikeras menyombongkan hartanya yang dia pikir masih ada.
"Aku mau menelepon pengacaraku sekarang juga."
"Berikan ponselku."
Budi tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya kau belum sadar juga dengan situasimu saat ini."
"Kau pikir kau masih seorang tuan muda yang kaya raya?"
Tok tok tok.
Pintu ruang interogasi diketuk dari luar.
Ceklek.
Seorang petugas polisi masuk dan membisikkan sesuatu di telinga Budi.
Budi mengangguk pelan lalu menatap Dimas kembali.
"Nah, kebetulan sekali pengacaramu sudah datang."
"Silakan masuk, Pak Rahmat."
Budi berdiri dan mempersilakan pria paruh baya berjas rapi itu masuk.
Tap tap tap.
Pengacara Rahmat melangkah masuk dengan wajah yang sangat datar.
Dia menaruh tas kerjanya di atas meja besi.
Tuk.
Budi berjalan keluar ruangan dan menutup pintu meninggalkan mereka berdua.
"Pak Rahmat, syukurlah kau datang dengan cepat."
"Cepat urus surat penangguhan penahananku malam ini juga."
"Berapa pun uang jaminan yang mereka minta, bayar saja semuanya."
Dimas berbicara dengan sangat cepat tanpa jeda.
Dia menatap pengacaranya itu dengan penuh harapan.
Rahmat tidak langsung menjawab ucapan Dimas.
Dia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah dokumen berlambang negara.
"Aku tidak datang kemari untuk membebaskanmu, Dimas."
"Aku datang untuk menyerahkan surat pengunduran diriku secara resmi."
Mata Dimas langsung membelalak lebar mendengar hal itu.
"Apa maksudmu mundur?"
"Aku membayarmu puluhan miliar setiap tahun untuk mengurus masalah hukumku."
"Kau tidak bisa kabur begitu saja di saat aku sedang butuh."
Dimas memukul meja dengan kedua tangannya yang diborgol.
Prang.
Suara rantai borgol beradu keras dengan meja besi.
Rahmat merapikan jasnya dengan tenang.
"Itu dulu saat kau masih punya uang, Dimas."
"Sekarang kau hanyalah seorang gembel yang kebetulan memakai baju tahanan."
"Jaga bicaramu, Rahmat."
"Harta keluargaku tidak akan habis sampai tujuh turunan."
Dimas berteriak tidak terima dihina seperti itu.
"Kau benar-benar tidak tahu berita di luar sana ya?"
Rahmat mengambil sebuah tablet dari dalam tasnya.
Dia menyalakan layarnya dan memutarnya ke arah Dimas.
"Lihat ini baik-baik dan gunakan otakmu."
Di layar tablet itu, terpampang berita utama dari berbagai stasiun televisi.
Semuanya menampilkan wajah Dimas dan rekaman pengakuannya di mansion tua.
"Rekaman suaramu semalam sudah disiarkan secara langsung ke seluruh negeri."
"Kau mengakui semua kejahatan ayahmu dan kejahatanmu sendiri dengan sangat jelas."
"Bukti transfer uang suap dan dokumen palsumu sudah disita oleh kejaksaan pagi ini."
Rahmat menjelaskan semuanya dengan nada suara yang dingin dan menusuk.
Nafas Dimas mulai tersengal-sengal melihat rentetan berita di layar itu.
"Lalu bagaimana dengan aset perusahaan kita?"
"Pasti masih ada sisa uang di rekening luar negeri kan?"
Dimas bertanya dengan suara yang mulai bergetar ketakutan.
"Bank sentral sudah membekukan semua rekening atas nama keluarga Pratama."
"Perusahaanmu sudah dinyatakan pailit dan diambil alih oleh kreditor."
"Bahkan rumah mewahmu di Menteng sudah dipasang garis polisi pagi ini."
Rahmat mengambil kembali tabletnya dan mematikan layarnya.
"Kau sudah habis, Dimas."
"Tidak ada satu sen pun uang yang tersisa untuk membayar jasaku."
"Jadi jangan pernah bermimpi aku mau membelamu di pengadilan nanti."
Kaki Dimas terasa sangat lemas hingga dia merosot di kursinya.
Pikirannya kosong dan pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Ini semua tidak mungkin terjadi dalam semalam."
"Sony, ini semua pasti ulah Sony."
"Dia yang menjebakku dan merampas semuanya dariku."
Dimas bergumam sendiri seperti orang yang sudah kehilangan akal.
Rahmat hanya mengangkat bahunya tidak peduli.
"Siapa pun yang melakukannya, dia jelas jauh lebih pintar dan berkuasa darimu."
"Nikmati saja sisa hidupmu di balik jeruji besi ini, Dimas."
Rahmat mengambil tasnya dan berbalik menuju pintu keluar.
"Tunggu, Rahmat, jangan tinggalkan aku."
"Tolong hubungi Rina, suruh dia menjual semua perhiasannya untuk menebusku."
Dimas memohon sambil menangis dengan sangat menyedihkan.
Rahmat menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh.
"Kekasihmu itu juga sedang dicari polisi sebagai saksi dan kaki tanganmu."
"Aku rasa dia sedang sibuk menyelamatkan nyawanya sendiri sekarang."